• (GFD-2021-8773) Keliru, Risiko Anak di bawah 12 tahun Mengalami Covid-19 hanya 0,001 persen

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 30/09/2021

    Berita


    Narasi yang mengklaim bahwa anak usia 5-12 tahun berisiko mengalami Covid-19 hanya sekitar 0,001 persen beredar di Facebook pada 14 September 2021. Narasi itu disertai unggahan berita berbahasa Inggris tentang uji klinis vaksin Pfizer pada anak berusia 5-12 tahun. 
    Unggahan itu menulis tentang dampak vaksinasi Covid-19 yang menyebabkan  puluhan dokter, warga dengan komorbid, dan remaja meninggal. Kemudian narasi menyoal rencana vaksinasi pada kelompok anak usia di bawah 12 tahun. 
    “Ketika kemudian Proyek vaksinasi mulai menyasar Anak-Anak Kecil usia 5 sd 12 tahun, padahal risiko mereka mengalami COV1D hanyalah 0,001 persen,” tulis aku ini.
    Selain itu dia juga menyebut dengan case fatality rate (CFR) yang saat ini sudah tinggal 2 persen, tidak ada laporan  anak-anak berisiko terhadap Delta, Mu dan seterusnya.  
     Tangkapan layar unggahan dengan klaim risiko anak di bawah 12 tahun mengalami Covid-19 hanya 0,001 persen

    Hasil Cek Fakta


    Hasil penelusuran Tempo menunjukkan, risiko anak-anak berusia di bawah 12 tahun lebih tinggi dari klaim 0,001 persen. Data sebaran Covid-19 di situs covid.go.id per 28 September 2021, kelompok umur 0-5 tahun yang positif Covid-19 sebanyak 2-9 persen dan umur 6-18 tahun sebesar 10,1 persen.
    Kelompok umur 0-5 tahun dan 6-18 tahun yang meninggal karena Covid-19 masing-masing sebesar 0,5 persen. 
    Data sebaran Covid-19 berdasarkan kelompok umur. Sumber: Covid19.go.id
    Sumber: https://covid19.go.id/peta-sebaran-covid19
    Peningkatan kasus pada anak banyak terjadi di bulan Juli karena varian Delta. Dikutip dari VOA Indonesia, data Satgas Penanganan COVID-19 mengungkapkan secara kumulatif hingga 16 Juli 2021 ada 777 anak di Indonesia meninggal dunia akibat COVID-19. Persentase Angka Kematian Tertinggi (CFR) berada pada kelompok usia 0-2 tahun, diikuti kelompok usia 16-18 tahun dan usia 3-6 tahun.
    Apakah anak di bawah 12 tahun perlu divaksin Covid-19?
    Dikutip dari Health Desk, organisasi nirlaba berisikan ahli kesehatan dari berbagai dunia, sejumlah negara mencoba untuk meningkatkan tingkat perlindungan dengan mengimunisasi kelompok muda usia 12 tahun. Namun, Uni Emirat Arab dan Republik Rakyat China telah memvaksinasi anak-anak dari usia 3 tahun ke atas dengan vaksin Sinopharm.
    Saat ini, praktik tersebut belum direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ). Badan kesehatan global merekomendasikan vaksin untuk orang berusia 18 tahun ke atas, karena dibandingkan dengan kebanyakan anak-anak, kelompok usia tersebut berisiko lebih tinggi terkena penyakit serius dan kematian akibat Covid-19.
    Terkait apa yang terjadi di Indonesia, di mana angka kematian di bawah 18 tahun lebih dari tiga kali lebih tinggi dari rata-rata global, vaksinasi terhadap anak-anak harus diprioritaskan ketika vaksin tersedia untuk populasi ini.
    Menurut Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dr. Rodman Tarigan, pemerintah saat ini masih memprioritaskan vaksinasi Covid-19 untuk anak usia 12 tahun ke atas. Meski demikian, ke depan, anak dengan usia di bawah 12 tahun juga akan mendapatkan vaksinasi. 
    Beberapa produsen tengah melakukan uji klinis vaksin Covid-19 pada anak. Untuk vaksin Pfizer, papar Rodman, sudah melakukan uji klinis fase III pada kelompok anak usia 12 – 15 tahun dengan subyek uji klinis sebanyak 2.260 orang. Hasil uji klinis tersebut menghasilkan efikasi vaksin sebesar 100 persen.
    Selanjutnya, Pfizer tengah melanjutkan uji klinis untuk kelompok usia 5 – 11 tahun. “Kalau ini hasilnya baik juga, maka uji klinis akan dilanjutkan ke kelompok yang lebih muda, 2 – 5 tahun, dan 6 bulan sampai 2 tahun,” terang Rodman, dikutip dari laman Universitas Padjajaran.
    Vaksin lainnya yang tengah melakukan uji klinis fase III kepada kelompok usia 6 bulan hingga 12 tahun adalah Moderna. Uji klinis ini memiliki target 6.000 subyek dengan tiga formulasi dosis yang akan diujicobakan.
    Produsen vaksin Sinovac sendiri telah melakukan uji klinis fase I dan II pada umur 3 – 17 tahun. Uji klinis ini sudah memberikan respons imun cukup baik dan aman. Reaksi demam pada umur 3 – 5 tahun dan 6 – 11 tahun masing-masing 8,77 persen dan 3,70 persen.
    Klaim puluhan meninggal setelah vaksin Covid-19
    Dari ratusan laporan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI), ada 30 kasus meninggal dunia setelah divaksinasi Covid-19, menurut Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Hindra Irawan Safari. Namun Komnas KIPI mempertegas bahwa kejadian tersebut bukan akibat langsung dari vaksinasi.
    "Yang meninggal dari (setelah divaksin) Sinovac ada 27 dan 3 setelah Astrazeneca. Dari 27 itu, 10 karena terinfeksi Covid-19, 14 orang karena penyakit jantung dan pembuluh darah," kata Hindra dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IX yang disiarkan kanal YouTube DPR RI, Kamis 20 Mei 2021, dikutip dari Kompas.com.
    Kemudian, 1 orang karena gangguan fungsi ginjal secara mendadak dan 2 orang karena diabetes mellitus dan hipertensi tidak terkontrol.
    Kesimpulan itu didapatkan setelah Komnas KIPI melakukan pemeriksaan laboratorium, rontgen, dan CT-scan. 

