• (GFD-2021-6244) [SALAH] Video detik detik kecelakaan motor dan Kereta Api pada 28 Januari 2021 di Sukoharjo

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 02/02/2021

    Berita

    “kasihan petugasnya…
    Detik detik pemotor tertabrak Kereta Api, Kamis (28/1/2021).
    Lokasi : Dekat Terminal Sukoharjo, Jawa Tengah.
    Silahkan bantu lengkapi infonya, tetap hati hati dan waspada!”

    Hasil Cek Fakta

    Beredar pada Facebook video detik-detik kecelakaan yang melibatkan kereta api dan sebuah motor yang berlokasi didekat Terminal Sukoharjo, Jawa Tengah yang diklaim baru saja terjadi pada tanggal 28 Januari 2021. Video tersebut diunggah oleh akun bernama Cyntia Nandhasari pada 28 Januari 2021.

    Setelah ditelusuri, Kanit Laka Satlantas Polres Sukoharjo IPTU Jaelani menjelaskan jika kejadian tersebut bukan pada hari itu. Namun, kecelakaan tersebut sudah terjadi setahun yang lalu.

    “Kalau saya tidak salah ingat sudah setahun yang lalu,” papar dia melansir dari solo.tribunnews.com (28/1/2021).

    Kecelakaan yang melibatkan pengendara sepeda motor dan kereta api (KA) railbus Batara Kresna jalur Wonogiri-Solo di perlintasan palang pintu tepatnya di timur Terminal Sukoharjo yang terjadi 18 November 2019.

    Dengan demikian, klaim bahwa kejadian kecelakaan sepeda motor dan kereta api yang terjadi di timur Terminal Sukoharjo terjadi pada tanggal 28 Januari 2021 tidak benar. Peristiwa tersebut terjadi pada 18 November 2019 sehingga masuk dalam kategori konten yang salah.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Luthfiyah Oktari Jasmien (Institut Agama Islam Negeri Surakarta).

    Tanggal pada narasi tersebut tidak benar. Faktanya kejadian kecelakaan yang melibatkan pesepeda motor dan kereta api tersebut terjadi pada 18 November 2019.

    Rujukan

  • (GFD-2021-8477) Keliru, Jarum Suntik Palsu di Video Ini Disiapkan untuk Vaksinasi Covid-19 Elite Global

