• (GFD-2021-6762) [SALAH] Kutipan Anies Baswedan Sebut Korupsi Sebagai Sebuah Kreativitas

    Sumber: Facebook
    Tanggal publish: 20/04/2021

    Berita

    Beredar di media sosial kutipan yang disebut dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terkait korupsi sebagai sebuah kreativitas. Postingan itu ramai dibagikan sejak awal pekan kemarin.

    Salah satu akun yang mengunggahnya bernama Teddy Mulya. Dia mempostingnya di Facebook pada 19 April 2021.

    Dalam postingannya terdapat gambar Anies Baswedan dengan narasi:

    "Anies menyebut Korupsi sebagai sebuah Kreativitas. Namun, kita juga selalu menghadapi situasi di mana kreativitas itu muncul. Kreativitas belum tentu berdasarkan keserakahan, belum tentu berdasarkan kebutuhan, bisa jadi karena sistem," pungkas Anies."

    Lalu postingan tersebut juga disertai narasi: "Berarti kalo nggak korupsi nggak kreatif, kata si Anis ya...."

    Hasil Cek Fakta

    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dan menemukan artikel berjudul "Anies: Ada 3 Unsur Penyebab Korupsi yaitu Kebutuhan, Keserakahan dan Sistem" yang tayang di Merdeka.com 8 April 2021.

    Dalam artikel tersebut Anies Baswedan memang berbicara tentang korupsi namun dengan konteks maraknya korupsi yang terjadi saat pandemi. Berikut isi artikel selengkapnya:

    "Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyoroti isu korupsi yang belakangan tetap marak terjadi saat pandemi. Anies menyebut koruptor memiliki tingkat kreativitas yang luar biasa. Koruptor, kata Anies, mampu membuat suatu terobosan dalam melakukan praktik korupsi.

    "Ada setidaknya tiga unsur penyebab munculnya korupsi, yaitu korupsi karena kebutuhan, keserakahan dan sistem. Korupsi karena kebutuhan diselesaikan dengan memberikan pendapatan yang cukup untuk hidup layak," kata Anies.

    Hal itu dia ungkapkan dalam diskusi bertema 'Membedah Praktik Korupsi Kepala Daerah' yang diselenggarakan Diksi Milenial Yogyakarta, Kamis (8/4). Anies sebagai pembicara hadir secara virtual dihadapan puluhan mahasiswa yang mengikuti seminar.

    Anies mencontohkan apabila kebutuhan hidup layak tidak bisa dipenuhi di tempat seseorang bekerja, maka tanggung jawab kebutuhan di rumah harus diselesaikan dengan mencari peluang lain guna menutupnya. Anies mengatakan bila kewenangan yang dimiliki seseorang dipandang sebagai cara untuk mendapatkan pendapatan tambahan, maka menjadi masalah.

    "Misalnya kebutuhan hidupnya Rp10 juta selama satu bulan. Sedangkan pendapatannya Rp7 juta sebulan. Maka selisih Rp3 juta ini bisa diambil lewat kewenangan yang dimiliki," ungkap Anies.

    "Solusinya adalah meningkatkan pendapatannya sehingga kebutuhannya tertutup. Alhamdulillah di Jakarta solusinya adalah dengan pendapatan ASN dibuat setara dengan pendapatan bagi kegiatan-kegiatan lain yang ada di Jakarta. Intinya dibuat cukup, jangan sampai kurang," imbuh Anies.

    Sementara faktor korupsi yang kedua disebut Anies adalah keserakahan. Anies menilai keserakahan tak punya batas dan ujung.

    "Serakah itu sesuatu yang tidak ada ujungnya. Cara menghadapinya adalah dengan hukuman yang berat, sanksi yang tegas, sanksi yang tidak pandang bulu," tegas Anies.

    Sedangkan faktor ketiga adalah sistem. Anies menjabarkan jika sistem ini bukan karena kebutuhan dan keserakahan. Sistem yang buruk dinilai bisa menjadi faktor terjadinya korupsi.

    "Karena proses yang dikerjakannya, kondisi yang dihadapinya bisa membuat dirinya dinilai bahkan terjebak di dalam praktik korupsi," tutur Anies.

