Sebuah foto memperlihatkan seseorang tengah mengarahkan alat injeksi ke bagian mata pria yang berbaring beredar di media sosial. Foto tersebut dibagikan bersama foto lainnya dengan narasi bahwa grup ilmuwan serta hacker biologi asal California telah menemukan obat tetes mata ajaib yang diklaim dapat membuat manusia melihat dalam kegelapan.
Di Instagram, kolase foto tersebut dibagikan akun ini pada 30 September 2021. Akun inipun menuliskan narasi:
“Hal tak terduga ditemukan oleh grup ilmuwan serta hacker biologi asal California, Science for Messes (SfM), mereka telah menemukan obat tetes mata ajaib yang diklaim dapat membuat manusia melihat dalam kegelapan.
Mereka menggunakan Chlorin e6 (Ce6), yang ditemukan pada ikan laut. Senyawa ini juga dapat digunakan untuk mengobati kebutaan dan kanker.”
Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapat 170 komentar dan 130 ribulikes.Apa benar ilmuan California telah menemukan obat yang dapat membuat manusia melihat dalam kegelapan?
Tangkapan layar unggahan dengan klaim Ilmuan California Temukan Obat Tetes Mata yang Dapat Membuat Manusia Melihat dalam Kegelapan
(GFD-2021-8778) Sebagian Benar, Ilmuwan California Temukan Obat Tetes Mata yang Bisa Membuat Manusia Melihat dalam Kegelapan
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 08/10/2021
Berita
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait melalui sejumlah media kredibel. Hasilnya, temuan para peneliti di California tersebut masih bersifat subyektif. Para peneliti yang terlibat dalam proyek tersebut mengingatkan bahwa studi lebih lanjut harus dilakukan untuk mengukur efek dari solusi ce6 ini secara objektif.
Dilansir dari Mic.com, Science for the Masses (SftM), sekelompok biohacker yang berbasis Tehachapi, California, berteori bahwa mereka dapat meningkatkan penglihatan pada malam hari.
Untuk melakukan ini, kelompok tersebut menggunakan sejenis analog klorofil yang disebut Chlorin e6 (Ce6), yang ditemukan pada beberapa ikan laut dalam dan kerap digunakan sebagai metode untuk mengobati rabun senja.
"Melanjutkan penelitian itu, kami pikir ini akan menjadi sesuatu ke depannya," kata petugas medis lab, Jeffrey Tibbetts, kepada Mic.
"Ada cukup banyak makalah yang membicarakan tentang menyuntikkannya pada model seperti tikus secara intravena seperti yang telah digunakan sejak tahun 60-an sebagai pengobatan untuk berbagai jenis kanker. Setelah melakukan penelitian, langkah berikutnya diambil."
Untuk melakukannya, anggota tim peneliti biokimia Gabriel Licina menjadi kelinci percobaan.
Tim membuka mata Licina sementara sejumlah kecil larutan diteteskan ke bola mata menggunakan pipet, dan kemudian diberi waktu untuk menyerap. Licina kemudian memakai lensa kontak hitam untuk menghindari paparan cahaya yang berlebihan.
Dia kemudian dibawa ke sebuah lapangan, dan menguji penglihatannya terhadap kelompok kontrol yang tidak diberi tetesan seperti dirinya. Mereka diminta untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk yang tergantung di pohon, dan kemudian mengidentifikasi orang-orang yang tidak bergerak pada jarak hingga 50 meter.
Hasilnya direkam dan diunggah ke situs mereka. SftM mengatakan penglihatan malam Licina membawanya ke tingkat keberhasilan 100 persen dalam mengenali target, sedangkan kelompok kontrol hanya mencetak 33 persen.
Ketika ditanya tentang risiko terhadap penglihatannya sendiri, Licina mengatakan, "Lebih sulit untuk menuntut diri sendiri. Kami telah melakukan penelitian, kami telah memeriksa dua kali lipat semua sumber dan makalah jurnal kami,” kata Licina seperti dilansir dari newsweek.com.
"Kami serius dengan apa yang kami lakukan, kami serius tentang sains, jadi itu berarti kami membaca banyak makalah jurnal. Kami meneliti tentang ini."
Licina menjelaskan apa yang terjadi "Ini tidak seperti 'oh my gosh, aku punya penglihatan super!'," katanya.
"Ini lebih seperti gelap menjadi redup, semuanya sedikit lebih terang. Bukan cahaya yang terlihat gila, terbakar dan malapetaka, tetapi lebih halus, 'oh saya bisa melihat sesuatu!'"
Sebelumnya, Science for the Masses, telah menerbitkan sebuah makalah berjudul “A REVIEW ON NIGHT ENHANCEMENT EYEDROPS USING CHLORIN E6” yang dimuat situs resmi mereka pada 25 Maret 2015.
Dalam makalah tersebut telah dicantumkan disclaimer bahwa peningkatan amplifikasi cahaya mungkin memiliki efek buruk pada struktur seluler mata jika tidak digunakan dengan benar dan beberapa bahan yang digunakan dalam campuran ini tidak boleh digunakan pada manusia atau hewan.
Perlu dicatat bahwa lebih banyak pengujian perlu dilakukan pada proyek khusus ini. Pengujian yang dilakukan saat ini bersifat subjektif. Sebuah stimulator Ganzfeld dan electroretinigraph akan digunakan untuk mengukur jumlah sebenarnya dari peningkatan stimulasi listrik dari mata, memberikan jumlah yang sulit diukur dengan tingkat amplifikasi.
Dimungkinkan juga untuk menguji rentang penglihatan mana yang sedang diperkuat juga. Namun, mengingat hasil saat ini dan kerangka kerja sebelumnya pada teknik ini, tampaknya adil untuk mengatakan bahwa teknik ini berhasil mengklaim untuk amplifikasi cahaya rendah di mata manusia.
Temuan ini adalah pengalaman subjektif. Subjek tidak mengalami efek samping setelah pemberian. Pengujian awal tampaknya menunjukkan peningkatan penglihatan cahaya redup ini terjadi. Pengujian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi dan mengukur tingkat peningkatan pada subyek kesehatan.
Pada akhir makalah juga ditekankan bahwa studi lebih lanjut harus dilakukan untuk mengukur efek dari solusi ce6 ini secara objektif.
Suatu produk medis, seperti obat maupun vaksin harus menjalani serangkaian proses uji sebelum bisa dipasarkan. Rangkaian uji tersebut sebagai bukti kuat yang mendukung bahwa obat aman dan efektif untuk mengatasi suatu penyakit.
Dilansir dari US Food and Drug Administration (FDA) penelitian praklinis sebuah obat diperlukan untuk menjawab pertanyaan dasar tentang keamanan obat.
“Penelitian klinis" mengacu pada studi, atau uji coba, yang dilakukan pada manusia. Saat pengembang merancang studi klinis, mereka akan mempertimbangkan apa yang ingin mereka capai untuk masing-masing Fase Penelitian Klinis yang berbeda dan memulai Proses Penyelidikan Obat Baru (IND), sebuah proses yang harus mereka lalui sebelum penelitian klinis dimulai.
Proses yang harus dilalui sebelum penelitian klinis dimulai meliputi, merancang uji klinis, studi fase penelitian klinis, proses penyelidikan obat baru, meminta bantuan FDA, peninjau oleh tim FDA IND hingga mendapat Persetujuan.
Dikutip dari situs resmi Centers for Disease Control and Prevention (CDC), di Amerika Serikat, undang-undang federal melarang distribusi dan transportasi produk obat yang tidak disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA).
Untuk mengizinkan perawatan pasien dengan produk obat yang tidak berlisensi, FDA dapat mengizinkan penggunaan obat atau produk biologis di bawah aplikasi Investigational New Drug (IND).
Aplikasi IND bukanlah permintaan persetujuan, tetapi permintaan pengecualian dari hukum federal. Permohonan IND mencakup protokol untuk penggunaan klinis obat atau biologis yang tidak berlisensi dan harus diserahkan untuk ditinjau ke FDA dan diizinkan untuk melanjutkan sebelum agen apa pun dilepaskan di bawah status IND.
Dilansir dari Mic.com, Science for the Masses (SftM), sekelompok biohacker yang berbasis Tehachapi, California, berteori bahwa mereka dapat meningkatkan penglihatan pada malam hari.
Untuk melakukan ini, kelompok tersebut menggunakan sejenis analog klorofil yang disebut Chlorin e6 (Ce6), yang ditemukan pada beberapa ikan laut dalam dan kerap digunakan sebagai metode untuk mengobati rabun senja.
"Melanjutkan penelitian itu, kami pikir ini akan menjadi sesuatu ke depannya," kata petugas medis lab, Jeffrey Tibbetts, kepada Mic.
"Ada cukup banyak makalah yang membicarakan tentang menyuntikkannya pada model seperti tikus secara intravena seperti yang telah digunakan sejak tahun 60-an sebagai pengobatan untuk berbagai jenis kanker. Setelah melakukan penelitian, langkah berikutnya diambil."
Untuk melakukannya, anggota tim peneliti biokimia Gabriel Licina menjadi kelinci percobaan.
Tim membuka mata Licina sementara sejumlah kecil larutan diteteskan ke bola mata menggunakan pipet, dan kemudian diberi waktu untuk menyerap. Licina kemudian memakai lensa kontak hitam untuk menghindari paparan cahaya yang berlebihan.
Dia kemudian dibawa ke sebuah lapangan, dan menguji penglihatannya terhadap kelompok kontrol yang tidak diberi tetesan seperti dirinya. Mereka diminta untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk yang tergantung di pohon, dan kemudian mengidentifikasi orang-orang yang tidak bergerak pada jarak hingga 50 meter.
Hasilnya direkam dan diunggah ke situs mereka. SftM mengatakan penglihatan malam Licina membawanya ke tingkat keberhasilan 100 persen dalam mengenali target, sedangkan kelompok kontrol hanya mencetak 33 persen.
Ketika ditanya tentang risiko terhadap penglihatannya sendiri, Licina mengatakan, "Lebih sulit untuk menuntut diri sendiri. Kami telah melakukan penelitian, kami telah memeriksa dua kali lipat semua sumber dan makalah jurnal kami,” kata Licina seperti dilansir dari newsweek.com.
"Kami serius dengan apa yang kami lakukan, kami serius tentang sains, jadi itu berarti kami membaca banyak makalah jurnal. Kami meneliti tentang ini."
Licina menjelaskan apa yang terjadi "Ini tidak seperti 'oh my gosh, aku punya penglihatan super!'," katanya.
"Ini lebih seperti gelap menjadi redup, semuanya sedikit lebih terang. Bukan cahaya yang terlihat gila, terbakar dan malapetaka, tetapi lebih halus, 'oh saya bisa melihat sesuatu!'"
Sebelumnya, Science for the Masses, telah menerbitkan sebuah makalah berjudul “A REVIEW ON NIGHT ENHANCEMENT EYEDROPS USING CHLORIN E6” yang dimuat situs resmi mereka pada 25 Maret 2015.
Dalam makalah tersebut telah dicantumkan disclaimer bahwa peningkatan amplifikasi cahaya mungkin memiliki efek buruk pada struktur seluler mata jika tidak digunakan dengan benar dan beberapa bahan yang digunakan dalam campuran ini tidak boleh digunakan pada manusia atau hewan.
Perlu dicatat bahwa lebih banyak pengujian perlu dilakukan pada proyek khusus ini. Pengujian yang dilakukan saat ini bersifat subjektif. Sebuah stimulator Ganzfeld dan electroretinigraph akan digunakan untuk mengukur jumlah sebenarnya dari peningkatan stimulasi listrik dari mata, memberikan jumlah yang sulit diukur dengan tingkat amplifikasi.
Dimungkinkan juga untuk menguji rentang penglihatan mana yang sedang diperkuat juga. Namun, mengingat hasil saat ini dan kerangka kerja sebelumnya pada teknik ini, tampaknya adil untuk mengatakan bahwa teknik ini berhasil mengklaim untuk amplifikasi cahaya rendah di mata manusia.
Temuan ini adalah pengalaman subjektif. Subjek tidak mengalami efek samping setelah pemberian. Pengujian awal tampaknya menunjukkan peningkatan penglihatan cahaya redup ini terjadi. Pengujian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi dan mengukur tingkat peningkatan pada subyek kesehatan.
