(GFD-2021-8593) Keliru, Pejabat Denmark Meninggal karena Diracun saat Umumkan Larangan Vaksin AstraZeneca
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 20/04/2021
Berita
Klaim bahwa pejabat pemerintah Denmark meninggal karena diracun saat mengumumkan larangan penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca beredar di Facebook. Klaim itu terdapat dalam video berdurasi 15 detik yang menunjukkan momen saat seorang perempuan terjatuh di hadapan peserta sebuah forum.
Video itu memuat teks yang berbunyi: "Denmark melarang vaksin AstraZeneca dan selama pengumuman berlangsung salah satu pejabat pemerintah pingsan dan meninggal." Akun ini membagikan video itu pada 16 April 2021 dengan narasi sebagai berikut:
"Ini risikonya kalau berani melawanndoroglobe. Kemarin presiden Tanzaniaygsempat 1 minggu menghilang dan dinyatakan meninggal akibat serangan jantung. Sekarang salah satu pejabat pemerintah Denmark meregang nyawa saat mengumumkan pelaranganvaxastrazeneca. Mungkin di racun."
Video yang diunggah di Facebook yang memperlihatkan jatuhnya seorang pejabat Denmark saat mengumumkan penghentian penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca. Video ini disebarkan dengan klaim keliru, bahwa pejabat tersebut meninggal karena diracun.
Hasil Cek Fakta
Hasil verifikasi Tim CekFakta Tempo menemukan bahwa perempuan yang terjatuh dalam video tersebut adalah Kepala Badan Obat-obatan Denmark, Tanja Erichsen. Namun, ketika itu, Erichsen hanya pingsan, tidak meninggal karena diracun. Kondisinya pun telah membaik setelah menjalani perawatan.
Video tumbangnya Erichsen ini pernah dipublikasikan oleh sejumlah media. Media Inggris, The Sun, memuat video itu dalam artikelnya yang berjudul "Dramatic moment Danish vaccine chief FAINTS during a Covid conference announcing the permanent ban of AstraZeneca jab" pada 15 April 2021.
Erichsen pingsan dalam sebuah konferensi pers yang mengumumkan larangan permanen Denmark terhadap vaksin Covid-19 AstraZeneca. Namun, menurut The Sun, pemerintah Denmark mengumumkan bahwa Erichsen sudah sadar dan telah dilarikan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Klaim-klaim palsu terkait pingsannya Tanja Erichsen itu tidak hanya beredar di Indonesia, tapi juga di Eropa. Di sana, menyebar klaim yang menyebut bahwa dia pingsan setelah menerima vaksin Astrazeneca.
Dilansir dari Associated Press, Direktur Jenderal Otoritas Kesehatan Denmark Soren Brostrom mengatakan bahwa Erichsen baik-baik saja. Brostrom menjelaskan bahwa Erichsen pingsan karena terlalu banyak bekerja dan berdiri terlalu lama. Juru bicara Badan Obat-obatan Denmark Kim Voigt Ostrom juga mengatakan bahwa Erichsen belum menerima vaksin Covid-19.
Lewat akun pribadinya di Twitter, pada 19 April 2021, Tanja Erichsen pun menyatakan bahwa pemulihannya berjalan dengan baik.
"Terima kasih banyak atas perhatian dan salam Anda. Ini adalah pukulan keras yang harus saya terima, tapi untungnya saya dalam pemulihan yang baik sekarang. Ini sangat berarti bagi saya, dengan dukungan besar yang saya terima, baik di sini di Twitter maupun di platform lain. Terima kasih banyak," kata Erichsen dalam bahasa Denmark.
Dikutip dari BBC, pemerintah Denmark menjadi negara pertama yang melarang sepenuhnya penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca pada 15 April 2021. Upaya ini diambil menyusul terbitnya hasil penelitian Otoritas Kesehatan Denmark, yang menunjukkan frekuensi pembekuan darah yang lebih tinggi dari yang diharapkan, dengan perbandingan sekitar satu dari 40 ribu orang.
