“Mata Uang Baru yg di Keluarkan oleh BI…..Seratus Ribu Rupiah….”
BI mengeluarkan uang pecahan Rp 100rb
Mata uang koin 100.000
Sertus ribu
(GFD-2021-7715) [SALAH] Uang Koin Baru Pecahan Rp100.000 Terbitan Tahun 2021
Sumber: Tiktok.comTanggal publish: 20/10/2021
Berita
Hasil Cek Fakta
Beredar unggahan video di Tiktok oleh akun mohasinta terkait informasi mata uang baru berupa koin pecahan Rp100.000 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) pada tahun 2021.
Berdasarkan penelusuran, Direktur Komunikasi BI Junanto Herdiawan menegaskan, informasi yang mengatakan bahwa Bank Indonesia mengeluarkan uang koin baru Rp100.000 terbitan 2021 adalah tidak benar.
“Tidak betul. Itu hoaks,” ujar Junanto saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (16/10/2021).
Diketahui, Bank Indonesia memang pernah mengeluarkan uang logam Rp100.000. Namun uang tersebut dicetak pada 1974 dan merupakan uang rupiah khusus (URK). Saat ini, uang tersebut tidak lagi berlaku. Hal ini mengacu pada Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.23/12/PBI/2021.
Junanto menjelaskan, uang rupiah khusus berbeda dari uang yang beredar di pasaran. “Uang rupiah khusus (URK) ini diterbitkan untuk memperingati momen-momen khusus,” kata dia.
Melansir laman Bank Indonesia (BI), gambar muka uang koin Rp100.000 terbitan 1974 tersebut adalah Lambang Negara Burung Garuda, Selanjutnya ada teks berbunyi “BANK INDONESIA” dan tahun penerbitan 1974. Di belakang uang koin tersebut ada gambar Komodo, spesies biawak besar yang terdapat di Pulau Komodo, Rinca, Flores.
Untuk diketahui, Bank Indonesia telah menarik 20 jenis pecahan Uang Rupiah Khusus (URK) Tahun Emisi 1970 sampai dengan 1990 dari peredaran, sejak 30 Agustus 2021. Hal itu Mengacu pada Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.23/12/PBI/2021.
Untuk pecahan koin Rp100.000 telah dicabut pada 30 agustus 2021. Masyarakat dapat menukarkan uang yang telah dinyatakan dicabut tersebut dalam jangka waktu 10 tahun sejak pencabutannya ditetapkan.
Pada 5 tahun pertama, masyarakat dapat menukarkannya di kantor bank umum atau kantor Bank Indonesia di seluruh wilayah NKRI dan pada 5 tahun kedua masyarakat hanya dapat menukarkannya di kantor Bank Indonesia. Setelah itu, uang tersebut tidak dapat ditukarkan lagi.
Berdasarkan penelusuran, Direktur Komunikasi BI Junanto Herdiawan menegaskan, informasi yang mengatakan bahwa Bank Indonesia mengeluarkan uang koin baru Rp100.000 terbitan 2021 adalah tidak benar.
“Tidak betul. Itu hoaks,” ujar Junanto saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (16/10/2021).
Diketahui, Bank Indonesia memang pernah mengeluarkan uang logam Rp100.000. Namun uang tersebut dicetak pada 1974 dan merupakan uang rupiah khusus (URK). Saat ini, uang tersebut tidak lagi berlaku. Hal ini mengacu pada Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.23/12/PBI/2021.
Junanto menjelaskan, uang rupiah khusus berbeda dari uang yang beredar di pasaran. “Uang rupiah khusus (URK) ini diterbitkan untuk memperingati momen-momen khusus,” kata dia.
Melansir laman Bank Indonesia (BI), gambar muka uang koin Rp100.000 terbitan 1974 tersebut adalah Lambang Negara Burung Garuda, Selanjutnya ada teks berbunyi “BANK INDONESIA” dan tahun penerbitan 1974. Di belakang uang koin tersebut ada gambar Komodo, spesies biawak besar yang terdapat di Pulau Komodo, Rinca, Flores.
Untuk diketahui, Bank Indonesia telah menarik 20 jenis pecahan Uang Rupiah Khusus (URK) Tahun Emisi 1970 sampai dengan 1990 dari peredaran, sejak 30 Agustus 2021. Hal itu Mengacu pada Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.23/12/PBI/2021.
Untuk pecahan koin Rp100.000 telah dicabut pada 30 agustus 2021. Masyarakat dapat menukarkan uang yang telah dinyatakan dicabut tersebut dalam jangka waktu 10 tahun sejak pencabutannya ditetapkan.
Pada 5 tahun pertama, masyarakat dapat menukarkannya di kantor bank umum atau kantor Bank Indonesia di seluruh wilayah NKRI dan pada 5 tahun kedua masyarakat hanya dapat menukarkannya di kantor Bank Indonesia. Setelah itu, uang tersebut tidak dapat ditukarkan lagi.
Kesimpulan
Direktur Komunikasi BI Junanto Herdiawan menegaskan, informasi yang mengatakan bahwa Bank Indonesia mengeluarkan uang koin baru Rp100.000 terbitan 2021 adalah tidak benar.
Rujukan
(GFD-2021-8789) Sebagian Benar, Prevalensi Perokok Turun Sesuai Bps tapi Bukan Jumlah Perokok Anak
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 20/10/2021
Berita
Sebuah akun membuat thread di Twitter berisi klaim bahwa angka prevalensi perokok anak turun dari 9,65 persen di tahun 2018 menjadi 3,81 persen di tahun 2020.
Sedangkan prevalensi perokok dewasa turun dari 32,2 persen di 2018 menjadi 28,69 persen di 2020. Data itu disebutnya berasal dari Badan Pusat Statistik.
Cuitan tentang penurunan prevalensi perokok ramai di linimasa twitter di tengah rencana pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok tahun depan 2022.
“Kenapa kelompok anti-rokok ini selalu memakai data Riskesdas yg lebih lama? Kalau pakai data terbaru dari BPS jelas terlihat sdh ada penurunan prevalensi merokok. Sudah tidak relevan lagi pakai data Riskesdas 2018 utk menyuarakan cukai hrs naik demi menurunkan prevalensi merokok,” tulis akun tersebut dalam narasinya, 13 Oktober 2021.
Tangkapan layar thread di twitter tentang penurunan prevalensi perokok ramai di linimasa twitter di tengah rencana pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok tahun depan 2022.
Hasil Cek Fakta
Tempo melakukan verifikasi terhadap informasi yang disebut berasal dari BPS ihwal penurunan prevalensi perokok anak dan dewasa. Hasilnya, data yang disajikan oleh BPS tersebut tidak menunjukkan penurunan prevalensi perokok di Indonesia, karena data yang metode pengumpulan data yang disajikan pada 2018 berbeda dengan 2019 dan 2020.
Sumber BPS yang dirujuk oleh warganet tersebut bisa diakses di data Persentase Merokok Pada Penduduk Usia ≤ 18 Tahun, Menurut Jenis Kelamin (Persen), 2018-2020. Menurut data tersebut, jumlah persentase merokok penduduk usia di bawah 18 tahun pada 2018 secara nasional, mencapai 9,65 persen. Sedangkan pada 2019 mencapai 3,87 persen dan 3,81 persen pada 2020.
Namun BPS memberikan keterangan tambahan. Data pada 2018 hasil dari Data Integrasi Susenas dan Riskesdas 2018. Sedangkan data 2019 dan 2020 adalah hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional.
Sedangkan, data BPS terkait prevalensi perokok dewasa merujuk pada Persentase Merokok Pada Penduduk Umur ≥ 15 Tahun Menurut Provinsi (Persen), 2018-2020. Dalam data ini, persentase merokok pada kelompok usia di atas 15 tahun secara nasional sebesar 32,20 persen. Sedangkan data 2019 sebesar 29,03 persen dan 28,69 persen pada 2020. Sumber data tersebut adalah hasil dari Survei Sosial Ekonomi Nasional.
Direktur Statistik Kesejahteraan Rakyat Badan Pusat Statistik, Ahmad Avenzora, menjelaskan data persentase merokok penduduk usia di bawah 18 tahun pada 2018 dan 2019-2020, menggunakan sumber data yang berbeda. Tahun 2018 menggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan. Sementara tahun 2019 dan 2020 dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).
“Ada perbedaan pendekatan antara Riskesdas dan Susenas. Sebenarnya tidak apple to apple untuk membandingkan yang 2018 dengan 2019 dan 2020,” kata Ahmad kepada Tempo, 19 Oktober 2021.
Salah satu perbedaan pendekatan antara Riskesdas dan Susenas, kata Ahmad Avenzora, terkait jenis rokok. Di Riskesdas, mencakup jenis rokok elektrik. Sedangkan pada Susenas, tidak memasukkan rokok elektrik.
Menurut Ahmad, dengan perbedaan sumber data tersebut, tidak bisa disimpulkan bahwa jumlah perokok anak menurun signifikan dari tahun 2018 ke tahun 2019-2020.
Manajer Komunikasi Komnas Pengendalian Tembakau Nina Samidi, mengatakan, data persentase merokok penduduk usia di bawah 18 tahun yang disajikan BPS tahun 2018-2020, tidak setara karena menggunakan sumber yang berbeda.
