Beberapa waktu lalu, terdapat informasi yang beredar di Facebook terkait penggunaan bunga kitolod dapat menyembuhkat penyakit mata katarak. Informasi yang disebarkan salah satu akun Facebook itu telah mendapatkan 6 ribu komentar, disukai 12 ribu kali, dan dibagikan sebanyak 104 kali.
Berikut adalah narasi yang dibagikan:
"Udah Tau Belum?
#TANAMAN_AJAIB_MENGOBATI
#KATARAK_MATA_MINUS_DAN_RABUN
Katarak yakni bagian dalam lensa mata yang berkabut. Katarak berkenaan dengan penuaan dimana jaringan dalam lensa mata mulai rusak serta saling menggumpal, mengakibatkan lensa kurang lentur serta transparan.
Meskipun sebagain besar katarak berkenaan dengan usia, walaupun itu beberapa faktor khusus yang tingkatkan kemungkinan terserang penyakit katarak. Resiko ini mencakup mereka yang merokok, mengomsumsi alkohol dalam jumlah yang terlalu berlebihan, pernah alami cedera mata atau bedah mata.
Tanaman herbal yang bisa menolong mengobati penyait itu satu diantaranya yakni kitolod. Kitolod memiliki kandungan bahan lebelin, lobelamin serta isotomin. Daunnya memiliki kandungan alkaloid, saponin, flavonoid, serta polifenol. Getahnya bertindak singkirkan akar bakteri pada mata sampai sangat pas untuk mengobati serta obati katarak, minus, plus, bahkan tumor mata.
Berikut ini yakni resep racikan alami untuk menolong menyembuhkan penyakit katarak.
Bahan bahan :
- Bunga kitolod yang masih fresh sekedarnya.
- 1 gelas air putih.
Cara Membuat :
1. Bersihkan seluruh bahan.
2. Masukkan bunga kitolod segar ke satu gelas air putih.
3. Tutup gelas serta diamkan selama 5 menit, lantas pakai air rendaman bunga ini untuk merambang atau merendam mata.
4. Lakukan dengan cara teratur, setiap hari sehingga keadaan serta kondisi penyakit katarak yang di derita sembuh.
Selamat mencoba dan Semoga bermanfaat...
Copas dari : Inspirasi
Oleh Yuri Riantara – 30052018"
(GFD-2021-7678) [SALAH] Bunga Kitolod Bisa Menyembuhkan Katarak
Sumber: FacebookTanggal publish: 13/10/2021
Berita
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri informasi bunga kitolod yang diklaim dapat menyembuhkan katarak. Penelusuran dilakukan dengan menghubungi dr. Setiyo Budi Riyanto, SpM (K) dari Jakarta Eye Center.
Dr Budi mengatakan, bunga kitolod tidak bisa digunakan untuk menyembuhkan mata katarak.
"Waduh, enggak ada deh bunga untuk menyembuhkan mata katarak," ujar dr Budi saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (13/10/2021).
Dr Budi menambahkan, bunga kitolod juga belum teruji secara ilmiah dapat menyembuhkan mata katarak.
"Belum ada bukti ilmiahnya," ucap dia.
Penelusuran juga dilakukan dengan menghubungi Ahli Vitreo Retina, dr. Gitalisa Andayani, Sp.M (K). Menurut dr Gita, bunga kitolod tidak bisa menyembuhkan katarak.
"Jadi, menurut profesi kami, khasiat bunga kitolod untuk katarak adalah hoax kesehatan," kata dr Gita kepada Liputan6.com, Rabu (13/10/2021).
Dr Gita tak menampik, banyak berita yang menyatakan bahwa daun kitolod atau "bunga katarak" bermanfaat menangani gangguan mata termasuk katarak.
Kandungan daun kitolod dilaporkan mengandung komponen ethanol termasuk alkaloid, tannin, flavinoid, saponin, dan steroid.
"Sebelum kita mempercayai manfaat tanaman di atas, kita perlu memahami bahwa katarak adalah keruhnya lensa mata kita secara perlahan, akibat proses degenerasi atau penuaan," tutur dr Gita.
Dr Gita menjelaskan, pengobatan yang tepat untuk katarak bisa dilakukan dengan berbagai cara. Jika katarak masih fase awal, bisa ditanggulangi dengan kacamata. Namun bila sudah menyebabkan kekeruhan signifikan dan sangat mengganggu, harus dilakukan operasi.