Sebelumnya, terjadi dua kasus trombosis di Denmark yang dikaitkan dengan vaksin Covid-19 AstraZeneca. Satu kasus di antaranya terjadi pada seorang wanita berusia 60 tahun dan berakibat fatal. Direktur Jenderal Otoritas Kesehatan Denmark Soren Brostrom mengatakan bahwa ini adalah keputusan yang sulit, tapi Denmark memiliki vaksin lain dan pandemi di sana saat ini terkendali.
Meskipun begitu, dia mengatakan bahwa tidak tertutup kemungkinan vaksin AstraZeneca akan digunakan di masa mendatang. Selain Denmark, beberapa negara di Eropa sempat menangguhkan vaksin itu. Saat ini, sebagian besar di antaranya telah melanjutkan penggunaan vaksin AstraZeneca, meski dengan batasan tertentu bagi kelompok usia yang lebih tua.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa seorang pejabat pemerintah Denmark, Tanja Erichsen, meninggal karena diracun saat mengumumkan larangan penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca, keliru. Dalam video yang digunakan untuk menyebarkan klaim itu, Erichsen yang merupakan Kepala Badan Obat-obatan Denmark hanya pingsan karena kelelahan, bukan meninggal karena diracun. Kini, Erichsen telah pulih, seperti yang ia nyatakan dalam cuitannya di Twitter.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/denmark
- https://archive.is/0G3Y9
- https://www.thesun.co.uk/news/worldnews/14659397/dramatic-moment-danish-chief-faints-covid-conference-astrazeneca-jab/
- https://apnews.com/article/fact-checking-afs:Content:10065241940
- https://twitter.com/LMSTErichsen/status/1384152251510378510
- https://www.bbc.com/news/world-europe-56744474
- https://www.tempo.co/tag/pembekuan-darah
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-covid-19
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-astrazeneca
- https://www.tempo.co/tag/astrazeneca
(GFD-2021-6737) [SALAH] Bantuan Kuota 95Gb dan Pulsa Gratis dari Kemendikbud
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 19/04/2021
Berita
“https://kuotasubsidi. online/?v=95 GigaBytes
*KEMENDIKBUD*
*Program kuota belajar pulsa 200RB dan kuota 95GB untuk dosen, guru, siswa, mahasiswa selama pembelajaran jarak jauh periode bulan maret-april!*”
*KEMENDIKBUD*
*Program kuota belajar pulsa 200RB dan kuota 95GB untuk dosen, guru, siswa, mahasiswa selama pembelajaran jarak jauh periode bulan maret-april!*”
Hasil Cek Fakta
Beredar sebuah pesan berantai dari Whatsapp yang berisi tautan bantuan kuota 95GB dan pulsa 200 ribu untuk mahasiswa dan pelajar. Tautan ini mengklaim bahwa bantuan ini berasal dari Kemendikbud.
Namun setelah ditelusuri, tautan yang mengklaim bahwa Kemendikbud akan membagikan kuota dan pulsa gratis kepada pelajar dan mahasiswa, ternyata adalah hoaks.
Mengutip dari artikel turnbackhoax.id pada Maret lalu, pihak dari Kominfo menyatakan bahwa kabar tersebut adalah berita bohong, dan merupakan hoaks lama yang dimodifikasi kembali. Pasalnya, pernah ada hoaks yang sempat beredar pada Februari lalu tentang bantuan kuota 75GB dan pulsa 200 ribu.
Kemendikbud sendiri memang memiliki program bantuan kuota gratis untuk pelajar, mahasiswa, sampai tenaga pengajar (dosen). Namun bantuan itu sudah diprogram sejak tahub 2020 melalui lembaga terkait seperti sekolah dan kampus. Bantuan ini pun secara berkala dibagikan per tanggal 10-15 setiap bulannya secara otomatis.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pesan yang berisi tautan bantuan kuota gratis dari Kemendikbud merupakan hoaks kategori fabricated content atau konten palsu dan merupakan hoaks lama yang kembali beredar.
