• (GFD-2021-7108) [SALAH] Video “Demi berangkat sekolah, anak-anak ini rela mempertaruhkan nyawa menyeberang sungai bergelantungan”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 18/06/2021

    Berita

    Akun Facebook Movie (fb.com/102966975142378) pada 10 Juni 2021 mengunggah sebuah video yang memperlihatkan tiga siswa SD bergelantungan di keranjang saat menyeberangi sungai dengan narasi sebagai berikut:

    “Demi berangkat sekolah, anak-anak ini rela mempertaruhkan nyawa menyeberang sungai bergelantungan. Semoga Adik-adik kita sukses dunia akhirat. Aamiin”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, adanya video yang diklaim sebagai tiga siswa SD yang rela mempertaruhkan nyawa dengan bergelantungan di keranjang saat menyeberangi sungai demi berangkat sekolah merupakan klaim yang salah.

    Faktanya, bukan berangkat sekolah. Di video itu, sebenarnya anak-anak tersebut sedang bermain di tempat penyeberangan buah kelapa sawit setelah pulang sekolah dengan masih berpakaian seragam sekolah.

    Dilansir dari Kompas, peristiwa itu terjadi di Desa Kuntu, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau.

    Babinsa Koramil 05/Kampar Kiri, Kodim 0313/KPR, Serma Kariawanto mengatakan, sebenarnya anak-anak tersebut sedang bermain di tempat penyeberangan buah kelapa sawit. Pemilik sawit sudah membuat jembatan di dekat lokasi tempat siswa SD itu bermain. Jembatan itu menjadi akses utama warga menyeberang.

    “Jembatan ada di sebelahnya. Jadi, keranjang yang diikat tali itu untuk menyeberangkan buah sawit hasil panen. Penyeberangan itu milik pribadi yang punya kebun sawit,” ujar kata Kariawanto melalui sambungan telepon, Kamis (10/6/2021).

    “Jadi tempat penyeberangan sawit itu sering digunakan anak-anak untuk bermain. Sungainya pun dangkal,” kata Kariawanto melanjutkan.

    Selain itu, Anggota Komisi V DPR RI Dapil Riau, H Syahrul Aidi Maazat saat mengunjungi lokasi video viral tersebut, menyatakan bahwa apa yang dilakukan anak – anak tersebut memang sangat membahayakan. Anak – anak tersebut tidak sedang dalam berangkat sekolah tetapi pulang sekolah dengan masih berpakaian seragam sekolah.

    Kesimpulan

    BUKAN berangkat sekolah. Di video itu, sebenarnya anak-anak tersebut sedang bermain di tempat penyeberangan buah kelapa sawit setelah pulang sekolah dengan masih berpakaian seragam sekolah.

    Rujukan

  • (GFD-2021-7109) [SALAH] “TAK TERTOLONG..!!! SELAMAT JALAN FADLIZON. ADA KEJANGGALAN ATAS KEPERGIAN NYA HINGGA SEPERTI INI”

    Sumber: Youtube.com
    Tanggal publish: 18/06/2021

    Berita

    Channel Youtube bernama teropong istana membagikan sebuah video di channel Youtubenya mengenai kondisi Fadli Zon. Pada thumbnail video tersebut, dituliskan sebuah narasi yang mengindikasikan bahwa Fadli Zon tidak bisa diselamatkan atau dengan kata lain diasumsikan bahwa Fadli Zon telah meninggal dunia.

    Pada foto thumbnail video tersebutpun digunakan foto keadaan seperti di rumah sakit dengan adanya satu pasien yang terbaring di tempat tidur rumah sakit dan telah ditutupi kain selayaknya seseorang yang telah meninggal dunia.

    Namun setelah video tersebut diputar, hal yang disampaikan dalam video sangatlah berbeda dengan narasi yang tertera dalam thumbnail. Pada video tersebut, pemilik channel youtube teropong istana justru menjelaskan tentang kondisi Fadli Zon yang terindikasi positif terpapar Covid-19 meski telah melakukan vaksinasi untuk kedua kalinya.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil pemeriksaan fakta, tidaklah ditemukan fakta terkait Fadli Zon telah meninggal dunia. Namun fakta yang ada ialah benar bahwa Fadli Zon terpapar Covid-19 meski telah melakukan vaksin untuk kedua kalinya.