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan Tim Cek Fakta Tempo, klaim bahwa anak usia 5-12 tahun berisiko mengalami Covid-19 hanya sekitar 0,001 persen,keliru. Data sebaran Covid-19 di situs covid.go.id per 28 September 2021 emnunjukkan kelompok umur 0-5 tahun yang positif Covid-19 sebanyak 2-9 persen dan umur 6-18 tahun sebesar 10,1 persen.
    TIM CEK FAKTA TEMPO

    Rujukan

  • (GFD-2021-7618) [SALAH] Dana Bantuan Sosial dari Pemerintah Melalui Pertamina Sebesar Rp150 Juta

    Sumber: Pesan Singkat SMS
    Tanggal publish: 30/09/2021

    Berita

    Beredar SMS pemberian dana bantuan sosial pemerintah sebesar 150 juta mengatasnamakan pemerintah. Dalam pesan tersebut disematkan link dan juga PIN pemenang.

    Hasil Cek Fakta

    Setelah ditelusuri, link yang disematkan dalam pesan tersebut mengarah pada link blogspot bukan lama resmi pertamina yaitu https://mypertamina.id/. Melalui laman resminya, Pertamina menjelaskan tidak terlibat dalam undian atau pemberian hibah melalui e-mail/sms. Pertamina juga mengimbau untuk waspada terhadap segala bentuk penipuan termasuk hadiah dan pemberian melalui SMS/e-mail.

    Dilansir dari Pikiran Rakyat, Pejabat Sementara Senior (Pjs) Vice President Corporate Communication and Investor Relations Pertamina, Fajriyah Usman, menyatakan bahwa pesan berisi tautan cek uang tunai Rp150 juta dari Pertamina adalah hoaks. Info hadiah tersebut bukan bersumber dari saluran resmi Pertamina dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

    Hoaks serupa pernah muncul pada Juli dan Agustus 2021 kemarin dan telah dibahas dalam artikel periksa fakta Turnbackhoax.id dengan judul “[SALAH] SMS Hadiah 150 juta dari Pertamina”, “[SALAH] Subsidi Hadiah Nasional Berkah Energi Pertamina Periode 3”, “[SALAH] Subsidi 189 Juta dari Pertamina”.