    Untuk membentengi dari korupsi yang tercipta karena sistem, sambung Anies, di Jakarta telah dilakukan pencegahan. Pencegahan ini dilakukan dengan melakukan smart planning, smart budgeting, smart procurement.

    "Jadi mulai perencanaan sudah didigitalisasi. Saat penganggaran diteruskan sistem digital. Pengadaan juga begitu. Digitalisasi semua level biar bisa nengendalikan praktik di lapangan," papar Anies.

    Anies mengungkap di Jakarta, dirinya berusaha menetapkan lima kesepakatan yang diamini bersama untuk pengelolaan pemerintahan yakni integritas, akuntabel, kolaboratif, inovatif dan berkeadilan. Anies menuturkan kesepakatan tersebut terus dikomunikasikan dalam setiap gerak pemerintahan sehingga menjadi bentuk kebudayaan yang mengakar.

    "Memang tidak sehari dua hari jadi ini ya. Karena kebiasaan itu harus berlangsung terus-menerus untuk menjadi budaya. Budaya itu tidak bisa muncul dalam sehari," urai Anies.

    Anies mengaku menemui beberapa kondisi karena koruptor dinilai memiliki kreativitas luar biasa dalam melakukan aksi, terutama untuk penyebab karena keserakahan dan sistem. DKI Jakarta, ucap Anies kini tengah melakukan smart planning dalam melakukan berbagai pengadaan baik barang atau jasa untuk mencegah praktik korupsi.

    "Kami juga punya pengawas yang disebut KPK ibukota. Ini juga memiliki fungsi pencegahan agar korupsi tidak terjadi di Jakarta," tuturnya.

    Dia menambahkan jika sebagai pemimpin kerap kali menemui situasi yang dilematis, hal ini kadang membuat para pemimpin terjebak dalam kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat.

    "Kadang ada dilema yang dialami pemimpin. Yakni kadang harus mengambil keputusan yang baik untuk masyarakat namun cara prosedurnya kurang benar. Di sisi lain kadang prosedurnya benar hanya kurang baik untuk masyarakat. Di sini pemimpin harus ambil langkah. Kadang kita harus mengambil keputusan dalam dua situasi itu," kata Anies.

    Sedangkan menurut Ketua Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM, Totok Dwi Diantoro, situasi yang terjadi saat ini memang memperlihatkan situasi di mana pemerintah kerap kali menelurkan kebijakan berseberangan dengan aspirasi masyarakat. Totok menyebut pihaknya melihat adanya beberapa indikasi di antaranya pembangunan infrastruktur yang tak sesuai sasaran serta peraturan undang-undang yang dirasa tidak tepat.

    "Penentuan prioritas pembangunan yang tak inline dengan aspirasi masyarakat. Misalnya pembangunan bandara mangkrak, yang justru menjadi kerugian. Misalnya juga perijinan yang njlimet, namun justru sayangnya direspon dengan terbitnya Omnibuslaw. UU Cipta Kerja misalnya digunakan untuk menyederhanakan perijinan tapi justru mempengaruhi lingkungan hidup," terang Totok.

    Totok mengingatkan bahwa pemerintah seharusnya kembali pada semangat integritas, jujur serta berupaya menghindari kemungkinan konflik kepentingan. Selain itu Totok menjabarkan jika pengawasan terhadap korupsi perlu selalu dilakukan.

    "Di sini peran pengawasan menjadi sangat penting, karena korupsi muncul setelah ada kewenangan besar, diskresi yang tidak ada pengawasan," tutup Totok."

    Selain itu ada juga artikel berjudul "Anies: Pemimpin Harus Punya Gagasan untuk Intoleransi terhadap Korupsi" yang tayang di Liputan6.com 9 April 2021. Dalam artikel tersebut juga terdapat penjelasan Anies Baswedan terkait korupsi.

    "Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, seorang pemimpin seharusnya memiliki rangkaian jenjang berupa gagasan, narasi, dan aksi. Dengan tiga jenjang tersebut, justru memudahkan Pemprov mengendalikan perilaku korupsi.

    "Ini juga yang kita lakukan ketika menghadapi praktik korupsi jadi satu sisi kita siapkan sistem yang baik, satu sisi kita siapkan pencegahan yang baik, tapi kita juga akan selalu menghadapi situasi di mana kreativitas itu muncul," kata Anies saat menyampaikan sambutan dalam diskusi virtual, Kamis (8/4/2021).