"Operasi katarak modern saat ini sudah dilakukan di berbagai RS dan klinik di tanah air, termasuk menggunakan BPJS, dengan dokter terlatih dan peralatan modern. Komplikasi sangat rendah," tutup dr Gita.
Dr Budi mengatakan, bunga kitolod tidak bisa digunakan untuk menyembuhkan mata katarak.
"Waduh, enggak ada deh bunga untuk menyembuhkan mata katarak," ujar dr Budi saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (13/10/2021).
Dr Budi menambahkan, bunga kitolod juga belum teruji secara ilmiah dapat menyembuhkan mata katarak.
"Belum ada bukti ilmiahnya," ucap dia.
Penelusuran juga dilakukan dengan menghubungi Ahli Vitreo Retina, dr. Gitalisa Andayani, Sp.M (K). Menurut dr Gita, bunga kitolod tidak bisa menyembuhkan katarak.
"Jadi, menurut profesi kami, khasiat bunga kitolod untuk katarak adalah hoax kesehatan," kata dr Gita kepada Liputan6.com, Rabu (13/10/2021).
Dr Gita tak menampik, banyak berita yang menyatakan bahwa daun kitolod atau "bunga katarak" bermanfaat menangani gangguan mata termasuk katarak.
Kandungan daun kitolod dilaporkan mengandung komponen ethanol termasuk alkaloid, tannin, flavinoid, saponin, dan steroid.
"Sebelum kita mempercayai manfaat tanaman di atas, kita perlu memahami bahwa katarak adalah keruhnya lensa mata kita secara perlahan, akibat proses degenerasi atau penuaan," tutur dr Gita.
Dr Gita menjelaskan, pengobatan yang tepat untuk katarak bisa dilakukan dengan berbagai cara. Jika katarak masih fase awal, bisa ditanggulangi dengan kacamata. Namun bila sudah menyebabkan kekeruhan signifikan dan sangat mengganggu, harus dilakukan operasi.
"Operasi katarak modern saat ini sudah dilakukan di berbagai RS dan klinik di tanah air, termasuk menggunakan BPJS, dengan dokter terlatih dan peralatan modern. Komplikasi sangat rendah," tutup dr Gita.
Kesimpulan
Klaim penggunaan bunga kitolod dan segelas air untuk menyembuhkan mata katarak ternyata tidak benar. Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.
Rujukan
(GFD-2021-7679) [SALAH] Mengonsumsi Bawang Dayak dapat Menyembuhkan Getah Bening hingga Kanker
Sumber: FacebookTanggal publish: 13/10/2021
Berita
Klaim tentang mengonsumsi bawang dayak dapat menyembuhkan penyakit getah bening, tumor, hingga kanker beredar di media sosial. Klaim tersebut disebarkan salah satu akun Facebook pada 3 Oktober 2019 lalu.
Akun Facebook tersebut mengunggah narasi berisi klaim manfaat mengonsumsi bawang dayak untuk menyembuhkan berbagai penyakit, yakni getah bening, tumor, dan kanker.
"Ni bunda2 saya kasih info yang punya sakit parah seperti getah bening,tumor kancer payudara , dan penyakit lainnya
Saya pribadi getah bening dan dokter bilang harus operasi tapi dengan yakin dan Doa saya akan sembuh dan obat ini di kirim dari kampung saya di sumut ,,ini saya minum selama 4 bulan dan penyakit di tubuh saya hilang secara perlahan dan di bulan ke 6 saya cek up penyakit itu bener2 hilang
Buat yang keluarga nya ada sakit parah jngan buru2 untuk operasi karna indonesia kaya akan obat herbal alami
Ini di namakan bawang dayak yang mampu membunuh sel kancer dan penyakit menakutkan lainnyaCara mengonsumsi nya di iris tipis2 trus di jemur sampe kering ,,jika udah kering bisa di rebus 2 sendok makan dengan air 2 gelas jadikan 1 1/2 gelas ,,minum 3x sehari," tulis salah satu akun Facebook.
Konten yang disebarkan akun Facebook tersebut telah 11 ribu kali dibagikan dan mendapat 961 komentar warganet.
Akun Facebook tersebut mengunggah narasi berisi klaim manfaat mengonsumsi bawang dayak untuk menyembuhkan berbagai penyakit, yakni getah bening, tumor, dan kanker.