Namun setelah ditelusuri, tautan yang mengklaim bahwa Kemendikbud akan membagikan kuota dan pulsa gratis kepada pelajar dan mahasiswa, ternyata adalah hoaks.
Mengutip dari artikel turnbackhoax.id pada Maret lalu, pihak dari Kominfo menyatakan bahwa kabar tersebut adalah berita bohong, dan merupakan hoaks lama yang dimodifikasi kembali. Pasalnya, pernah ada hoaks yang sempat beredar pada Februari lalu tentang bantuan kuota 75GB dan pulsa 200 ribu.
Kemendikbud sendiri memang memiliki program bantuan kuota gratis untuk pelajar, mahasiswa, sampai tenaga pengajar (dosen). Namun bantuan itu sudah diprogram sejak tahub 2020 melalui lembaga terkait seperti sekolah dan kampus. Bantuan ini pun secara berkala dibagikan per tanggal 10-15 setiap bulannya secara otomatis.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pesan yang berisi tautan bantuan kuota gratis dari Kemendikbud merupakan hoaks kategori fabricated content atau konten palsu dan merupakan hoaks lama yang kembali beredar.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara)
Faktanya, ini merupakan hoaks lama yang beredar kembali. Kemendikbud tidak pernah membagikan tautan bantuan kuota atau pulsa gratis dari Whatsapp.
Faktanya, ini merupakan hoaks lama yang beredar kembali. Kemendikbud tidak pernah membagikan tautan bantuan kuota atau pulsa gratis dari Whatsapp.
Rujukan
(GFD-2021-6738) [SALAH] Akun Whatsapp Bupati Lamongan Yuhronur Efendi “+62 838-4743-4678”
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 19/04/2021
Berita
“Akun Whatsapp Bupati Lamongan Yuhronur “+62838-4743-4678″”
Hasil Cek Fakta
Beredar akun WhatsApp Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi dengan nomor “+62838-4743-4678”. Akun tersebut menggunakan foto Yuhronur menggunakan pakaian dinas dan melakukan komunikasi dengan pengguna Whatsapp meminta uang sebasar 10 juta rupiah.
Berdasarkan hasil penelusuran, melalui laman Facebook pribadinya ia mengklarifikasi bahwa akun Whatsapp tersebut palsu.
“Kolega sahabat dan teman2 saya. Ada lagi penipuan mengatasnamakan saya dengan modus memakai Foto saya sebagai Profil Whatsapp, menelfon dan meminta uang dengan tujuan menipu, Oleh karenanya abaikan saja jika ada yang meminta uang karena itu bukan saya. mohon maaf atas kejadian ini dan atas kesediaan teman2 untuk menyebarkan informasi ini. Saya ucapkan terima kasih,” tulis Yuhronur di laman akun facebook pribadinya.
Ia juga mengimbau kepada masyarakat Lamongan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penipuan yang mengatasnamakan dirinya. Dengan demikian, akun Whatsapp Bupati Lamongan tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten Tiruan/Imposter Content.
Berdasarkan hasil penelusuran, melalui laman Facebook pribadinya ia mengklarifikasi bahwa akun Whatsapp tersebut palsu.
“Kolega sahabat dan teman2 saya. Ada lagi penipuan mengatasnamakan saya dengan modus memakai Foto saya sebagai Profil Whatsapp, menelfon dan meminta uang dengan tujuan menipu, Oleh karenanya abaikan saja jika ada yang meminta uang karena itu bukan saya. mohon maaf atas kejadian ini dan atas kesediaan teman2 untuk menyebarkan informasi ini. Saya ucapkan terima kasih,” tulis Yuhronur di laman akun facebook pribadinya.
Ia juga mengimbau kepada masyarakat Lamongan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penipuan yang mengatasnamakan dirinya. Dengan demikian, akun Whatsapp Bupati Lamongan tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten Tiruan/Imposter Content.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Rahmah An Nisaa (Uin Sunan Ampel Surabaya).
Akun Whatsapp tersebut palsu, Bupati Lamongan sendiri telah mengklarifikasi melalui akun Facebook pribadinya bahwa itu bukan miliknya.
Akun Whatsapp tersebut palsu, Bupati Lamongan sendiri telah mengklarifikasi melalui akun Facebook pribadinya bahwa itu bukan miliknya.
Rujukan
(GFD-2021-6739) [SALAH] Foto “Pelangi di Planet Mars”
Sumber: twitter.comTanggal publish: 19/04/2021
Berita
“Is this rainbow? Why there’s a rainbow on the Mars?”
Hasil Cek Fakta
Beredar sebuah foto yang diklaim merupakan pelangi yang muncul di Planet Mars, foto tersebut diunggah oleh akun Twitter @Monika dengan narasi yang mempertanyakan kebenaran foto pelangi di Planet Mars tersebut.
Setelah dilakukan penelusuran, ditemukan fakta bahwa foto tersebut memang merupakan gambar daratan di Planet Mars, namun gambar yang membentuk pelangi tersebut bukan merupakan pelangi yang muncul di Planet Mars.
Melalui akun @NasaPerservere di Twitter, NASA memberikan penjelasan pelangi tersebut bukan berasal dari fenomena di Planet Mars.
Siluet serupa pelangi itu merupakan pantulan pijar lensa dari kamera penjelajah.
Menurut penjelasan dari pihak NASA, tidak ada kemungkinan akan kemunculan pelangi di Planet Mars. Pasalnya pelangi tercipta dari pantulan cahaya dari tetesan air, sedangkan di Planet Mars sendiri tidak memiliki cukup air yang membuat keadaan planet mengembun dan terlalu dingin untuk air cair di bagian atmosfer.
Diketahui pula bahwa pelangi akan selalu muncul apabila posisinya berlawanan arah dengan matahari, namun dalam foto tersebut posisi pelangi tidak berlawanan dengan sumber cahaya/matahari sehingga jelas bahwa yang nampak pada foto tersebut bukanlah pelangi.
Dengan demikian informasi yang beredar di Twitter terkait Pelangi di Planet Mars tersebut tidak benar, sehingga informasi tersebut masuk dalam kategori konten yang salah.
Setelah dilakukan penelusuran, ditemukan fakta bahwa foto tersebut memang merupakan gambar daratan di Planet Mars, namun gambar yang membentuk pelangi tersebut bukan merupakan pelangi yang muncul di Planet Mars.
Melalui akun @NasaPerservere di Twitter, NASA memberikan penjelasan pelangi tersebut bukan berasal dari fenomena di Planet Mars.
Siluet serupa pelangi itu merupakan pantulan pijar lensa dari kamera penjelajah.
Menurut penjelasan dari pihak NASA, tidak ada kemungkinan akan kemunculan pelangi di Planet Mars. Pasalnya pelangi tercipta dari pantulan cahaya dari tetesan air, sedangkan di Planet Mars sendiri tidak memiliki cukup air yang membuat keadaan planet mengembun dan terlalu dingin untuk air cair di bagian atmosfer.
Diketahui pula bahwa pelangi akan selalu muncul apabila posisinya berlawanan arah dengan matahari, namun dalam foto tersebut posisi pelangi tidak berlawanan dengan sumber cahaya/matahari sehingga jelas bahwa yang nampak pada foto tersebut bukanlah pelangi.
Dengan demikian informasi yang beredar di Twitter terkait Pelangi di Planet Mars tersebut tidak benar, sehingga informasi tersebut masuk dalam kategori konten yang salah.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Fachrun Nisa (Universitas Muhammadiyah Luwuk).
Bukan pelangi melainkan pantulan pijar lensa kamera penjelajah.
Bukan pelangi melainkan pantulan pijar lensa kamera penjelajah.
Rujukan
Halaman: 6678/7952