Pada akhir makalah juga ditekankan bahwa studi lebih lanjut harus dilakukan untuk mengukur efek dari solusi ce6 ini secara objektif.
Suatu produk medis, seperti obat maupun vaksin harus menjalani serangkaian proses uji sebelum bisa dipasarkan. Rangkaian uji tersebut sebagai bukti kuat yang mendukung bahwa obat aman dan efektif untuk mengatasi suatu penyakit.
Dilansir dari US Food and Drug Administration (FDA) penelitian praklinis sebuah obat diperlukan untuk menjawab pertanyaan dasar tentang keamanan obat.
“Penelitian klinis" mengacu pada studi, atau uji coba, yang dilakukan pada manusia. Saat pengembang merancang studi klinis, mereka akan mempertimbangkan apa yang ingin mereka capai untuk masing-masing Fase Penelitian Klinis yang berbeda dan memulai Proses Penyelidikan Obat Baru (IND), sebuah proses yang harus mereka lalui sebelum penelitian klinis dimulai.
Proses yang harus dilalui sebelum penelitian klinis dimulai meliputi, merancang uji klinis, studi fase penelitian klinis, proses penyelidikan obat baru, meminta bantuan FDA, peninjau oleh tim FDA IND hingga mendapat Persetujuan.
Dikutip dari situs resmi Centers for Disease Control and Prevention (CDC), di Amerika Serikat, undang-undang federal melarang distribusi dan transportasi produk obat yang tidak disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA).
Untuk mengizinkan perawatan pasien dengan produk obat yang tidak berlisensi, FDA dapat mengizinkan penggunaan obat atau produk biologis di bawah aplikasi Investigational New Drug (IND).
Aplikasi IND bukanlah permintaan persetujuan, tetapi permintaan pengecualian dari hukum federal. Permohonan IND mencakup protokol untuk penggunaan klinis obat atau biologis yang tidak berlisensi dan harus diserahkan untuk ditinjau ke FDA dan diizinkan untuk melanjutkan sebelum agen apa pun dilepaskan di bawah status IND.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa ilmuan California telah menemukan obat yang dapat membuat manusia melihat dalam kegelapan, sebagian benar. Temuan para peneliti di California tersebut masih bersifat subyektif, sebab masih memerlukan studi yang lebih lanjut untuk mengukur efek dari solusi Ce6 ini secara objektif.
Karena masih dalam tahap penelitian, maka temuan tersebut belum bisa dikatakan sebagai obat. Di AS sendiri suatu produk medis, seperti obat maupun vaksin harus menjalani serangkaian proses uji mulai dari merancang uji klinis, studi fase penelitian klinis, proses penyelidikan obat baru, meminta bantuan FDA, peninjauan oleh tim FDA-IND hingga mendapat Persetujuan.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Karena masih dalam tahap penelitian, maka temuan tersebut belum bisa dikatakan sebagai obat. Di AS sendiri suatu produk medis, seperti obat maupun vaksin harus menjalani serangkaian proses uji mulai dari merancang uji klinis, studi fase penelitian klinis, proses penyelidikan obat baru, meminta bantuan FDA, peninjauan oleh tim FDA-IND hingga mendapat Persetujuan.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Rujukan
- https://www.instagram.com/p/CUcl16eBvv7/?utm_source=ig_embed
- http://mic.com/
- https://www.mic.com/articles/113740/a-team-of-biohackers-has-figured-out-how-to-inject-your-eyeballs-with-night-vision
- https://www.newsweek.com/experimental-night-vision-eye-drops-let-you-see-dark-317399
- https://scienceforthemasses.org/2015/03/25/a-review-on-night-enhancement-eyedrops-using-chlorin-e6/
- https://www.fda.gov/patients/drug-development-process/step-3-clinical-research
- https://www.cdc.gov/laboratory/drugservice/index.html
- https://www.cdc.gov/laboratory/drugservice/index.html
(GFD-2021-8779) Keliru, Ribuan Orang di Indonesia Meninggal Dunia setelah Vaksin Covid-19
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 08/10/2021
Berita
Potongan orasi dari seorang pria dalam aksi unjuk rasa, dibagikan di Facebook pada 29 Agustus 2021. Pada detik ke 21, pria itu mengklaim bahwa ada ratusan bahkan ribuan orang di Indonesia yang meninggal dunia setelah divaksin.
Potongan video orasi itu berdurasi 2:47 menit, berisi protes terhadap upaya vaksinasi Covid-19 yang dianggap memaksakan pada masyarakat Sulawesi Utara. Mereka juga memprotes pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat ( PPKM ) yang menurunkan kesejahteraan warga ekonomi bawah.
Namun dalam orasi itu juga memuat pernyataan tentang orang yang meninggal karena vaksinasi Covid-19 di Indonesia.
“Ratusan orang bahkan sudah ribuan orang di Indonesia ini meninggal dunia setelah vaksin. Apa yang akan kalian gantikan pada mereka. Jutaan manusia di sana ketakutan karena vaksin,” kata pria tersebut.
Tangkapan layar dengan klaim ratusan hingga ribuan orang meninggal usai vaksin Covid-19
Hasil Cek Fakta
Hasil verifikasi Tempo, menunjukkan, video orasi tersebut terjadi dalam unjuk rasa oleh Aliansi Pejuang Penuntut Keadilan Masyarakat (PPKM) di depan gedung DPRD pada 26 Agustus 2021. Berita dari Tribun News memperlihatkan foto pria yang sama dengan video yang beredar. Namun sejauh ini tidak ada bukti atau laporan tentang ratusan bahkan ribuan orang di Indonesia yang meninggal setelah disuntik vaksin Covid-19.
Dikutip dari Kompas.com pada 20 Mei 2021, Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Hindra Irawan Safari mengungkapkan, dari ratusan laporan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI), ada 30 kasus meninggal dunia setelah divaksinasi Covid-19. Jumlah tersebut terdiri dari 27 kasus yang dilaporkan setelah mendapatkan vaksin Sinovac dan tiga setelah vaksin Astrazeneca.
Kendati demikian, Komnas KIPI mempertegas bahwa kejadian tersebut bukan akibat langsung dari vaksinasi. Dari 27 tersebut , 10 orang meninggal karena terinfeksi Covid-19, 14 orang karena penyakit jantung dan pembuluh darah, satu orang karena gangguan fungsi ginjal secara mendadak dan dua orang karena diabetes mellitus dan hipertensi tidak terkontrol.
Sedangkan tiga kasus lainnya, satu orang karena radang paru-paru dan satu orang positif Covid-19. Satu lainnya meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit, sehingga tidak ada data yang cukup untuk mengetahui penyebabnya.
Tempo telah mengkonfirmasi ulang data tersebut ke Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Hindra Irawan Safari, Jumat 8 Oktober 2021. Hindra menyatakan sampai hari ini tidak ada kasus kematian yang disebabkan oleh vaksinasi Covid-19. “Tidak ada satupun kematian yang terkait dengan vaksin. Semua penyebab kematian disebabkan oleh penyakit lain yang disertai oleh orang tersebut,” kata dia kepada Tempo.
Menurunkan Risiko Infeksi
Hasil studi yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI, membuktikan bahwa vaksin mampu menurunkan risiko terinfeksi COVID-19, serta mengurangi perawatan dan kematian bagi tenaga kesehatan.
Studi ini dilakukan terhadap 71.455 tenaga kesehatan di DKI Jakarta meliputi perawat, bidan, dokter, teknisi, dan tenaga umum lainnya sepanjang periode Januari-Juni 2021.
Studi tersebut mengamati kasus konfirmasi positif COVID-19, perawatan, dan kematian karena COVID-19 pada tiga kelompok tenaga kesehatan yaitu mereka yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis pertama, vaksinasi lengkap (dosis kedua), dan yang belum divaksinasi. Para tenaga kesehatan ini mayoritas mendapatkan vaksin Sinovac.
Pada dua periode observasi di Januari-Maret dan April-Juni 2021, terlihat bahwa proporsi kasus meninggal karena COVID-19 pada tenaga kesehatan yang belum divaksin (0,03 persen) tidak berbeda dengan tenaga kesehatan yang telah mendapat vaksin dosis pertama (0,03%persen). Sedangkan vaksinasi dosis lengkap melindungi tenaga kesehatan dari risiko kematian dengan rasio 0,001 persen pada periode Januari-Maret 2021 dan 0,01 persen pada periode April-Juni 2021.
