• (GFD-2021-6341) [SALAH] Surat Panggilan Interview PT Jababeka Group

    Sumber: Tangkapan layar surat
    Tanggal publish: 13/02/2021

    Berita

    Telah beredar surat panggilan interview yang mengatasnamakan PT Jababeka Group terkait dengan rekrutmen calon karyawan PT Jababeka Group untuk wilayah kerja yang meliputi Region Sumatera, Region Jawa, Region Kalimantan dan Bagian Indonesia Timur lainnya.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, PT Jababeka Group telah membantah surat tersebut melalui akun media sosial @JababekaCareer. Pihak PT Jababeka Group mengimbau untuk waspada terhadap segala bentuk penipuan yang mengatasnamakan PT Jababeka Group. Pihaknya tidak pernah memungut biaya apapun kepada calon pelamar baik secara langsung maupun melalui pihak ketiga selama proses rekrutmen.

    Lowongan pekerjaan PT Jababeka Group hanya diumumkan melalui akun official media sosial dan akun resmi jobstreet dengan nama akun PT. Jababeka, Tbk.

    Dengan demikian, surat panggilan interview yang mengatasnamakan PT Jababeka Group terkait dengan rekrutmen calon karyawan PT Jababeka Group adalah tidak benar dan termasuk

    Kesimpulan

    Surat palsu. PT Jababeka Group telah membantah surat tersebut melalui akun media sosial @JababekaCareer. Pihaknya mengimbau untuk waspada terhadap segala bentuk penipuan yang mengatasnamakan PT Jababeka Group. Lowongan pekerjaan PT Jababeka Group hanya diumumkan melalui akun official media sosial dan akun resmi jobstreet dengan nama akun PT. Jababeka, Tbk.

    Rujukan

  • (GFD-2021-8494) Keliru, Klaim Ini Cover Koran Tempo dengan Judul Babak-Belur di Ronde Kedua

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 12/02/2021

    Berita


    Coveratau sampul Koran Tempo yang berjudul "Babak-Belur di Ronde ke Dua" beredar di media sosial. Dalamcovertersebut, terlihat gambar seorang pria bermasker yang mengenakan baju putih dan celana hitam di dalam ring tinju. Pria itu juga mengenakan sarung tinju.
    Di Facebook,coveritu dibagikan salah satunya oleh akun ini, yakni pada 6 Februari 2021. Akun tersebut menulis, "Koran Tempo jail." Hingga kini, unggahan itu telah mendapatkan 127 reaksi dan 36 komentar serta dibagikan 116 kali. Cover tersebut juga dibagikan oleh akun Twitter ini, ini, dan ini.
    Salah satu cuitan pada 8 Februari 2021 memuat narasi, "Tempo B*****t. Berhentilah bermain lukisan atau meme. Please.. Buatlah koran dan majalah sungguhan. Berita sesuai fakta." Hingga kini, cuitan itu telah mendapatkan 132retweetdan 583likeserta dikomentari 33 kali.
    Cover Koran Tempo edisi 26 Oktober 2015 yang telah disunting (kiri) dan cover Koran Tempo edisi 26 Oktober 2015 yang asli (kanan).

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuricoveritu denganreverse image toolGoogle. Hasilnya, ditemukan bahwacovertersebut merupakan hasil suntingan daricover Koran Tempo edisi 26 Oktober 2015. Edisi ini berjudul "Babak-Belur di Tahun Pertama".
    Suntingan pada cover  Koran Tempo itu terletak pada tulisan "Di Tahun Pertama", yang diganti menjadi "Ke Dua" dan angka 1 di bawah tulisan "Pertama", yang diganti menjadi angka 2. Tulisan "Edsus Setahun Jokowi-JK" pada ring tinju dihapus. Deskripsi yang berada di sisi kanan bawah cover juga dihapus.
    Deskripsi itu berbunyi: "Pasangan Joko Widodo -  Jusuf Kalla genap setahun duduk di pucuk kursi pemerintahan. Berbagai gejolak ekonomi, politik, dan hukum mewarnai pemerintahan keduanya yang dilantik sebagai presiden dan wakil presiden pada 20 Oktober 2014. Dari melambatnya pertumbuhan ekonomi, terpuruknya rupiah, hingga bertambahnya angka penduduk miskin. Di bidang penegakan hukum, mereka dihadapkan dengan gesekan yang terjadi antara Polri dan KPK, juga anggota DPR yang semakin bersemangat menggergaji kewenangan komisi antirasuah itu. Tahun pertama yang membuat pontang-panting, juga babak-belur.
    Koran Tempo edisi 26 Oktober 2015 tersebut memang merupakan edisi khusus setahun pemerintahan Presiden Jokowi bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla. Edisi itu terbit setahun setelah keduanya dilantik sebagai presiden dan wakil presiden pada 20 Oktober 2014.
    Pemimpin Redaksi Koran Tempo Budi Setyarso telah menyatakan bahwa cover tersebut adalah hasileditandari cover Koran Tempo. "Gambar itu mengubahcoverKoran Tempo tahun 2015. Isinya tentang catatan setahun pemerintahanJokowi-JK," ujar Budi saat dihubungi pada 12 Februari 2021.
    Redaktur Eksekutif Koran Tempo Jajang Jamaludin juga memastikan bahwa cover itu adalah hasil manipulasi. "Kami pasaikan bahwa konten dan gambar covertersebut sudah dimanipulasi. Kami sarankan pembaca selalu cek dan ricek ke sumber asli ketika menerima atau menemukan konten berita yang mencurigakan," kata Jajang pada 12 Februari 2021.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwacoverberjudul "Babak-Belur di Ronde ke Dua" di atas adalahcoverKoran Tempo, keliru.Covertersebut merupakan hasil suntingan daricoverKoran Tempo edisi 26 Oktober 2015 yang berjudul "Babak-Belur di Tahun Pertama". Edisi ini merupakan edisi khusus setahun pemerintahan Presiden Jokowi bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-8495) Sesat, Foto Ini Terkait dengan Restu SBY untuk Anies Sebagai Capres

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 12/02/2021

    Berita


    Foto yang memperlihatkan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY sedang bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan beredar di Twitter. Foto tersebut dibagikan dengan klaim bahwa SBY merestui Anies maju sebagai calon presiden.
    "Insaallah restu pak beyye buat mas @aniesbaswedan Menuju RI 1. Cebong g boleh RT ya," demikian narasi yang dicuitkan oleh sebuah akun Twitter pada 10 Februari 2021. Hingga artikel ini dimuat, cuitan itu telah mendapatkan 1.097retweetdan 4.591 like serta dikomentari 40 kali.
    Gambar tangkapan layar cuitan di Twitter yang memuat klaim sesat terkait foto Anies Baswedan dengan SBY.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo menelusuri jejak digital foto di atas denganreverse image toolGoogle. Hasilnya, ditemukan bahwa foto itu adalah potongan dari sebuah foto lama. Foto tersebut diambil ketika Anies Baswedan berbincang dengan Susilo Bambang Yudhoyono saat menjenguk istri SBY, Ani Yudhoyono, di Singapura pada Maret 2019 silam.
    Foto asli dari potongan foto itu pernah dimuat oleh Tempo pada 1 Maret 2019 dalam artikelnya yang berjudul "Anies Baswedan dan Istri Jenguk Ani Yudhoyono di Singapura". Dalam foto tersebut, terlihat bahwa di belakang Anies, tampak pula istrinya, Fery Farhati. Selain foto itu, terdapat pula tiga foto lain yang diambil dari momen yang sama.
    Ketika itu, Kristiani Herawati atau Ani Yudhoyono tengah dirawat di National University Hospital, Singapura, karena mengidap penyakit kanker darah. Sebelum Anies, sejumlah tokoh politik Indonesia juga menjenguk Ani, seperti Presiden Joko Widodo atau Jokowi, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, dan mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.
    Foto ketika Anies Baswedan bertemu dengan SBY saat menjenguk Ani Yudhoyono di National University Hospital, Singapura, pada 1 Maret 2019.
    Foto tersebut juga pernah dimuat oleh Detik.com pada tanggal yang sama dalam artikelnya yang berjudul "Anies Doakan Ani Yudhoyono Pulih dan SBY Sekeluarga Dikuatkan". Selain foto itu, terdapat satu foto lain yang diambil dari momen yang sama. Foto-foto ini diberi keterangan: "Anies bertemu SBY saat menjenguk Ani Yudhoyono".
    Menurut laporan Detik.com, ketika itu, Anies dan Fery berbincang dengan SBY di samping ruang perawatan. Keduanya menyimak penuturan SBY soal proses penyembuhan yang sedang dijalani oleh Ani. "Proses penyembuhan yang sedang dijalani bukanlah ringan. Sebuah cobaan yang datang tak diduga," kata Anies seperti dikutip dari akun Instagram pribadinya.
    Tempo pun memeriksa berita terkait dengan memasukkan kata kunci "SBY restui Anies presiden" di mesin pencari Google. Namun, hingga kini, tidak ditemukan berita bahwa SBY telah merestui Anies sebagai calon presiden. Berita yang ditemukan hanyalah berita terkait prediksi bahwa Anies bakal berduet dengan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY, anak pertama SBY, dalam Pilpres 2024.
    Salah satunya adalah yang dimuat oleh Sindonews pada 16 Januari 2021. Berita ini mengutip Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion Dedi Kurnia Syah. "Jika ada skema usungan Ganjar (Pranowo)-Sandiaga (Uno), keterusungan Anies harus berdamping dengan tokoh penyeimbang dari sisi performa popularitas, juga ketokohan. AHY akan menarik untuk ditawarkan," katanya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim yang mengaitkan foto tersebut dengan restu Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY terhadap Anies Baswedan untuk maju sebagai calon presiden, menyesatkan. Foto itu adalah potongan dari sebuah foto lama, diambil pada 1 Maret 2019, ketika Anies Baswedan bertemu dengan SBY saat menjenguk Ani Yudhoyono di Singapura. Ketika itu, Ani sedang dirawat di National University Hospital karena mengidap penyakit kanker darah. Hingga kini, juga tidak ditemukan pemberitaan bahwa SBY merestui Anies maju sebagai calon presiden.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-6326) [SALAH] Vietnam Tanpa Kasus Kematian Akibat Covid-19 karena Campuran Teh Panas dan Lemon

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 12/02/2021

    Berita

    Sebuah akun media sosial Facebook mengunggah sebuah postingan yang mengklaim bahwa negara Vietnam tercatat tidak memiliki kasus kematian akibat Covid-19. Hal ini disebabkan karena masyarakat di negara Vietnam, rutin mengkonsumsi air panas dengan tambahan perasan lemon.
    Covid di Vietnam teh & lemon

    Vietnam dan covid 19
    Menyembuhka covid dengan lemon dam teh panas

    Hasil Cek Fakta

    Namun, melalui penelusuran terkait kebenaran klaim tersebut, ditemukan fakta bahwa sampai pada bulan Januari 2021, Vietnam tercatat mengalami kasus kematian akibat Covid-19 sebanyak 35 orang. Bahkan hasil Wordo Meters menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kasus Covid-19 di Vietnam pada Januari 2021.

    Fakta ini menunjukkan bahwa walaupun berhasil menjaga angka kematian akibat Covid-19 tetap nol selama 3 bulan sejak awal penyebaran, Vietnam akhirnya melaporkan kasus kematian pertama pada Agustus 2020. Hal ini diduga disebabkan oleh penyebaran yang tidak sengaja oleh orang-orang tanpa gejala yang terpapar Covid-19.

    Lalu, terkait klaim yang menyatakan bahwa campuran air panas dengan lemon ampuh menjaga masyarakat Vietnam dari penyebaran Covid-19 juga merupakan hoaks. Sampai hari ini tidak penelitian yang dapat membuktikan bahwa campuran air panas dan lemon memang benar-benar ampuh untuk mencegah Covid-19 atau tidak.

    Hoaks ini sebelumnya telah muncul pada April tahun 2020. Mengutip dari artikel Liputan6 dengan judul “Hoaks Resep Lemon dan Teh Panas untuk Sembuhkan COVID-19 dari Palestina”. Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Daeng M. Faqih menyatakan bahwa hal tersebut belum terbukti benar dan belum ada penelitian ilmiahnya.

    Selain itu, Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisonal dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), DR.dr. Inggrid Tania M.Si, menjelaskan bahwa lemon dan teh masing-masing memang bersifat antioksidan. Jika dicampur, maka sifat antioksidan dalam campuran tersebut akan lebih tinggi lagi. Bahan alam yang bersifat antioksidan, biasanya bersifat meregulasi sistem imun dengan menangkal radikal bebas pada proses peradangan.

    Dokter Spesialis Gizi Klinik dari RS Metropolitan Medical Center, Raissa Edwina Djuanda juga menjelaskan bahwa asupan gizi dan antioksidan di dalam lemon memang berkontribusi terhadap pencegahan virus. Namun meski begitu, bukan berarti lemon bisa membunuh virus corona, atau virus-virus lainnya yang ada dalam tubuh.

    Adapun, perihal strategi Vietnam untuk mengatasi Covid-19 sehingga mampu menekan angka penyebaran dan korban meninggal akibat Covid-19, tidak terkait dengan penggunaan campuran teh dan lemon. Hal ini disebabkan dengan berbagai kebijakan yang cepat dan tanggap dari pemerintah Vietnam.

    Jadi dapat disimpulkan klaim yang menyatakan bahwa tidak adanya kematian akibat Covid-19 di Vietnam disebabkan karena masyarakatnya rajin mengonsumsi campuran teh panas dan lemon adalah hoaks kategori misleading content atau konten menyesatkan.

    Rujukan