    Melansir dari solopos.com, dijelaskan bahwa Fadli Zon mengabarkan tentang kondisinya yang terpapar Covid-19 melalui akun Twitternya, serta ia juga menyatakan bahwa Covid-19 itu nyata sebab ia terpapar Covid-19 setelah menjalani vaksinasi sebanyak dua kali pada bulan Maret lalu.

    Melansir dari kompas.com, wakil ketua umum partai Gerindra Habiburokhman juga menjelaskan bahwa kondisi Fadli Zon pada saat terindikasi positif Covid-19 dalam keadaan yang stabil, namun harus menjalani perawatan di rumah sakit untuk memaksimalkan pemulihannya.

    Selain itu, melansir dari detik.com, Fadli Zon juga melalui akun Twitternya meminta doa untuk kesehatannya serta mengajak masyarakat untuk tetap waspada dalam menjaga kesehatan, menjaga jarak, dan menjaga imunitas tubuh.

    Bahkan pada tanggal 8 Juni 2021 lalu, melalui akun Twitternya, Fadli Zon menyatakan bahwa swab yang dilakukannya pada pagi hari hasilnya negatif Covid-19. Selain itu ia juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendoakan serta tetap mengimbau agar tetap menjaga protokol kesehatan dan tidak mengabaikan adanya Covid-19 itu sendiri.

    Berdasarkan pada seluruh referensi, informasi terkait tidak tertolongnya Fadli Zon atau dengan kata lain Fadli Zon telah meninggal dunia yang dimuat dalam video yang diunggah oleh channel youtube teropong istana ialah informasi yang salah atau masuk ke dalam kategori koneksi yang salah.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Novita Kusuma Wardhani (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta). Informasi tersebut salah. Faktanya dalam video yang berdurasi 5 menit 5 detik tersebut menjelaskan informasi yang berbeda dengan narasi yang tertera dalam thumbnail video.

    Rujukan

  • (GFD-2021-8673) Keliru, Klaim Ini Video saat Erdogan Temui Anak-anak Palestina yang Tertindas

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 18/06/2021

    Berita


    Video yang memperlihatkan momen ketika Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tengah bertemu dengan sejumlah anak kecil beredar di Facebook. Dalam video itu, terlihat seorang anak yang menangis di depan Erdogan. Erdogan pun berbicara dengan anak itu dan kemudian memeluknya. Video ini diklaim sebagai video saat Erdogan menemui anak-anak Palestina.
    Akun ini membagikan video beserta klaim itu pada 22 Mei 2021. Akun itu menulis dalam bahasa Urdu yang jika diterjemahkan berarti: "Anak singa mencapai Palestina. Mungkin mendengar suara rakyat Palestina yang tertindas." Hingga artikel ini dimuat, video itu telah ditonton lebih dari 5 juta kali dan dikomentari lebih dari 12 ribu kali.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta mula-mula memfragmentasi video itu menjadi sejumlah gambar dengan tool InVID. Kemudian, gambar-gambar tersebut ditelusuri jejak digitalnya dengan reverse image tool Google dan Yandex. Hasilnya, ditemukan bahwa video itu adalah video lama, dan tidak terkait dengan Palestina.
    Video itu pernah menyebar dengan klaim yang sama, bahwa Erdogan tengah mengunjungi anak-anak Palestina, pada Desember 2019. Video itu dibagikan oleh kanal YouTube TaZa News pada 9 Desember 2019 dengan judul "Presiden Turki Tayyip Erdogan dengan suara yang melibatkan tangisan anak-anak Palestina yang tak berdaya".
    Namun, ditemukan video yang identik yang dimuat oleh kanal YouTube milik stasiun televisi Turki, Beyaz Haber, sebelum Desember 2019, yakni pada 22 Januari 2019. Video ini berjudul "Anak-anak menghentikan konvoi Erdogan". Adapun dalam keterangannya, tertulis: "Setelah kunjungan ke Ordu (sebuah provinsi di Turki ), Presiden Erdogan berbicara dengan anak-anak yang menghentikan konvoinya dalam perjalanan ke bandara dan membagikan mainan."
    Ditemukan pula foto-foto dari momen yang sama, yang dimuat di situs stok foto Getty Images. Kedua foto itu merupakan dokumentasi Kantor Kepresidenan Turki yang diperoleh oleh kantor berita Turki, Anadolu Agency. Foto-foto tersebut diberi keterangan yang sama, yakni sebagai berikut:
    "Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Ordu. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memeluk anak-anak saat ia bertemu dengan warga dalam perjalanan ke bandara di Ordu, Turki, pada 20 Januari 2019. (Foto oleh Kantor Kepresidenan Turki/Murat Cetinmuhurdar/Handout/Anadolu Agency/Getty Images)."
    Dilansir dari situs berita Turki, Hurriyet, ketika itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menghadiri jamuan makan malam organisasi yang diselenggarakan oleh Partai AK Kepresidenan Provinsi Ordu. Makan malam yang diadakan di sebuah hotel ini tertutup untuk pers.
    Setelah itu, Erdogan berangkat ke bandara. Di tengah perjalanan, Erdogan menghentikan konvoinya dan bertemu dengan warga. Ia memberikan mainan kepada anak-anak. Ia juga memasuki toko-toko nelayan serta toko bagel dan mengobrol dengan warga.
    Dikutip dari situs berita Turki lainnya, Star, ketika memasuki toko bagel, Erdogan mengambil sebuah bagel yang baru dipanggang, memotongnya menjadi dua, dan memberikan salah satunya kepada kandidat Wali Kota Metropolitan Ordu dari Partai AK, M. Hilmi Guler. Setelah berbincang-bincang sejenak, Erdogan kembali ke mobilnya untuk melanjutkan perjalanannya ke Bandara Ordu-Giresun dan berangkat ke Ankara.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video itu adalah video saat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menemui anak-anak Palestina yang tertindas, keliru. Video ini adalah video lama, yang diambil pada Januari 2019, ketika Erdogan berkunjung ke Ordu, Turki. Dalam perjalanan ke bandara, ia menghentikan konvoinya untuk menemui warga dan memberikan anak-anak mainan.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-8674) Sesat, Kadus di Jember yang Meninggal usai Jatuh Sengaja Divonis Covid-19 oleh RS

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 18/06/2021

    Berita


    Klaim bahwa seorang kepala dusun di Jember, Jawa Tengah, yang meninggal usai terjatuh di kamar mandi sengaja divonis Covid-19 oleh rumah sakit beredar di Instagram. Klaim itu dilengkapi dengan video yang memperlihatkan ratusan orang yang berkumpul di depan halaman sebuah rumah sakit. Akun ini mengunggah klaim beserta video itu pada 11 Juni 2021. Akun tersebut menulis narasi sebagai berikut:
    "Orang jatuh dari jeding (kamar mandi) dibawa ke RS Ajung dianggap corona, berarti kan ndak beres ini rumah sakitnya," kata salah seorang dalam video. Ratusan warga Dusun Onjur Desa Suren Kecamatan Ledokombo mendatangi Rumah Sakit Daerah (RSD) Kalisat di Desa Ajung Kecamatan Kalisat, Jember. Warga tak terima karena Kepala Dusun Onjur meninggal dan dinyatakan positif Covid-19 oleh pihak rumah sakit. Sebab, kepala dusun tersebut diyakini dibawa ke RS karena terjatuh di kamar mandi.
    Gambar tangkapan layar unggahan di Instagram yang berisi klaim menyesatkan tentang seorang kepala dusun di Jember.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video di atas menjadi sejumlah gambar dengan tool InVID. Gambar-gambar hasil fragmentasi itu kemudian ditelusuri dengan reverse image tool Google dan Yandex. Hasilnya, ditemukan bahwa video itu memperlihatkan aksi protes warga Dusun Onjur, Desa Suren, Ledokombo, Jember, terhadap Rumah Sakit Daerah (RSD) Kalisat pada 11 Juni 2021. Video ini pernah diunggah oleh akun ini pada 11 Juni 2021 dan akun ini pada 12 Juni 2021.
    Dilansir dari Kompas.com, aksi protes warga Dusun Onjur tersebut dilakukan lantaran tidak terima kepala dusun mereka yang meninggal dinyatakan positif Covid-19 oleh pihak rumah sakit. Warga beranggapan kepala dusun mereka meninggal bukan karena Covid-19, melainkan karena terjatuh di kamar mandi, dan keluarga menginginkan agar pemakaman kepala dusun tersebut dilakukan seperti biasa, tanpa protokol pencegahan Covid-19.
    Hal tersebut juga diberitakan oleh Detik.com. Menurut laporannya, ratusan warga Dusun Onjur mendatangi RSD Kalisat untuk mengambil paksa jenazah Kepala Dusun Onjur yang dinyatakan positif Covid-19. Mereka menginginkan pemakaman kepala dusun tersebut tidak menggunakan protokol kesehatan.
    Meskipun begitu, RSD Kalisat membantah sengaja memvonis Covid-19 Kepala Dusun Onjur itu. Dilansir dari Merdeka.com, Direktur RSD Kalisat Kunin menyatakan terdapat keterangan pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dari hasil swab tes antigen sebelum dirujuk ke RS dr. Soebandi. "Awal itu pasien datang ke rumah sakit karena jatuh, kemudian dilakukan berbagai pemeriksaan, keluarnya hasil pemeriksaan penyakit jantung, kemudian butuh rujukan ke RS dr. Soebandi," ujar Kunin.
    Prosedur rujukan di RS dr. Soebandi mengharuskan rumah sakit asal melampirkan hasil tes swab antigen. Ketika itu, hasil tes kepala dusun tersebut positif Covid-19, dan harus mendapatkan penanganan sesuai prosedur Covid-19. "Sehingga, dengan keluar hasil positif, dipastikan pasien terkonfirmasi Covid-19," katanya.
    Namun, ketika akan dibawa ke RS dr. Soebandi, pasien meninggal. Sehingga, karena terkonfirmasi positif Covid-19, dilakukan pemulangan jenazah dengan protokol Covid-19. Hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan supaya tidak menular ke warga. "Pasien masuk rumah sakit jam 2 dini hari, dan meninggalnya jam 8 pagi," ujar Kunin.
    Dikutip dari Kompas.com, Wakil Bupati Jember Balya Firjaun Barlaman mengatakan insiden yang terjadi di RSD Kalisat adalah kesalahpahaman. Dilansir dari Kompas.com, terdapat satu pasien yang sebelumnya sudah punya penyakit jantung, setelah didiagnosis perlu dirujuk ke RS dr. Soebandi. Namun, pasien harus melakukan tes swab terlebih dulu sebagai persyaratan rujukan.
    "Akhirnya, dilakukan tes swab pada pukul 07.00 WIB, ternyata hasilnya positif," ujarnya. Namun, pada pukul 08.00 WIB, kepala dusun tersebut meninggal. Karena itu, prosedur harus dilakukan dengan protokol kesehatan, termasuk dalam pemulasaraan jenazah hingga pemakaman. "Di sini kemudian, masyarakat, ada bahasa di-Covid-kan. Ini yang menyebabkan reaksi."

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaaan fakta Tempo, klaim bahwa seorang kepala dusun di Jember, Jawa Tengah, yang meninggal usai terjatuh di kamar mandi sengaja divonis Covid-19 oleh rumah sakit, menyesatkan. Kepala Dusun Onjur itu datang ke rumah sakit memang karena jatuh. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan, pasien ini mengidap penyakit jantung dan butuh dirujuk di RS dr. Soebandi. Menurut prosedur, pasien yang dirujuk ke RS dr. Soebandi harus menjalani hasil tes swab antigen. Berdasarkan hasil tes swab antigen itu, kepala dusun tersebut terkonfirmasi positif Covid-19.
    TIM CEK FAKTA TEMPO
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan