Narasi:
“Edukasi tentang PCR yg sangat menakutkan.
Jangan panik kalo hasil PCR positif doang, minta juga hasil CT nya.
Bagaimana membaca nilai CT dan kesimpulannya:
CT 0 – 11 hasil lab invalid
CT 12 – 20 buanyak virus
CT 21 – 30 fase penyembuhan
CT 31 – 40 sembuh”
“PCR tidak perlu diulang ulang karena tes PCR tidak bisa membedakan fragmen virus yg hidup atau mati.
Kalau hasil PCR tidak disertakan CT value mohon diminta, jangan terjebak dlm kebodohan.
Jadi jangan panik kalo hasil PCR positif doang, bukan vonis mati.”
(GFD-2021-7271) [SALAH] Nilai CT Pada Tes PCR Menentukan Kesembuhan Pasien Covid-19
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 19/07/2021
Berita
Hasil Cek Fakta
Telah beredar pesan berantai melalui WhatsApp berisi informasi terkait nilai CT (Cycle Threshold) pada tes PCR Covid-19. Dalam pesan tersebut, nilai CT dikelompokkan dalam beberapa kategori untuk menentukan kesembuhan pasien Covid-19.
Berdasarkan hasil penelusuran, informasi kategori nilai CT itu tidak benar. Melalui unggahan akun Twitter resmi @PBIDI, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengonfirmasi bahwa tidak ada pengelompokan berdasarkan nilai CT dan nilai CT tidak dapat dibandingkan antar lab karena ada perbedaan dalam metode, alat, reagen, beserta sampel yang diperiksa. Selain itu, ditegaskan juga berapapun nilai CT apabila hasil tes PCR menunjukkan positif, maka harus menjalani isolasi dan berkonsultasi dengan dokter.
Hal serupa dijelaskan oleh Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan, Dr. Jaka Pradipta. Mengutip dari Suara, Dr. Jaka memaparkan, nilai CT bukanlah tolak ukur kesembuhan pasien Covid-19 dan juga bukan patokan apakah sesorang masih bisa menularkan Covid-19 . Hal ini disebabkan nilai CT dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor selain jumlah virus yang ditemukan dalam sampel tes PCR.
“Itu mitos dan menyesatkan, yang kita lihat adalah gejalanya dan perbaikan. Kemudian pemeriksaan penunjang seperti laboratorium, radiologi, dan yang paling penting sudah menyelesaikan isolasi minimal 10 hari, atau 14 hari. Kalau itu semua bagus, baru itu namanya sembuh. Contohnya, semakin dalam diperiksa, maka CT value-nya semakin turun. Mesinnya yang berbeda juga akan mempengaruhi hasil yang berbeda, proses penyimpanan dan proses pengerjaan akan menghasilkan pemeriksaan CT value yang berbeda. Jadi nilai CT value itu bukan acuan, banyak pasien kritis dengan CT value tinggi dan bahkan pasien tanpa gejala CT value-nya rendah. Jadi jangan hiraukan CT value,” jelas Dr. Jaka, melalui siaran kanal YouTube Mayapada Hospital yang dikutip oleh suara.com (17/7/2021).
Dari berbagai fakta di atas, pesan yang beredar melalui WhatsApp itu dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan.
Berdasarkan hasil penelusuran, informasi kategori nilai CT itu tidak benar. Melalui unggahan akun Twitter resmi @PBIDI, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengonfirmasi bahwa tidak ada pengelompokan berdasarkan nilai CT dan nilai CT tidak dapat dibandingkan antar lab karena ada perbedaan dalam metode, alat, reagen, beserta sampel yang diperiksa. Selain itu, ditegaskan juga berapapun nilai CT apabila hasil tes PCR menunjukkan positif, maka harus menjalani isolasi dan berkonsultasi dengan dokter.