    Dengan demikian, klaim dana bantuan sosial pemerintah melalui Pertamina adalah hoaks dengan kategori Konten Palsu.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Fathia Islamiyatul (Universitas Pendidikan Indonesia)

    Hoaks lama bersemi kembali. Info hadiah tersebut bukan bersumber dari saluran resmi Pertamina dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

    Rujukan

  • (GFD-2021-7619) [SALAH] Video Yang Menampilkan Tidak Ada Pesawat dalam Insiden 911 WTC pada 200

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 30/09/2021

    Berita

    Beredar sebuah video melalui unggahan di Facebook yang menunjukkan tidak ada pesawat yang menabrak gedung kembar WTC pada insiden 911 tahun 2001 silam. Unggahan video tersebut juga dilengkapi dengan narasi seolah perekam video tidak pernah menyebarkannya di media sosial.

    Hasil Cek Fakta

    Setelah ditelusuri, klaim tersebut salah. Faktanya video asli sudah lama beredar dan menjadi bukti bahwa pesawat menabrak gedung kembar WTC pada insiden 911 tahun 2001, dalam video tersebut menunjukkan adanya pesawat menabrak gedung kembar WTC.

    Dilansir dari AFP, video asli tersebut diambil oleh Keith Lopez, seorang jurnalis dari WPIX-TV New York yang secara kebetulan sedang berangkat dalam penugasannya untuk meliput Walikota Manhattan. Menanggapi video suntingan yang beredar tersebut Ia mengatakan bahwa itu hanya untuk menarik perhatian masyarakat dan meningkatkan engagement rate unggahannya “Selain untuk mendapatkan lebih banyak like atau pengikut di media sosial ini sangat melemahkan dalam skala martabat manusia,” katanya kepada AFP.

    Dengan demikian, klaim tidak ada pesawat dalam insiden 911 WTC pada 2001 merupakan hoaks dengan kategori Konten yang Dimanipulasi.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Fathia Islamiyatul (Universitas Pendidikan Indonesia)

    Klaim tersebut salah. Setelah ditelusuri video asli menunjukkan pesawat terbang menabrak Gedung WTC, video yang menunjukkan ledakan dari dalam Gedung WTC tanpa adanya tabrakan pesawat tersebut merupakan hasil suntingan.

    Rujukan

  • (GFD-2021-7621) [SALAH] Video “Ternyata kabel telkomsel dibawa laut di gigit hiu”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 30/09/2021

    Berita

    Akun Facebook Fitryana Manahau (fb.com/anha.cabby) pada 21 September 2021 mengunggah sebuah video yang memperlihatkan seekor ikan hiu menggigit kabel bawah laut dengan narasi “Ternyata kabel telkomsel dibawa laut di gigit hiu”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, adanya video yang diklaim sebagai hiu yang menggigit kabel bawah laut Telkomsel merupakan klaim yang salah.

    Faktanya, video itu merupakan video yang sudah beredar sejak tahun 2010 dan tidak ada kaitannya dengan gangguan jaringan Telkomsel dan IndiHome yang terjadi sejak Minggu, 19 September 2021.

    Video yang identik, diunggah oleh kanal Youtube sudmike pada 23 April 2010 dengan judul “Shark attack on subcable.wmv.”

    Sementara itu, SVP Corporate Communication & Investor Relation Telkom Ahmad Reza mengatakan, video yang memperlihatkan seekor hiu diklaim menggigit kabel bawah laut milik TelkomGroup itu hoaks. “Dapat kami sampaikan bahwa video tersebut adalah hoaks,” kata Reza, ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (22/9/2021).

    Kesimpulan

    Video yang sudah beredar sejak tahun 2010 dan tidak ada kaitannya dengan gangguan jaringan Telkomsel dan IndiHome yang terjadi sejak Minggu, 19 September 2021.

    Rujukan