• (GFD-2021-8582) Keliru, Pimpinan Muhammadiyah Mantrijeron Yogyakarta Ditangkap Densus 88 Sepulang dari Turki

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 12/04/2021

    Berita


    Gambar tangkapan layar sebuah cuitan di Twitter soal penangkapan yang dilakukan oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri atau Densus 88 di Yogyakarta beredar di Facebook. Menurut cuitan pada 10 April 2021 itu, di Yogyakarta, Densus 88 menangkap seorang pimpinan Muhammadiyah cabang Mantrijeron sepulang liburan dari Turki.
    "MUHAMMADIYAH MULAI DIGARAP: Pimpinan Muhammadiyah Cabang Mantrijeron Yogyakarta Ditangkap Densus 88, begitu turun dari pesawat, sepulang liburan dari Turky," demikian narasi dalam cuitan itu. Cuitan ini disertai dengan foto sebuah artikel di koran yang membahas tentang penggeledahan rumah seorang terduga teroris di Suryowijayan, Mantrijeron.
    Artikel itu berjudul "Di Balik Penggeledahan Rumah Terduga Teroris di Kampung Suryowijayan: Pulang Liburan, Turun Pesawat Suami Ditangkap". Akun ini membagikan gambar tangkapan layar itu pada 10 April 2021. Akun tersebut pun menulis, "Waspada.... Sepetinya Muhammadiyah Target Selanjutnya!!! Lindungi Para Ulama Kami Ya Rob..."
    Gambar tangkapan layar cuitan di Twitter yang beredar di Facebook yang berisi klaim keliru soal penangkapan terduga teroris di Mantrijeron, Yogyakarta, oleh Densus 88.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasim klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait di media-media kredibel. Hasilnya, ditemukan penjelasan dari Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta bahwa ustaz berinisial FA asal Mantrijeron, Yogyakarta, yang ditangkap oleh Densus 88 memang memiliki nomor keanggotaan. Namun, ia bukan bukan pengurus maupun pimpinan Muhammadiyah.
    Dilansir dari Detik.com, Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta menyatakan bahwa ustaz berinisial FA asal Mantrijeron, Yogyakarta, yang ditangkap oleh Densus 88 bukan pengurus Muhammadiyah. Namun, mereka mengakui bahwa FA memiliki nomor baku keanggotaan.
    Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta Akhid Widi Rakhmanto mengomentari pernyataan Polri bahwa FA bukan seorang pengurus organisasi Muhammadiyah. "Ada benarnya. Karena di Muhammadiyah hanya numpang nama," kata Akhid pada 12 April 2021.
    Akhid mengatakan, dalam kepengurusan maupun kegiatan Muhammadiyah, FA tidak pernah aktif. Namun, dia mengakui bahwa FA mengantongi nomor baku keanggotaan Muhammadiyah. Akhid pun menyatakan bahwa, secara pribadi, dia kurang mengenal sosok FA. "Saya belum begitu mengenal," ujarnya.
    Berdasarkan arsip berita Tempo pada 10 April 2021, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono menegaskan bahwa FA, terduga teroris yang ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, bukan pengurus PP Muhammadiyah.
    "FA merupakan anggota organisasi Jamaah Islamiyah (JI) Yogyakarta," kata Argo dalam keterangan tertulisnya pada 10 April 2021. Menurut Argo, pihaknya perlu meluruskan isu yang menyebut bahwa terduga teroris FA adalah pengurus Muhammadiyah. "Hal itu tidak benar," ujarnya.
    Menurut Argo, beredarnya berita bahwa terduga teroris FA adalah pengurus organisasi keagamaan di Tanah Air sudah menjadi strategi jaringan terorisme Jamaah Islamiyah. "Memang strategi JI adalah membenturkan pemerintah dengan organisasi agama yang ada agar terjadi konflik," kata Argo.
