(GFD-2021-8738) Keliru, Vaksin Asal Cina sebagai Senjata Pemusnah Massal
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 25/08/2021
Berita
Video berjudul Ulama Bongkar Vaksin Senjata Pemusnah Massal diunggah oleh salah satu kanal Youtube pada 18 Agustus 2021. Video berdurasi 8:10 menit ini berisi klaim bahwa vaksin asal Cina digunakan untuk membantai orang Indonesia.
Secara utuh, unggahan tersebut berisi gabungan dari beberapa video, di antaranya video pernyataan seorang pria diduga ulama, video pelaksanaan vaksinasi dan video kedatangan tenaga kerja dari Cina.
Pada bagian awal, pria yang disebutkan sebagai anak Kiai Haji Maimoen Zubair menyebutkan bahwa Cina ingin menguasai Indonesia.
“Cina memang ingin menguasai Indonesia, menggantikan orang pribumi dengan mereka. Tidak dengan perang, tapi dengan vaksin,” katanya.
Unggahan ini beredar di tengah upaya pemerintah meningkatkan program vaksinasi Covid-19. Hingga 24 Agustus 2021, video itu ditonton lebih dari 422 ribu kali.
Tangkapan layar video dengan klaim vaksin asal cina merupakan senjata pemusnah massal
Hasil Cek Fakta
Hasil verifikasi Tempo menunjukkan, vaksin Sinovac asal Cina yang digunakan oleh Indonesia bukanlah senjata pemusnah massal. Badan Kesehatan Dunia telah merekomendasikan penggunaan vaksin Covid-19 karena terbukti aman dan efektif untuk mencegah keparahan sakit atau meninggal akibat Covid-19.
Menurut Badan Kesehatan Dunia ( WHO ), vaksin telah menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun. Vaksin bekerja dengan melatih dan mempersiapkan sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan virus dan bakteri yang menjadi targetnya. Setelah vaksinasi, jika tubuh kemudian terkena kuman penyebab penyakit tersebut, tubuh segera siap untuk menghancurkannya, mencegah penyakit.
Seperti vaksin lainnya, vaksin Covid-19 yang direkomendasikan penggunaannya oleh WHO, terbukti aman dan efektif untuk mencegah keparahan sakit atau meninggal akibat COVID-19. Ini adalah salah satu bagian dari penanganan COVID-19, selain tindakan pencegahan utama dengan menjaga jarak minimal 1 meter dari orang lain, menutupi batuk atau bersin di siku, sering membersihkan tangan, memakai masker, dan menghindari ruangan atau ruangan yang berventilasi buruk.
Setiap vaksin diproses dengan cukup ketat. Sebelum menerima validasi dari WHO dan badan pengatur nasional, vaksin COVID-19 harus menjalani pengujian ketat dalam uji klinis untuk membuktikan bahwa vaksin tersebut memenuhi tolok ukur keamanan dan kemanjuran yang disepakati secara internasional.
Keamanan Vaksin Sinovac
Sejumlah negara seperti Brasil dan Indonesia, menggunakan vaksin Sinovac asal Cina yang dikembangkan oleh Sinovac atau China National Pharmaceutical Group. Kelompok Ahli Penasihat Strategis Badan Kesehatan Dunia (SAGE) untuk Imunisasi pada 2 Juni 2021, menyatakan, merekomendasikan penggunaan vaksin Sinovac. Rekomendasi itu berdasarkan penilaian data kualitas, keamanan dan kemanjuran vaksin secara menyeluruh.
Hasil aman vaksin digunakan untuk orang berusia 18 tahun ke atas hingga usia 60 tahun. Sedangkan data keamanan vaksin untuk orang yang berusia di atas 60 tahun, masih terbatas karena sedikitnya jumlah peserta dalam uji klinis.
Di Brasil, sesuai hasil uji coba fase 3 menunjukkan bahwa dua dosis, yang diberikan dengan selang waktu 14 hari, memiliki kemanjuran 51% terhadap infeksi SARS-CoV-2 yang bergejala. Vaksin Sinovac juga memiliki kemanjuran 100% terhadap COVID-19 yang parah, dan 100% terhadap rawat inap mulai 14 hari setelah menerima dosis kedua.
Kementerian Kesehatan juga telah mengkaji cepat efektivitas vaksinasi Sinovac terhadap infeksi Covid-19. Kajian cepat dilakukan pada periode 13 Januari-18 Maret 2021 melibatkan lebih dari 128 ribu tenaga kesehatan di DKI Jakarta, dengan usia di atas 18 tahun.
Hasil kajian cepat menunjukkan, vaksin Sinovac dosis lengkap bisa mengurangi risiko COVID-19 sebanyak 94% dan mencegah sekitar 96% risiko perawatan. Selain itu, juga mencegah sebesar 98% kematian karena COVID-19.
Kesimpulan
Dari pemeriksaan fakta di atas, video dengan klaim bahwa vaksin Sinovac asal Cina menjadi senjata pemusnah massal adalah keliru. Badan Kesehatan Dunia telah merekomendasikan penggunaan vaksin Covid-19 karena terbukti aman dan efektif untuk mencegah keparahan sakit atau meninggal akibat Covid-19. Hasil kajian cepat Kemenkes terhadap 128 ribu tenaga kesehatan di DKI Jakarta, menunjukkan vaksin Sinovac dosis lengkap bisa mengurangi risiko COVID-19 sebanyak 94% dan mencegah sekitar 96% risiko perawatan. Selain itu, juga mencegah sebesar 98% kematian karena COVID-19.
Tim Cek Fakta Tempo
Rujukan
- https://www.youtube.com/watch?v=pSxY_vAIJvU
- https://www.tempo.co/tag/cina
- https://www.who.int/news-room/q-a-detail/coronavirus-disease-(covid-19)-vaccines-safety
- https://www.tempo.co/tag/who
- https://www.tempo.co/tag/covid-19
- https://www.who.int/news-room/feature-stories/detail/the-sinovac-covid-19-vaccine-what-you-need-to-know
- https://www.tempo.co/tag/sinovac
- https://www.kemkes.go.id/article/view/21051300001/kajian-cepat-kemenkes-vaksin-sinovac-efektif-cegah-kematian.html
(GFD-2021-8739) Keliru, Sebuah Gedung 47 Lantai di Spanyol Lupa Dipasangi Elevator
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 25/08/2021
Berita
Foto yang memperlihatkan gedung pencakar langit di Spanyol beredar di media sosial. Foto tersebut dibagikan dengan narasi bahwa gedung 47 lantai di Spanyol itu diabngun tanpa elevator. Klaim ini beredar seiring rampungnya pembangunan gedung tersebut pada Agustus 2021.
Di Instagram foto tersebut dibagikan akun ini pada 20 Agustus 2021. Berikut narasi lengkapnya:
“Bisa membayangkan jika sebuah bangunan yang memiliki lebih dari 20 lantai tidak mempunyai lift? Tentu teman akan kesulitan untuk melakukan aktifitas dan perlu tenaga ekstra dalam naik turun bangunan tersebut.
Aneh tapi nyata hal tersebut terjadi di Spanyol, sebuah perusahaan yang bergerak di bidak konstruksi bangunan di Negeri Matador tersebut, lupa menyediakan ruang untuk lift pada bangunan yang sedang dibuatnya. Dan lucunya hal tersebut baru disadari setelah gedung pencakar langit itu hampir selesai dibuat.Kekeliruan yang sangat fatal tersebut terjadi dalam proyek pembangunan apartemen megah bernama InTempo di kota tepi Pantai Benidorm, Spanyol, awal Agustus 2013. Apartemen setinggi 200 meter dengan memiliki lantai sebanyak 47 ini jika rampung merupakan apartemen tertinggi di Eropa. Pembangunan dari InTempo sendiri adalah simbol harapan untuk kebangkitan perekonomian Spanyol yang kala itu terepuruk karena krisis moneter. Beberapa bulan menjelang proyek pembangunan InTempo selesai, kontraktor menyadari ada yang kurang. Mereka lupa membangun jalur untuk elevator, alias lift untuk para penghuni. Mereka kebingungan karena sudah tidak ada ruangan yang cukup untuk membangun akses lift beserta mesin-mesinnya yang besar di gedung ini. Hal tersebut dimungkinkan karena awalnya InTempo hanya didesain sebagai bangunan 20 lantai saja. Tapi pihak pengembang yang ambisius meminta jumlah lantai ditambah hingga dua kali lipat dari rencana awal. Tapi karena resesi yang melanda Eropa pada 2008 membuat proyek konstruksi tersebut kacau. Arsitek yang membangun InTempo mengundurkan diri, sedangkan para pekerja kontruksi pada tahun 2010 tidak mendapatkan bayaran selama empat bulan. Dan lebih parahnya lagi saat pembangunan, para pekerja menaiki lantai tanpa menggunakan lift.”
