(GFD-2021-7005) [SALAH] Menteri Pertahanan Israel Mengundurkan Diri
Sumber: twitter.comTanggal publish: 28/05/2021
Berita
Akun Twitter (@IrutPagut) mengunggah postingan pada Jumat (14/05/21) berupa narasi dan video yang menyebutkan bahwa Menteri Pertahanan Israel mengundurkan diri. Postingan tersebut mendapatkan 1.344 suka, 305 retweets, dan 88 komentar.
Hasil Cek Fakta
Dari hasil penelusuran, video yang diunggah pada akun tersebut menyebutkan Menteri Pertahanan Israel yang mengundurkan diri ialah Avigdor Lieberman, berita ini muncul di tahun 2018.
Dilansir dari cnnindonesia.com, keputusan Lieberman mengundurkan diri setelah berselisih dengan pemerintahan Benyamin Netanyahu soal kesepakatan gencatan senjata yang dilakukan Israel di Gaza, Palestina. Setelah terlibat serang selama dua hari, Hamas dan militer Israel menyatakan gencatan senjata setelah dibujuk oleh Mesir pada Selasa (13/11/18).
Sebagai tambahan, Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz mengatakan dalam sebuah video akan terus bertekad meluncurkan serangan sampai dapat menghancurkan kemampuan sayap militer Hamas dan kelompok militan lainnya di Jalur Gaza, Palestina (18/05/21).
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka konten tersebut masuk ke dalam kategori konten yang menyesatkan/misleading content.
Dilansir dari cnnindonesia.com, keputusan Lieberman mengundurkan diri setelah berselisih dengan pemerintahan Benyamin Netanyahu soal kesepakatan gencatan senjata yang dilakukan Israel di Gaza, Palestina. Setelah terlibat serang selama dua hari, Hamas dan militer Israel menyatakan gencatan senjata setelah dibujuk oleh Mesir pada Selasa (13/11/18).
Sebagai tambahan, Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz mengatakan dalam sebuah video akan terus bertekad meluncurkan serangan sampai dapat menghancurkan kemampuan sayap militer Hamas dan kelompok militan lainnya di Jalur Gaza, Palestina (18/05/21).
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka konten tersebut masuk ke dalam kategori konten yang menyesatkan/misleading content.
Kesimpulan
Hasil periksa fakta Rahmah an nisaa (Uin Sunan Ampel Surabaya).
Faktanya, Menteri Pertahanan Israel yang mengundurkan diri ialah Avigdor Lieberman di tahun 2018. Menteri Pertahanan Israel saat ini ialah Benny Gantz.
Faktanya, Menteri Pertahanan Israel yang mengundurkan diri ialah Avigdor Lieberman di tahun 2018. Menteri Pertahanan Israel saat ini ialah Benny Gantz.
Rujukan
(GFD-2021-7006) [SALAH] Gambar “sampul majalah Hidayah: Azab Seorang Penghoetang”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 28/05/2021
Berita
Akun Facebook Muhammad Rizki Mulachela (fb.com/100048291394511) pada 27 Mei 2021 mengunggah sebuah gambar sampul majalah Hidayah yang terdapat narasi: “AZAB SEORANG PENGHOETANG” dan wajah Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke grup Makar community.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, adanya gambar sampul majalah Hidayah yang terdapat narasi: “AZAB SEORANG PENGHOETANG” dan wajah Presiden Joko Widodo (Jokowi) merupakan konten yang dimanipulasi.
Faktanya, gambar itu merupakan gambar hasil editan atau suntingan. Pada sampul majalah Hidayah tahun 4 edisi 46 yang asli, TIDAK ADA narasi “Azab Seorang Penghoetang” dan wajah Presiden Jokowi.
Foto sampul majalah Hidayah tahun 4 edisi 46 yang asli, salah satunya dimuat di artikel berjudul “Sebelum Kenal Internet, Ini 7 Bacaan yang Temani Masa Kecil Anak 90an” yang terbit di situs idntimes.com pada 2 Maret 2018.
Selain itu, foto yang identik, dimuat di situs belanja online bukalapak.com dengan narasi “Majalah hidayah – tahun 4 edisi 46 – Mei 2005”
Sementara foto wajah Presiden Jokowi yang ditempelkan ke sampul majalah tersebut, salah satunya dimuat di artikel berjudul “Jokowi dampingi Mega apel peringatan Hari Pancasila” yang terbit di situs Merdeka.com pada 1 Juni 2013.
Faktanya, gambar itu merupakan gambar hasil editan atau suntingan. Pada sampul majalah Hidayah tahun 4 edisi 46 yang asli, TIDAK ADA narasi “Azab Seorang Penghoetang” dan wajah Presiden Jokowi.
Foto sampul majalah Hidayah tahun 4 edisi 46 yang asli, salah satunya dimuat di artikel berjudul “Sebelum Kenal Internet, Ini 7 Bacaan yang Temani Masa Kecil Anak 90an” yang terbit di situs idntimes.com pada 2 Maret 2018.
Selain itu, foto yang identik, dimuat di situs belanja online bukalapak.com dengan narasi “Majalah hidayah – tahun 4 edisi 46 – Mei 2005”
Sementara foto wajah Presiden Jokowi yang ditempelkan ke sampul majalah tersebut, salah satunya dimuat di artikel berjudul “Jokowi dampingi Mega apel peringatan Hari Pancasila” yang terbit di situs Merdeka.com pada 1 Juni 2013.
Kesimpulan
Gambar EDITAN. Pada sampul majalah Hidayah tahun 4 edisi 46 yang asli, TIDAK ADA narasi “Azab Seorang Penghoetang” dan wajah Presiden Jokowi.
Rujukan
- https://www.idntimes.com/hype/throwback/melisa-camalia-1/sebelum-kenal-internet-ini-7-bacaan-yang-temani-masa-kecil-anak-90an-c1c2/7 (Arsip: archive.ph/NHY3R)
- https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/majalah/2to9zw9-jual-majalah-hidayah-tahun-4-edisi-46-mei-2005 (Arsip: archive.ph/h7pEH)
- https://www.merdeka.com/foto/peristiwa/199063/20130601153425-jokowi-dampingi-mega-apel-peringatan-hari-pancasila-009-debbydjoko-poerwanto.html
(GFD-2021-8639) Keliru, Vaksin Covid-19 Sebabkan 0,8 Persen Kematian dalam 2 Minggu dan yang Hidup Hanya Bertahan 2 Tahun
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 28/05/2021
Berita
Pesan berantai yang berisi pernyataan yang diklaim berasal dari ketua saintis di perusahaan vaksin Pfizer, Mike Yeadon, beredar di grup-grup percakapan WhatsApp sejak 26 Mei 2021. Menurut pesan berantai itu, Yeadon mengatakan bahwa vaksin Covid-19 menyebabkan 0,8 persen kematian dalam waktu dua minggu, sementara penerima vaksin yang masih hidup hanya bisa bertahan selama dua tahun.
"Yang sudah divaksin siap-siap mati dini," begitu narasi yang tertulis di bagian awal pesan berantai tersebut. Selanjutnya, terdapat narasi yang diklaim dinyatakan oleh Yeadon, "Mike Yeadon, bekas ketua saintis di firma vaksin Pfizer menyatakan bahwa kini sudah amat terlambat untuk menyelamatkan siapa yang sudah divaksin Covid-19."
Menurut pesan berantai ini, tak lama setelah suntikan pertama vaksin, 0,8 persen penerimanya bakal meninggal dalam waktu dua minggu. "Mereka yang bertahan akan mampu bertahan hidup sekitar dua tahun, namun kemampuan tersebut dikurangi dengan penambahan atau top-up suntikan vaksin. Penambahan vaksin yang sedang dibuat sekarang adalah untuk menyebabkan kemorosotan fungsi organ tertentu dalam badan manusia."
Di akhir pesan berantai itu, terdapat narasi bahwa tujuan akhir pemerintah menyediakan vaksin yang diwajibkan saat ini adalah untuk mengurangi populasi secara besar-besaran. Dicantumkan pula tautan artikel dari situs Lifesitenews.com yang berjudul "EXCLUSIVE - Former Pfizer VP: ‘Your government is lying to you in a way that could lead to your death".
Gambar tangkapan layar pesan berantai di WhatsApp yang berisi klaim keliru tentang vaksin Covid-19.
Hasil Cek Fakta
Menurut verifikasi Tim CekFakta Tempo, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa terdapat kematian hingga 0,8 persen setelah vaksin Covid-19 dosis pertama disuntikkan kepada seseorang. Tidak ada pula bukti bahwa mereka yang telah disuntik vaksin Covid-19 hanya bisa bertahan hidup sekitar dua tahun.
Dikutip dari Deutsche Welle (DW), yang meninjau laporan dari Italia, Austria, Korea Selatan, Jerman, Spanyol, Amerika Serikat, Norwegia, Belgia dan Peru, dalam banyak kasus, otoritas kesehatan belum menemukan hubungan sebab-akibat antara vaksinasi dan kematian.
Di Korea Selatan misalnya, dilaporkan bahwa terdapat 15 orang yang meninggal setelah menerima vaksin Covid-19 AstraZeneca. Di sana, vaksin tersebut hanya diberikan kepada orang yang berusia di bawah 65 tahun. Namun, hasil penyelidikan menunjukkan hampir semua warga yang meninggal itu telah memiliki kondisi medis sebelumnya, seperti penyakit serebrovaskular atau kardiovaskular.
Di Jerman, Institut Paul Ehrlich (PEI) yang bertanggung jawab atas vaksinasi telah menyelidiki 113 kematian yang dilaporkan di negara tersebut. Korban berusia 46-100 tahun, dan mereka meninggal antara satu jam hingga 19 hari setelah menerima vaksin.
Dari 113 kematian tersebut, 20 orang di antaranya meninggal akibat infeksi Covid-19 (di mana 19 orang di antaranya belum memiliki perlindungan vaksin secara penuh; dan sisanya masih belum jelas). Sementara 43 orang di antaranya meninggal akibat kondisi yang sudah ada sebelumnya atau infeksi lain.
Menurut arsip berita Tempo pada 14 Mei 2021, Badan Kesehatan Masyarakat Inggris justru menyatakan bahwa imunisasi massal vaksin virus Corona telah mencegah hampir 12 ribu kematian dan menangkal lebih dari 30 ribu rawat inap pada lansia.
Dalam laporan Badan Kesehatan Masyarakat Inggris, hingga akhir April 2021, program imunisasi vaksin virus Corona telah mencegah 11.700 kematian pada kelompok usia 60 tahun ke atas di Inggris. Selain itu, diperkirakan bahwa 33 ribu lansia berusia 65 tahun ke atas tidak perlu dirawat inap setelah adanya imunisasi massal ini pada periode yang sama.
Terkait riwayat Michael Yeadon, dilansir dari kantor berita Reuters, ia memang seorang mantan peneliti ilmiah dan wakil presiden di Pfizer. Dia pun ikut mendirikan perusahaan bioteknologi tersebut. Namun, kariernya berubah secara tidak terduga. Ia beberapa kali melontarkan pernyataan yang menyesatkan terkait vaksin Covid-19, salah satunya bahwa vaksin itu menyebabkan kemandulan.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa vaksin Covid-19 menyebabkan 0,8 persen kematian dalam waktu dua minggu dan penerima vaksin yang masih hidup hanya bisa bertahan sekitar dua tahun, keliru. Klaim ini tidak sesuai dengan fakta-fakta yang ada, bahwa vaksin Covid-19 justru menyelamatkan lebih banyak manusia dari kematian. Di Inggris misalnya, imunisasi massal vaksin virus Corona telah mencegah hampir 12 ribu kematian.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-covid-19
- https://www.tempo.co/tag/pfizer
- https://www.lifesitenews.com/news/exclusive-former-pfizer-vp-your-government-is-lying-to-you-in-a-way-that-could-lead-to-your-death
- https://www.dw.com/en/fact-check-no-links-found-between-vaccination-and-deaths/a-56458746
- https://www.tempo.co/tag/astrazeneca
- https://dunia.tempo.co/read/1462364/riset-vaksin-virus-corona-mencegah-12-ribu-kematian-akibat-covid-19-di-inggris
- https://www.reuters.com/investigates/special-report/health-coronavirus-vaccines-skeptic/
- https://www.tempo.co/tag/covid-19
(GFD-2021-6997) [SALAH] Cina Donasikan 230 Triliun Untuk Bantu Palestina
Sumber: facebook.comTanggal publish: 27/05/2021
Berita
Beredar sebuah unggahan dari media sosial Facebook yang berisi tangkapan layar sebuah artikel dengan judul “Cina Donasikan 213 Triliun Untuk Bantu Palestina”. Unggahan itu pun lantas mengundang komentar dari beberapa masyarakat, mengingat kabar perang Palestina-Israel tengah ramai menjadi perbincangan.
Hasil Cek Fakta
Namun setelah ditelusuri, tangkapan layar artikel tersebut ternyata hasil editan. Diketahui ternyata judul pada gambar tersebut sudah diedit.
Melalui penelusuran dari Google, ditemukan sebuah artikel yang mirip dengan gambar tersebut. Namun judul artikel dari media gatra.com tersebut adalah “Cina Donasikan 210 Miliar Untuk Bantu Palestina”. Sementara di gambar yang diunggah ke Facebook, judul artikel menyatakan bahwa Cina beri bantuan senilai 230 Triliun.
Artikel ini pun diunggah pada Agustus tahun 2019 lalu. Menurut Kantor Berita Palestina, WAFA, Jumat (30/8), dana itu akan digunakan untuk mendirikan infrastruktur, pengembangan pemuda dan kewirausahaan, pengembangan perempuan, dan energi. Dana itu juga digunakan untuk menggarap proyek di jalur Gaza dan di Tepi Barat. Jadi unggahan artikel tersebut sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan bantuan perang yang terjadi baru-baru ini antara Palestina-Israel.
Dari hasil penelusuran dapat disimpulkan bahwa judul pada tangkapan layar artikel dalam unggahan adalah hasil editan yang termasuk dalam hoaks kategori manipulated content atau konten manipulasi. Unggahan ini pun sesungguhnya tidak berhubungan dengan bantuan perang antara Palestina-Israel sehingga diharapkan tidak menimbulkan perpecahan dan permusuhan di antara masyarakat.
Melalui penelusuran dari Google, ditemukan sebuah artikel yang mirip dengan gambar tersebut. Namun judul artikel dari media gatra.com tersebut adalah “Cina Donasikan 210 Miliar Untuk Bantu Palestina”. Sementara di gambar yang diunggah ke Facebook, judul artikel menyatakan bahwa Cina beri bantuan senilai 230 Triliun.
Artikel ini pun diunggah pada Agustus tahun 2019 lalu. Menurut Kantor Berita Palestina, WAFA, Jumat (30/8), dana itu akan digunakan untuk mendirikan infrastruktur, pengembangan pemuda dan kewirausahaan, pengembangan perempuan, dan energi. Dana itu juga digunakan untuk menggarap proyek di jalur Gaza dan di Tepi Barat. Jadi unggahan artikel tersebut sesungguhnya tidak ada hubungannya dengan bantuan perang yang terjadi baru-baru ini antara Palestina-Israel.
Dari hasil penelusuran dapat disimpulkan bahwa judul pada tangkapan layar artikel dalam unggahan adalah hasil editan yang termasuk dalam hoaks kategori manipulated content atau konten manipulasi. Unggahan ini pun sesungguhnya tidak berhubungan dengan bantuan perang antara Palestina-Israel sehingga diharapkan tidak menimbulkan perpecahan dan permusuhan di antara masyarakat.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara)
Judul suntingan. Faktanya pada artikel asli, Cina bukan memberikan bantuan senilai 230 triliun, melainkan senilai 210 miliar. Bantuan ini pun tidak ada hubungannya dengan bantuan perang antara Palestina-Israel saat ini.
Judul suntingan. Faktanya pada artikel asli, Cina bukan memberikan bantuan senilai 230 triliun, melainkan senilai 210 miliar. Bantuan ini pun tidak ada hubungannya dengan bantuan perang antara Palestina-Israel saat ini.
Rujukan
Halaman: 6606/7954