Hal serupa dijelaskan oleh Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan, Dr. Jaka Pradipta. Mengutip dari Suara, Dr. Jaka memaparkan, nilai CT bukanlah tolak ukur kesembuhan pasien Covid-19 dan juga bukan patokan apakah sesorang masih bisa menularkan Covid-19 . Hal ini disebabkan nilai CT dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor selain jumlah virus yang ditemukan dalam sampel tes PCR.
“Itu mitos dan menyesatkan, yang kita lihat adalah gejalanya dan perbaikan. Kemudian pemeriksaan penunjang seperti laboratorium, radiologi, dan yang paling penting sudah menyelesaikan isolasi minimal 10 hari, atau 14 hari. Kalau itu semua bagus, baru itu namanya sembuh. Contohnya, semakin dalam diperiksa, maka CT value-nya semakin turun. Mesinnya yang berbeda juga akan mempengaruhi hasil yang berbeda, proses penyimpanan dan proses pengerjaan akan menghasilkan pemeriksaan CT value yang berbeda. Jadi nilai CT value itu bukan acuan, banyak pasien kritis dengan CT value tinggi dan bahkan pasien tanpa gejala CT value-nya rendah. Jadi jangan hiraukan CT value,” jelas Dr. Jaka, melalui siaran kanal YouTube Mayapada Hospital yang dikutip oleh suara.com (17/7/2021).
Dari berbagai fakta di atas, pesan yang beredar melalui WhatsApp itu dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Renanda Dwina Putri (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Pendidikan Indonesia)
Faktanya, tidak ada pengelompokan nilai CT (Cycle Threshold) pada tes PCR Covid-19 dan nilai tersebut tidak dapat dipakai untuk menentukan derajat keparahan gejala, kesembuhan, atau daya penularan pada pasien Covid-19.
Faktanya, tidak ada pengelompokan nilai CT (Cycle Threshold) pada tes PCR Covid-19 dan nilai tersebut tidak dapat dipakai untuk menentukan derajat keparahan gejala, kesembuhan, atau daya penularan pada pasien Covid-19.
Rujukan
(GFD-2021-7272) [SALAH] “Semangkin Gawat Indonesia sekarang ini! Banyaknya Rumah Sakit Penerima Vaksin Palsu!”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 19/07/2021
Berita
“Semangkin Gawat Indonesia sekarang ini! Banyaknya Rumah Sakit Penerima
Vaksin Palsu! Mau jadi apa NKRI ini”
Vaksin Palsu! Mau jadi apa NKRI ini”
Hasil Cek Fakta
Akun Facebook dengan nama pengguna Doni S Sos (https://www.facebook.com/doni.ssos.33) dalam forum Media Cetak dan Online Ampera News (https://www.facebook.com/groups/256007485656252) mengunggah sebuah potongan video dengan logo Kompas TV yang memberitakan tentang peredaran vaksin palsu di beberapa rumah sakit. Unggahan tersebut juga disertai dengan keterangan yang menyatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi baru-baru ini.
Pihak Kompas TV melalui situs resminya, kompas.tv, menegaskan bahwa video tersebut merupakan potongan berita Kompas TV yang meliput peredaran vaksin palsu untuk balita pada tahun 2016 lalu. Video lengkap sudah pernah diunggah ke kanal YouTube Kompas TV pada 15 Juli 2016 yang lalu.
Lebih lanjut, pihak Kompas TV juga menjelaskan bahwa logo yang tercantum pada potongan video merupakan logo lama. Kompas TV telah mengganti logonya sejak 19 Oktober 2017, bertepatan dengan Peluncuran Rumah Pilkada. Proses peluncuran logo baru Kompas TV dapat dilihat dalam video yang diunggah di kanal Kompas TV berjudul “ROSI Spesial Peluncuran Rumah Pilkada” pada cap waktu 2:25:05.
Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh akun Facebook dengan nama pengguna Doni S Sos (https://www.facebook.com/doni.ssos.33) dalam forum Media Cetak dan Online Ampera News (https://www.facebook.com/groups/256007485656252) tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Pihak Kompas TV melalui situs resminya, kompas.tv, menegaskan bahwa video tersebut merupakan potongan berita Kompas TV yang meliput peredaran vaksin palsu untuk balita pada tahun 2016 lalu. Video lengkap sudah pernah diunggah ke kanal YouTube Kompas TV pada 15 Juli 2016 yang lalu.
Lebih lanjut, pihak Kompas TV juga menjelaskan bahwa logo yang tercantum pada potongan video merupakan logo lama. Kompas TV telah mengganti logonya sejak 19 Oktober 2017, bertepatan dengan Peluncuran Rumah Pilkada. Proses peluncuran logo baru Kompas TV dapat dilihat dalam video yang diunggah di kanal Kompas TV berjudul “ROSI Spesial Peluncuran Rumah Pilkada” pada cap waktu 2:25:05.
Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh akun Facebook dengan nama pengguna Doni S Sos (https://www.facebook.com/doni.ssos.33) dalam forum Media Cetak dan Online Ampera News (https://www.facebook.com/groups/256007485656252) tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini (Universitas Diponegoro).
Bukan video yang meliput berita tentang vaksin Covid-19 palsu baru-baru ini, melainkan berita tentang peredaran vaksin palsu untuk balita pada tahun 2016 lalu.
Bukan video yang meliput berita tentang vaksin Covid-19 palsu baru-baru ini, melainkan berita tentang peredaran vaksin palsu untuk balita pada tahun 2016 lalu.
Rujukan
(GFD-2021-7273) [SALAH] Foto “Masjid Meledak Saat Waktu Sholat Jumat, Sebanyak 50 Jamaah Meninggal Dunia”
Sumber: ArtikelTanggal publish: 19/07/2021
Berita
Beredar artikel berjudul “Innalillahi, Masjid Meledak Saat Waktu Sholat Jumat, Sebanyak 50 Jamaah Meninggal Dunia, Semoga Husnol Khotimah Aminn” yang terbit di situs berita-uptdate[dot]xyz pada 14 Juli 2021.
Di artikel tersebut terdapat sebuah foto sebuah masjid terbakar. Berbeda dengan judulnya, di artikel ini terdapat narasi: “nnalillahi, AC Masjid Meledak Saat Waktu Sholat Subuh, Sebanyak 20 Jamaah Meninggal Dunia” dan “Sebuah masjid di kota Narayanganj, Bangladesh, meledak di waktu sholat berjamaah pada Jumat 4 September, malam hari. Peristiwa diduga terjadi akibat ledakan AC masjid. Sedikitnya 20 orang meninggal dunia, termasuk muazin, imam masjid, serta bocah berusia tujuh tahun. Sedangkan para korban luka-luka dirawat di Sheikh Hasina National Institute of Burn and Plastic Surgery di Ibu Kota Dhaka.”
Di artikel tersebut terdapat sebuah foto sebuah masjid terbakar. Berbeda dengan judulnya, di artikel ini terdapat narasi: “nnalillahi, AC Masjid Meledak Saat Waktu Sholat Subuh, Sebanyak 20 Jamaah Meninggal Dunia” dan “Sebuah masjid di kota Narayanganj, Bangladesh, meledak di waktu sholat berjamaah pada Jumat 4 September, malam hari. Peristiwa diduga terjadi akibat ledakan AC masjid. Sedikitnya 20 orang meninggal dunia, termasuk muazin, imam masjid, serta bocah berusia tujuh tahun. Sedangkan para korban luka-luka dirawat di Sheikh Hasina National Institute of Burn and Plastic Surgery di Ibu Kota Dhaka.”
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran Tim CekFakta Tempo, klaim foto dengan klaim kebakaran masjid di Bangladesh yang menewaskan 50 orang merupakan koneksi yang salah.
Faktanya, bukan meledak saat salat Jumat. Selain itu, masjid yang terbakar pada foto tersebut adalah Masjid Taqarrub di Gampong Alue Bungkoh, Aceh Utara, Sabtu, 28 Desember 2019. Sementara kebakaran masjid di Narayanganj, Bangladesh terjadi pada awal September 2020. Masjid tersebut terbakar saat jamaah sedang menjalankan salat Isya, bukan salat Jumat.
Dilansir dari Tempo, menurut situs berita lokal mediaaceh.co, sebanyak 10 unit ruko di Keude Alue Bungkoh, Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara, Sabtu, 28 Desember 2019 pagi ludes terbakar. Selain itu, kubah utama Masjid Taqarrub yang berada di dekat deretan ruko tersebut juga ikut terbakar.
Kapolres Aceh Utara Ajun Komisaris Besar Ian Rizkian Milyardin, melalui Kapospol Pirak Timu Inspektur Dua Bambang S menyebutkan, kebakaran terjadi diduga akibat korsleting listrik dari salah satu ruko yang berkonstruksi papan.
“Korban luka hanya satu orang dari 35 korban (kebakaran kedai/warung) lainnya, yaitu Murida, istri Riza Abdullah. Tangan dan dahinya luka terbakar saat menyelamatkan diri,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Aceh Utara, Amir Hamzah.
Sementara itu, Dhakatribune.com melaporkan, sedikitnya 50 orang mengalami luka bakar akibat ledakan AC saat salat di sebuah masjid di Narayanganj, September 2020. Ledakan itu terjadi sekitar jam 9 malam pada hari Jumat di sebuah masjid di lingkungan Fatullah Sadar upazila. Menurut polisi setempat, ledakan terjadi saat salat Isya akan berakhir.
Beberapa korban telah dibawa ke Institut Nasional Pembakaran dan Bedah Plastik Sheikh Hasina di Dhaka. Koordinator institut, Dr Samanta Lal Sen mengatakan kepada Dhaka Tribune bahwa 38 korban telah dirawat.
Dilansir dari Kantor Berita Turki, Anadolu Agency, sedikitnya 20 orang tewas dan 17 lainnya berada dalam kondisi kritis setelah dugaan ledakan AC saat salat Jumat malam di sebuah masjid dekat ibukota Bangladesh.
Faktanya, bukan meledak saat salat Jumat. Selain itu, masjid yang terbakar pada foto tersebut adalah Masjid Taqarrub di Gampong Alue Bungkoh, Aceh Utara, Sabtu, 28 Desember 2019. Sementara kebakaran masjid di Narayanganj, Bangladesh terjadi pada awal September 2020. Masjid tersebut terbakar saat jamaah sedang menjalankan salat Isya, bukan salat Jumat.
Dilansir dari Tempo, menurut situs berita lokal mediaaceh.co, sebanyak 10 unit ruko di Keude Alue Bungkoh, Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara, Sabtu, 28 Desember 2019 pagi ludes terbakar. Selain itu, kubah utama Masjid Taqarrub yang berada di dekat deretan ruko tersebut juga ikut terbakar.
Kapolres Aceh Utara Ajun Komisaris Besar Ian Rizkian Milyardin, melalui Kapospol Pirak Timu Inspektur Dua Bambang S menyebutkan, kebakaran terjadi diduga akibat korsleting listrik dari salah satu ruko yang berkonstruksi papan.
“Korban luka hanya satu orang dari 35 korban (kebakaran kedai/warung) lainnya, yaitu Murida, istri Riza Abdullah. Tangan dan dahinya luka terbakar saat menyelamatkan diri,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Aceh Utara, Amir Hamzah.
Sementara itu, Dhakatribune.com melaporkan, sedikitnya 50 orang mengalami luka bakar akibat ledakan AC saat salat di sebuah masjid di Narayanganj, September 2020. Ledakan itu terjadi sekitar jam 9 malam pada hari Jumat di sebuah masjid di lingkungan Fatullah Sadar upazila. Menurut polisi setempat, ledakan terjadi saat salat Isya akan berakhir.