Apa benar sebuah Gedung 47 Lantai di Spanyol Lupa Memasang Elevator?
Tangkapan layar unggahan yang diklaim sebagai Gedung 47 lantai tanpa elevator di Spanyol
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim Cek Fakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital foto tersebut dengan menggunakan tool reverse image Source, Google dan Yandex. Selanjutnya penelusuran dilanjutkan melalui pemberitaan sejumlah media kredibel.
Hasilnya, gedung tersebut merupakan Apartemen Intempo di Kota Benidorm, Spanyol. Informasi terkait tidak tersedianya lift atau elevator bermula dari pemberitaan media setempat, El Pais pada Juli 2013 dengan judul, “InTempo, una incompetencia de altura.”
Menurut El Pais, sampai 23 lantai pertama dibangun, gedung tersebut tidak menempatkan forklift untuk 41 pekerja yang naik turun tangga. Pada April 2011, dengan beton dipasang hingga lantai 46, rencana untuk lantai 47 belum siap.
Pada Juli, forklift jatuh dengan 13 pekerja di dalamnya. Namun, ambulans tidak dapat mengakses tempat itu karena tak ada pintu masuk kendaraan untuk menghemat biaya. Padahal pekerja yang menjadi korban dalam kondisi terluka parah.
Dilansir dari Der Spiegel, tak lama setelah pembangunan gedung dimulai, krisis melanda negara itu. Proyek ini pun ikut menjadi sedikit kacau karena arsitek lupa menyesuaikan gedung dengan poros lift yang memadai.
Gedung In Tempo semula direncanakan hanya memiliki 20 lantai. Karena ingin mendapat lebih banyak penyewa dan pembeli, klien meminta agar gedung ditambah ketinggiannya. Jadi arsitek menambahkan 27 lantai mendadak tanpa mengadaptasi poros elevator dan mesin pengangkat yang sesuai.
Pengawasan itu seharusnya tidak terlihat sampai Januari 2012 ketika bangunan itu sudah setinggi 110 meter. Mekanisme pengangkatan yang awalnya dipasang untuk bangunan tersebut telah dirancang untuk melayani 20 lantai saja.
Ketika keputusan dibuat untuk menambah lantai tambahan, arsitek hanya memperpanjang poros yang ada tetapi gagal mempertimbangkan fakta bahwa lebih banyak lantai juga berarti lebih banyak penggunaan atau ruang tidak akan cukup untuk jumlah peralatan pengangkat tambahan yang diperlukan.
Dilansir dari dezeen.com, Rafael Ballesta, manajer penjualan untuk menara perumahan Edificio Intempo mengatakan, berbagai pemberitaan media yang ada terkait apartemennya, 'konyol'. "Kami sedang membangun gedung pencakar langit perumahan tertinggi di Eropa jadi bagaimana mungkin membangun tanpa lift?" katanya.
Dezeen adalah salah satu dari beberapa publikasi yang menampilkan cerita tersebut, yang awalnya dilaporkan oleh surat kabar Spanyol El Pais.
"Wartawan dari El Pais mengeluarkan beberapa berita palsu dan semua orang hanya menyalin dan menempelkannya," kata Ballesta kepada Dezeen. "Orang-orang tidak boleh percaya berita palsu ini".
Sebuah akun Twitter yang didedikasikan untuk gedung Edificio Intempo, ikut menanggapi beberapa publikasi yang melaporkan berita tersebut dengan mencuit pernyataan bahwa pemberitaan itu salah dan liftnya berfungsi.