    Anies menjelaskan alasan seorang pemimpin perlu memiliki tiga gagasan sebagai formulasi apik untuk menekan perilaku rasuah. Melalui gagasan, seorang pemimpin akan membentuk satu sistem tepat mengendalikan angka korupsi.

    Dengan sistem yang dibangun, kata Anies, perlu ada narasi sebagai penguat bahwa pemerintahan tersebut tidak mentolerir kasus korupsi. Sebab, menurutnya, pemerintah telah membuat sistem sebagai standar ada tidaknya perilaku korupsi oleh para abdi negara.

    "Bila ada kejadian (korupsi) misalnya, maka langkah yang dilakukan Pemprov sederhana. Yang bersangkutan diberhentikan, diganti, proses hukum dijalankan, dan tidak ada toleransi sedikitpun kepada siapapun yang terlibat dalam praktek ini, khususnya di Jakarta," jelasnya.

    Anies menyebutkan sistem yang dibentuk Pemprov DKI melihat penyebab terjadinya kasus korupsi. Pertama, karena kebutuhan. Kedua, keserakahan. Ketiga karena sistem.

    Dari ketiga masalah itu, kata Anies, pihaknya telah membentuk solusi menyesuaikan potensi penyebab korupsi, agar ketika seorang pejabat publik melampaui standar dari sistem tersebut secara tegas dapat segera diberhentikan.

    "Kalau taat pada sistem harusnya aman," ujarnya."

    Ada juga artikel berjudul "Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan : Waspada, Koruptor Punya Tingkat Kreativitas Luar Biasa" yang tayang 8 April 2021. Anies menjelaskan koruptor yang kreatif harus diwaspadai.

    Berikut isi artikelnya:

    "Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan hadir secara daring dalam Serial Diskusi Membedah Praktik Korupsi Kepala Daerah yang diselenggarakan Diksi Milenial Yogyakarta di Grand Tjokro Gejayan, Kamis (8/4/2021).

    Di hadapan puluhan mahasiswadari perwakilan berbagai organisasi kampus di DIY serta sejumlah pembicara seperti Guru Besar FH UNS Prof Pujiyono Su

    Kesimpulan

    Postingan yang menyebut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengeluarkan kutipan terkait korupsi sebagai sebuah kreativitas adalah tidak benar. Faktanya kutipan tersebut telah dipotong dan dipelintir. Anies Baswedan sendiri justru menyebut kreativitas koruptor harus diwaspadai.

    Rujukan

  • (GFD-2021-6763) [SALAH] Pesan Berantai Sebut Ustaz Zacky Mirza Meninggal Dunia pada 19 April 2021

    Sumber: WhatsApp
    Tanggal publish: 20/04/2021

    Berita

    Beredar di aplikasi percakapan Whatsapp pesan berantai terkait ustaz Zacky Mirza meninggal dunia. Pesan berantai tersebut ramai dibagikan sejak Senin (19/4/2021) malam.

    Dalam pesan berantai tersebut berisi narasi sebagai berikut:

    "Innalillahi Wainna Ilaihi Ra'jun.. Barusan TV one menyiarkan telah berpulang kerahmatullah Ustadz Zacky Mirza."

    Hasil Cek Fakta

    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri dengan mengunjungi akun Instagram Zacky Mirza, @zackymirza_ yang bercentang biru atau terverifikasi. Di sana ustaz Zacky Mirza mengunggah postingan video terkait kondisi dirinya:

    Berikut penjelasan dalam videonya:

    "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Zacky Mirza. Ayahanda ibunda, saudara-saudaraku semuanya, keluarga, para jemaah. Alhamdulillah malam hari ini, Senin 19 April 2021, saya dalam keadaan yang lebih baik setelah semalam di keadaan yang belum sadar, sudah membaik Alhamdulillah.

    "Adapun terkait dengan berita yang tersebar, saya meninggal dunia dan lain sebagainya, itu semua berita hoaks. Saya dalam keadaan sehat walafiat. (Mohon) doanya dari semua mudah-mudahan dakwah saya tetap dilancarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Disehatkan walafiat kita semua. Terima kasih."