"Ni bunda2 saya kasih info yang punya sakit parah seperti getah bening,tumor kancer payudara , dan penyakit lainnya
Saya pribadi getah bening dan dokter bilang harus operasi tapi dengan yakin dan Doa saya akan sembuh dan obat ini di kirim dari kampung saya di sumut ,,ini saya minum selama 4 bulan dan penyakit di tubuh saya hilang secara perlahan dan di bulan ke 6 saya cek up penyakit itu bener2 hilang
Buat yang keluarga nya ada sakit parah jngan buru2 untuk operasi karna indonesia kaya akan obat herbal alami
Ini di namakan bawang dayak yang mampu membunuh sel kancer dan penyakit menakutkan lainnyaCara mengonsumsi nya di iris tipis2 trus di jemur sampe kering ,,jika udah kering bisa di rebus 2 sendok makan dengan air 2 gelas jadikan 1 1/2 gelas ,,minum 3x sehari," tulis salah satu akun Facebook.
Konten yang disebarkan akun Facebook tersebut telah 11 ribu kali dibagikan dan mendapat 961 komentar warganet.
Hasil Cek Fakta
Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim mengonsumsi bawang dayak dapat menyembuhkan penyakit getah bening, tumor, dan kanker. Penelusuran dilakukan dengan menghubungi Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt.
Zullies mengatakan, belum ada bukti ilmiah yang membuktikan bahwa bawang dayak dapat menyembuhkan berbagai penyakit kronis pada manusia.
"Belum ada bukti ilmiah pada manusia. Beberapa mungkin sudah diujikan pada hewan, misal untuk antibakteri, antiradang, antikanker, dan sebagainya. Tetapi, belum berarti hasilnya sama pada manusia," ungkap Zullies kepada Liputan6.com, Jumat (8/10/2021).
Meski belum terbukti secara ilmiah, Zullies menyebut, tak ada larangan untuk mengonsumsi bawang dayak.
"Hanya saja efikasinya tidak bisa dijamin," ucap dia.
Menurut Zullies, klaim-klaim efek bawang dayak untuk pengobatan berasal dari pemakaian secara tradisional dan testimoni.
Zullies mengatakan, belum ada bukti ilmiah yang membuktikan bahwa bawang dayak dapat menyembuhkan berbagai penyakit kronis pada manusia.
"Belum ada bukti ilmiah pada manusia. Beberapa mungkin sudah diujikan pada hewan, misal untuk antibakteri, antiradang, antikanker, dan sebagainya. Tetapi, belum berarti hasilnya sama pada manusia," ungkap Zullies kepada Liputan6.com, Jumat (8/10/2021).
Meski belum terbukti secara ilmiah, Zullies menyebut, tak ada larangan untuk mengonsumsi bawang dayak.
"Hanya saja efikasinya tidak bisa dijamin," ucap dia.
Menurut Zullies, klaim-klaim efek bawang dayak untuk pengobatan berasal dari pemakaian secara tradisional dan testimoni.
Kesimpulan
Klaim mengonsumsi bawang dayak dapat menyembuhkan penyakit getah bening, tumor, dan kanker ternyata belum terbukti. Faktanya, belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.
Rujukan
(GFD-2021-8781) Keliru, Pemberitaan Kasus Kekerasan Seksual di Luwu Timur Pesanan LSM untuk Menjatuhkan Institusi Kepolisian
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 12/10/2021
Berita
Narasi berisi klaim bahwa kasus kekerasan seksual yang dimuat situs berita projectmultatuli.org merupakan pesanan Lembaga Swadaya Msyarakat (LSM) untuk menjatuhkan insitusi kepolisian beredar di media sosial. Di Instagram, unggahan narasi tersebut dibagikan akun ini pada 7 Oktober 2021.
Berikut narasi lengkapnya:
“Sabar yaaa nanti gw buka-bukain semua itu siapa dibalik ormas pesenan tersebut. Berita yang soal anak di Luwu Timur Gw kasih tau itu pesanan LSM yg mau menjatuhkan institusi kepolisian. Dan kenapa pihak keluarganya tidak ada yang speak up ke publik dengan identitas aslinya. Kenapa harus pakai inisial.”
Akun inipun menuliskan narasi, “Punya bukti bukti rekam jejak medis bahwa korban benar benar alami kekerasan atau tidak. Apa jangan jangan mau nyari duit ,,??? Buat netizen disini gw cuma mau imbangi berita yaaa
Bahwa pihak anak tersebut sudah 2 kali di visum bahkan terakhir di visum di rumah sakit Bhayangkara Makassar.”