Beberapa korban telah dibawa ke Institut Nasional Pembakaran dan Bedah Plastik Sheikh Hasina di Dhaka. Koordinator institut, Dr Samanta Lal Sen mengatakan kepada Dhaka Tribune bahwa 38 korban telah dirawat.
Dilansir dari Kantor Berita Turki, Anadolu Agency, sedikitnya 20 orang tewas dan 17 lainnya berada dalam kondisi kritis setelah dugaan ledakan AC saat salat Jumat malam di sebuah masjid dekat ibukota Bangladesh.
Kesimpulan
BUKAN meledak saat salat Jumat. Selain itu, masjid yang terbakar pada foto tersebut adalah Masjid Taqarrub di Gampong Alue Bungkoh, Aceh Utara, Sabtu, 28 Desember 2019. Sementara kebakaran masjid di Narayanganj, Bangladesh terjadi pada awal September 2020. Masjid tersebut terbakar saat jamaah sedang menjalankan salat Isya, bukan salat Jumat.
Rujukan
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1446/keliru-klaim-ini-foto-kebakaran-masjid-di-bangladesh-yang-menewaskan-50-orang
- https://mediaaceh.co/2019/12/29/10-ruko-dan-kubah-masjid-terbakar-di-aceh-utara/
- https://www.suara.com/news/2019/12/28/164836/masjid-taqarrub-aceh-hangus-terbakar-satu-perempuan-terlalap-api
- https://www.dhakatribune.com/bangladesh/nation/2020/09/04/50-injured-in-narayanganj-mosque-explosion
- https://www.aa.com.tr/en/asia-pacific/bangladesh-20-die-17-injured-in-mosque-blasts/1963695
(GFD-2021-8703) Keliru, Nakes Dijadikan Kelinci Percobaan Vaksinasi Ketiga
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 19/07/2021
Berita
Narasi panjang yang berisi klaim bahwa tenaga kesehatan (nakes) dijadikan kelinci percobaan pemberian vaksin Moderna sebagai vaksin ketiga beredar di Facebook pada 14 Juli 2021. Unggahan yang beredar di tengah rencana pemberian vaksinasi ketiga bagi para Nakes itu ditambahi sejumlah tangkapan layar sejumlah media dengan judul yang memuat beberapa pernyataan mantan Menteri Kesehatan.
Narasi dalam unggahan itu awalnya menyebutkan jumlah orang yang tumbang usai vaksinasi, kemudian menyinggung rencana vaksin dosis ketiga menggunakan Moderna untuk para nakes. Akun ini menuliskan opininya bahwa vaksin bukan gado-gado yang tidak sembarangan bisa dicampur, sesuai peringatan dari Badan Kesehatan Dunia, WHO.
“Ini vaksin apa gado-gado? WHO sendiri telah memperingatkan bahayanya vaksin campur-campur. Tapi masih tetap mau dilakukan? Apakah nakes akan dijadikan kelinci percobaan? Ketika nanti ada nakes bertumbangan lagi, tinggal salahkan coped. Salahkan komorbid. Salahkan masyarakat,” seperti dikutip dalam narasi yang beredar tersebut.
“Kalau nakes-nakes pada bertumbangan lagi, tidak mudah menggantikannya. Mencetak satu nakes itu membutuhkan waktu dan biaya yang besar. Kok lama-lama jadi seram ya dengan program vaksinasi ini. Apa sih tujuannya? Jangan sampai nakes-nakes Indonesia bertumbangan, lalu masuk nakes-nakes dari negara lain.”
Benarkah vaksinasi ketiga untuk para Nakes merupakan program uji coba pemerintah?
