• (GFD-2021-7486) [SALAH] Video Kota Prabumulih tanpa Korona

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 27/08/2021

    Berita

    Beredar informasi dari akun Facebook POST Nusantara berupa video dengan klaim bahwa Kota Prabumulih tidak ada korona. Postingan ini disukai sebanyak 75 kali, dikomentari 18 kali, dan disebarkan kembali 12 kali.

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan artikel dari merdeka.com, Jerri Zahri Desta selaku Kabag Humas dan Protokol Setda Prabumulih menjelaskan bahwa video tersebut diambil pada waktu sebelum adanya kasus positif Covid-19 di Sumatera Selatan atau Prabumulih di sebuah rumah makan di Kelurahan Gunung Ibul pada 16 Maret 2020. Ia menjelaskan perihal pernyataan Walikota Prabumulih tersebut tidak menentang kebijakan pemerintah pusat melainkan agar warga tidak panik berlebihan yang dapat menimbulkan dampak yang lebih buruk. Kota Prabumulih sendiri pada saat ini berdasarkan data per 22 Agustus 2021, Kota Prabumulih masih dalam status risiko sedang atau zona oranye pada peta risiko dari website covid19.go.id.

    Melihat dari penjelasan tersebut, video Kota Prabumulih tidak ada kasus Covid-19 adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Koneksi yang Salah/False Connection.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Natalia Kristian (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Indonesia).

    Informasi yang salah. Video tersebut adalah video lama yang diambil pada 16 Maret 2020 di sebuah rumah makan Kelurahan Gunung Ibul, Prabumulih Timur sebelum adanya kasus positif Covid-19 di Sumatera Selatan atau Prabumulih.

    Rujukan

  • (GFD-2021-8740) Keliru, Video Senator Amerika Mengumumkan Corona Adalah Penipuan

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 26/08/2021

    Berita


    Potongan video yang merupakan unggahan dari platform SnackVideo  memperlihatkan senator Amerika Serikat menggelar konferensi pers diklaim sebagai pernyataan terbuka yang menyatakan corona adalah penipuan beredar di aplikasi pengiriman pesan.
     Video tersebut diberikan narasi “Senator Amerika Mengumumkan Corona adalah penipuan. Mereka telah menutupi kebenaran Big Phanama (pengelola obat) Big Tach (facebook, Microsoft, dan lain lain), Big Media (CNN, BBC, ECT) WHO dan lain-lain adalah pengkhianat yang bertanggung jawab atas perkara ini”
    Apakah benar video tersebut merupakan pernyataan terbuka senator Amerika Serikat tentang corona adalah penipuan? 
    Tangkapan layar video dengan klaim pengumuman penipuan corona oleh senat USA

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim Cek Fakta Tempo mula-mula memfragmentasi video diatas menjadi beberapa bagian foto dengan menggunakan tool InVid. Selanjutnya foto hasil fragmentasi ditelusuri dengan menggunakan tools seperti reverse image tools Google, TinEye Reverse Image Search dan Yandex.
    Hasilnya, video tersebut merupakan konferensi pers senator Amerika Serikat, Marsha Blackburn pada 11 Juni 2021. Video itu pernah diunggah Senator Marsha Blackburn di akun youtube nya pada 11 Juni 2021 dengan menambahkan keterangan dalam bahasa Inggris jika diterjemahkan berarti Senator Blackburn bergabung dengan konferensi pers untuk membahas asal-usul dan kebenaran tentang COVID-19.
     Video serupa juga muncul pada platform Vimeo pada 14 Juni 2021. dengan keterangan dalam bahasa jerman yang jika diterjemahkan berarti Konferensi Pers Senator Marsha Blackburn, Senat AS, 11 Juni 2021.
    Konferensi pers Senator Marsha Blackburn bahkan disiarkan secara langsung Fox News pada kanalnya di facebook 11 Juni 2021 dengan menambahkan keterangan yang berarti Senator Marsha Blackburn dan Senator GOP mengadakan konferensi pers tentang sensor Big Tech asal COVID-19.
    Dikutip dari laman resmi senator AS Marsha Blackburn, konferensi pers yang dilakukannya merupakan pernyataan terbuka yang mempertanyakan bagaimana big tech melakukan sensor terhadap informasi asal-usul COVID-19. Dalam konferensi pers Senator Blackburn bergabung Senator Roger Marshall, Mike Braun, Ron Johnson, dan Roger Wicker.
    Marsha Blackburn mengatakan, teknologi besar seperti facebook dan youtube benar-benar telah melampaui batas dengan melakukan sensor terhadap informasi terkait asal-usul COVID-19. Facebook baru-baru ini mengubah keputusan untuk menghapus segala jenis informasi yang mengatakan COVID-19 berasal dari laboratorium di Wuhan, YouTube sebelumnya juga telah mengumumkan akan melarang konten apapun yang bertentangan dengan Organisasi Kesehatan Dunia yang dikelola Beijing dan didanai China. YouTube bahkan menghapus video dari beberapa dokter medis yang mempertanyakan nilai penguncian ini.”
    Dalam konferensi persnya Marsha Blackburn juga mendesak Dr. Anthony Fauci  untuk mengundurkan diri dan menyingkir dari tanggung jawabnya di National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) dan menghadap Kongres untuk memberikan penjelasan terkait Informasi terkait COVID-19. 
    “Saya pikir sudah sepatutnya Dr. Fauci menyingkir dari tanggung jawabnya di NIAID dan dia membuat dirinya tersedia untuk Kongres untuk mencari tahu persis bagaimana dia bersekongkol dengan Mark Zuckerberg dan teknologi besar. Apa yang terjadi di sana? Apakah orang Amerika mendengar beberapa kebenaran tetapi tidak seluruh kebenaran?”
    Dilansir dari Y'all Politics, media berita politik berkedudukan di Mississippi, Amerika Serikat, konferensi pers Marsha Blackburn mempertanyakan keputusan teknologi besar yang melakukan sensor terhadap informasi COVID-19 secara sepihak. Facebook bahkan menangguhkan akun mantan Presiden Donald Trump. Twitter juga bergerak untuk menyensor liputan apapun yang mereka pikir dapat menyebabkan kepanikan yang meluas.
    “Bagaimana platform internet multi-kaya yang kuat bisa membuat keputusan itu,” kata Senator Wicker.

    Kesimpulan


    Berdasarkan hasil pemeriksaan fakta TEMPO, Potongan video yang memperlihatkan sekelompok senator Amerika Serikat menggelar konferensi pers diklaim sebagai pernyataan terbuka yang menyatakan corona adalah penipuan, keliru. Video tersebut diketahui merupakan konferensi pers senator Marsha Blackburn dari republik pada 11 Juni 2021 yang mempertanyakan keputusan perusahaan teknologi besar seperti Facebook, Youtube melakukan sensor sepihak terhadap informasi terkait asal usul COVID-19. Dalam konferensi pers Senator Blackburn bergabung Senator Roger Marshall, Mike Braun, Ron Johnson, dan Roger Wicker.
    TIM CEKFAKTA TEMPO

    Rujukan

  • (GFD-2021-8741) Keliru, Indonesia Aman dari Ledakan Asteroid PDV 2021 dan Jadi Tempat Mengungsi

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 26/08/2021

    Berita


    Sebuah video yang mengklaim bahwa ilmuwan ruang angkasa mengatakan asteroid akan menabrak bumi pada Oktober 2021 diunggah pada 8 Agustus 2021. Dalam video itu dujga disebutkan Indonesia bakal menjadi wilayah yang aman.
    Video berdurasi 0:48 detik itu berjudul 'Sebagian Besar Penduduk Dunia akan Mengungsi ke Indonesia sebagai Dampak Asteroid'. Di dalamnya memuat gabungan video serta narator yang menyatakan:
    “Para ahli ruang angkasa menemukan asteroid 2021-PDV akan menabrak bumi dan Indonesia adalah wilayah paling aman. Ahli ruang angkasa akan membahas dampak ledakan asteroid PDV pada Konferensi Ketahanan Planet.”

    Hasil Cek Fakta


    Hasil verifikasi Tempo menunjukkan, asteroid PDV-2021 akan menabrak bumi hanyalah skenario fiktif. Skenario tersebut dibuat untuk mendukung latihan tanggap darurat yang dilakukan selama Konferensi Pertahanan Planet International Academy of Astronautics (IAA) 2021 secara virtual di Wina, Austria, 26 April–30 April 2021.  
    Menurut European Space Agency, setiap dua tahun para ahli asteroid dari seluruh dunia berkumpul untuk membuat skenario bahwa dampak asteroid sudah dekat. Selama menyusun skenario dampak selama satu pekan, peserta tidak tahu bagaimana situasi akan berkembang dari satu hari ke hari berikutnya, tetapi harus membuat rencana berdasarkan pembaruan harian yang diberikan kepada
    Skenario lengkap mengenai hal itu tertuang pada laporan berjudul The 2021 PDC Hypothetical Asteroid Impact Scenario, pada website Center for NEO Studies (CNEOS) yang didukung oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).
     Menurut CNEOS, Skenario tersebut dimulai dari penemuan asteroid  pada 19 April 2021 dengan magnitudo tampak 21,5 yang diberi nama PDC 2021. Sehari setelah  ditemukan, sistem pemantauan dampak Sentry JPL serta sistem CLOMON ESA,  mengidentifikasi beberapa tanggal di masa depan ketika asteroid ini berpotensi berdampak pada Bumi. 
    Kedua sistem setuju bahwa dampak potensial yang paling mungkin terjadi adalah pada 6 bulan lagi yakni pada 20 Oktober 2021. Tetapi kemungkinan dampak itu rendah, peluangnya sekitar 1 dibanding 2500.  
    Sangat sedikit yang diketahui tentang sifat fisik PDC 2021. Ukuran khususnya sangat tidak pasti. Berdasarkan rata-rata magnitudo visual semu, magnitudo absolut (intrinsik) asteroid diperkirakan H = 22,4 +/- 0,3. Jika albedo (reflektifitas) PDC 2021 adalah 13%, nilai rata-rata tipikal, nilai H ini menyiratkan ukuran asteroid rata-rata sekitar 120 meter. Tetapi albedo yang sebenarnya tidak diketahui dan ukuran asteroid dapat berkisar dari yang terkecil 35 meter hingga 700 meter.
    Berdasarkan perkiraan ini, kemungkinan energi yang dilepaskan saat tumbukan dapat berkisar dari 1,2 Mt hingga 13 Gt (setara dengan TNT). Bahaya utama adalah ledakan udara yang menyebabkan tekanan berlebih ledakan yang mungkin mencapai tingkat yang tidak dapat dipertahankan. Dalam skenario itu, asteroid akan berdampak di benua Eropa. 

    Kesimpulan


    Dari pemeriksaan fakta di atas, Tempo menyimpulkan video yang diklaim sebagian besar penduduk dunia akan mengungsi ke Indonesia sebagai dampak ledakan asteroid PDV 2021 adalah keliru. Ledakan asteroid PDV 2021 hanyalah bagian dari skenario latihan tanggap darurat yang dilakukan selama Konferensi Pertahanan Planet International Academy of Astronautics (IAA) 2021 secara virtual di Wina, Austria, 26 April–30 April 2021. Skenario maupun asteroid PDV 2021 hanyalah fiktif yang digunakan selama konferensi ini.
    Tim Cek Fakta Tempo

    Rujukan

  • (GFD-2021-8742) Keliru, Foto Perbedaan Penampilan Perempuan Afghanistan Tahun 1970 dan 2021

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 26/08/2021

    Berita


    Dua foto dengan klaim sebagai kondisi dan penampilan perempuan Afghanistan beredar di twitter. Foto pertama memperlihatkan sekelompok wanita dengan rok pendek terlihat memegang buku dan sambil membaca di sebuah bangku diklaim sebagai foto perempuan Afghanistan tahun 1970. 
    Foto kedua memperlihatkan sekelompok wanita menggunakan burkak biru tengah duduk berjajar sambil mengasuh anak diklaim sebagai penampilan perempuan Afganistan tahun 2021. Foto itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran atas hak-hak perempuan di Afghanistan setelah kembalinya Taliban.
    Foto-foto tersebut dibagikan akun ini pada 16 Agustus 2021 dengan narasi dalam bahasa Inggris jika diterjemahkan berarti “2 gambar wanita Kabul & 2 realitas mereka 1970 - 2021 Wanita Afghanistan melakukan perjalanan kembali ke masa lalu dan hanya Tuhan yang tahu kesengsaraan apa yang akan terbentang di depan mereka ..”
    Hingga artikel ini ditulis, unggahannya telah  34 kali di retweet dan 113 disukai. Benarkah foto tersebut adalah kondisi perempuan di Afghanistan?
    Tangkapan layar foto yang diklaim sebagai perbandingan penampilan perempuan Afghanistan. (Kiri: 1970, Kanan: 2021)

    Hasil Cek Fakta


    Untuk membuktikan klaim di atas, Cek Fakta Tempo mula-mula menelusuri foto-foto tersebut dengan menggunakan tools seperti reverse image tools Google, TinEye Reverse Image Search dan Yandex.
    Hasilnya, foto itu diketahui merupakan kondisi perempuan di dua negara berbeda. Foto pertama merupakan foto mahasiswa perempuan dari Universitas Teheran, Iran pada tahun 1971. Foto ini muncul pada dokumentasi foto sejarah Iran dengan judul “ Once Upon a Time in Tehran ”. 
    Foto yang memperlihatkan sekelompok wanita dengan rok pendek terlihat memegang buku dan sambil membaca di sebuah bangku itu diberi judul : Ruang tunggu mahasiswa Universitas Teheran pada tahun 1971. Universitas Teheran dibuka untuk wanita pada tahun 1934, ketika perguruan tinggi itu didirikan, jauh sebelum sebagian besar universitas di Amerika Serikat mengintegrasikan wanita ke dalam kelas. Setelah revolusi, perempuan masih diizinkan untuk hadir universitas, tetapi mereka duduk di area terpisah.
    Dikutip dari BBC, sebelum revolusi terjadi, banyak kaum perempuan di Iran sudah menjalani dunia pendidikan tinggi, termasuk mengenakan pakaian gaya Barat, seperti jins ketat, rok mini dan atasan lengan pendek. Mahasiswa perempuan di Teheran, Iran di waktu itu bahkan selalu meluangkan waktu berkumpul pada hari Jumat bersama keluarga. Namun setelah revolusi terjadi, pemimpin tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Ruhollah Khomeini, menerapkan kebijakan bahwa semua perempuan di Iran harus mengenakan jilbab.
    Sementara foto kedua, yang memperlihatkan sekelompok wanita yang menggunakan burkak biru duduk sambil mengasuh anak merupakan foto jepretan fotografer AFP, A. Majeed. Foto itu diambil pada 19 Juni 2012 dan tidak terkait dengan kondisi perempuan Afganistan saat pendudukan ibukota kabul oleh milisi Taliban pada Agustus 2021. 
    Foto karya A.Majeed ini diberi judul, ' Wanita Afghanistan dan Anak-anak Mereka ' ini diambil di pusat pendaftaran Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) di pinggiran Peshawar pada 19 Juni 2012, saat mereka bersiap untuk kembali ke negara asal mereka setelah melarikan diri dari perang saudara dan pemerintahan Taliban. Sekitar 20 persen dari populasi di Afghanistan adalah pengungsi. Dari mereka yang berada di luar negeri, ada 1,7 juta warga Afghanistan di Pakistan dan satu juta di Iran. 
    Untuk kumpulan foto karya A.Majeed yang lain dapat dilihat di sini

    Kesimpulan


    Berdasarkan hasil pemeriksaan fakta TEMPO, dua foto yang diklaim merupakan kondisi dan penampilan perempuan Afganistan pada tahun 1970 dan 2021, Keliru. Foto pertama yang memperlihatkan sekelompok wanita dengan rok pendek terlihat membaca buku merupakan foto mahasiswa perempuan dari Universitas Teheran, Iran pada tahun 1971. Foto ini muncul pada dokumentasi foto sejarah Iran dengan judul “Once Upon a Time in Tehran”.
    Sedangkan. foto kedua yang memperlihatkan sekelompok wanita mengenakan burkak biru tengah duduk sambil mengasuh anak merupakan foto jepretan fotografer AFP, A. Majeed. Foto itu diambil pada 19 Juni 2012 dan tidak terkait dengan kondisi perempuan Afganistan saat pendudukan ibukota kabul oleh milisi Taliban pada Agustus 2021. 
    TIM CEKFAKTA TEMPO

    Rujukan