Kesimpulan
Dari pemeriksaan fakta di atas, Tempo menyimpulkan bahwa klaim pria yang berorasi dengan menyebut ratusan bahkan ribuan orang di Indonesia yang meninggal dunia setelah divaksin adalah keliru. Tidak ada bukti dan laporan tentang jumlah warga yang meninggal setelah vaksinasi Covid-19 mencapai ratusan bahkan ribuan. Laporan jumlah 30 orang meninggal ke Komnas KIPI pun, sudah diverifikasi tidak terkait langsung dengan vaksin Covid-19.
Tim CekFakta Tempo
(GFD-2021-7656) [SALAH] Alipay dari Alibaba Menggunakan Nama E-Money DANA agar tidak dicurigai Rakyat
Sumber: facebook.comTanggal publish: 08/10/2021
Berita
Beredar informasi melalui postingan dari Hasan Basri dengan klaim bahwa DANA adalah nama yang digunakan Alipay agar tidak dicurigai rakyat dan akan membuyarkan kedaulatan keuangan di Indonesia serta merupakan e-money asing pertama yang disetujui pemerintah. Postingan ini disukai 30 kali, dikomentari 2 kali, dan disebarkan 6 kali.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan artikel dari liputan6.com, e-wallet DANA diluncurkan pada 5 Desember 2018. Chrisma Albanjar selaku Chief Communication Officer DANA menjelaskan bahwa DANA menggunakan bank domestik dalam melakukan transaksinya sehingga tidak ada aliran dana dari Indonesia ke luar ataupun adanya penguasaan dan mengendalian transaksi yang dilakukan oleh asing. DANA yang dikembangkan oleh startup yang berbadan hukum Indonesia dengan investor utama DANA, PT Elang Sejahtera Mandiri yang merupakan anak usaha dari PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTEK) memiliki kerjsama dengan pemilik Alipay yaitu Ant Financial sehingga DANA mendapatkan dukungan teknologi dari Ant Financial.
“Meski demikian, DANA memastikan terjadi knowledge sharing kepada semua programmer muda Indonesia di DANA dan data transaksi dan data pengguna tetap berada di Indonesia sesuai dengan PP 82/2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PTSE),” kata Chrisma.
Melihat dari penjelasan tersebut Alipay menggunakan nama DANA agar tidak dicurigai rakyat adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
“Meski demikian, DANA memastikan terjadi knowledge sharing kepada semua programmer muda Indonesia di DANA dan data transaksi dan data pengguna tetap berada di Indonesia sesuai dengan PP 82/2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PTSE),” kata Chrisma.
Melihat dari penjelasan tersebut Alipay menggunakan nama DANA agar tidak dicurigai rakyat adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konten yang Menyesatkan/Misleading Content.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Natalia Kristian (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Indonesia).
Informasi yang salah. DANA bukanlah e-money asing melainkan e-wallet yang dikembangkan oleh startup yang berbadan hukum Indonesia.
Informasi yang salah. DANA bukanlah e-money asing melainkan e-wallet yang dikembangkan oleh startup yang berbadan hukum Indonesia.
Rujukan
- https://turnbackhoax.id/2019/12/06/salah-aplikasi-dana-adalah-buatan-china-dan-memiliki-nama-asli-alipay/
- https://www.liputan6.com/bisnis/read/3802191/hal-yang-perlu-diketahui-soal-dana-dompet-digital-besutan-anak-negeri
- https://id.techinasia.com/peluncuran-dana-payment-open-platform
- https://www.antaranews.com/berita/1195679/hoaks-perusahaan-china-alipay-ancam-kedaulatan-ekonomi-lewat-dana
(GFD-2021-7657) [SALAH] Video “Ini bukti megawati ingin merubah pancasila”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 08/10/2021
Berita
Akun Facebook Bunga Mawar memposting video dengan narasi yang menyebutkan video tersebut bukti Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP, ingin mengubah Pancasila. Video tersebut berdurasi 0:19 detik.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa video tersebut hasil suntingan pada bagian durasinya sehingga mengubah konteks isi pernyataan Megawati. Pada video aslinya, yakni video berjudul “(Full) Pidato Politik Megawati di Kongres V PDIP 2019 di Bali” di Kanal Youtube metrotvnews yang tayang pada 8 Agustus 2019.
Video aslinya berdurasi 1:06:38 merupakan dokumentasi Pidato Politik Megawati Soekarnoputri di Kongres V PDIP di Bali yang membahas sejumlah isu, termasuk membahas mengenai Pancasila. Pada video asli, Megawati mengingatkan bahwa kemerdekaan itu tidak mudah didapat, sehingga tidak diperbolehkan menyia-nyiakan yang telah diperjuangkan para pahlawan. Termasuk jangan mencoba-coba untuk merombak Pancasila.
“Jadi jangan setelah menikmati (kemerdekaan), lalu kita mencoba-coba dengan ilmu baru (menggantikan Pancasila). Itu tidak cocok,” ujar Megawati dalam pidatonya di Kongres ke-V PDIP, di Hotel Grand Inna Beach, Bali, Kamis (8/8).
Megawati menyindir pihak-pihak yang ingin merombak atau mengganti ideologi Pancasila dengan paham lain. Megawati mengajak pihak-pihak itu untuk tidak berkoar-koar di jalanan yang hanya menyengsarakan rakyat.
“Pancasila itu apa? Tidak ada artinya, kita harus rombak, kita harus dirikan, yang lain sifatnya’. Mari kalau mau seperti itu, saya berkata jangan main di jalanan hanya menyengsarakan rakyat, datang ke DPR,” ujarnya.
Adapun, konten suntingan pidato Megawati tersebut juga pernah diperiksa faktanya pada 18 Agustus 2020 dengan judul artikel [SALAH] Megawati Ingin Ubah Pancasila di turnbackhoax.id.
Dari penjelasan tersebut, konten yang diposting oleh akun Bunga Mawar masuk ke dalam kategori Konten yang Dimanipulasi.
Video aslinya berdurasi 1:06:38 merupakan dokumentasi Pidato Politik Megawati Soekarnoputri di Kongres V PDIP di Bali yang membahas sejumlah isu, termasuk membahas mengenai Pancasila. Pada video asli, Megawati mengingatkan bahwa kemerdekaan itu tidak mudah didapat, sehingga tidak diperbolehkan menyia-nyiakan yang telah diperjuangkan para pahlawan. Termasuk jangan mencoba-coba untuk merombak Pancasila.
“Jadi jangan setelah menikmati (kemerdekaan), lalu kita mencoba-coba dengan ilmu baru (menggantikan Pancasila). Itu tidak cocok,” ujar Megawati dalam pidatonya di Kongres ke-V PDIP, di Hotel Grand Inna Beach, Bali, Kamis (8/8).
Megawati menyindir pihak-pihak yang ingin merombak atau mengganti ideologi Pancasila dengan paham lain. Megawati mengajak pihak-pihak itu untuk tidak berkoar-koar di jalanan yang hanya menyengsarakan rakyat.
“Pancasila itu apa? Tidak ada artinya, kita harus rombak, kita harus dirikan, yang lain sifatnya’. Mari kalau mau seperti itu, saya berkata jangan main di jalanan hanya menyengsarakan rakyat, datang ke DPR,” ujarnya.
Adapun, konten suntingan pidato Megawati tersebut juga pernah diperiksa faktanya pada 18 Agustus 2020 dengan judul artikel [SALAH] Megawati Ingin Ubah Pancasila di turnbackhoax.id.
Dari penjelasan tersebut, konten yang diposting oleh akun Bunga Mawar masuk ke dalam kategori Konten yang Dimanipulasi.
Kesimpulan
Video hasil suntingan pada durasinya. Di video aslinya yang berjudul “(Full) Pidato Politik Megawati di Kongres V PDIP 2019 di Bali” di kanal Youtube metrotvnews pada 8 Agustus 2019, konteks pidato Megawati ialah mengingatkan untuk jangan mencoba-coba untuk merombak Pancasila.
Rujukan
Halaman: 6431/7976