Hasil Cek Fakta
Hasil verifikasi Tim Cek Fakta Tempo menunjukkan bahwa pemberian vaksin Moderna bukan untuk menjadikan para tenaga kesehatan sebagai kelinci percobaan. Pemberian dosis ketiga tersebut untuk menambah kekebalan di tengah menyebarnya virus varian Delta yang lebih menular dibandingkan varian sebelumnya. Meski WHO belum memberikan rekomendasi, tapi beberapa ahli menyatakan pemberian vaksin Covid-19 berbeda jenis aman dilakukan.
Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, menyatakan pemberian vaksin berbeda jenis telah dilakukan sejumlah negara seperti Uni Emirat Arab dan Thailand. Termasuk Spanyol dan Jerman yang menggunakan vaksin Astra Zeneca dan Pfizer.
WHO, kata Dicky, memang belum memberikan rekomendasi atas pemberian dosis vaksin campuran. Sebab, ada mekanisme panjang yang harus ditempuh sebelumnya.
Studi untuk melihat efektivitas tersebut juga masih berjalan di beberapa negara, seperti di Turki dan Filipina. Namun, jika melihat pengalaman beberapa negara, penggunaan dosis vaksin berbeda jenis dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
“Secara teoritis dan fakta ilmiah sejauh ini tidak ada keraguan tentang efektifitasnya. Tapi tentu harus dilakukan studi kohort (observasional),” kata Dicky kepada Tempo, Senin 19 Juli 2021. Salah satu hasil penelitian adanya peningkatan sistem kekebalan tubuh dengan pemberian dosis vaksin berbeda jenis terjadi di Inggris, menurut artikel yang dipublikasikan oleh BBC pada 28 Juni 2021.
Uji coba itu dilakukan oleh Com-Cov dengan memberikan dua dosis Pfizer lalu diikuti satu dosis AstraZeneca dan dua dosis AstraZeneca (AZ) lalu diikuti Pfizer sebagai vaksin ketiga. Studi Com-Cov tersebut mengamati pemberian dosis masing-masing selama empat minggu pada 850 sukarelawan berusia 50 tahun ke atas.
Hasilnya, dua dosis AZ diikuti oleh Pfizer menginduksi antibodi dan respons sel T yang lebih tinggi daripada Pfizer diikuti oleh AZ. Selain itu, kedua campuran ini menginduksi antibodi yang lebih tinggi daripada hanya pemberian dua dosis AZ.
Wakil kepala petugas medis Inggris, Prof Jonathan Van-Tam, mengatakan pemerintah belum berencana mengubah dosis vaksin yang saat ini telah berjalan sukses, namun temuan tersebut berguna di masa depan. "Mencampur dosis dapat memberi kami fleksibilitas yang lebih besar untuk program booster, juga mendukung negara-negara yang harus melanjutkan peluncuran vaksin mereka, dan yang mungkin mengalami kesulitan pasokan."
Sebelumnya pada bulan Mei, para peneliti di Institut Kesehatan Carlos III di Madrid yang ditulis Nature. com mengumumkan hasil dari uji coba CombiVacS. Studi ini menemukan respons imun yang kuat pada orang yang diberi vaksin Pfizer setelah 8-12 minggu menerima dosis vaksin Oxford-AstraZeneca.
Tidak ada perbandingan langsung dengan orang yang menerima dua dosis vaksin yang sama, tetapi penulis menemukan bahwa dalam tes laboratorium, mereka yang menerima kombinasi menghasilkan 37 kali lebih banyak antibodi penetral SARS-CoV-2 dan 4 kali lebih banyak SARS. Sel kekebalan spesifik SARS-CoV-2, yang disebut sel T, dibandingkan orang yang hanya mendapat satu dosis suntikan Oxford-AstraZeneca.
Selain itu di Indonesia, pemakaian Moderna telah mendapatkan izin penggunaan darurat (emergency use of authorization/UEA) dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan. Moderna merupakan vaksin pertama dengan platform mRNA yang diberikan izin penggunaan daruratnya oleh BPOM. Vaksin ini akan masuk ke Indonesia melalui COVAX.
Seperti yang ditulis Tempo, hasil uji klinik fase III, Penny menuturkan efikasi vaksin Moderna menunjukkan 94,1 persen pada kelompok usia 18-65 tahun, dan 86,4 persen pada usia di atas 65 tahun.
Meski begitu, studi mengenai pemberian jenis vaksin berbeda belum sempurna dan harus diikuti dengan penelitian yang melibatkan kelompok lebih besar, untuk melihat siapa yang terinfeksi dan sakit selama berbulan-bulan. Selain itu, pengukuran antibodi dan sel T yang diandalkan masih berlangsung untuk menentukan secara akurat korelasi tersebut.
Mengapa banyak nakes terinfeksi dan meninggal meski telah menerima dosis lengkap?
Sejumlah nakes di Indonesia dilaporkan terinfeksi dan meninggal meski telah menerima dua dosis vaksin Sinovac. Dikutip dari BBC, kemanjuran vaksin yang berkurang atau tidak efektif menghadapi varian baru bisa saja menjadi alasan. Tetapi, hal itu bukan satu-satunya faktor untuk menjelaskan mengapa hal ini terjadi.
Di Indonesia, penyakit penyerta dinilai bisa berperan dalam kematian petugas kesehatan. Apalagi tingkat vaksinasi Indonesia yang sangat rendah, yakni baru 5 persen dari populasinya yang telah menerima dosis kedua.
Prof Ben Cowling, kepala epidemiologi dan biostatika di University of Hong Kong, mengatakan, meskipun memiliki efikasi lebih rendah, vaksin Sinovac dan Sinopharm memberikan tingkat perlindungan yang sangat tinggi terhadap penyakit parah.Namun, berdasarkan hasil penelitian yang mencoba memodelkan perlindungan kekebalan dari virus, perlindungan yang ditawarkan oleh Sinovac terhadap varian baru menjadi lebih rendah. Terhadap varian Delta, menjadi 20 persen lebih rendah dibandingkan dengan jenis aslinya.
Perhitungannya menunjukkan pengurangan yang lebih besar terhadap varian Beta yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan. Varian Beta sendiri merupakan salah satu mutasi virus yang paling berbeda dari virus aslinya.Selain itu, Profesor Jin Dong-yan, seorang ahli virologi dari Universitas Hong Kong juga mengatakan kepada BBC bahwa bahwa kemanjuran vaksin Cina akan turun terhadap varian baru, termasuk Delta.
Kesimpulan
Dari pemeriksaan fakta di atas, narasi dengan klaim tenaga kesehatan (nakes) dijadikan kelinci percobaan dengan pemberian vaksin Moderna sebagai vaksin ketiga adalah keliru. Penyuntikan dosis ketiga dengan vaksin Moderna bertujuan untuk memberikan tambahan kekebalan tubuh bagi para nakes di tengah penularan varian baru, terutama varian Delta. Terinfeksi dan meninggalnya para nakes meski telah menerima vaksin lengkap diperkirakan karena beberapa faktor yakni komorbid, tingkat vaksinasi yang masih rendah, dan menurunnya efektivitas vaksin Sinovac menghadapi varian jenis baru, terutama varian Delta. Tim Cek Fakta Tempo
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-moderna
- https://www.tempo.co/tag/who
- https://www.tempo.co/tag/varian-delta
- https://www.tempo.co/tag/astrazeneca
- https://www.bbc.com/news/health-57636356
- https://www.tempo.co/tag/pfizer
- https://www.nature.com/articles/d41586-021-01805-2
- https://www.nature.com/articles/d41586-021-01805-2
- https://nasional.tempo.co/read/1478845/bpom-terbitkan-izin-penggunaan-darurat-vaksin-moderna/full&view=ok
- https://www.sciencemag.org/news/2021/06/mixing-covid-19-vaccines-appears-boost-immune-responses %20
- https://www.bbc.com/news/world-asia-china-57817591
Halaman: 6534/7963