Cuitan lain menautkan ke dokumen yang diterbitkan oleh insinyur Florentino Regalado & Asociados yang menunjukkan pemandangan bagian bangunan, termasuk poros elevator.
Crossbow mengatakan menara memiliki enam lift "generasi terbaru", dengan masing-masing menara terdapat tiga lift.
Seorang jurnalis Spanyol yang telah mengunjungi gedung tersebut memposting di situs webnya bahwa dia telah naik lantai 45 gedung tersebut menggunakan lift dan menyertakan foto yang menunjukkan panel operasi lift yang belum selesai.
Situs web proyek juga menampilkan foto pintu lift di dalam gedung.
Dikutip dari The Guardian, setelah 17 tahun mengalami kemunduran, diharapkan pencakar langit Intempo akan membantu mengubah resor menjadi Miami di Mediterania.
Bagaimanapun, setelah 17 tahun mengalami kemunduran, gedung pencakar langit raksasa Intempo akhirnya selesai. Gedung apartemen itu pun menjadi gedung tertinggi di Uni Eropa dengan tinggi 187 meter. Menara kembarnya juga diklaim memiliki lift tercepat di Spanyol, dengan kecepatan 4,2 meter per detik dan dapat mencapai lantai puncak dalam 52 detik.
Pusat pariwisata massal Spanyol juga ikut merayakan selesainya Intempo. Meski sempat terhambat krisis, apartemen dua menara yang memiliki 256 unit itu segera menerima sertifikat penyelesaiannya, dan EL PAÍS adalah organisasi berita pertama yang diundang untuk mengunjungi gedung itu sekarang setelah pekerjaan selesai.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa sebuah Gedung 47 Lantai di Spanyol dipasangi elevator atau lift, keliru. Gedung pencakar langit Intempo bukan tidak memiliki elevator atau lift, melainkan lift awalnya disediakan hanya untuk 20 lantai sebagaimana rencana awal arsitektur gedung ini. Ketika arsitek menambahkan 27 lantai, mereka tidak mengadaptasi poros elevator dan mesin pengangkat yang sesuai sehingga lift yang terpasang sempat runtuh. Saat ini pembangunan gedung Intempo telah rampung dengan fasilitas elevator atau lift yang diklaim sebagai yang tercepat di Spanyol.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Rujukan
- https://www.instagram.com/p/CSy6Qr-l1nz/?utm_source=ig_embed&ig_rid=0ae81e72-b293-44e3-b123-37351cafc573
- https://elpais.com/economia/2013/07/20/actualidad/1374340685_911593.html
- https://www.spiegel.de/international/europe/architect-forgets-elevator-for-47-floor-skyscraper-in-spain-a-916082.html
- https://www.dezeen.com/2013/08/20/elevators-skyscraper-with-no-elevators-not-true/
- https://devacacionesypuentes.com/2013/04/30/in-tempo-tocar-el-cielo-en-benidorm/
- https://www.theguardian.com/world/2021/jul/20/tallest-apartment-building-in-eu-finally-completed-in-benidorm
- https://english.elpais.com/economy-and-business/2021-07-16/benidorm-gets-a-little-closer-to-the-sky.html
(GFD-2021-7465) [SALAH] Bendera Merah Putih Dilarang Berkibar di PIK
Sumber: Facebook.comTanggal publish: 25/08/2021
Berita
sebuah video di media sosial Facebook berisi informasi yang menyatakan bahwa bendera merah putih dilarang berkibar di daerah Pantai Indah Kapuk (PIK)
Hasil Cek Fakta
Beredar sebuah video di media sosial Facebook berisi informasi yang menyatakan bahwa bendera merah putih dilarang berkibar di daerah Pantai Indah Kapuk (PIK). Rekaman dari kamera salah seorang warga ini menampilkan sekumpulan warga yang bentrok dengan aparat kepolisian.
Namun narasi postingan yang menyatakan bahwa bendera merah putih dilarang berkibar di daerah PIK adalah informasi keliru. Faktanya keadaan sebenarnya dari video tersebut adalah, pihak kepolisian yang melarang aksi pengibaran bendera merah putih untuk menghindari kerumunan di masa PPKM. Apalagi aksi tersebut dilakukan oleh sebuah organisasi masyarakat (ormas), hal ini dipandang berpotensi menghasilkan kerumunan di daerah tersebut.
“Saya mau luruskan narasi yang beredar. Kami tegaskan yang dilarang itu adalah berkerumun. Kita tidak ingin terjadi kluster baru. Bukan kita melarang mereka mengibarkan bendera. Itu salah itu. Kalau mereka kibarkan bendera di situ kan pasti menimbulkan kerumunan. Ini yang kita hindari, ” tegas Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Guruh Arif Darmawan.
Hal ini pun telah dikonfirmasi oleh pihak Organisasi Laskar Merah Putih (LMP) yang menginisiasi aksi pengibaran bendera ini. Panglima LMP, Daeng Jamal menyatakan bahwa pembentangan bendera itu didukung oleh masyarakat di wilayah PIK. Akan tetapi, karena tekanan dari pihak manajemen dan terbentur aturan, akhirnya pembentangan bendera urung terjadi.
Namun, pihak LMP pun akhirnya menerima dengan ikhlas larangan pembentangan bendera tersebut. “Kami terima dengan lapang dada karena kami tidak mau ada gesekan dengan siapa pun karena kami cinta NKRI,” ucapnya.
Jadi dapat disimpulkan unggahan yang menyatakan bahwa pihak kepolisian melarang pengibaran bendera merah putih di daerah PIK adalah hoaks kategori misleading content atau konten menyesatkan.
Namun narasi postingan yang menyatakan bahwa bendera merah putih dilarang berkibar di daerah PIK adalah informasi keliru. Faktanya keadaan sebenarnya dari video tersebut adalah, pihak kepolisian yang melarang aksi pengibaran bendera merah putih untuk menghindari kerumunan di masa PPKM. Apalagi aksi tersebut dilakukan oleh sebuah organisasi masyarakat (ormas), hal ini dipandang berpotensi menghasilkan kerumunan di daerah tersebut.
“Saya mau luruskan narasi yang beredar. Kami tegaskan yang dilarang itu adalah berkerumun. Kita tidak ingin terjadi kluster baru. Bukan kita melarang mereka mengibarkan bendera. Itu salah itu. Kalau mereka kibarkan bendera di situ kan pasti menimbulkan kerumunan. Ini yang kita hindari, ” tegas Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Guruh Arif Darmawan.
Hal ini pun telah dikonfirmasi oleh pihak Organisasi Laskar Merah Putih (LMP) yang menginisiasi aksi pengibaran bendera ini. Panglima LMP, Daeng Jamal menyatakan bahwa pembentangan bendera itu didukung oleh masyarakat di wilayah PIK. Akan tetapi, karena tekanan dari pihak manajemen dan terbentur aturan, akhirnya pembentangan bendera urung terjadi.
Namun, pihak LMP pun akhirnya menerima dengan ikhlas larangan pembentangan bendera tersebut. “Kami terima dengan lapang dada karena kami tidak mau ada gesekan dengan siapa pun karena kami cinta NKRI,” ucapnya.
Jadi dapat disimpulkan unggahan yang menyatakan bahwa pihak kepolisian melarang pengibaran bendera merah putih di daerah PIK adalah hoaks kategori misleading content atau konten menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara)
Faktanya pelarangan itu dilakukan karena adanya aturan PPKM yang mencegah kerumunan untuk menekan angka penularan Covid-19.
Faktanya pelarangan itu dilakukan karena adanya aturan PPKM yang mencegah kerumunan untuk menekan angka penularan Covid-19.
Rujukan
(GFD-2021-7466) [SALAH] “MULAI TANGGAL 22 AGUSTUS 2021 SEMUA SPBU TIDAK MELAYANI PENGISIAN PERTALITE UNTUK 2 TAK”
Sumber: Facebook.comTanggal publish: 25/08/2021
Berita
Akun Facebook Imoenx Mul Yadi (fb.com/imoenx.mulyadi) pada 21 Agustus 2021 mengunggah sebuah gambar yang memperlihatkan pengumuman yang tertulis di selembar kertas putih, lengkap dengan nomor, cap, contact center, dan logo dari Pertamina dengan narasi sebagai berikut:
“Ok Lah kalo gitu,, kalian tegas.. Kami berontak…!! Karena 2tak kami gak bisa muvon di lintasan. Cam kan itu”
Adapun isi pengumuman yang dimaksud adalah sebagai berikut:
“Jakarta, 22 Agustus 2021 No. 1119/Q23030/2021-S3
Perihal: Edaran
Yang terhormat, Seluruh Pengecer PENGUMUMAN, MULAI TANGGAL 22 AGUSTUS 2021, SEMUA SPBU TIDAK MELAYANI PENGISIAN PERTALITE UNTUK 2 TAK
Regional Jawa Bagian Barat Jalan Kramat Raya No. 59 Jakarta 10450 Indonesia”.
“Ok Lah kalo gitu,, kalian tegas.. Kami berontak…!! Karena 2tak kami gak bisa muvon di lintasan. Cam kan itu”
Adapun isi pengumuman yang dimaksud adalah sebagai berikut:
“Jakarta, 22 Agustus 2021 No. 1119/Q23030/2021-S3
Perihal: Edaran
Yang terhormat, Seluruh Pengecer PENGUMUMAN, MULAI TANGGAL 22 AGUSTUS 2021, SEMUA SPBU TIDAK MELAYANI PENGISIAN PERTALITE UNTUK 2 TAK
Regional Jawa Bagian Barat Jalan Kramat Raya No. 59 Jakarta 10450 Indonesia”.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya pengumuman bahwa Pertamia mulai tanggal 22 Agustus 2021 di semua SPBU tidak melayani pengisian Pertalite untuk kendaraan 2 tak merupakan konten palsu.
Faktanya, Unit Manager Communication Relations dan CSR MOR III PT Pertamina (Persero), Eko Kristiawan menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar atau hoaks.
Dilansir dari Liputan6 dan Kompas, Eko menyatakan kendati memuat logo dan contact center yang menyerupai aslinya, pengumuman itu tidak resmi dari Pertamina.
“Hoax, informasi tersebut tidak benar. Itu (pengumuman) bukan dari Pertamina,” kata Eko saat dihubungi Kompas, Minggu (22/8/2021).
“Tidak benar ada info tersebut dari Pertamina. Karena tidak benar maka masuk kategori hoax ya,” ungkap Eko kepada Liputan6, Minggu (22/8/2021).
Eko mengimbau, agar masyarakat mewaspadai informasi palsu dan hoaks yang mengatasnamakan PT Pertamina (Persero).
“Apabila masyarakat ingin mendapatkan informasi tentang produk dan layanan Pertamina dapat menghubungi call center 135. Masyarakat tidak perlu khawatir, hal-hal yang kurang pas tentu akan diluruskan,” tandasnya.
Faktanya, Unit Manager Communication Relations dan CSR MOR III PT Pertamina (Persero), Eko Kristiawan menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar atau hoaks.
Dilansir dari Liputan6 dan Kompas, Eko menyatakan kendati memuat logo dan contact center yang menyerupai aslinya, pengumuman itu tidak resmi dari Pertamina.
“Hoax, informasi tersebut tidak benar. Itu (pengumuman) bukan dari Pertamina,” kata Eko saat dihubungi Kompas, Minggu (22/8/2021).
“Tidak benar ada info tersebut dari Pertamina. Karena tidak benar maka masuk kategori hoax ya,” ungkap Eko kepada Liputan6, Minggu (22/8/2021).
Eko mengimbau, agar masyarakat mewaspadai informasi palsu dan hoaks yang mengatasnamakan PT Pertamina (Persero).
“Apabila masyarakat ingin mendapatkan informasi tentang produk dan layanan Pertamina dapat menghubungi call center 135. Masyarakat tidak perlu khawatir, hal-hal yang kurang pas tentu akan diluruskan,” tandasnya.
Kesimpulan
Informasi palsu. Unit Manager Communication Relations dan CSR MOR III PT Pertamina (Persero), Eko Kristiawan menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar atau hoaks.
Rujukan
Halaman: 6488/7975



