(GFD-2021-6314) [SALAH] Uang Redenominasi Pecahan Rp100 Bergambar Jokowi
Sumber: tiktok.comTanggal publish: 10/02/2021
Berita
“Katanya Indonesia mau Redenomisasi”.
Hasil Cek Fakta
Sebuah akun Tiktok bernama aku.ijot mengunggah video yang memperlihatkan lembaran mirip dengan uang kertas bergambar Presiden RI Joko Widodo bernilai Rp100. Dalam unggahannya, akun aku.ijot turut menyertakan keterangan “Katanya Indonesia mau Redenomisasi”.
Coba melakukan penelusuran lebih lanjut, berdasar keterangan pihak Bank Indonesia (BI) diperoleh informasi yang menyatakan bahwa BI belum mengeluarkan uang pecahan baru redenominasi. Melansir dari detik.com, Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menyatakan bahwa uang yang beredar dalam video tersebut adalah hoaks.
“Wah kacau, nggak ada,” tuturnya kepada pihak detik.com.
Sementara melansir dari kompas.com, Erwin turut mengimbau masyarakat agar berhati-hati apabila membuat konten yang berhubungan dengan uang rupiah.
“Kami ingin ajak masyarakat untuk berhati-hati urusan ini. Bagaimanapun rupiah adalah lambing kedaulatan NKRI,” tegas Erwin.
Berdasar pada seluruh referensi, klaim oleh akun Tiktok aku.ijot “Katanya Indonesia mau Redenomisasi” dengan menyertakan uang pecahan Rp100 bergambar Jokowi adalah hoaks dengan kategori misleading content atau konten yang menyesatkan.
Coba melakukan penelusuran lebih lanjut, berdasar keterangan pihak Bank Indonesia (BI) diperoleh informasi yang menyatakan bahwa BI belum mengeluarkan uang pecahan baru redenominasi. Melansir dari detik.com, Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menyatakan bahwa uang yang beredar dalam video tersebut adalah hoaks.
“Wah kacau, nggak ada,” tuturnya kepada pihak detik.com.
Sementara melansir dari kompas.com, Erwin turut mengimbau masyarakat agar berhati-hati apabila membuat konten yang berhubungan dengan uang rupiah.
“Kami ingin ajak masyarakat untuk berhati-hati urusan ini. Bagaimanapun rupiah adalah lambing kedaulatan NKRI,” tegas Erwin.
Berdasar pada seluruh referensi, klaim oleh akun Tiktok aku.ijot “Katanya Indonesia mau Redenomisasi” dengan menyertakan uang pecahan Rp100 bergambar Jokowi adalah hoaks dengan kategori misleading content atau konten yang menyesatkan.
Kesimpulan
Direktur Eksekutif Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono menegaskan bahwa pihak BI hingga saat ini belum mengeluarkan uang pecahan redenominasi. Erwin juga menyatakan jika video uang pecahan Rp100 bergambar Jokowi hanyalah ulah orang iseng.
Rujukan
- https://www.kompas.tv/article/145171/bi-bantah-keluarkan-uang-redenominasi-rp-100-gambar-jokowi-ini-penampakannya
- https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210208121547-78-603592/uang-redenominasi-rp100-bergambar-jokowi-beredar-di-medsos
- https://finance.detik.com/moneter/d-5365604/apa-itu-uang-redenominasi-yang-viral-bergambar-jokowi
- https://www.kompas.com/tren/read/2021/02/08/165243965/video-viral-uang-redenominasi-bergambar-presiden-jokowi-ini-kata-bi?page=all
(GFD-2021-6315) [SALAH] Minum Air Hangat 4 Kali Sehari Dapat Menyembuhkan Covid-19
Sumber: facebook.comTanggal publish: 10/02/2021
Berita
Sebuah akun Facebook bernama Ahmad Harits mengunggah narasi yang mengatakan bahwa dengan meminum air hangat 4 kali sehari dan memberi informasi mengenai fungsi air hangat terhadap tubuh kita.