    Selain itu dalam postingan juga terdapat narasi: "Assalamu'alaikum Wr. Wb. Alhamdulilah malam ini (Senin, 19 April 2021) kondisi saya sudah membaik."

    Selain itu Cek Fakta Liputan6.com juga mengunjungi akun Instagram istri uztaz Zacky Mirza, Shinta Tanjung, @chintatanjung yang sudah bercentang biru atau terverifikasi. Di sana terdapat unggahan video yang diposting 19 April 2021.

    Berikut isi postingannya:

    "alhamdulillah abi @zackymirza_ masa pemulihan. Alhamdulillah terimakasih perhatian dn doanya. Saat ini ustadz @zackymirza Udh sehat ya lg masa pemulihan.Berita diluar tentang kabar duka itu tidak benar ya. Maaf blm bisa bales satu persatu dm dn chat yg masuk in syaa Allah nnt sy bales ya. Jazzakumullah khayran atas perhatian & kasih syngnya buat kami. Smoga Allah berikan sehat, ta'at dn sll dlm lindungan Allah SWT buat qt smua. Ustadz masih dirawat di salah satu rs di Kerinci riau. Dna dlm kondisi lebih baik yaDelete soon"

    Kesimpulan

    Pesan berantai yang berisi informasi ustaz Zacky Mirza meninggal dunia adalah hoaks.