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 01/02/2021

    Berita


    Video yang memperlihatkan seorang pria berbaju biru sedang memberikan penjelasan tentang jarum suntik palsu viral di media sosial. Menurut klaim yang menyertai video tersebut, jarum suntik palsu ini telah disiapkan untuk vaksinasi Covid-19 para pemimpin dunia atau elite global. "Suntikan palsu ini telah dilakukan kepada beberapa pemimpin dunia untuk meyakinkan masyarakat agar mau disuntik vaksin Covid-19," demikian teks dalam video itu.
    Menurut penjelasan pria tersebut, saat ditekan ke tubuh, jarum suntik akan masuk ke dalam alat suntik. Video itu pun dilengkapi dengan video yang menunjukkan seseorang berbaju merah muda dan Menteri Kesehatan Ontario, Kanada, Christine Elliott sedang menjalani vaksinasi serta foto saat pembawa acara Fox News Brian Kilmeade menerima vaksin. "Mereka sebenarnya tidak menerima suntikan vaksin. Itu hanya penipuan supaya rakyat mau PERCAYA."
    Di Facebook, video tersebut diunggah salah satunya oleh akun Jend Widodo Purbalingga, tepatnya pada 15 Januari 2021. Video ini dibagikan ke grup Pasukan Elite Indonesia. Akun itu pun menulis, "Anda Harus Tahu Kebenaran ada Jarum Suntik/Spuit Palsu Dipersiapkan untuk Para Pemimpin Dunia."
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Jend Widodo Purbalingga yang memuat klaim keliru soal alat suntik dalam video yang diunggahnya.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta mula-mula memfragmentasi video di atas menjadi sejumlah gambar dengantoolInVID. Lalu, gambar-gambar itu ditelusuri denganreverse image tool Google dan Yandex. Hasilnya, ditemukan bahwa video pria berbaju biru yang sedang memberikan penjelasan tentang alat suntik palsu adalah potongan dari video milik Scott Reeder, ahli prop atau alat peraga untuk film dan serial televisi. Dalam video ini, Reeder memperlihatkan sejumlah alat peraga, yakni alat suntik, pisau, dan alat pemecah es.
    Video itu diunggah oleh Reeder pertama kali di TikTok pada 2 September 2020. Video tersebut diberi keterangan "Retractable Stunt Props". Pada 15 September 2020, Reeder mengunggah kembali video ini di Instagram dengan keterangan yang sama. Dilansir dari Insider, Reeder telah bergelut dengan alat peraga sejak 1989, ketika ia berusia 19 tahun. Pada 2001, dia menjadi master alat peraga bersertifikat, yang berarti dia mengawasi akuisisi dan penggunaan alat peraga untuk film dan acara televisi besar.
    Reeder bekerja di acara televisi seperti "Friday Night Lights" dan "The Leftovers" serta film seperti "Grindhouse" dan "Friday the 13th". Sejak Agustus 2020, Reeder mulai membagikan fakta yang tidak banyak diketahui penonton tentang alat peraga film dan acara televisi di akun TikTok-nya, @scottdropandroll. Salah satu video Reeder yang paling banyak dilihat di TikTok adalah video tentang "alat peraga bisu" yang digunakan untuk mengurangi kebisingan latar belakang saat syuting.
    Video seseorang berbaju merah muda saat divaksin
    Berdasarkan penelusuran Tempo, video ini merupakan potongan dari video berita yang ditayangkan oleh CP24, stasiun televisi Kanada yang berbasis di Toronto, Ontario, pada 15 Desember 2020. Video tersebut memperlihatkan dimulainya program vaksinasi Covid-19 di Kanada. Terdapat sejumlah orang yang menerima suntikan vaksin Covid-19, salah satunya seorang wanita berbaju merah muda. Namun, dalam video ini, terlihat dengan jelas bahwa jarum suntik menembus lengan wanita berbaju merah muda itu.
    Video vaksinasi Menteri Kesehatan Ontario
    Video Menteri Kesehatan Ontario, Christine Elliott, saat disuntik vaksin tersebut diambil pada 30 Oktober 2019. Video itu memperlihatkan ketika Elliott menerima suntikan vaksin flu, bukan vaksin Covid-19. Video ini pernah dimuat oleh CP24 dalam beritanya yang berjudul "Health minister urges Ontarians to get flu shots". Elliott pun pernah mengunggah foto ketika ia menerima suntikan vaksin flu pada 30 Oktober 2019 tersebut di akun Twitter pribadinya. Ia menerima vaksinasi itu di Apotek Rexall, Women's College Hospital.
    Setahun sebelumnya, Elliott juga menerima suntikan vaksin flu. Video ketika Elliott menjalani vaksinasi flu ini pernah diunggah oleh Ontario News Now pada 30 Oktober 2018. Dalam video tersebut, terlihat dengan jelas jarum dari alat suntik yang digunakan untuk Elliott.
    Foto vaksinasi pembawa acara Fox News
    Foto pembawa acara Fox News Brian Kilmeade saat divaksinasi tersebut merupakan gambar tangkapan layar dari video berita yang ditayangkan oleh Fox News pada 16 September 2019. Video ini juga memperlihatkan ketika Kilmeade menerima suntikan vaksin flu, bukan vaksin Covid-19. Dalam video itu, terlihat dengan jelas jarum dari alat suntik yang digunakan untuk Klimeade.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa jarum suntik palsu dalam video tersebut telah disiapkan untuk vaksinasi Covid-19 para pemimpin dunia atau elite global, keliru. Alat suntik yang terlihat dalam video itu hanyalah alat peraga. Video tersebut merupakan potongan dari video milik Scott Reeder, ahli alat peraga untuk film dan serial televisi. Dalam video ini, Reeder memperlihatkan sejumlah alat peraga, yakni alat suntik, pisau, dan alat pemecah es.
    ANGELINA ANJAR SAWITRI
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-8478) Keliru, Status dari WhatsApp adalah Scammer yang Bisa Curi Data Pribadi

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 01/02/2021

    Berita


    Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim bahwa status dari WhatsApp adalah sebuah scammer atau penipuan yang bisa mencuri data akun bank dan data pribadi viral. Dalam unggahan itu, terdapat gambar tangkapan sebuah status di WhatsApp yang dibagikan oleh akun terverifikasi dengan nama "WhatsApp".
    Unggahan tersebut ditulis oleh akun Amad Ewan. Dalam unggahan itu, terdapat pula gambar tangkapan layar sebuah video berita tentang WhatsApp. Akun ini pun menulis, "Perhatian..TAKTIK BARU SCAMMER.....Hati2 dapat msg dari WhatsApp, tadi dah masuk berita tv3, jgn tekan link biru tu, kalau tekan data account bank dan data peribadi akan dipindahkan."
    Di Facebook, gambar tangkapan layar unggahan tersebut dibagikan salah satunya oleh akun BodoAmat, tepatnya pada 29 Januari 2021. Akun itu menulis, “Ada yang sama WhatsApp nya begitu?” Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan lebih dari 200 reaksi dan 300 komentar serta dibagikan lebih dari 1.500 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook BodoAmat yang memuat klaim keliru terkait status dari akun resmi WhatsApp.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, status tersebut berasal dari akun resmi milik WhatsApp. Status ini bukanlah scammer yang dapat mengambil alih data akun bank maupun data pribadi pengguna WhatsApp. Status tersebut hanya berisi penjelasan dari WhatsApp tentang kebijakan privasinya, setelah sebelumnya muncul kesimpangsiuran soal kebijakan ini.
    Awalnya, klaim palsu yang menyebut status dari WhatsApp itu adalah scammer beredar di Malaysia. Salah satu pengguna Facebook asal Malaysia menulis klaim itu dan melengkapinya dengan gambar tangkapan layar video berita dari media lokal tentang taktik scam di WhatsApp. Beberapa warganet pun secara keliru menyimpulkan video berita tersebut telah mengkonfirmasi bahwa status WhatsApp itu bisa mencuri data akun bank dan data pribadi.
    Dilansir dari situs media Malaysia, The Star, video berita tersebut sebenarnya melaporkan tentang para penipu yang mencoba membajak akun WhatsApp dengan cara memperdaya pengguna untuk membagikan kode verifikasi enam digit, berdasarkan pernyataan pers Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC) pada 21 Januari 2021.
    Pernyataan pers MCMC tentang modus pembajakan akun WhatsApp melalui kode verifikasi itu memang pernah diunggah ke YouTube oleh Buletin TV3, kanal milik stasiun televisi Malaysia TV3, pada 21 Januari 2021 dengan judul “MCMC | Waspada Taktik Penipuan Ambil Alih Akaun Whatsapp”. Dalam keterangannya, MCMC mengingatkan publik agar waspada terhadap penipuan yang bertujuan mengambil alih akun pengguna WhatsApp.
    Menurut laporan The Star, sejak pekan terakhir Januari 2021, WhatsApp memang mulai membagikan status di platformnya lewat akun resminya. Lewat status ini, WhatsApp bakal memberi tahu pengguna terkait fitur baru atau pembaruan kebijakan. Pengguna akan melihat bahwa status tersebut diunggah oleh akun yang bernama "WhatsApp" dengan simbol centang di sebelahnya, yang menandakan bahwa akun tersebut terverifikasi.
    Dilansir dari Kompas.com, terdapat empat status yang dibagikan oleh WhatsApp untuk pertama kalinya ini. Empat status itu berbunyi "Satu hal yang tidak baru adalah komitmen kami terhadap privasi Anda", "WhatsApp tidak dapat membaca tau mendengarkan percakapan pribadi Anda karena percakapan tersebut terenkripsi secara end-to-end", "WhatsApp tidak dapat melihat lokasi yang Anda bagikan", dan "WhatsApp tidak membagikan kontak Anda dengan Facebook".
    Berdasarkan arsip berita Tempo, juru bicara WhatsApp juga telah membantah isu bahwa status tersebut bakal mencuri data pengguna di ponsel. WhatsApp memutuskan untuk mulai menghadirkan informasi melalui fitur status itu untuk membantu orang-orang mendapatkan fakta langsung dari WhatsApp mengenai pembaruan kebijakan terbaru. “Informasi WhatsApp di status itu tidak menyerap data ponsel atau data lainnya,” katanya pada 31 Januari 2021.
    WhatsApp APAC Communications Director Sravanthi Dev menjelaskan kebijakan tersebut diambil karena belakangan banyak disinformasi yang beredar terkait pembaruan kebijakan privasi WhatsApp. “Info status ini adalah inisiatif dari WhatsApp untuk membantu pengguna memahami bagaimana WhatsApp melindungi privasi dan keamanan pengguna,” ujar Dev. Dev juga menjelaskan, ke depannya, aplikasi milik Facebook tersebut akan terus menggunakan status ini untuk menyampaikan secara langsung update kepada pengguna.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa status dari WhatsApp merupakan scammer yang bisa mencuri data akun bank dan data pribadi, keliru. Status tersebut berasal dari akun resmi milik WhatsApp. Status ini bukanlah scammer yang dapat mengambil alih data pengguna di ponsel. Status tersebut berisi penjelasan dari WhatsApp tentang kebijakan privasinya. Gambar tangkapan layar video berita yang digunakan untuk melengkapi klaim itu pun tidak terkait dengan status dari WhatsApp. Video milik stasiun televisi Malaysia TV3 itu berisi pernyataan Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC) terkait salah satu modus penipuan dengan WhatsApp.
    ZAINAL ISHAQ
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-6233) [SALAH] Nintendo Gugat Bocah Pembuat Konsol Kardus

    Sumber: Facebook
    Tanggal publish: 01/02/2021

    Berita

    Sebuah postingan viral sejak akhir Desember 2021. Postingan itu mengklaim pemilik Nintendo , Doug Bowser menggugat bocah berusia 9 tahun, Paco Gutierrez sebesar 200 dolar AS (Rp 2,8 triliun) karena membuat konsol permainan dari kardus.

    Dalam unggahan viral tersebut pihak Nintendo terbang ke Venezuela untuk menuntut Paco dan keluarganya yang membuat konsol game. Pihak Nintendo diklaim berencana memberikan gugatan.

    Begini narasinya:

    "Paco Gutierrez, 9 tahun, selalu menginginkan Nintendo tetapi tidak mampu membelinya. Menggunakan kreativitasnya dan dengan bantuan pamannya, dia membuat permainan karton Super Mario, mempostingnya di YouTube dan videonya menjadi viral.

    Berkat videonya, CEO Nintendo Doug Bowser secara pribadi pergi ke Venezuela untuk memberikan perintah Cease and Desist kepada Paco dan menuntut keluarganya sebesar 200 juta dolar."

    Hasil Cek Fakta

    Untuk membuktikan klaim tersebut, Cek Fakta Liputan6.com menggunakan pencarian gambar terbalik, Yandex. Hasil penelusuran ada banyak media yang memberitakan klaim ini.

    Salah satu penelusuran mengarahkan ke situs Mirror dalam artikel berjudul: "Ingenious youngster creates Game Boy out of cardboard and bottle tops so he can play his home-made Super Mario". Artikel ini dipublikasikan pada 8 Agustus 2018.

    Dalam artikel tersebut, bocah laki-laki asal Venezuela itu bukan bernama Paco, tapi Ruben. Ruben memposting video kreasinya ke media sosial pada 2018.

    Ruben menciptakan konsol permainan dengan benda-benda yang dia temukan di rumahnya. Benda-benda yang ditemukannya untuk membuat konsol permainan itu kardus dan tutup botol.

    Kemudian, hasil penelusuran juga mengarahkan ke situs USA Today dalam artikel berjudul: "Fact check: Nintendo did not sue 9-year-old boy for creating cardboard console".

    Dalam artikel tersebut, USA Today meminta konfirmasi dari Nintendo. Pada 29 Januari 2021, perusahaan game yang berbasis di Amerika Serikat itu menjawab pertanyaan USA Today. Pihak Nintendo tidak membenarkan klaim netizen.

    Kesimpulan

    Klaim Nintendo menggugat bocah berusia 9 tahun karena menciptakan konsol permainan dari kardus sebesar Rp 2,8 triliun merupakan informasi yang salah.

    Nintendo telah membantahi klaim itu. Faktanya, foto bocah bermain dengan konsol yang terbuat dari kardus itu sudah ada sejak Agustus 2018.

    Rujukan