(GFD-2021-8611) Keliru, Klaim Ini Video Ratusan Kantong Jenazah Covid-19 Palsu yang Berisi Kertas
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 04/05/2021
Berita
Video yang diklaim menunjukkan ratusan kantong jenazah Covid-19 palsu beredar di Facebook. Menurut klaim tersebut, ratusan kantong jenazah itu sebenarnya berisi kertas, bukan pasien yang telah meninggal akibat Covid-19.
Dalam video berdurasi 38 detik itu, tampak puluhan kantong hitam yang digeletakkan di jalanan di samping sebuah gedung. Sempat terlihat seorang petugas yang mengenakan pakaian hazmat. Dalam cuplikan selanjutnya, tampak sejumlah orang yang melempar dan menendang kantong-kantong hitam yang digeletakkan di area parkir sebuah gedung.
Akun ini membagikan video itu pada 12 April 2021. Akun tersebut kemudian menulis narasi, "450 'mati karena Covid'. Padahal, itu adalah 450 kantong yang berisi kertas. Begitulah yang terjadi di seluruh dunia."
Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru terkait video yang diunggahnya, yang memperlihatkan demonstrasi mahasiswa di Venezuela.
Hasil Cek Fakta
Mereka berunjuk rasa dengan membawa properti kantong jenazah berisi kertas. Para mahasiswa itu memprotes banyaknya tenaga kesehatan yang meninggal karena Covid-19 dan terbatasnya vaksin Covid-19 bagi mereka.
Untuk mendapatkan fakta tersebut, Tempo mula-mula memfragmentasi video itu menjadi beberapa gambar dengan toolInVID. Lalu, gambar-gambar ini ditelusuri denganreverse image tool Google. Hasilnya, ditemukan beberapa foto yang identik yang dibagikan oleh akun Twitter milik radio Venezuela, Radio Caracas, @RCR750, pada 6 April 2021.
Akun ini mengunggah tiga foto dalam cuitannya dengan narasi berbahasa Spanyol yang jika diterjemahkan berbunyi: "#Protes mahasiswa kedokteran UCV (Universidad Central de Venezuela ) yang menuntut vaksin di depan klinik ini diserang oleh sekelompok orang. Mereka merusak semua kantong yang mensimulasikan orang-orang yang meninggal akibat pandemi."
Kesamaan antara cuplikan yang terlihat dalam video yang beredar (kiri) dengan foto yang diunggah oleh akun Twitter Radio Caracas (kanan).
Tempo juga mendapatkan petunjuk lain dari utas yang dibagikan oleh akun Twitter milik stasiun televisi El Pitazo, @ElPitazoTV, pada 6 April 2021. Dalam utas ini, terdapat tiga video dengan kualitas yang lebih baik. Informasi dalam utas tersebut sama dengan yang dijelaskan oleh Radio Caracas, namun lebih detail. Menurut El Pitazo, peristiwa itu merupakan aksi protes yang digelar oleh mahasiswa kedokteran UCV di depan Hospital Universitario de Caracas (HUC), Venezuela.
Berikut ini rangkaian peristiwa yang terjadi:
Selain membagikan utas di Twitter, El Pitazo juga mempublikasikan berita mengenai aksi mahasiswa di depan HUC tersebut dalam situsnya pada 6 April 2021. Berita ini berjudul "Kelompok yang kasar menyabotase protes mahasiswa di Klinik Rumah Sakit Universitas".
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas menunjukkan ratusan kantong jenazah pasien Covid-19 palsu yang sebenarnya berisi kertas, keliru. Video tersebut merupakan video aksi para mahasiswa kedokteran di Caracas, Venezuela, yang memprotes kurangnya vaksin Covid-19 untuk tenaga kesehatan sehingga banyak dari mereka yang meninggal. Dalam aksi itu, para mahasiswa tersebut menggunakan kantong-kantong hitam berisi kertas sebagai properti.TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/jenazah-covid-19
- https://archive.is/hKPWN
- https://www.tempo.co/tag/kematian-akibat-covid-19
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-covid-19
- https://twitter.com/RCR750/status/1379460015199817730
- https://www.tempo.co/tag/venezuela
- https://elpitazo.net/gran-caracas/sujetos-desconocidos-sabotean-protesta-de-estudiantes-que-rechazan-balances-gubernamentales-del-covid-19/
- https://www.tempo.co/tag/covid-19
(GFD-2021-8612) Keliru, Klaim Ini Foto Sajadah Awak KRI Nanggala yang Tak Hancur saat Ditemukan
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 04/05/2021
Berita
Foto yang memperlihatkan sejumlah anggota TNI sedang menunjukkan sebuah sajadah berwarna coklat beredar di Facebook. Di sebelah sajadah itu, tampak puing-puing dari sesuatu yang telah hancur. Sajadah dalam foto tersebut diklaim sebagai sajadah milik awak kapal selam TNI Angkatan Laut, KRI Nanggala 402, yang tenggelam di perairan Bali pada 21 April 2021 lalu.
Akun ini membagikan foto tersebut pada 25 April 2021. Akun itu kemudian menulis narasi, "Allahuakbar sajadah di temukan utuh dan tidak hancur di serpihan kapal selam KRI Nanggala 402. Subhanallah..." Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan 192 reaksi dan 20 komentar serta dibagikan sebanyak 6 kali.
Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru terkait foto yang diunggahnya, yang faktanya diambil pada Januari 2021, sebelum peristiwa tenggelamnya KRI Nanggala pada April 2021.
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim itu, Tim CekFakta Tempo menelusuri jejak digital foto tersebut denganreverse image tool Yandex. Hasilnya, ditemukan bahwa foto itu bukan foto sajadah milik awak kapal selam KRI Nanggala 402. Foto tersebut memperlihatkan barang-barang yang ditemukan dari pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Januari 2021 lalu.
Foto yang identik pernah dimuat oleh Tempo dalam artikelnya pada 15 Januari 2021 yang berjudul "Kotak Penyimpanan Memori CVR Sriwijaya Air SJ182 Berhasil Ditemukan". Foto ini merupakan foto yang diambil oleh fotografer kantor berita Antara, Muhammad Adimaja. Foto tersebut diberi keterangan sebagai berikut:
"Panglima Koarmada I Laksmana Muda TNI AL Abdul Rasyid (ketujuh kiri) memeriksa serpihan pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ 182 hasil operasi pencarian di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Jumat 15 Januari 2021. Panglima Koarmada I Laksmana Muda TNI AL Abdul Rasyid mengatakan tim SAR masih melakukan pencarian memori dari CVR tersebut karena telah terpisah dari 'underwater locator beacon'."
Foto yang beredar di Facebook (kiri) dan foto yang diambil oleh fotografer Antara, yang memperlihatkan barang-barang yang ditemukan dari pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Januari 2021 lalu (kanan).
Foto ini dimuat bersama lima foto lainnya yang diambil dari lokasi yang sama. Salah satu foto memperlihatkan momen ketika Abdul menunjukkan kotak penyimpanan memori dari perekam suara kokpit atauCockpit Voice Recorder(CVR) yang ditemukan dalam operasi pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ182 di perairan Kepulauan Seribu pada 15 Januari 2021.
Foto-foto yang sama juga pernah dimuat oleh Republika.co.id dalam artikelnya pada 15 Januari 2021 yang berjudul "In Picture: Tim SAR Gabungan Temukan Kotak Memori CVR Sriwijaya Air".
Barang yang ditemukan dari KRI Nanggala
Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Yudo Margono pernah menggelar konferensi pers terkait KRI Nanggala 402, di mana dalam acara tersebut, ia menunjukkan sejumlah benda yang diyakini berasal dari kapal selam yang hilang dan tenggelam di perairan Bali itu. Konferensi pers ini dilaksanakan pada 24 April 2021.
