(GFD-2021-7591) [SALAH] Video Umat Nasrani Diikat di Afganistan
Sumber: facebook.comTanggal publish: 22/09/2021
Berita
Akun Facebook dengan nama pengguna “Classic Bae” (https://www.facebook.com/clara.nwachukwu.31) mengunggah sebuah video yang menunjukkan beberapa orang diikat di dalam plastik. Unggahan tersebut juga disertai dengan narasi yang menyatakan bahwa orang-orang dalam video tersebut adalah umat Nasrani di Afganistan.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, video tersebut bukan merupakan video umat Nasrani yang diikat di Afganistan, melainkan video aksi protes warga Kolombia terhadap pemerintah pada bulan Mei 2021 lalu. Video serupa telah diunggah oleh laman Facebook “Lo Que La Prensa Corrupta No Transmite” pada 28 Mei 2021.
Video serupa juga pernah beredar dengan narasi yang menyatakan bahwa video tersebut merupakan video penanganan Covid-19 di Indonesia. Artikel dengan topik tersebut telah dimuat dalam situs turnbackhoax.id dengan judul artikel “[SALAH] Video “pengurusan Covid di Indon” yang diunggah pada 24 Juli 2021 lalu.
Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh akun Facebook dengan nama pengguna “Classic Bae” tersebut dapat dikategorikan sebagai Konteks yang Salah/False Context.
Video serupa juga pernah beredar dengan narasi yang menyatakan bahwa video tersebut merupakan video penanganan Covid-19 di Indonesia. Artikel dengan topik tersebut telah dimuat dalam situs turnbackhoax.id dengan judul artikel “[SALAH] Video “pengurusan Covid di Indon” yang diunggah pada 24 Juli 2021 lalu.
Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh akun Facebook dengan nama pengguna “Classic Bae” tersebut dapat dikategorikan sebagai Konteks yang Salah/False Context.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini (Universitas Diponegoro).
Bukan video di Afganistan. Video tersebut merupakan video aksi protes warga Kolombia terhadap pemerintah pada bulan Mei 2021 lalu.
Bukan video di Afganistan. Video tersebut merupakan video aksi protes warga Kolombia terhadap pemerintah pada bulan Mei 2021 lalu.
Rujukan
(GFD-2021-8765) Keliru, Cina Tak Lagi Gunakan Sinovac dan Indonesia telah Ditipu
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 21/09/2021
Berita
Narasi dengan klaim bahwa Cina tidak lagi menggunakan Sinovac dan Indonesia telah ditipu menggunakan vaksin tersebut, beredar sejak Juli 2021. Klaim itu beredar setelah otoritas Cina membolehkan penggunaan vaksin Pfizer/Biontech pada Juli lalu.
Tempo menemukan sejumlah narasi yang menyebut, rakyat Indonesia hanya menjadi percobaan Cina dengan vaksin Sinovac yang mereka produksi. Narasi lain menganggap penggunaan vaksin Sinovac hanyalah bisnis belaka.
“Vaksin Sinovacnya buat Indonesia saja, gak papa. Setelah divaksin, rakyat pada mati juga. Yang penting dapat uang, karena cuma Indonesia yang blon2 pemerintahnya gampang dikibulin,” demikian salah satu narasi yang ditulis warganet, 23 Juli lalu.
Beberapa narasi tersebut bisa ditemukan di unggahan ini dan ini
Tangkapan layar unggahan dengan klaim Cina tak lagi gunakan Sinovac dan Indonesia telah ditipu
Hasil Cek Fakta
Pada Juli lalu, otoritas Cina memang sedang mengkaji penggunaan vaksin Pfizer/Biontech. Namun suntikan vaksin jenis mRNA itu, hanya sebagai booster (dosis ketiga) terhadap warga yang telah menerima dosis vaksin lengkap. Belakangan, penggunaan vaksin Pfizer ditunda.
Dikutip dari South China Morning Post (SCMP) 15 Juli 2021, pemerintah Cina mempertimbangkan untuk menggunakan vaksin booster dari Pfizer setelah merebaknya varian Delta. Penggunaan vaksin ini tinggal menunggu persetujuan regulator obat setempat, National Medical Products Administration. Apabila disetujui, vaksin Pfizer akan didistribusikan oleh perusahaan farmasi, Fosun Pharma sebagai pemegang hak eksklusif di Tiongkok.
Namun hingga berita ini diturunkan, otoritas Cina belum memberikan persetujuan untuk penggunaan Pfizer /Biontech sebagai vaksin booster.
Menurut The Wall Street Journal (WSJ) yang dikutip dari Taiwan News, pejabat kesehatan China khawatir jika vaksin Pfizer disetujui, itu akan mengikis kepercayaan pada vaksin domestik China yang diproduksi oleh Sinopharm dan Sinovac. Sementara vaksin Cina telah terbukti memiliki kemanjuran, Sinopharm 79% dan Sinovac 51%.
Laporan itu menunjukkan bahwa penundaan itu juga akan memberi perusahaan China lebih banyak waktu untuk menyelesaikan vaksin mRNA mereka sendiri. Akademi Ilmu Kedokteran Militer China bekerja sama dengan dua perusahaan obat swasta China untuk mengembangkan vaksin mRNA.
Militer China, Suzhou Abogen Biosciences Co, dan Yunnan Walvax Biotechnology Co sedang melakukan uji klinis tahap akhir di China dan Meksiko untuk kandidat vaksinnya, kata sumber kepada The WSJ. Mereka juga telah melobi pemerintah China untuk mempercepat persetujuan.
Tetap Gunakan Vaksin Domestik
Klaim bahwa Cina tidak lagi menggunakan vaksin domestik mereka juga tidak benar. Selama ini Cina menggunakan sejumlah vaksin yang dikembangkan di dalam negeri, termasuk produk dari Sinopharm, Sinovac, Zhifei, serta vaksin dosis tunggal oleh CanSino. Mereka juga telah memberikan persetujuan penggunaan darurat untuk vaksin oleh Institute of Medical Biology dari Chinese Academy of Medical Science dan Kangtai Biologicals.
Dikutip dari Fortune edisi 16 September, Komisi Kesehatan Nasional China mengumumkan bahwa negara tersebut telah sepenuhnya memvaksinasi 1 miliar dari 1,41 miliar warganya terhadap COVID-19, sebuah tonggak utama dalam kampanye vaksinasi di negara terpadat di dunia. Sebagian besar mereka mengandalkan vaksin dari pembuat vaksin swasta, Sinovac dan perusahaan farmasi milik negara Sinopharm.
Di luar Cina, Indonesia bukan negara satu-satunya yang menggunakan vaksin Sinovac. Menurut situs Track Vaccine, vaksin Sinovac telah mendapatkan persetujuan penggunaan darurat sedikitnya di 40 negara, termasuk oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Kesimpulan
Dari pemeriksaan fakta di atas klaim bahwa Cina tidak lagi menggunakan Sinovac dan Indonesia telah ditipu menggunakan vaksin tersebut, adalah keliru. Rencana Cina menggunakan vaksin Pfizer/Biontech adalah sebagai vaksin booster kepada warga yang telah mendapatkan dosis lengkap (dua suntikan). Namun rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan dari otoritas setempat. Cina selama ini menggunakan vaksin yang diproduksi di dalam negeri, termasuk Sinovac, untuk warganya. Hingga pekan kedua September, Cina telah memvaksin 1 miliar penduduknya, dari jumlah total 1,41 miliar warga.
Tim Cek Fakta Tempo
Rujukan
- https://www.tempo.co/tag/vaksin-sinovac
- https://www.facebook.com/photo/?fbid=101475932222903&set=basw.AbrDASPiiWjnKslIKtnly2V9XT5PLEt0kvJz5oAqHf2IjxU8bNK5IAeLGRrD1HG-e_ThBC4cmTm8ZDW2LtcU3dZGCLZqLqyykpUz1VPN77XvOw72FVfq_7EVRhRZunRU-n-qxjkbqpKWPILBZaOayR99U4K85UYliNQ3mIBCFPk6axXHPUQ_xhimtPrHDl9OLQY&opaqueCursor=Abq5xi-R67g3arGcDtmmjH-GYe6WdcT6u1aKEhQBZ1kTR4CsdOMw9o00e1vDkCYXELlszrWbZOl9XEh6Gyt7D7fmSnzhgQg68WmVnyPaPFpJUoWlExvZFM70oczyM7EzW1HNC64babuhQgw59Ua1nZIu-0QrhfS9ZAs8E-q5BSpgD_6UmIKXuBHZEZukMf55stzECVPwU-d4H53N8xw11Sul81AbKooY157URhQ9uxJPZcMDuFlkcMf-TgXDLOcieU97BafTGyIhYC2OHrPy76YqcLl5gdpCZ_asYGc9jKVi64lYYWu1KvmZC4y4MEaWLyC2BgNb-jAAP-sS9Pd9Wrxx_B-tS-IKIxPZBwkvvt6sb0prbFZQla-bZG3J-h8WgHY3Uk69li_ypcvtIPe6Sd32LvZuAYR4m9hinbXzddtHLW2qJE3tMWvLfspySjDazVdMfGVX3SKa3lOgkeTJvo1XR8u0A4XT5cy81huCiMZZsmkvQ0tp3Qx0hoQrEN0jB0kMZ84J_jJfI3W6FwyysUFahP-ZW5vNyoDg4bRcfA_nsPIhEd_5KtsgZbpOsc9932dEj5tdTIIeSRPBoVWvhEf044fysU9w2eS-oS5cEhYwXWJ7C7ul2sSUwJeaGk8ARD1D8OYreMWr76IrBWYAvO6XZSVec9xCRcNbwxma0PdPDEUAuCW-ZetdD9akzSCX8pHC2t8uGFpb91Cf2YjZEMOFRCo2Mom70LEx_6daZjQTAU_i09NvHiaASLL8J8pu8Mbxy5B-Zza9D53yrgDEDCIY4h4iyu_duByZjB4E6LtmiA
- https://www.facebook.com/photo/?fbid=977706576358492&set=basw.AbooAcjj5OGXB2qiryOXrOU9ym1EnIM1CY_wKmp4ZhQb2ZFIQRgg0XuKObLXJIYyUbxnqtSut3Zk3YueE6kWwk9DHj79GbjXqs6i4z-0gcGb5WQ-mSo4zFzW2gAdT_A3Ni1fnQFOgqlgl42QaE1VGrd6xkqNpN_ng1J79G72p622iwcmfQqkNAPi2Fu5xPSX200&opaqueCursor=AbqoDftkzdImrE-u6OxSBUtsvWiqVbnncYPbHbXIm6Qrvd5v-IEBjVfxta8CfQBGFTeZOdAyLB8U6L9QhakS3cqGoic7yusMkoBwhCOIrDZW9pRfApsS2l0ErnwNo9-LYRY9obntBNirC4pk053REHefhC2Wat9rcvKr3ss5yDWo_mFCbrklhF_NaCd-F0kZgt-P_hBK0GI1B_UQQen3Zb3BvfgRtKugQb0pLYEfXxnp016SJsjlOwqem8monObWnW_4QFqE4kpN4vQdP7KkJx8Dyronzk6e3mZFJkIEBTcCwGfvRuZbQSTSJX9MabrSQmtmj5Anpt7fmjYpcm7HcAMBn-rO1fN-awtVzOHHMMYvZmGVbsoRB3AHMsOEPZFMj1Wl6wV7IVE6NakvPKnF4y3-aZ4Y3YJub2YCYeUL3i20gofMdpXndKKxkfZmCM4q5mamFevWpsJ3AHOmKQEQSOQlxlTfZqtt5KEGWhBLi11RPR5LjSQdddSaa4QyhF5tiCORUu59kR1UcSuAdaDLIojag12K6PryeNlrzviP2b4l4z7_SXXRYl6aA1K_oStxkakc4r6KbGjlfPJ3krGOs-7-i0umaffXG7NZZ0gk7dufqzTDvbAoOTBw1wJ
(GFD-2021-7580) [SALAH] Karena Hidup Orangtua yang Sulit, Seorang Bayi Diserahkan Kepada Sekelompok Tentara
Sumber: Whatsapp.comTanggal publish: 21/09/2021
Berita
“ada yang tau peristiwa apa ini???
Seperti nya bayi direlakan orang tua nya diberikan kpd tentara karena keadaan susah.. “
Seperti nya bayi direlakan orang tua nya diberikan kpd tentara karena keadaan susah.. “
Hasil Cek Fakta
Beredar sebuah video melalui pesan Whatsapp yang menampilkan peristiwa penyerahan bayi oleh masyarakat kepada sekelompok tentara. Narasi pesan ini menyatakan bahwa bayi itu diserahkan oleh orangtuanya karena mereka mengalami kesulitan hidup.
Namun setelah dilakukan penelusuran, ternyata pesan tersebut adalah hoaks. Orangtua yang menyerahkan bayi mereka kepada sekelompok tentara bukanlah karena kehidupan yang sulit, tapi untuk mengevakuasi bayi tersebut dari daerah kericuhan di Bandara Kabul, Afghanistan.
Kericuhan yang terjadi di Afghanistan khususnya di kabul menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat dan membuat mereka ingin keluar dari Afghanistan. Hal ini membuat banyak masyarakat berkerumun di depan pintu masuk Bandara Kabul untuk dapat melarikan diri melalui evakuasi yang dilakukan oleh tentara Amerika Serikat sebelum seluruh tentara barat itu pergi meninggalkan Afhanistan.
Jadi dapat disimpulkan, video penyerahan bayi kepada tentara karena hidup orangtua yang sulit merupakan informasi hoaks kategori misleading content atau konten menyesatkan.
Namun setelah dilakukan penelusuran, ternyata pesan tersebut adalah hoaks. Orangtua yang menyerahkan bayi mereka kepada sekelompok tentara bukanlah karena kehidupan yang sulit, tapi untuk mengevakuasi bayi tersebut dari daerah kericuhan di Bandara Kabul, Afghanistan.
Kericuhan yang terjadi di Afghanistan khususnya di kabul menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat dan membuat mereka ingin keluar dari Afghanistan. Hal ini membuat banyak masyarakat berkerumun di depan pintu masuk Bandara Kabul untuk dapat melarikan diri melalui evakuasi yang dilakukan oleh tentara Amerika Serikat sebelum seluruh tentara barat itu pergi meninggalkan Afhanistan.
Jadi dapat disimpulkan, video penyerahan bayi kepada tentara karena hidup orangtua yang sulit merupakan informasi hoaks kategori misleading content atau konten menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara)
Hal tersebut adalah informasi hoaks. Faktanya video tersebut adalah proses evakuasi seorang bayi dari kericuhan yang terjadi di Afghanistan.
Hal tersebut adalah informasi hoaks. Faktanya video tersebut adalah proses evakuasi seorang bayi dari kericuhan yang terjadi di Afghanistan.
Rujukan
(GFD-2021-7581) [SALAH] Akun Whatsapp Wakil Bupati Sukabumi
Sumber: Whatsapp.comTanggal publish: 21/09/2021
Berita
Beredar sebuah akun Whatsapp dengan nomor +62896523634727 yang mengatasnamakan nama Wakil Bupati Sukabumi, Iyos Sumantri. Akun Whatsapp tersebut juga mencantumkan foto Iyos Sumantri sebagai foto profil Whatsappnya
Hasil Cek Fakta
Beredar sebuah akun Whatsapp dengan nomor +62896523634727 yang mengatasnamakan nama Wakil Bupati Sukabumi, Iyos Sumantri. Akun Whatsapp tersebut juga mencantumkan foto Iyos Sumantri sebagai foto profil Whatsappnya.
Setelah melakukan penelusuran, hal tersebut tidak benar. Dinas Komunikasi Informasi dan Persandian (Diskominfosan) Kabupaten Sukabumi mengatakan bahwa segala bentuk pesan dari akun Whatsapp tersebut terindikasi penipuan. Warga Sukabumi diminta berhati-hati jika mendapat pesan dari nomor Whatsapp tersebut, terlebih lagi jika nomor Whatsapp tersebut menginformasikan akan memberikan bantuan keagamaan. Hal tersebut dikarenakan nomor Whatsapp tersebut palsu dan bukan milik Iyos Sumantri.
Dengan demikian, akun Whatsapp dengan nomor +62896523634727 tidak sesuai fakta dan masuk ke dalam kategori imposter content atau konten tiruan.
Setelah melakukan penelusuran, hal tersebut tidak benar. Dinas Komunikasi Informasi dan Persandian (Diskominfosan) Kabupaten Sukabumi mengatakan bahwa segala bentuk pesan dari akun Whatsapp tersebut terindikasi penipuan. Warga Sukabumi diminta berhati-hati jika mendapat pesan dari nomor Whatsapp tersebut, terlebih lagi jika nomor Whatsapp tersebut menginformasikan akan memberikan bantuan keagamaan. Hal tersebut dikarenakan nomor Whatsapp tersebut palsu dan bukan milik Iyos Sumantri.
Dengan demikian, akun Whatsapp dengan nomor +62896523634727 tidak sesuai fakta dan masuk ke dalam kategori imposter content atau konten tiruan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Nadine Salsabila (Universitas Diponegoro)
Akun Whatsapp dengan nomor +62896523634727 bukan milik Wakil Bupati Iyos Sumantri. Dinas Komunikasi Informasi dan Persandian (Diskominfosan) Kabupaten Sukabumi mengatakan bahwa segala bentuk pesan dari akun Whatsapp tersebut terindikasi penipuan.
Akun Whatsapp dengan nomor +62896523634727 bukan milik Wakil Bupati Iyos Sumantri. Dinas Komunikasi Informasi dan Persandian (Diskominfosan) Kabupaten Sukabumi mengatakan bahwa segala bentuk pesan dari akun Whatsapp tersebut terindikasi penipuan.
Rujukan
Halaman: 6453/7976