Hasil Cek Fakta
Setelah ditelusuri, Juru Bicara Satgas Covid-19 Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) dr Tonang Dwi Ardyanto menerangkan informasi tentang air hangat yang dapat menyembuhkan Covid-19 karena air hangat dapat melancarkan peredaran darah itu tidak benar.
dr Tonang menerangkan pemahaman keseimbangan cairan tidaklah sesederhana demikian. Menurutnya sumber masukan air tidak hanya dari minuman dan makanan namun juga jalur lain, begitu pula untuk pengeluarannya. Selain itu keseimbangan cairan bukanlah hal yang tunggal karena harus mempertimbangkan keseimbangan elektrolit, asam, basa, dan sebagainya.
Adapun pada Covid-19 menurutnya memang dapat mengganggu sistem koagulasi. Namun ia menerangkan, pengentalan darah akibat faktor koagulasi berbeda dengan yang terjadi pada pengentalan darah akibat dehidrasi.
“Kalau dehidrasi, ada benarnya pemberian cairan. Tapi kalau faktor koagulasi, beda,” jelas dia.
“Covid itu mengganggu sistem koagulasi. Bahwa dapat juga terjadi dehidrasi, itu faktor lain bukan karena gangguan koagulasinya,” imbuhnya.
Ahli penyakit pernapasan di Cardiff University Inggris dan mantan Direktur Common Cold Center Ron Eccles telah melakukan penelitian tentang dampak nyata dari minuman panas ketika menderita flu. Dia menemukan bahwa sementara minuman panas mungkin dapat meredakan gejala pilek, kemungkinan hal tersebut sebagian merupakan efek dari peningkatan sekresi ludah dan lendir di mulut dan hidung, yang meredakan inflamasi. Namun tidak dengan virus.
“Tidak ada bukti bahwa minuman panas dapat memberikan perlindungan untuk melawan infeksi virus,” kata Eccles yang dikutip dari BBC.
Sehingga, klaim mengenai minum air hangat 4 kali sehari dapat menyembuhkan Covid termasuk hoaks dengan kategori konten yang menyesatkan.
dr Tonang menerangkan pemahaman keseimbangan cairan tidaklah sesederhana demikian. Menurutnya sumber masukan air tidak hanya dari minuman dan makanan namun juga jalur lain, begitu pula untuk pengeluarannya. Selain itu keseimbangan cairan bukanlah hal yang tunggal karena harus mempertimbangkan keseimbangan elektrolit, asam, basa, dan sebagainya.
Adapun pada Covid-19 menurutnya memang dapat mengganggu sistem koagulasi. Namun ia menerangkan, pengentalan darah akibat faktor koagulasi berbeda dengan yang terjadi pada pengentalan darah akibat dehidrasi.
“Kalau dehidrasi, ada benarnya pemberian cairan. Tapi kalau faktor koagulasi, beda,” jelas dia.
“Covid itu mengganggu sistem koagulasi. Bahwa dapat juga terjadi dehidrasi, itu faktor lain bukan karena gangguan koagulasinya,” imbuhnya.
Ahli penyakit pernapasan di Cardiff University Inggris dan mantan Direktur Common Cold Center Ron Eccles telah melakukan penelitian tentang dampak nyata dari minuman panas ketika menderita flu. Dia menemukan bahwa sementara minuman panas mungkin dapat meredakan gejala pilek, kemungkinan hal tersebut sebagian merupakan efek dari peningkatan sekresi ludah dan lendir di mulut dan hidung, yang meredakan inflamasi. Namun tidak dengan virus.
“Tidak ada bukti bahwa minuman panas dapat memberikan perlindungan untuk melawan infeksi virus,” kata Eccles yang dikutip dari BBC.
Sehingga, klaim mengenai minum air hangat 4 kali sehari dapat menyembuhkan Covid termasuk hoaks dengan kategori konten yang menyesatkan.
Rujukan
(GFD-2021-8488) Keliru, Pria Ini Syok saat Siuman dari Koma Setahun Karena Keluarganya Meninggal Akibat Covid-19
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 09/02/2021
Berita
Narasi bahwa seorang pria asal Inggris, Joseph Flavill, syok saat siuman dari koma selama setahun karena mengetahui anggota keluarganya meninggal akibat Covid-19, beredar di media sosial. Klaim itu terdapat dalam sebuah artikel yang berjudul "Setahun Koma di Rumah Sakit, Begitu Siuman Pria Ini Syok Orang-orang Tercinta Meninggal karena Covid".
Artikel tersebut salah satunya dimuat oleh situs ini pada 7 Februari 2021. Menurut artikel itu, informasi tersebut dikutip dari media Inggris The Sun. Artikel itu kemudian dibagikan ke media sosial, salah satunya oleh akun Facebook ini pada tanggal yang sama. Artikel tersebut juga memuat foto seorang pria yang tergolek di ranjang rumah sakit.
Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook berupa tautan artikel yang berisi klaim keliru soal pria asal Inggris yang koma selama pandemi Covid-19.
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital foto yang tercantum dalam artikel di atas denganreverse image toolGoogle. Hasilnya, ditemukan sejumlah berita yang memuat foto itu, termasuk yang diterbitkan oleh The Sun, yang dikutip oleh situs di atas. Namun, dalam berita itu, tidak terdapat informasi bahwa anggota keluarga Joseph Flavill meninggal karena Covid-19.
Berita The Sun ini berjudul "Pelajar 19 tahun, dalam keadaan koma selama 11 bulan setelah tabrakan mobil, akhirnya bangun tanpa mengetahui pandemi Covid". Menurut berita itu, pelajar 19 tahun yang bernama Joseph Flavill tersebut tertabrak mobil saat berjalan kaki di daerah Burton, Staffordshire, Inggris, pada 1 Maret 2020. Akibat kecelakaan ini, dia menderita cedera otak parah dan dirawat di Rumah Sakit Umum Leicester.
Joseph mengalami koma tiga minggu sebelum Inggris menerapkan lockdown nasional pertamanya untuk mengerem penyebaran Covid-19 pada 23 Maret 2020. Dia pun sempat terjangkit Covid-19 dua kali di rumah sakit, tapi saat ini telah pulih. Joseph juga sudah siuman dari koma. Namun, dia tidak memiliki pengetahuan tentang pandemi Covid-19. Saat ini, dia hanya berhubungan dengan orang-orang tercintanya lewat panggilan video di Facetime.
Hanya ibu Joseph, Sharon Priestley, yang diizinkan berkunjung di bawah pembatasan karena pandemi Covid-19. Kerabatnya pun kini bertanya-tanya bagaimana menjelaskan betapa terpuruknya dunia akibat pandemi kepada Joseph. Bibinya, Sally Flavill-Smith, mengatakan dia telah mengalami kemajuan pesat dalam beberapa minggu terakhir. Joseph sudah bisa berkedip dan tersenyum ketika menanggapi perkataan seseorang serta mengangkat kaki sesuai instruksi.
"Sangat sulit bagi ibunya untuk tidak bisa menemuinya. Kami juga tidak tahu seberapa banyak yang dia pahami karena kecelakaannya terjadi sebelum lockdown nasional pertama, dan itu artinya dia telah tertidur selama pandemi. Sulit karena kami tahu dia sudah semakin sadar, tapi bagaimana Anda menjelaskan pandemi kepada seseorang yang berada dalam kondisi koma sebelumnya?" ujar Sally.
Sekitar empat bulan lalu, Joseph dipindahkan ke Rumah Perawatan Adderley Green di Stoke untuk rehabilitasi neurologis, fisik, dan kognitif. Ibunya diizinkan untuk menghabiskan waktu bersamanya di rumah perawatan itu di hari ulang tahun Joseph yang ke-19, meskipun tetap harus menjaga jarak. Menurut Sally, wajah Joseph bersinar ketika dia melihat teman dan keluarganya lewat Facetime.
Berita tentang Joseph Flavill ini juga dimuat oleh media-media lain, baik luar maupun dalam negeri, seperti CNN, The Guardian, BBC, Reuters, CNN Indonesia, Detik.com, dan Merdeka.com. Namun, dalam berita-berita tersebut, juga tidak ditemukan informasi bahwa anggota keluarga Joseph meninggal karena Covid-19 selama dia berada dalam kondisi koma di rumah sakit akibat tertabrak mobil.
Dilansir dari Reuters, selama Joseph Flavill dirawat di rumah sakit, sebagian besar keluarganya tidak bisa berada di dekatnya karena pembatasan akibat pandemi Covid-19. Mereka berkomunikasi hanya melalui panggilan video. "Baru-baru ini Joseph mulai menunjukkan tanda-tanda kecil pemulihan. Kami tahu sekarang dia bisa mendengar kami, dia menanggapi perintah kecil," kata Sally Flavill Smith, bibi Joseph, pada 8 Februari 2021.
“Ketika kami mengatakan kepadanya, 'Joseph, kami tidak bisa bersamamu, tapi kamu aman, ini tidak akan selamanya', dia mengerti, dia mendengarmu, dia hanya tidak bisa berbicara,” katanya. Sally menambahkan bahwa Joseph sekarang bisa memberi isyarat 'ya' dengan satu kedipan dan 'tidak' dengan dua kedipan. Namun, Sally menyatakan masih tidak tahu bagaimana Joseph akan memahami cerita mereka tentang lockdown selama pandemi Covid-19.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa seorang pria asal Inggris, Joseph Flavill, syok saat siuman dari koma selama setahun karena mengetahui anggota keluarganya meninggal akibat Covid-19, keliru. Menurut artikel yang memuat klaim itu, informasi tersebut berasal dari The Sun. Namun, dalam berita yang dimuat oleh The Sun, tidak terdapat informasi bahwa anggota keluarga Joseph meninggal karena Covid-19. Begitu pula dalam pemberitaan di berbagai media lain. Dalam berita-berita itu, hanya disebutkan bahwa keluarga Joseph bingung bagaimana menjelaskan pandemi Covid-19 kepadanya karena ia mengalami koma sejak awal Maret 2021, sebelum Inggris mengalami lockdown dan kasus Covid-19 menyebar di seluruh dunia.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/covid-19
- https://archive.vn/GUkB3
- https://archive.vn/SGkN2
- https://www.thesun.co.uk/news/13917552/student-coma-car-crash-covid/
- https://www.tempo.co/tag/inggris
- https://www.tempo.co/tag/pandemi-covid-19
- https://www.tempo.co/tag/lockdown
- https://edition.cnn.com/2021/02/03/uk/joseph-flavill-coma-pandemic-scli-gbr-intl/index.html
- https://www.theguardian.com/uk-news/2021/feb/02/teenager-emerges-after-10-month-coma-with-no-knowledge-of-pandemic
- https://www.bbc.com/news/av/uk-55922431
- https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-britain-coma-idUSKBN2A80JS
- https://www.cnnindonesia.com/internasional/20210208152251-134-603716/sadar-usai-setahun-koma-remaja-inggris-2-kali-positif-covid
- https://health.detik.com/true-story/d-5364485/koma-10-bulan-remaja-ini-tak-tahu-ada-pandemi-meski-pernah-kena-corona
- https://www.merdeka.com/dunia/bangun-dari-koma-10-bulan-remaja-inggris-tidak-tahu-ada-pandemi.html
(GFD-2021-8489) Keliru, Tak Ada Warga Vietnam yang Meninggal Akibat Covid-19 Karena Minum Teh Panas Campur Lemon
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 09/02/2021
Berita
Klaim bahwa tidak ada warga Vietnam yang meninggal karena Covid-19 beredar di media sosial. Menurut klaim tersebut, tidak ada kasus kematian akibat Covid-19 di Vietnam karena warganya rutin mengkonsumsi teh panas yang dicampur dengan perasan lemon. Di Facebook, klaim tersebut dibagikan oleh akun ini pada 8 Februari 2021. Berikut narasi lengkapnya:
“Kabar gembira dan istimewa.. Vietnam korban covid 19 tidak ada yng mati...Berita super.. obat virus covid 19 sudah tercapai informasi dari negara Vietnam.. virus covid 19 tidak menyebabkan kematian.. ternyata resepnya sangat sederhana tapi sangat ampuh.. hanya 1 teh..2 lemon..minumlah teh panas setelah di campur perasan lemon..dapat segera membunuh virus covid 19..dan dapat sepenuhnya menghilangkan virus covid 19 dari tubuh...2 bahan ini membuat sistem kekebalan tubuh menjadi bersifat basa.. karena ketika malam tiba sistem tubuh menjadi asam.. kemampuan detensif juga akan berkurang.. itulah sebabnya orang Vietnam santai saja dengan menyebarnya virus covid 19... Di Vietnam rata2 semua orang minum segelas air panas dengan sedikit lemon di malam hari... Karena telah terbukti membunuh virus covid 19 secara total...”