    Rujukan

  • (GFD-2021-8592) Keliru, Klaim Bill Gates Tak Pernah Pakai Masker

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 20/04/2021

    Berita


    Klaim yang menyebut bahwa pendiri raksasa teknologi Microsoft, Bill Gates, tidak pernah mengenakan masker beredar di Instagram baru-baru ini. Klaim itu terdapat dalam sebuah poster berwarna putih-hitam yang dilengkapi dengan foto Gates.
    Narasi dalam poster itu berbunyi: "Mengapa Bill Gates tidak pernah mengenakan masker? Inilah fakta yang patut dicek..... Apakah Bill Gates pernah memakai masker ? Jika ya, di mana buktinya? Dan jika tidak, mengapa dia memberi tahu semua orang di dunia bahwa mereka harus memakainya sampai vaksin yang dia investasikan banyak itu tersedia?"
    Akun ini membagikan poster tersebut pada 16 April 2021. Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah disukai lebih dari 900 kali.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Instagram yang berisi klaim keliru terkait pendiri perusahaan teknologi Microsoft, Bill Gates.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula melakukan pencarian foto Bill Gates yang memakai masker dengan memasukkan kata kunci “Bill Gates wears mask” di mesin pencari Google. Hasilnya, ditemukan foto Gates yang sedang mengenakan masker yang telah beredar di internet sejak Januari 2021.
    Pada 23 Januari 2021, di akun Instagram terverifikasi miliknya, @thisisbillgates, Gates pernah mengunggah foto dirinya yang mengenakan masker saat menerima suntikan vaksin Covid-19. Foto tersebut diberi keterangan sebagai berikut:
    "One of the benefits of being 65 is that I’m eligible for the Covid-19 vaccine. I got my first dose this week, and I feel great. Thank you to all of the scientists, trial participants, regulators, and frontline healthcare workers who got us to this point."
    Foto itu juga diunggah oleh Gates di akun Twitter terverifikasi miliknya, @BillGates, pada tanggal yang sama. Keterangan yang dicantumkan pun sama.
    Gambar tangkapan layar unggahan Bill Gates di Instagram pada 23 Januari 2021 yang berisi foto dirinya ketika menerima vaksin Covid-19.
    Hal ini diberitakan oleh Tempo pada 23 Januari 2021. Pendiri Microsoft, Bill Gates, mengumumkan telah menerima vaksin Covid-19 dosis pertama pada pekan ini. Dalam cuitannya di Twitter, Gates mengunggah foto ketika menjalani vaksinasi pada 23 Januari waktu Indonesia. Gates memenuhi syarat untuk mendapatkan vaksin di usianya yang ke-65.
    "Salah satu keuntungan di usia 65 tahun adalah saya diizinkan untuk menerima vaksin Covid-19. Saya telah mendapatkan dosis pertama minggu ini dan saya merasa baik," kata Gates dalam cuitannya itu.
    Gates pun mengucapkan terima kasih untuk semua ilmuwan, partisipan dalam uji coba, regulator, serta tenaga kesehatan di garis depan yang terlibat dalam vaksinasi Covid-19. Meski begitu, Gates tidak merinci vaksin apa yang ia terima. Adapun vaksin Covid-19 yang telah disetujui penggunaannya di Amerika Serikat adalah vaksin buatan Pfizer dan Moderna.
    Tempo juga menemukan pemberitaan di India Times yang berisi wawancara dengan Bill Gates terkait jenis masker yang ia kenakan. Dalam sebuah wawancara dengan Wired, Gates mengatakan bahwa dia menggunakan "masker normal yang cukup jelek".
    Gates juga mengatakan bahwa ia mengganti maskernya setiap hari, dan masker yang ia pakai setiap hari tersebut adalah "masker bedah" biasa. "Mungkin saya harus menemukan desainer masker atau sesuatu yang kreatif," ujar Gates.
    Pada Mei 2020, sempat beredar klaim bahwa Bill Gates mengabaikan protokol kesehatan. Saat itu, beredar foto yang memperlihatkan Gates tengah berjalan dengan penasihat Covid-19 Gedung Putih, Anthony Fauci. Foto tersebut diedarkan dengan narasi bahwa Gates dan Fauci melanggar aturan jarak sosial.
    Menurut hasil pemeriksaan fakta India Today, klaim itu menyesatkan. Faktanya, foto tersebut diambil pada Desember 2018 dan tidak ada hubungannya dengan pandemi Covid-19. Foto yang beredar itu merupakan potongan dari foto yang pernah dimuat oleh situs resmi Institut Kesehatan Nasional (NIH) AS.
    Menurut keterangan NIH, foto itu diambil pada 11 Desember 2018, ketika Gates mengunjungi NIH di Bethesda, Maryland, untuk lokakarya. Foto ini juga pernah diunggah ke Flicker oleh akun NIH dengan keterangan: "NIH bekerja sama dengan Bill & Melinda Gates Foundation untuk mengadakan lokakarya konsultatif tahunan kelima mereka tentang kesehatan global. Lokakarya tersebut berlangsung pada 11 Desember 2018, di Bethesda, Maryland."
    Dalam foto tersebut, tidak hanya terlihat Gates dan Fauci, yang merupakan Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular NIH, tapi juga Francis Collins, Direktur NIH.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa pendiri Microsoft, Bill Gates, tidak pernah memakai masker, keliru. Salah satu foto Gates yang mengenakan masker telah beredar di internet sejak Januari 2021, saat ia menerima dosis pertama vaksin Covid-19. Sebelumnya, pernah beredar foto Gates bersama Anthony Fauci, penasihat Covid-19 Gedung Putih, yang dilengkapi dengan narasi bahwa keduanya melanggar protokol kesehatan. Namun, foto itu sebenarnya diambil pada 11 Desember 2018, jauh sebelum munculnya pandemi Covid-19.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-8593) Keliru, Pejabat Denmark Meninggal karena Diracun saat Umumkan Larangan Vaksin AstraZeneca

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 20/04/2021

    Berita


    Klaim bahwa pejabat pemerintah Denmark meninggal karena diracun saat mengumumkan larangan penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca beredar di Facebook. Klaim itu terdapat dalam video berdurasi 15 detik yang menunjukkan momen saat seorang perempuan terjatuh di hadapan peserta sebuah forum.
    Video itu memuat teks yang berbunyi: "Denmark melarang vaksin AstraZeneca dan selama pengumuman berlangsung salah satu pejabat pemerintah pingsan dan meninggal." Akun ini membagikan video itu pada 16 April 2021 dengan narasi sebagai berikut:
    "Ini risikonya kalau berani melawanndoroglobe. Kemarin presiden Tanzaniaygsempat 1 minggu menghilang dan dinyatakan meninggal akibat serangan jantung. Sekarang salah satu pejabat pemerintah Denmark meregang nyawa saat mengumumkan pelaranganvaxastrazeneca. Mungkin di racun."
    Video yang diunggah di Facebook yang memperlihatkan jatuhnya seorang pejabat Denmark saat mengumumkan penghentian penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca. Video ini disebarkan dengan klaim keliru, bahwa pejabat tersebut meninggal karena diracun.