Dilansir dari Kompas.com, Yudo mengatakan bahwa terdapat enam benda berupa kepingan komponen yang ditemukan. Ditemukannya benda-benda ini membuat TNI AL meyakini bahwa KRI Nanggala telah mengalami keretakan. "Telah ditemukan beberapa kepingan dan barang-barang yang berada di sekitar lokasi terakhir kapal selam itu terlihat, saat menyelam," kata Yudo.
Menurut Yudo, benda-benda itu terlepas dan keluar dari kapal karena mengalami tekanan yang cukup besar di kedalaman 700-800 meter. Tekanan ini pula yang menyebabkan keretakan pada kapal. Adapun benda-benda yang ditemukan adalah pelurus tabung torpedo, pembungkus pipa pendingin, botol berisi pelumas, alat salat, potongan busa penahan panas, dan tumpahan solar.
Berdasarkan arsip berita Tempo pada 25 April 2021, menyusul penemuan benda-benda tersebut, Yudo menyatakan bahwa KRI Nanggala 402 berstatussubsunkatau tenggelam. "Barang-barang ini tidak dimiliki oleh umum, dan dalam radius 10 mil tidak ada kapal lain yang melintas," ujar Yudo.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa foto tersebut menunjukkan sajadah milik awak KRI Nanggala 402, keliru. Foto itu adalah foto lama, yang diambil pada Januari 2021 lalu. Foto tersebut memperlihatkan barang-barang yang ditemukan dari pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Januari 2021.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/kri-nanggala
- https://archive.ph/X16bx
- https://www.tempo.co/tag/kri-nanggala-402
- https://foto.tempo.co/read/86000/kotak-penyimpanan-memori-cvr-sriwijaya-air-sj182-berhasil-ditemukan#foto-5
- https://www.tempo.co/tag/sriwijaya-air
- https://www.republika.co.id/berita/qmzc2v314/tim-sar-gabungan-temukan-kotak-memori-cvr-sriwijaya-air-3
- https://www.tempo.co/tag/tni-al
- https://nasional.kompas.com/read/2021/04/24/20555581/daftar-6-benda-milik-kri-nanggala-402-yang-ditemukan-pelurus-tabung-torpedo?page=all
- https://nasional.tempo.co/read/1456033/kri-nanggala-402-berstatus-subsunk-alas-salat-hingga-pelumas-periskop-ditemukan/full&view=ok
- https://www.tempo.co/tag/sriwijaya-air-sj182
(GFD-2021-6864) [SALAH] Foto “Kremasi massal saat melonjaknya jumlah kasus infeksi Covid-19 India”
Sumber: twitter.comTanggal publish: 04/05/2021
Berita
Akun Twitter Amrish Ranjan Pandey (twitter.com/pandey_amrish) pada 18 April 2021 mengunggah sebuah foto yang memperlihatkan suasa di sebuah lokasi kremasi jenazah dengan narasi “#POSTPONE_SSC_CHSL The Exam must be postponed during such pandemic COVID 19. It will be difficult for students to reach at examination centre. They are much prone to be get infected.” atau yang jika diterjemahkan:
“#POSTPONE_SSC_CSHL Ujian harus ditunda selama pandemi Covid-19 semacam ini. Itu akan sulit bagi siswa untuk menjangkau pusat ujian. Mereka sangat rentan terinfeksi.”
Covid india
Virus india
India kremasi masal
Covid di india
“#POSTPONE_SSC_CSHL Ujian harus ditunda selama pandemi Covid-19 semacam ini. Itu akan sulit bagi siswa untuk menjangkau pusat ujian. Mereka sangat rentan terinfeksi.”
Covid india
Virus india
India kremasi masal
Covid di india
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim CekFakta Tempo, adanya foto yang memperlihatkan suasa di sebuah lokasi kremasi jenazah yang diklaim terkait melonjaknya jumlah kasus infeksi Covid-19 India adalah klaim yang salah.
Faktanya, tidak terkait Covid-19. Foto itu sudah beredar di internet sejak 2010 jauh sebelum terjadinya pandemi virus Corona pada Desember 2019. Foto tersebut memperlihatkan suasana di Manikarnika Ghat, salah satu tempat kremasi di tepi sungai suci (ghat) di sepanjang Sungai Gangga, Kota Varanasi, Uttar Pradesh, India.
Dilansir dari Tempo, Tempo menemukan foto itu telah beredar di internet setidaknya sejak Maret 2010. Foto ini diunggah di sebuah blog, Blog of Krishna Sharma, pada 17 Maret 2010. Foto itu terdapat dalam tulisan yang berjudul “Banaras (Manikarnika Ghat)”. Dalam tulisan ini, terdapat foto-foto lain yang diambil dari lokasi yang sama.
Foto-foto yang sama juga dimuat di blog lain, Hindi Script Writer, namun dengan nama pemilik yang sama, Krishna Sharma, pada Januari 2012. Foto-foto ini terdapat dalam tulisan yang berjudul “Banaras (Baranasi) Kota Paling Kuno di Dunia dan Masih Hidup (Manikarnika Ghat dari Varanasi)”.
Situs pemeriksa fakta asal India, Alt News, juga telah memverifikasi klaim beserta foto tersebut. Alt News menghubungi pemilik blog di atas, yang bernama Krishna Kumar. Dia berkata, “Ya, saya mengambil foto ini dari ponsel saya. Foto itu menunjukkan Manikarnika Ghat di Banaras. Saya mengunggah foto ini pada Januari 2012.”
Faktanya, tidak terkait Covid-19. Foto itu sudah beredar di internet sejak 2010 jauh sebelum terjadinya pandemi virus Corona pada Desember 2019. Foto tersebut memperlihatkan suasana di Manikarnika Ghat, salah satu tempat kremasi di tepi sungai suci (ghat) di sepanjang Sungai Gangga, Kota Varanasi, Uttar Pradesh, India.
Dilansir dari Tempo, Tempo menemukan foto itu telah beredar di internet setidaknya sejak Maret 2010. Foto ini diunggah di sebuah blog, Blog of Krishna Sharma, pada 17 Maret 2010. Foto itu terdapat dalam tulisan yang berjudul “Banaras (Manikarnika Ghat)”. Dalam tulisan ini, terdapat foto-foto lain yang diambil dari lokasi yang sama.
Foto-foto yang sama juga dimuat di blog lain, Hindi Script Writer, namun dengan nama pemilik yang sama, Krishna Sharma, pada Januari 2012. Foto-foto ini terdapat dalam tulisan yang berjudul “Banaras (Baranasi) Kota Paling Kuno di Dunia dan Masih Hidup (Manikarnika Ghat dari Varanasi)”.
Situs pemeriksa fakta asal India, Alt News, juga telah memverifikasi klaim beserta foto tersebut. Alt News menghubungi pemilik blog di atas, yang bernama Krishna Kumar. Dia berkata, “Ya, saya mengambil foto ini dari ponsel saya. Foto itu menunjukkan Manikarnika Ghat di Banaras. Saya mengunggah foto ini pada Januari 2012.”
Kesimpulan
TIDAK terkait Covid-19. Foto itu sudah beredar di internet sejak 2010 jauh sebelum terjadinya pandemi virus Corona pada Desember 2019. Foto tersebut memperlihatkan suasana di Manikarnika Ghat, salah satu tempat kremasi di tepi sungai suci (ghat) di sepanjang Sungai Gangga, Kota Varanasi, Uttar Pradesh, India.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1352/keliru-klaim-ini-foto-kremasi-massal-saat-tsunami-covid-india
- https://blogofkrishnasharma.blogspot.com/2010/03/banaras-manikarnika-ghat.html
- https://hindiscriptwriter.blogspot.com/2012/01/banaras-varanasi-most-ancient-city-of.html
- https://www.altnews.in/no-image-of-this-cremation-ground-is-not-releted-to-recent-deaths-caused-by-covid-19-in-india/
(GFD-2021-6865) [SALAH] Kemenhub Larang Mudik karena Ingin Jualan Stiker
Sumber: FacebookTanggal publish: 04/05/2021
Berita
Beredar di media sosial postingan yang mengklaim pelarangan mudik karena Kemenhub ingin jualan stiker. Postingan itu ramai dibagikan sejak akhir pekan lalu.
Salah satu akun yang membagikannya adalah bernama Ahmad Sopian Sauri. Dia mengunggahnya di Facebook pada 2 Mei 2021.
Dalam postingannya terdapat gambar dengan narasi:
"Katanya: Bus tidak boleh mengangkut penumpang mudik lebaran, Faktanya: Bus boleh beroperasi untuk mudik, asal pakai stiker khusus dari Kemenhub"
Selain itu ia juga menambahkan narasi: "Ternyata jualan stiker mudik ya! #rezimkualat"
Salah satu akun yang membagikannya adalah bernama Ahmad Sopian Sauri. Dia mengunggahnya di Facebook pada 2 Mei 2021.
Dalam postingannya terdapat gambar dengan narasi:
"Katanya: Bus tidak boleh mengangkut penumpang mudik lebaran, Faktanya: Bus boleh beroperasi untuk mudik, asal pakai stiker khusus dari Kemenhub"
Selain itu ia juga menambahkan narasi: "Ternyata jualan stiker mudik ya! #rezimkualat"
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dan menemukan artikel berjudul "Kemenhub: Bus Berstiker Khusus Bukan untuk Mudik" yang tayang 3 Mei 2021 di Liputan6.com. Dalam artikel itu terdapat penjelasan dari Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Budi Setiyadi.
"Kami tegaskan bahwa bus dengan stiker khusus ini bukan melayani pemudik, tapi masyarakat yang melakukan perjalanan selain mudik dan telah memenuhi syarat serta ketentuan sesuai peraturan dari Satgas dan Kementerian Perhubungan," tandas Dirjen Budi dalam keterangannya, Senin (3/5/2021)
Lanjut Budi, Kemenhub menerbitkan stiker ini untuk memudahkan para petugas mengidentifikasi bus yang memang boleh beroperasi karena mengangkut penumpang yang telah memenuhi syarat.
Selain itu stiker dari Kemenhub juga diberikan secara cuma-cuma. "Stiker ini diberikan secara gratis dan dikoordinir oleh Direktorat Angkutan Jalan Ditjen Hubdat dan hanya bisa didapatkan dengan mengisi data pada tautan https://forms.gle/ Dq93DyFVgepPV2oW7."
Sementara itu bagi pegawai yang akan melakukan tugas atau perjalanan dinas harus menyertakan persyaratan seperti surat izin perjalanan.
"Jadi kami tegaskan kembali bus tetap tidak boleh mengangkut pemudik, hanya boleh mengangkut penumpang dengan persyaratan tertentu seperti ketentuan dari SE Satgas Nomor 13/2021 dan PM Nomor 13/2021," kata Budi mengakhiri.
Selain itu terdapat juga artikel berjudul "Bus Stiker Khusus yang Bisa Beroperasi saat Larangan Mudik Lebaran" yang tayang 3 Mei 2021. Dalam artikel tersebut terdapat penjelasan bahwa tidak semua penumpang bisa mudik.
"Direktur Jenderal Perhubungan Darat Budi Setiyadi menjelaskan, kendaraan atau bus berstiker ini akan digunakan untuk mengangkut penumpang dengan keperluan selain mudik. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam Surat Edaran Satgas No 13 tahun 2021 dan Peraturan Menteri Perhubungan No 13 tahun 2021, dalam masa pelarangan mudik masih ada masyarakat yang dapat melakukan perjalanan non-mudik.
Perjalanan tersebut antara lain bekerja atau perjalanan dinas, kunjungan keluarga sakit, kunjungan duka anggota keluarga meninggal, ibu hamil, persalinan dan orang dengan kepentingan tertentu non mudik yang semuanya dengan syarat membawa surat dari kepala desa atau lurah setempat yang bertanda tangan basah atau elektronik.
"Kami tegaskan bahwa bus dengan stiker khusus ini bukan melayani pemudik, tapi masyarakat yang melakukan perjalanan selain mudik dan telah memenuhi syarat serta ketentuan sesuai peraturan dari Satgas dan Kementerian Perhubungan," tandas Dirjen Budi dalam keterangannya, Senin (3/5/2021)
Lanjut Budi, Kemenhub menerbitkan stiker ini untuk memudahkan para petugas mengidentifikasi bus yang memang boleh beroperasi karena mengangkut penumpang yang telah memenuhi syarat.
Selain itu stiker dari Kemenhub juga diberikan secara cuma-cuma. "Stiker ini diberikan secara gratis dan dikoordinir oleh Direktorat Angkutan Jalan Ditjen Hubdat dan hanya bisa didapatkan dengan mengisi data pada tautan https://forms.gle/ Dq93DyFVgepPV2oW7."
Sementara itu bagi pegawai yang akan melakukan tugas atau perjalanan dinas harus menyertakan persyaratan seperti surat izin perjalanan.
"Jadi kami tegaskan kembali bus tetap tidak boleh mengangkut pemudik, hanya boleh mengangkut penumpang dengan persyaratan tertentu seperti ketentuan dari SE Satgas Nomor 13/2021 dan PM Nomor 13/2021," kata Budi mengakhiri.
Selain itu terdapat juga artikel berjudul "Bus Stiker Khusus yang Bisa Beroperasi saat Larangan Mudik Lebaran" yang tayang 3 Mei 2021. Dalam artikel tersebut terdapat penjelasan bahwa tidak semua penumpang bisa mudik.
"Direktur Jenderal Perhubungan Darat Budi Setiyadi menjelaskan, kendaraan atau bus berstiker ini akan digunakan untuk mengangkut penumpang dengan keperluan selain mudik. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam Surat Edaran Satgas No 13 tahun 2021 dan Peraturan Menteri Perhubungan No 13 tahun 2021, dalam masa pelarangan mudik masih ada masyarakat yang dapat melakukan perjalanan non-mudik.
Perjalanan tersebut antara lain bekerja atau perjalanan dinas, kunjungan keluarga sakit, kunjungan duka anggota keluarga meninggal, ibu hamil, persalinan dan orang dengan kepentingan tertentu non mudik yang semuanya dengan syarat membawa surat dari kepala desa atau lurah setempat yang bertanda tangan basah atau elektronik.
Kesimpulan
Postingan yang menyebut pelarangan mudik karena Kemenhub ingin jualan stiker adalah tidak benar. Faktanya stiker itu dibuat untuk memudahkan para petugas mengidentifikasi bus yang memang boleh beroperasi karena mengangkut penumpang yang telah memenuhi syarat. Stiker itu sendiri diberikan gratis oleh Kemenhub.
Rujukan
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4549186/cek-fakta-tidak-benar-kemenhub-larang-mudik-karena-ingin-jualan-stiker
- https://www.liputan6.com/bisnis/read/4548436/bus-stiker-khusus-yang-bisa-beroperasi-saat-larangan-mudik-lebaran?source=search
- https://www.liputan6.com/bisnis/read/4548409/kemenhub-bus-berstiker-khusus-bukan-untuk-mudik?source=search
Halaman: 6818/8126





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3447125/original/045574600_1620094114-cek_fakta_kemenhub.jpg)