Hingga artikel ini dimuat, klaim tersebut telah mendapat 123 komentar. Apa benar pemberitaan kasus kekerasan seksual di Luwu Timur merupakan pesanan LSM untuk menjatuhkan institusi kepolisian?
Tangkapan layar unggahan dengan klaim bahwa pemberitaan soal kasus pelecehan seksual di Luwu Timur adalah pesanan LSM untuk menjatuhkan Polri
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait kasus tersebut ke sejumlah media kredibel. Hasilnya, Kasus kekerasan seksual di Luwu Timur pertamakali dimuat projectmultatuli.org, sebuah situs berita nonprofit yang menyajikan laporan mendalam berbasis riset dan data. Project Multatuli didirikan oleh empat jurnalis senior dari tiga media nasional yakni Kompas, Tirto.id dan The Jakarta Post.
Laporan mendalam kasus kekerasan seksual di Luwu Timur pertama kali dimuat projectmultatuli.org pada 6 Oktober 2021 dengan judul, “ Tiga Anak Saya Diperkosa, Saya Lapor ke Polisi. Polisi Menghentikan Penyelidikan.”
Namun, website Projectmultatuli.org diretas pada Rabu, 6 Oktober 2021 pulul 18.00 WIB. Sepanjang malam itu banyak pembaca mengeluh karena tidak bisa mengakses berita tersebut.
Semula tim Project Multatuli mengira hal tersebut terjadi karena masalah kapasitas server yang tidak memadai, namun pada pagi 7 Oktober baru bisa dikonfirmasi ada serangan DDos terhadap website Projectmultatuli.org.
Serangan terhadap Project Multatuli memantik solidaritas sejumlah media arus utama di Indonesia dengan memuat kembali laporan mendalam tersebut pada 7 Oktober 2021. Salah satunya oleh Tempo.co.
Dilansir dari Kompas.com, artikel tersebut melaporkan kasus seorang ibu bernama Lydia (nama samaran) yang melaporkan dugaan pemerkosaan terhadap tiga anak kandungnya.
Kekerasan seksual itu diduga dilakukan mantan suaminya pada 2019 lalu. Lydia mengaku saat itu telah melaporkan perkara tersebut ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Luwu Timur, serta Polres Luwu Timur.
Namun dalam cerita Lydia, ia tidak mendapatkan keadilan dari dua instansi tersebut dan malah disebut mengidap gangguan kesehatan mental. Pada 10 Desember 2019, Polres Luwu Timur menghentikan proses penyidikan.
Mantan suami Lydia disebut merupakan aparatur sipil negara (ASN) di kantor pemerintahan Luwu Timur.
Belakangan, Polres Luwu Timur sempat membantah dan menyatakan bahwa artikel tersebut hoaks. Namun, label hoaks itu kemudian mendapat kecaman dari insan pers, salah satunya disampaikan oleh Aliansi Jurnalis Independen atau AJI.
Project Multatuli
Kepada Tempo, salah seorang pendiri sekaligus pemimpin umum Project Multatuli, Evi Mariani, mengatakan Project Multatuli merupakan satu inisiatif jurnalisme publik. Didirikan oleh empat jurnalis senior dari tiga media nasional—Kompas, Tirto.id dan The Jakarta Post- dengan visi melayani yang dipinggirkan dan mengawasi kekuasaan agar tidak ugal-ugalan.
“Kami sangat serius menjalankannya. sebagai jurnalis pelayan publik dan melayani orang yang dipinggirkan,” tegas jurnalis perempaun yang telah menjalani 18 tahun karir bersama The Jakarta Post.
Lydia (nama samaran) dan tiga anaknya ini, kata Evi, adalah contoh dari masyarakat yang dipinggirkan. Dalam kasus ini polisi sebagai kekuasaan yang harus diawasi.
“Kami berupaya transparan mengenai proses kami bekerja dan mengelola organisasi, kecuali dalam kasus tertentu di mana kerahasiaan dalam batas tertentu dibutuhkan untuk menjalankan prinsip minimize harm (meminimalisir bahaya) dan duty of care (kewajiban untuk melindungi),” jelas Evi.
Evi balik mempertanyakan kredibilitas akun media sosial yang menuding laporan Project Multatuli merupakan pesanan LSM. Pasalnya, foto profil akun tersebut menggunakan topeng dengan nama yang mencantumkan deretan angka.
“Kami di PM transparan. Semua yang perlu diketahui tentang kami ada di website,” tegasnya.
Project Multatuli adalah jurnalisme nonprofit, menyajikan laporan mendalam berbasis riset dan data, dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menegaskan laporan mendalam yang dimuat situs projectmultatuli.org telah berdasarkan penelusuran dan investigasi kepada korban dengan melalui proses wawancara dengan pihak terkait, termasuk kepolisian Luwu Timur.
Laporan tersebut, kata Erik, telah sesuai dengan pedoman liputan ramah anak yang diterbitkan Dewan Pers.
“Yakni, jurnalis tidak menuliskan identitas/nama hingga alamat lengkap anak korban pelecehan seksual termasuk nama ibunya sebagai pelapor. Menyebut inisial pun bisa membahayakan pelapor dan ketiga anaknya,” jelas Ketua Bidang Advokasi AJI Indonesia, Erick Tanjung, melalui keterangan tertulis, Kamis, 7 Oktober 2021.
Pedoman Pemberitaan Ramah Anak pada poin (1) menyebutkan bahwa wartawan merahasiakan identitas anak dalam memberitakan informasi tentang anak khususnya yang diduga, disangka, didakwa melakukan pelanggaran hukum atau dipidana atas kejahatannya.
Ketentuan serupa telah diatur dalam Pasal (5) Kode Etik Jurnalistik yakni wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.
Berdasarkan arsip berita Tempo, Direktur Eksekutif Institute of Criminal Justice Reform (ICJR), Erasmus Napitupulu menjelaskan, dalam kasus pemerkosaan atau pelecehan seksual, terutama anak di bawah umur, tertuang dalam Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak, larangan menampilkan identitas korban, termasuk ibu korban.
Selain itu, kasus pelecehan dan kekerasa seksual dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana juga ditulis bahwa proses serta nama korban harus ditutup. Erasmus mengatakan, akan membawa dampak buruk kepada korban dan pelapor. Sebab, akan menimbulkan ketakutan tersendiri ketika timbul kasus serupa dan para korban enggan melaporkan.
Desakan untuk Polri
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, Sulawesi Selatan, mendesak Mabes Polri kembali membuka kasus dugaan kekerasan seksual terhadap tiga anak di bawah umur. Kasus tersebut dihentikan Polres Luwu Timur dan Polda Sulawesi Selatan pada 2019 dan 2020.
Kasus tersebut terkait atas laporan polisi dilaporkan RS mantan istri SA, 43, ASN di Inspektorat Pemkab Luwu Timur, sebagai terlapor atas dugaan kekerasan seksual dan pemerkosaan ketiga anaknya masing-masing berinsial AL 8; MR, 6; dan AL, 4; yang dihentikan pada 10 Desember 2019.
Menurut dia, dari fakta-fakta yang dikumpulkan tim LBH kasus itu sangat penting untuk dibuka kembali. Sebab, penghentian kasus melalui Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dinilai prematur. Hanya selang dua bulan setelah dilaporkan di Polres Luwu Timur pada 2019, langsung dibuat administrasi penghentian penyelidikan.
”Selain itu tidak dilakukan pemeriksaan saksi lain, selain para korban sehingga tidak ditemukan petunjuk. Bahkan para korban tidak didampingi ibunya saat diperiksa serta pengacara atau lembaga sosial lain,” ucap Rezky Pratiwi seperti dikutip dari Jawa Pos.com, 8 Oktober 2021.
Para korban dibawa ke Maka
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan Fakta Tempo, klaim bahwa pemberitaan kasus kekerasan seksual di Luwu Timur merupakan pesanan LSM untuk menjatuhkan institusi kepolisian,keliru.
Kasus kekerasan seksual di Luwu Timur yang diduga dilakukan seorang ayah terhadap tiga anaknya pertamakali dimuat projectmultatuli.org, sebuah situs berita nonprofit yang menyajikan laporan mendalam berbasis riset dan data.
Project Multatuli didirikan oleh empat jurnalis senior dari tiga media nasional yakni Kompas, Tirto.id dan The Jakarta Post. Tidak disebutkannya identitas korban maupun pelapor dalam kasus tersebut sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Pemberitaan Ramah Anak yang dikeluarkan Dewan Pers.