    Hasil Cek Fakta


    Hasil verifikasi Tim CekFakta Tempo menemukan bahwa perempuan yang terjatuh dalam video tersebut adalah Kepala Badan Obat-obatan Denmark, Tanja Erichsen. Namun, ketika itu, Erichsen hanya pingsan, tidak meninggal karena diracun. Kondisinya pun telah membaik setelah menjalani perawatan.
    Video tumbangnya Erichsen ini pernah dipublikasikan oleh sejumlah media. Media Inggris, The Sun, memuat video itu dalam artikelnya yang berjudul "Dramatic moment Danish vaccine chief FAINTS during a Covid conference announcing the permanent ban of AstraZeneca jab" pada 15 April 2021.
    Erichsen pingsan dalam sebuah konferensi pers yang mengumumkan larangan permanen Denmark terhadap vaksin Covid-19 AstraZeneca. Namun, menurut The Sun, pemerintah Denmark mengumumkan bahwa Erichsen sudah sadar dan telah dilarikan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.
    Klaim-klaim palsu terkait pingsannya Tanja Erichsen itu tidak hanya beredar di Indonesia, tapi juga di Eropa. Di sana, menyebar klaim yang menyebut bahwa dia pingsan setelah menerima vaksin Astrazeneca.
    Dilansir dari Associated Press, Direktur Jenderal Otoritas Kesehatan Denmark Soren Brostrom mengatakan bahwa Erichsen baik-baik saja. Brostrom menjelaskan bahwa Erichsen pingsan karena terlalu banyak bekerja dan berdiri terlalu lama. Juru bicara Badan Obat-obatan Denmark Kim Voigt Ostrom juga mengatakan bahwa Erichsen belum menerima vaksin Covid-19.
    Lewat akun pribadinya di Twitter, pada 19 April 2021, Tanja Erichsen pun menyatakan bahwa pemulihannya berjalan dengan baik.
    "Terima kasih banyak atas perhatian dan salam Anda. Ini adalah pukulan keras yang harus saya terima, tapi untungnya saya dalam pemulihan yang baik sekarang. Ini sangat berarti bagi saya, dengan dukungan besar yang saya terima, baik di sini di Twitter maupun di platform lain. Terima kasih banyak," kata Erichsen dalam bahasa Denmark.
    Dikutip dari BBC, pemerintah Denmark menjadi negara pertama yang melarang sepenuhnya penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca pada 15 April 2021. Upaya ini diambil menyusul terbitnya hasil penelitian Otoritas Kesehatan Denmark, yang menunjukkan frekuensi pembekuan darah yang lebih tinggi dari yang diharapkan, dengan perbandingan sekitar satu dari 40 ribu orang.
    Sebelumnya, terjadi dua kasus trombosis di Denmark yang dikaitkan dengan vaksin Covid-19  AstraZeneca. Satu kasus di antaranya terjadi pada seorang wanita berusia 60 tahun dan berakibat fatal. Direktur Jenderal Otoritas Kesehatan Denmark Soren Brostrom mengatakan bahwa ini adalah keputusan yang sulit, tapi Denmark memiliki vaksin lain dan pandemi di sana saat ini terkendali.
    Meskipun begitu, dia mengatakan bahwa tidak tertutup kemungkinan vaksin AstraZeneca akan digunakan di masa mendatang. Selain Denmark, beberapa negara di Eropa sempat menangguhkan vaksin itu. Saat ini, sebagian besar di antaranya telah melanjutkan penggunaan vaksin AstraZeneca, meski dengan batasan tertentu bagi kelompok usia yang lebih tua.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa seorang pejabat pemerintah Denmark, Tanja Erichsen, meninggal karena diracun saat mengumumkan larangan penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca, keliru. Dalam video yang digunakan untuk menyebarkan klaim itu, Erichsen yang merupakan Kepala Badan Obat-obatan Denmark hanya pingsan karena kelelahan, bukan meninggal karena diracun. Kini, Erichsen telah pulih, seperti yang ia nyatakan dalam cuitannya di Twitter.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan