• (GFD-2021-8693) Keliru, Susu Beruang (Bear Brand) dapat Menyembuhkan Covid-19

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 09/07/2021

    Berita


    Susu beruang atau Bear Brand diburu banyak konsumen dalam beberapa hari terakhir. Hal itu dipicu beberapa unggahan di media sosial yang mengklaim bahwa susu tersebut membuat seseorang cepat pulih dari Covid-19.
    Salah satunya adalah narasi yang dibagikan di Facebook pada 6 Juli 2021 yang menyatakan meminum Bear Brand menjadi bagian dari 11 tips cepat pulih dari Covid-19.
    “Sedikit informasi berbagi pengalaman karena ponakan saya pernah terkena covid-19 (gejala ringan/isoman). Biar cepat pulih sering minum susu bear brand,” tulis narasi di Facebook.
    Sepuluh tips lainnya yang dibagikan antara lain makan-makanan bergizi, mengkonsumsi vitamin C, madu dan rempah, minum paracetamol saat demam, berjemur dan berolahraga ringan, irigasi nassal saat hilang indra penciuman, dan terapi uap minyak putih. 

    Hasil Cek Fakta


    Hasil pemeriksaan fakta Tempo menunjukkan bahwa susu Bear Brand maupun jenis susu lainnya bukan obat Covid-19. Perlindungan terbaik dari virus penyebab Covid-19 adalah sering mencuci tangan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sakit, memakai masker wajah saat merasa sakit, membersihkan dan mendesinfeksi permukaan yang sering disentuh, dan menjaga jarak.
    Dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), dosen Departemen Gizi Kesehatan FKKMK UGM Rahadyana Muslichah mengatakan, susu beruang tidak dapat mengobati Covid-19. Sebab, hingga saat ini belum apa penelitian yang membuktikan jika susu bisa mengobati virus corona jenis baru ini.
    "Susu beruang bukan obat dan sampai sekarang pun belum ada obat spesifik untuk mengobati Covid-19. Jadi, klaim susu beruang bisa menyembuhkan Covid-19 itu tidak benar," kata dia, Senin, 5 Juli 2021.
    Ia menjelaskan dalam setiap produk susu memiliki kandungan gizi yang hampir sama, termasuk susu beruang. Dalam produk susu mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin serta mineral.
    Hanya saja, dalam susu beruang varian kemasan warna putih, kata Icha, merupakan produk susu murni (100 persen susu sapi). Di dalamnya hanya mengandung makronutrien yakni karbohidrat, protein, serta lemak. Sementara varian lainnya telah difortifikasi dengan vitamin dan mineral.
    "Tidak ada perbedaan antara susu beruang dengan produk susu lainnya, kandungan gizinya hampir sama. Soal kandungan gizi ini bisa dicek di label kemasan," ujar Icha menjelaskan.
    Icha menambahkan, mengonsumsi susu saja tidak lantas meningkatkan imunitas tubuh. Untuk menjaga dari paparan Covid-19, tubuh membutuhkan asupan makanan bergizi.
    "Minum susu sebenarnya salah satu opsi yang bisa dikonsumsi untuk tambahan asupan. Utamanya ya dari makanan holistik yakni karbohidrat, protein, sayur, dan buah, kalau susu saja tidak lengkap kandungan gizinya," paparnya.
    Kepala Divisi Teknologi Hasil Ternak Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Epi Taufik menyatakan hal yang sama. Menurut dia, semua jenis olahan susu cair baik itu susu pasteurisasi ataupun susu UHT seperti susu beruang dengan susu steril dari berbagai merek yang beredar di pasaran memiliki kandungan nilai gizi yang hampir sama.
    Dia menerangkan, sebagaimana bahan pangan lainnya, susu merupakan sumber nutrisi bagi tubuh untuk menjaga proses metabolisme normal, termasuk mencegah inflamasi juga meningkatkan imunitas tubuh, tapi susu bukanlah obat atau vaksin.
    Di luar negeri, klaim bahwa susu bisa menyembuhkan Covid-19 juga pernah dibahas oleh Reuters. British Nutrition Foundation menyatakan, tidak ada makanan atau suplemen yang dapat melindungi seseorang dari virus SARS-Cov 2 (COVID-19). Namun demikian, memiliki pola makan yang sehat penting dalam mendukung fungsi kekebalan tubuh kita dan banyak nutrisi mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi.
    Di satu sisi, memang benar bahwa vitamin C dan zinc memainkan peran penting dalam sistem kekebalan tubuh. Menurut National Institutes of Health (NIH), vitamin C meningkatkan penyerapan zat besi dari makanan nabati dan membantu sistem kekebalan bekerja dengan baik untuk melindungi tubuh dari penyakit. NIH juga mengatakan bahwa zinc membantu sistem kekebalan melawan bakteri dan virus yang menyerang.
    Namun, susu tidak mengandung vitamin C atau zinc dalam jumlah yang signifikan. Departemen Pertanian AS (USDA) mencantumkan makanan dan nutrisinya dalam database. Untuk susu murni tanpa merek, tercantum 0,903 mg zinc dan 0 mg Vitamin C per cangkir.

    Kesimpulan


    Dari pemeriksaan fakta di atas, Tempo menyimpulkan klaim bahwa susu Bear Brand atau susu beruang bisa menyembuhkan Covid-19 adalah keliru. Susu maupun makanan tertentu, tidak dapat mengobati atau melindungi seseorang dari virus SARS-Cov 2 (Covid-19).
    Tim Cek Fakta Tempo

    Rujukan

  • (GFD-2021-8694) Sesat, Klaim Ini Video Pasien Rumah Sakit di Surabaya Dicovidkan dan Jenazahnya Ditangani Secara Tidak Wajar

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 09/07/2021

    Berita


    Sebuah video yang memperlihatkan keluarga pasien memarahi tenaga kesehatan di sebuah rumah sakit di Surabaya beredar di media sosial. Dalam video tersebut seseorang menjelaskan kondisi pasien yang meninggal dicovidkan dan jenazahnya ditangani secara tidak wajar lantaran hanya dibungkus plastik tanpa dimandikan.
    Unggahan ini beredar di tengah kondisi kasus Covid-19 yang terus melonjak di Indonesia. Di Facebook, video tersebut diunggah akun ini pada 3 Juli 2021. Bersamaan dengan unggahan tersebut, pengunggah menuliskan narasi, ”RAKYAT BAWAH JADI KORBAN PEMBODOHAN , SEPERTI INI KAH KEADAAN DI NEGRI INI ...? VIRALKAN !!!”
    Hingga artikel ini dimuat, video berdurasi 3 menit 44 detik tersebut telah disaksikan lebih dari 6 ribu kali dan mendapat komentar lebih dari 10 ribu.
    Tangkapan layar video yang diunggah di Facebook, 3 Juli 2021.

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim Cek Fakta Tempo memfragmentasi video tersebut dengan menggunakan tool InVid. Selanjutnya gambar-gambar hasil fragmentasi ditelusuri jejak digitalnya dengan menggunakan reverse image Google dan Yandex.
    Hasilnya, peristiwa dalam video tersebut terjadi di RSI Darus Syifa Benowo, Surabaya pada Juni 2021. Berdasarkan pemeriksaan tiga dokter spesialis yaitu Syaraf, Paru dan Penyakit dalam maka diketahui bahwa yang bersangkutan juga terpapar Covid-19.
    Video yang identik juga pernah diunggah ke Youtube oleh akun HARIAN SURYA pada 4 Juli 2021 dengan judul, “Heboh... Keluarga Pasien Marahi Dokter, Anggap Tak Wajar Urus Jenazah”.
    Menurut Harian Surya, keluarga pasien marah-marah ke dokter dan tenaga kesehatan di salah satu rumah sakit di Surabaya Barat untuk memprotes tindakan pihak rumah sakit yang dianggap tidak wajar dalam menangani jenazah.
    Pada awal video diperlihatkan jenazah yang terbungkus plastik. Keluarga pasien kemudian memprotes petugas memandikan jenazah atas perlakuan yang dinilai tak layak tersebut. Namun, tak satupun petugas ada di lokasi, sehingga membuat amarah keluarga semakin memuncak.
    Tampak juga rombongan keluarga lainnya berteriak marah serta menyobek-nyobek berkas pada meja jaga tenaga medis. Mereka pun mengancam akan mencabut (membawa jenazah pulang) dan tidak takut jika berurusan dengan polisi. Dokter yang memberi keterangan pun sempat dihardik oleh keluarga pasien saat memberi keterangan.
    Dilansir dari liputan6.com, Humas Rumah Sakit Islam (RSI) Darus Syifa Benowo Surabaya, Ahmad Nafi' membenarkan video viral tersebut terjadi di rumah sakitnya.
    Nafi' menceritakan, pasien itu warga Manukan Surabaya, berjenis kelamin perempuan dan berusia 67 tahun. "Beliau masuk IGD pada 16 atau 17 Juni 2021 sekitar pukul 9 atau 10 pagi," ujarnya saat saat berbincang dengan Liputan6.com di RSI Darus Syifa' Benowo Surabaya.
    Nafi' melanjutkan, pasien itu awalnya didiagnosa menderita pneumonia paru. Kemudian dari hasil pemeriksaan tiga dokter spesialis yaitu Syaraf, Paru dan Penyakit dalam maka diketahui bahwa yang bersangkutan juga terpapar Covid-19.
    "Dari rekomendasi tiga dokter itu, pasien disarankan untuk menjalani rawat inap di ruang isolasi IGD. Namun kami kembalikan lagi kepada keluarga, mau dirawat di sini atau dibawa pulang," ucapnya.
    Nafi' menjelaskan, keluarga pasien awalnya tidak mau kalau pasien ditempatkan di ruang isolasi IGD, namun setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya keluarga pasien menerima itu.
    "Belum sampai satu hari, satu kali 24 jam, beliau meninggal dunia malam hari. Prosesnya juga lama sampai pukul dua atau tiga dini hari. Dan kondisinya memang masih memakai pampers dan dibungkus plastik di ruang isolasi IGD," ujarnya.
    Sebenarnya, proses pengurusan jenazah belum selesai. Namun, pihak keluarga sudah terlanjur marah-marah. "Kejadiannya sudah lama dan baru viral akhir-akhir ini, saya jadi bingung, dan harusnya ada video yang lebih lengkap, video viral itu cuma menampilkan sebagian gambar saja," ucapnya.
    Fatwa MUI
    Dilansir dari mui.or.id, pada 21 Maret 2020, MUI mengeluarkan Fatwa Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah COVID-19. Fatwa ini diperkuat Fatwa MUI Nomor 18 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengurusan Jenazah Muslim yang Terinfeksi COVID-19 tertanggal 27 Maret 2020.
    Pedoman ini dipisahkan ke dalam empat bagian, yaitu cara memandikan jenazah, cara mengafani jenazah, cara menyalatkan jenazah, dan cara menguburkan jenazah terpapar virus corona.
    MUI memandang, umat Islam yang meninggal karena COVID-19 tergolong syahid akhirat. Artinya, muslim yang meninggal dunia karena kondisi tertentu yang mendapat pahala syahid, tetapi tetap wajib dipenuhi hak-hak jenazahnya secara duniawi.
    Dalam Fatwa Nomor 18 Tahun 2020 ditegaskan pula bahwa pengurusan jenazah, terutama dalam memandikan jenazah dilakukan oleh pihak berwenang, atau petugas muslim yang melaksanakan tajhiz janazah.
    Memandikan jenazah yang terpapar virus corona mesti mempertimbangkan pendapat ahli terpercaya. Pedoman umumnya adalah memandikan jenazah tanpa membuka pakaian mayit. Namun, bila tidak memungkinkan, maka yang dilakukan adalah menayamumkan. Jika hal tersebut tidak memungkinkan, maka jenazah tidak dimandikan atau ditayamumkan.
    Tata cara memandikan jenazah terkena virus corona adalah sebagai berikut:
    1. Memandikan jenazah tanpa membuka pakaiannya. 2. Petugas yang memandikan wajib berjenis kelamin yang sama dengan jenazah.3. Jika tidak ada petugas yang berjenis kelamin sama, maka petugas yang ada tetap memandikan dengan syarat jenazah tetap memakai pakaian. Jika tidak, maka jenazah ditayamumkan.4. Jika ada najis pada tubuh jenazah, petugas membersihkannya sebelum memandikan. Petugas memandikan jenazah dengan cara mengucurkan air secara merata ke seluruh tubuh; Jika atas pertimbangan ahli terpercaya bahwa jenazah tidak mungkin dimandikan, maka memandikan dapat diganti dengan tayamum sesuai ketentuan syariah, caranya adalah mengusap wajah dan kedua tangan jenazah dengan debu.5. Demi perlindungan diri, petugas dapat tetap menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Jika berdasarkan pendapat ahli, memandikan atau menayamumkan jenazah tidak mungkin dilakukan karena membahayakan petugas, maka jenazah tidak perlu dimandikan atau ditayamumkan berdasarkan ketentuan dlarurat syar’iyyah.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, video dengan klaim pasien rumah sakit di Surabaya dicovidkan dan jenazahnya ditangani secara tidak wajar, menyesatkan. Kejadian dalam video tersebut benar terjadi di RSI Darus Syifa Benowo Surabaya pada Juni 2021.
    Namun, kondisi pasien saat itu memang diketahui positif Covid-19 berdasarkan hasil pemeriksaan tiga dokter spesialis yaitu Syaraf, Paru dan Penyakit dalam. Pihak rumah sakit juga sudah menjelaskan bahwa video yang viral bukan video utuh.
    Fatwa MUI Nomor 18 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengurusan Jenazah Muslim yang Terinfeksi COVID-19 tertanggal 27 Maret 2020 juga menegaskan bahwa memandikan jenazah yang terpapar Covid-19 mesti mempertimbangkan pendapat ahli terpercaya. Pedoman umumnya adalah memandikan jenazah tanpa membuka pakaian mayit. Namun, bila tidak memungkinkan, maka yang dilakukan adalah menayamumkan.
    TIM CEK FAKTA TEMPO

    Rujukan

  • (GFD-2021-7203) [SALAH] Video “Kita ditipu 1 pun tak ada pake masker!!”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 08/07/2021

    Berita

    Akun Facebook Eman Kevaster (fb.com/eman.kevaster.5) pada 7 Juli 2021 mengunggah sebuah video yang memperlihatkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menghadiri sebuah acara dengan narasi sebagai berikut:

    “Kita ditipu 1 pun tak ada pake masker!!”

    Di video itu juga terdapat narasi “Perhatikan..!!? Kita ditipu, 1 pun tak ad yg pake masker, FAKTA mnunjukan …, Ternyata ini org2 yg d belakang jkowi, Innalillahi… wainnailaihi rooji’un”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, adanya video Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menghadiri sebuah acara yang diklaim tidak menggunakan masker merupakan konten yang salah.

    Faktanya, video itu merupakan video tahun 2019 saat Presiden Jokowi melayat mendiang pendiri Sinar Mas Group, Eka Tjipta Widjaja di Rumah Duka milik RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Senin, 28 Januari 2019.

    Video yang indentik, diunggah di kanal Youtube Kids Clairyne Show pada 28 Januari 2019 dengan judul “Jokowi Melayat Eka Tjipta di Rumah Duka RSPAD Gatot Soebroto”.

    Dilansir dari CNN Indonesia, Jokowi tiba sekitar pukul 18.05 WIB. Dia yang mengenakan kemeja batik lengan panjang disambut pihak keluarga Eka. Jokowi berada di dalam ruangan tersebut sekitar 30 menit. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu keluar sekitar 18.45 WIB. Saat yang bersamaan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh melayat mendiang Eka.

    Kesimpulan

    Video tahun 2019 saat Presiden Jokowi melayat mendiang pendiri Sinar Mas Group, Eka Tjipta Widjaja di Rumah Duka milik RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Senin, 28 Januari 2019.

    Rujukan

  • (GFD-2021-7204) [SALAH] Foto “John Lenon sekeluarga bersama istrinya Yoko Ono dan putranya Sean Lenon ternyata pernah wisata ke Cibodas tahun 1977”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 08/07/2021

    Berita

    Akun Facebook Joseph Prasetya Subekti (fb.com/joseph.subekti) pada 23 Juni 2021 mengunggah sebuah gambar tangkapan layar pesan Whatsapp dengan narasi sebagai berikut:

    “CIBODAS. Ternyata John Lennon dan Yoko Ono plus Sean Lennon pernah piknik ke Cibodas pada tahun 1977. Sumber: WAG”

    Dalam gambar tersebut terdapat foto yang memperlihatkan John Lennon bersama istrinya, Yoko Ono dan putranya, Sean Lennon sedang berdiri di depan gerbang Kebun Raya Cibodas. Terdapat narasi “Niiih foto langka dan ga pernah dipublikasikan, … John Lenon sekeluarga bersama istrinya Yoko Ono dan putranya Sean Lenon ternyata pernah wisata ke Cibodas tahun 1977 atau 3 tahun sebelum John wafat ditembak”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, adanya foto John Lennon bersama istrinya, Yoko Ono dan putranya, Sean Lennon yang diklaim sedang berada di depan gerbang Kebun Raya Cibodas pada tahun 1977 adalah konten yang dimanipulasi.

    Faktanya, foto itu merupakan foto hasil editan atau suntingan. Foto asli adalah saat John Lennon dan Yoko Ono di Gunung Asama, Jepang pada tahun 1977.

    Salah satu foto yang asli diunggah di akun Twitter @aflashbak pada 5 September 2019 dengan narasi “Yoko Ono and John Lennon – Asama Mountain, Japan, Summer 1977 – Photo by Nishi F Saimura.”

    Dari hasil penelusuran dengan menggunakan kata kunci “John Lennon Photo by Nishi F Saimura” ditemukan sebuah bukun yang dijual di situs Amazon dengan judul “The John Lennon Family Album”. Di sampul buku yang dipublikasikan pada 1 November 1990 ini, terdapat foto yang sama dengan foto yang diunggah oleh akun Twitter @aflashbak.

    Kesimpulan

    Foto EDITAN. Foto asli adalah saat John Lennon dan Yoko Ono di Gunung Asama, Jepang pada tahun 1977.

    Rujukan