    Dia pun menjelaskan bahwa FA merupakan anggota Jamaah Islamiyah yang memiliki peran cukup vital, yakni melakukan doktrinisasi terhadap anggota kelompoknya. "Yang bersangkutan melakukan perekrutan beberapa orang untuk masuk ke dalam JI dan melakukan I’dad atau pelatihan militer dan mendaki Gunung Lawu yang merupakan salah satu tahapan persiapan dalam aktifitas terorisme kelompok ini."
    Dikutip dari kantor berita Antara, FA ditangkap Densus 88 di Bandara Soekarno-Hatta pada 8 April 2021 setelah pulang dari Turki bersama istrinya, DM. FA melakukan perjalanan ke Turki untuk membangun komunikasi dan jaringan dengan tokoh-tokoh Al Qaeda.
    FA juga terkait erat dengan strategi organisasi mereka, yaitu mendukung gerakan terorisme global. Pada 9 April 2021, Densus 88 pun menggeledah rumah terduga teroris FA yang terletak di Kampung Suryowijaya RT 28 RW 6, Gendongkiwo, Mantrijeron, Yogyakarta.
    Penggerebekan lain di Yogyakarta oleh Densus 88
    Sebelumnya, pada 2 April 2021 sekitar pukul 19.00 WIB, Densus 88 menggerebek Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim di Jalan Jogja-Wonosari KM 8,5 Gandu, Sendangtirto, Berbah, Sleman. Dilansir dari Tirto.id, menurut Ketua RT setempat, Agus Purwanto, yang diminta menjadi saksi, semua ruangan diperiksa kecuali asrama santri.
    Di hari yang sama, sekitar pukul 14.00 WIB, pengurus pondok pesantren ini ditangkap oleh Densus 88 di Terban, Gondokusuman, Yogyakarta. "Penangkapan terhadap suami dari pengurus ponpes usai belanja di toko, lantas disergap," kata Rozi, salah satu pengajar di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim, pada 5 April 2021.
    Setelah berita soal penggerebekan ini mencuat, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat atau PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti mengklarifikasi lewat Twitter, bahwa pondok pesantren itu tidak terafiliasi dengan PP Muhammadiyah. "Tidak ada yang menuduh Muhammadiyah terlibat dalam terorisme," ujarnya.
    Sebelumnya, beredar sebuah "undangan aksi dan peliputan" atas nama Himpunan Aktivis Muda Muhammadiyah yang menyatakan hendak berdemonstrasi untuk memprotes penggerebekan Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim, karena itu sama saja menuduh Muhammadiyah terlibat terorisme. Menurut Mu'ti, dalam struktur Muhammadiyah, tidak dikenal organisasi Himpunan Aktivis Muda Muhammadiyah.
    Seorang pengajar di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim, Yusron Rusdiono, juga memastikan bahwa pondok pesantren tersebut bukan milik Muhammadiyah. "Secara organisasi bukan milik Muhammadiyah, tapi milik PDHI (Persaudaraan Djamaah Haji Indonesia," katanya.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa pimpinan Muhammadiyah cabang Mantrijeron, Yogyakarta, ditangkap oleh Densus 88 sepulang dari Turki, keliru. Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta telah menyatakan bahwa ustaz berinisial FA asal Mantrijeron, Yogyakarta, yang ditangkap oleh Densus 88 ini bukan pimpinan Muhammadiyah. Memang diakui bahwa FA memiliki nomor baku keanggotaan Muhammadiyah, namun ia tidak pernah aktif dalam kepengurusan maupun kegiatan Muhammadiyah. Polri pun telah menyatakan bahwa FA merupakan anggota organisasi Jamaah Islamiyah (JI) Yogyakarta, bukan pengurus PP Muhammadiyah.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-6684) [SALAH] Foto Jendral Uni Soviet

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 11/04/2021

    Berita

    Sebuah akun facebook bernama Noorhadi Syahputra mengunggah foto seorang pria berjenggot putih dan mengenakan sorban dengan logo palu arit. Dalam unggahannya, akun tersebut mengklaim bahwa pria tersebut merupakan jendral Uni Soviet bernama Jokhomeini As-Syaithonirrojiim.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, faktanya foto tersebut adalah hasil editan. Menggunakan mesin pencarian gambar yandex, ditemukan foto asli identik yang merupakan foto dari Ali Husayni Sistani, seorang marja Usuli Iran di Irak dan kepala beberapa seminari (Hawzah) di Najaf.

    Sedangkan pada bagian wajah digabungkan dengan wajah presiden jokowi. selain itu terdapat penambahan logo palu arit di bagian sorban. Berdasarkan penjelasan dapat disimpulkan bahwa postingan tersebut merupakan konten yang dimanipulasi.

    Kesimpulan

    Foto Editan dan bukan jendral Uni Soviet. Foto aslinya merupakan foto dari Ali Husayni Sistani pada bagian tubuh dan kepala dengan menggabungkan wajah presiden jokowi pada bagian wajah.

    Rujukan

  • (GFD-2021-6685) [SALAH] Sosok Perempuan yang Meninggal 7 Hari Terlihat tengah Duduk

    Sumber: TikTok.com
    Tanggal publish: 11/04/2021

    Berita

    Beredar di Tiktok video seseorang yang tengah berjalan lalu bertemu dengan seorang perempuan yang sedang duduk kemudian seseorang yang merekam video tersebut lari karena melihat seseorang perempuan yang diklaim susah meninggal dunia pada 7 hari yang lalu.

    Hasil Cek Fakta

    Setelah ditelusuri melansir dari Pojoksatu.id yang sudah menghubungi Aceng Parid perekam video tersebut, didapatkan informasi bahwa wanita yang sedang duduk di bale bambu bukan hantu. Perempuan diduga depresi karena baru ditinggal suaminya.

    Aceng menceritakan saat itu Selasa (6/4) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB dia pulang dari ziarah makam salah seorang tokoh di Cianjur. Saat berjalan kaki untuk pulang Aceng merekam video dan dia dikejutkan dengan penampakan sosok perempuan duduk di bale bambu karena itu Aceng lari dan sempat terjatuh.

    Video tersebut dikirimkan kepada teman Aceng karena setelah kejadian itu Aceng tidak bisa tidur. Video tersebut diunggah oleh teman Aceng di Tiktok dan menjadi viral.

    Dengan demikian video seseorang perempuan yang diklaim sudah meninggal dunia 7 hari yang lalu adalah salah. Setelah dikonfirmasi kepada pembuat video tersebut seorang perempuan itu bukan merupakan penampakan hantu namun perempuan yang diduga depresi karena baru ditinggal suaminya sehingga masuk dalam kategori konten salah.

    Kesimpulan

    Klaim bahwa seseorang tersebut sudah meninggal tidak benar. Faktanya, saat dikonfirmasi Aceng pembuat video tersebut memberikan informasi bahwa perempuan tersebut bukan hantu dan diduga sedang depresi karena baru ditinggal oleh suaminya.
    Selengkapnya pada penjelasan!

    Rujukan

  • (GFD-2021-6686) [SALAH] Penggunaan Masker dapat Menyebabkan Kematian Akibat Covid-19

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 11/04/2021

    Berita

    Pada 8 April 2021 sebuah akun Facebook milik Dheeraj D mengatakan bahwa penggunaan masker dapat menyebabkan kematian yang disebabkan oleh Covid-19. Narasi dalam unggahan tersebut mengatakan bahwa kematian bisa terjadi karena masker menghalangi virus yang keluar ketika bernafas atau bersin. Akibatnya masker memuat lebih banyak virus, yang menyebabkan sistem imun tubuh harus menghadapi lebih banyak virus karena virus tidak dikeluarkan.
    Masker membunuh

    Hasil Cek Fakta

    Setelah dilakukan penelusuran, hal tersebut tidak benar. Penggunaan masker ketika bersin tidak membuat virus terhirup kembali. Melansir dari laman berita Detik, dr. Jaka Pradipta, seorang dokter spesialis paru RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet mengatakan bahwa masker yang digunakan oleh seseorang ketika bersin hanya membuat masker tersebut infeksius atau memuat banyak virus, sehingga masker perlu diganti. Hal ini juga mengindikasikan bahwa penggunaan masker ketika bersin tidak membuat kondisi kesehatan seseorang bertambah buruk.

    Penggunaan masker ketika bersin juga merupakan salah satu etika bersin dan batuk. Melansir dari situs resmi Dinas Kesehatan Kota Padang penggunaan masker merupakan bagian dari etika batuk atau bersin yang benar. Dengan tidak menggunakan masker ketika batuk atau bersin justru akan membahayakan kesehatan orang lain karena adanya tetesan air atau droplets yang menyebar melalui pernapasan.

    Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa narasi yang diunggah oleh akun Facebook Dheeraj D tidak sesuai fakta dan masuk ke dalam kategori misleading content atau konten yang menyesatkan.

    Kesimpulan

    Informasi menyesatkan. Penggunaan masker justru akan menyelamatkan orang lain, karena mencegah droplets menyebar melalui pernapasan ketika bersin.

    Rujukan