Gambar tangkapan layar unggahan di Facebook yang berisi klaim keliru bahwa tidak ada warga Vietnam yang meninggal akibat Covid-19 karena mengkonsumsi teh panas yang dicampur dengan perasan lemon.
Hasil Cek Fakta
Menurut data Worldometer per 9 Februari 2021, kasus Covid-19 di Vietnam mencapai 2.050 kasus, di mana 35 orang di antaranya meninggal. Sementara itu, pasien Covid-19 di Vietnam yang telah dinyatakan sembuh sebanyak 1.472 orang. Sementara menurut data Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ) per 8 Februari 2021, kasus Covid-19 di Vietnam mencapai 2.005 kasus, di mana 35 orang di antaranya meninggal.
Dilansir dari BBC, Vietnam mencatatkan kematian pertama akibat Covid-19 baru pada 31 Juli 2020. Pasien yang meninggal tersebut berjenis kelamin laki-laki dan berusia 70 tahun. Ia berasal dari Hoi An. Kematian kedua, seorang pria berusia 61 tahun, dilaporkan kemudian di hari yang sama. Kedua pasien yang meninggal tersebut memiliki kondisi kesehatan yang mendasarinya. Ketika itu, di Vietnam, kasus Covid-19 baru mencapai 546 kasus.
Menurut BBC, tidak seperti banyak negara lain, Vietnam bertindak bahkan sebelum ada kasus Covid-19 yang dikonfirmasi. Pemerintah menutup perbatasannya lebih awal bagi hampir semua pelancong, kecuali warga negara yang kembali dari luar negeri. Siapa pun yang memasuki negara tersebut juga harus dikarantina di fasilitas pemerintah selama 14 hari dan menjalani pengujian Covid-19.
Dikutip dari Liputan6.com, Vietnam merupakan salah satu negara di ASEAN yang dinilai dapat menangani pandemi Covid-19 dengan cukup baik di masa kritis, di saat negara lain masih bergulat untuk melawan virus tersebut. Duta Besar Vietnam untuk Indonesia Pham Vinh Quang memaparkan bahwa salah satu hal yang dilakukan oleh pemerintah Vietnam adalah cepat dan tanggap dalam merespons Covid-19.
Bukti nyata pemerintah Vietnam bertindak cepat dan tanggap dalam penanganan pandemi Covid-19 adalah bahwa mereka segera membentuk komite penanganan pandemi, hanya 7 hari setelah ditemukannya kasus pertama pada Januari 2020. "Selain itu, aturan pembatasan ketat juga menjadi salah satu kunci dalam menangani Covid-19," kata Pham dalam sesi bincang santai siang virtual bersama awak media pada 22 Desember 2020.
Teh panas dan lemon untuk Covid-19
Klaim bahwa mengkonsumsi teh panas serta lemon bisa membunuh virus Corona Covid-19 pernah beredar pada April 2020 lalu. Ketika itu, Tim CekFakta Tempo telah melakukan verifikasi, dan menyatakan bahwa klaim tersebut keliru. Mengutip laporan organisasi cek fakta FactCheck, dokter penyakit menular Krutika Kuppalli mengatakan, "Tidak ada data yang menunjukkan bahwa lemon atau teh panas akan membunuh virus."
Terkait klaim bahwa teh panas bisa mematikan virus Corona Covid-19, pernah beredar sebelumnya pada akhir Maret 2020. Informasi tersebut berasal dari peneliti Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Zhejiang, Cina. Dalam sebuah percobaan dengan sel yang dikultur secara in vitro, mereka menemukan bahwa teh, yang kaya polifenol, bekerja dengan baik dalam membunuh virus Corona secara ekstraseluler dan menekan proliferasi intraselulernya.
Namun, hal itu telah dibantah oleh seorang ahli imunologi yang diwawancara oleh China Daily. Menurut dia, virus Corona menginfeksi sel epitel alveolar di paru-paru. Sementara teh yang diminum tidak akan mencapai paru-paru. Bahkan, kalau pun percobaan in vitro menunjukkan bahwa teh dapat membunuh virus Corona, tidak berarti bahwa mengkonsumsi teh bisa menghasilkan efek yang sama.
Menurut ahli tersebut, setelah tes in vitro pun, uji coba pada hewan harus dilakukan, kemudian dipertimbangkan untuk uji klinis pada manusia. Hasil tes in vitro tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa minum teh dapat membantu mencegah penularan Covid-19. Saat ini, artikel yang dipublikasikan lewat akun WeChat CDC Zhejiang tersebut juga sudah dihapus. Staf CDC Zhejiang mengatakan temuan dari penelitian terbaru akan dipublikasikan melalui WeChat setelah prosedur-prosedur yang diperlukan diselesaikan.
Sementara terkait klaim bahwa lemon bisa membunuh virus Corona Covid-19, pernah beredar pada awal April 2020. Narasi yang menyebar ketika itu menyatakan bahwa virus Corona memiliki derajat keasaman (pH) 5,5-8,5. Dengan derajat keasaman tersebut, virus Corona bisa dibunuh dengan mengkonsumsi makanan alkali, termasuk lemon, yang mengandung pH yang lebih tinggi ketimbang pH virus.
Sebagai informasi, semakin rendah pH, suatu unsur akan semakin bersifat asam. Sementara makanan alkali mengandung pH basa atau pH di atas 7 (pH yang dianggap netral). Lemon memiliki pH sekitar 2, bukan 9,9 seperti dalam narasi itu. Menurut Euronews, mengkonsumsi makanan tertentu yang memiliki pH di bawah ataupun di atas 7 tidak akan mengubah derajat keasaman dalam tubuh. Pasalnya, tubuh telah mengatur derajat keasamannya dalam kisaran yang sangat sempit, terbatas pada pH 7,37-7,43, agar sel-sel tetap berfungsi.
Ahli virus Shaheed Jameel pun mengatakan virus tidak memiliki derajat keasaman. Karena itu, pernyataan yang mengaitkan makanan yang diklaim memiliki pH tinggi dengan virus Corona tidak berdasar. "Tidak ada organisme hidup yang memiliki nilai pH," katanya. Oyewale Tomori, profesor virologi WHO, juga mengatakan bahwa klaim tentang pH pada virus Corona keliru. "Virus Corona tidak ada hubungannya dengan perut. Jadi, bagaimana 'makanan alkali' mengalahkan virus? Klaim ini harus diabaikan," ujarnya.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa tidak ada warga Vietnam yang meninggal akibat Covid-19 karena rutin mengkonsumsi teh panas yang dicampur dengan perasan lemon, keliru. Meski kasus Covid-19 di Vietnam terbilang rendah, hingga saat ini, sebanyak 35 warga di negara itu yang meninggal akibat penyakit tersebut. Selain itu, tidak ada bukti yang menunjukkan teh panas atau lemon bisa mencegah atau menyembuhkan Covid-19.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/vietnam
- https://archive.vn/H8zBf
- https://bit.ly/3jvpsff
- https://covid19.who.int/region/wpro/country/vn
- https://www.bbc.com/news/world-asia-53606917
- https://www.tempo.co/tag/covid-19
- https://bit.ly/3aO1JTt
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/734/fakta-atau-hoaks-benarkah-minum-teh-panas-yang-dicampur-perasan-lemon-bisa-bunuh-corona
- https://www.tempo.co/tag/virus-corona
- https://www.tempo.co/tag/teh
- https://www.tempo.co/tag/lemon
Halaman: 6802/7945