TIM CEK FAKTA TEMPO
Rujukan
- https://www.instagram.com/p/CUucM0Dpix8/?utm_source=ig_embed&ig_rid=9834bf90-d6fc-440b-a51e-c13a5869afca projectmultatuli.org
- https://projectmultatuli.org/kasus-pencabulan-anak-di-luwu-timur-polisi-membela-pemerkosa-dan-menghentikan-penyelidikan/
- https://www.google.com/url?client=internal-element-cse&cx=014552374694952769939:07jyys92vmu&q=
- https://nasional.tempo.co/read/1514857/3-anak-saya-diperkosa-saya-lapor-ke-polisi-polisi-menghentikan-penyelidikan&sa=U&ved=2ahUKEwjRn-n88MPzAhWKH7cAHexEAQQQFnoECAAQAg&usg=AOvVaw3jUtiM2giK5iPkvP6Wvjam
- https://nasional.kompas.com/read/2021/10/08/10385731/kasus-tiga-anak-diperkosa-ayah-di-luwu-timur-ini-tanggapan-kementerian-pppa?page=all
- https://projectmultatuli.org/about/
- https://dewanpers.or.id/assets/documents/pedoman/1903060524_2019-02_Pedoman_Pemberitaan_Ramah_Anak.pdf
- https://dewanpers.or.id/assets/ebook/buku/822-Buku%20Pers%20berkualitas%20masyarakat%20Cerdas_final.pdf
- https://nasional.tempo.co/read/1514656/icjr-sayangkan-polisi-yang-buka-identitas-ibu-korban-pemerkosaan-di-luwu-timur
- https://www.jawapos.com/jpg-today/08/10/2021/lbh-makassar-desak-polri-buka-kasus-kekerasan-seksual-anak-di-lutim/?page=2
- https://www.cnnindonesia.com/nasional/20211009132455-12-705573/komisi-iii-desak-polri-buka-kasus-pemerkosaan-luwu-timur
- https://www.kompas.tv/article/219794/istana-minta-polri-buka-kembali-kasus-perkosaan-dan-kekerasan-seksual-di-luwu-timur
- https://www.liputan6.com/news/read/4678983/penjelasan-polisi-soal-penghentian-kasus-pemerkosaan-3-anak-di-polres-luwu-timur
- https://www.suara.com/news/2021/10/10/134518/tim-khusus-polri-audit-kinerja-penyidik-polresta-luwu-timur-soal-kasus-pencabulan-anak
(GFD-2021-8782) Keliru, CEO Pfizer Albert Vorla Menyatakan Tanpa Vaksin Seseorang bisa Mengimunisasi Dirinya Sendiri
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 12/10/2021
Berita
Sebuah foto flayer memperlihat pernyataan CEO Pfizer Albert Borla yang mengklaim orang tak divaksin akan dapat mengimunisasi dirinya sendiri beredar di instagram. Pada flayer tersebut bahkan ikut dicantumkan pula kutipan pernyataan penemu vaksin astrazeneca, Dame Sarah Gilbert dengan narasi “tidak ada alasan untuk berpikir kita akan memiliki COVID-19 versi 2 lebih ganas, pada akhirnya virus ini akan menjadi virus biasa yang menyebabkan flu”
Unggahan itu dibagikan akun _teluuur pada 10 Oktober 2021. Hingga artikel ini ditulis unggahannya telah mendapatkan respon 6482 disukai.
Lantas benarkah CEO Pfizer Albert Borla dan Dame Sarah Gilbert membuat pernyataan demikian? Dan benarkah orang yang tidak divaksin akan mengimunisasi dirinya sendiri dan COVID-19 akan menjadi virus biasa yang hanya akan menjadi virus flu biasa?
Tangkapan layar unggahan dengan klaim tanpa vaksin, seseorang dapat mengimunisasi dirinya sendiri dari Covid-19
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim Cek Fakta Tempo mula-mula menelusuri terlebih dahulu informasi melalui sejumlah sumber kredibel terkait pernyataan dua tokoh tersebut dan cara kerja vaksin serta sistem imun manusia.
Klaim 1 : Pernyataan CEO Pfizer Albert Borla “orang tak divaksin akan dapat mengimunisasi dirinya sendiri”
Fakta: Tempo tidak menemukan pernyataan CEO Pfizer Albert Borla tentang orang yang tidak divaksin akan mengimunisasi dirinya sendiri. Pernyataan ini justru berkebalikan dengan pernyataan Borla pada 8 September 2020, seperti yang dimuat oleh CNBC. Saat itu Bourla memperingatkan bahwa orang yang tidak divaksin, akan menjadi kelompok rentan terkena virus dan membuat virus terus menyebar.
Selain itu, orang-orang yang memutuskan untuk tidak divaksin tidak hanya berdampak pada hidup mereka sendiri, tetapi juga memberi dampak pada kehidupan orang lain.
Borla sendiri sudah mendapatkan dosis penuh vaksin Covid-19 pada 10 Maret 2021. Sebelumnya dia juga diserang informasi palsu berupa video dengan klaim “CEO Pfizer Menolak Vaksin” Dilansir dari apnews, sebelum suntikan vaksin kedua pada Borla, muncul video yang menyertakan spanduk palsu, "CEO PFIZER MENOLAK VAKSIN," telah dibagikan ribuan kali di Facebook. Beberapa huruf dalam kata "vaksin" telah diganti dengan gambar partikel virus corona dan jarum suntik.
Emily R. Smith, seorang ahli epidemiologi dan asisten profesor di Milken Institute School of Public Health di The George Washington University seperti dilansir USA Today mengatakan, orang yang telah mengikuti vaksinasi akan mengurangi risiko individu terkena kembali COVID-19 dan memberikan perlindungan kepada orang. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat menunjukkan bahwa orang yang divaksinasi, 800 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mendapatkan COVID daripada orang yang tidak divaksinasi.
Susan Hassig, seorang ahli epidemiologi di Tulane University School of Public Health and Tropical Medicine, ikut menegaskan bahwa vaksin melindungi individu yang divaksinasi dengan sangat mengurangi risiko infeksi, penyakit, dan kematian. Vaksinasi individu itu kemudian melindungi komunitas yang lebih luas dengan membuat orang yang divaksinasi cenderung menjadi tuan rumah.
Klaim 2 : Pernyataan Demi Sara Gilbert “tidak ada alasan untuk berpikir kita akan memiliki COVID-19 versi 2 lebih ganas, pada akhirnya virus ini akan menjadi virus biasa yang menyebabkan flu”
Fakta: Pernyataan Sarah Gilbert ini pernah disampaikan saat seminar Royal Society of Medicine pada 21 September 2021. Pernyataan lengkap Sara Gilbert yakni: Dilansir dari The Times, menurut Sarah, virus corona biasanya tidak bermutasi ke varian yang bisa menlawan vaksin. Sebab, tak ada lagi tempat untuk menyebar dan berkembang. Sehingga bisa dikatakan varian Covid yang lebih ganas tidak akan ada lagi jika semua sudah divaksin.
Dari pemberitaan Times itu diketahui bahwa konteks pernyataan Sarah Gilbert, bahwa, virus corona tidak mungkin bermutasi menjadi varian ganas pada seseorang yang telah divaksin. Artinya Sarah menekankan pentingnya vaksinasi Covid-19.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan cekfakta Tempo, klaim CEO Pfizer Albert Borla yang mengatakan orang tak divaksin akan dapat mengimunisasi dirinya sendiri dan pernyataan Dame Sarah Gilbert bahwa virus COVID-19 akan menjadi virus flu biasa, menyesatkan.
Pernyataan Borla tentang orang yang tidak divaksin akan mengimunisasi dirinya sendiri ramai menjadi diperbincangkan setelah muncul video yang menyertakan spanduk palsu CEO Pfizer menolak vaksin. Video tersebut mengutip wawancara stasiun TV CNBC pada 14 Desember 2020. Borla sendiri diketahui mendapatkan suntikan vaksin kedua pada 10 Maret 2021.
Sedangkan, pernyataan Sarah Gilbert ini ramai setelah ia menjadi pembicara di seminar Royal Society of Medicine pada 21 September 2021. Sarah mengatakan, virus corona biasanya tidak bermutasi ke varian yang bisa menlawan vaksin. Sebab, tak ada lagi tempat untuk menyebar dan berkembang. Sehingga bisa dikatakan varian Covid yang lebih ganas tidak akan ada lagi jika semua sudah divaksin.
TIM CEKFAKTA TEM
Halaman: 6426/7976
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3601012/original/077338400_1634106072-Kitolod1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3596136/original/006393800_1633664261-BawangDayak1.jpg)