Penyajian data tersebut dapat menimbulkan kesalahpahaman dari masyarakat awam, karena tidak tahu bahwa dua data tersebut tidak bisa dibandingkan. Publik akan menyangka Indonesia relatif aman dari perokok dan pemerintah sudah berhasil menurunkan prevalensi perokok anak.
“Kenyataannya bisa sebaliknya. Ini bisa merugikan pemerintah yang sedang mendorong penurunan prevalensi perokok. Ini bisa menggagalkan program pemerintah sendiri,” kata dia kepada Tempo, Senin 18 Oktober 2021.
Perbedaan Riskesdas dan Susenas
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) adalah survei lima tahunan oleh Kementerian Kesehatan RI melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, yang hasilnya dapat digunakan menilai perkembangan status kesehatan masyarakat, faktor risiko, dan perkembangan upaya pembangunan kesehatan.
Riskesdas dilaksanakan pada 2018 dengan desain penelitian potong lintang (cross sectional) dengan kerangka sampel blok sensus dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) bulan Maret 2018 dari Badan Pusat Statistik ( BPS ).
Populasi adalah rumah tangga di Indonesia di seluruh provinsi dan kabupaten/kota (34 Provinsi, 416 kabupaten dan 98 kota). Adapun jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 300.000 rumah tangga yang diperoleh dari 30.000 blok survei (masing-masing blok survei terdiri dari 10 rumah tangga).
Pelaksanaan Riskesdas Kemenkes 2018 dianggap memiliki kemajuan karena terintegrasi dengan Susenas BPS.
Sedangkan Susenas pertama kali dilaksanakan pada tahun 1963. Dalam dua dekade terakhir, sampai dengan tahun 2010, Susenas dilaksanakan setiap tahun. Susenas di desain memiliki 3 modul (Modul Konsumsi/Pengeluaran Rumah Tangga, Modul Sosial, Budaya dan Pendidikan, serta Modul Perumahan dan Kesehatan) dan setiap modul dilaksanakan setiap 3 tahun sekali.
Cara pengumpulan data Susenas 2019 melalui survei dengan jenis rancangan sampel multistage/phase. Jumlah sampel Susenas untuk estimasi kab/kota adalah 320.000 rumah tangga (32.000 Blok Sensus). Untuk Susenas estimasi provinsi, jumlah sampel adalah 75.000 rumah tangga (7.500 Blok Sensus).
Kesimpulan
Dari pemeriksaan fakta di atas, Tempo menyimpulkan, unggahan tentang prevalensi perokok anak dan dewasa turun menurut Badan Pusat Statistik, sebagian benar. Untuk klaim prevalensi perokok penduduk usia di atas 15 tahun turun sesuai data BPS tahun 2018 dan 2020 benar. Data tersebut berdasarkan hasil Susenas 2018, 2019 dan 2020.
Sedangkan klaim penurunan jumlah perokok anak, keliru. Sebab data tersebut menggunakan sumber yang berbeda. Data tahun 2018, menggunakan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan serta memasukkan jenis rokok elektrik. Sementara tahun 2019 dan 2020 berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang tidak mencakup jenis rokok elektrik.
Tim Cek Fakta Tempo
Rujukan
- https://twitter.com/cuitan_tommy/status/1448235267437981700
- https://www.bps.go.id/indicator/30/1533/1/persentase-merokok-pada-penduduk-usia-18-tahun-menurut-jenis-kelamin.html
- https://www.bps.go.id/indicator/30/1435/1/persentase-merokok-pada-penduduk-umur-15-tahun-menurut-provinsi.html
- https://www.kemkes.go.id/article/view/18013000002/menkes-persiapkan-riskesdas-2018-secara-matang.html
- https://www.tempo.co/tag/bps
- https://sirusa.bps.go.id/sirusa/index.php/dasar/view?kd=1558&th=2019
(GFD-2021-7708) [SALAH] Penampakan Tol Cisumdawu Memangkas dan Menerobos Bukit
Sumber: Facebook.comTanggal publish: 19/10/2021
Berita
” Jalan Tol terkeren di Indonesia, CISUMDAWU (CILEUNYI – SUMEDANG – DAWUAN), yang membelah gunung dan masuk gunung memungkinkan Bandung <> Tegal ditempuh hanya dalam 2 jam, Bandung <> Semarang hanya 3.5 jam.
Sebelumnya Bandung <> Tegal tanpa toll perlu ditempuh 7 jam joka jalan lancar. “
Sebelumnya Bandung <> Tegal tanpa toll perlu ditempuh 7 jam joka jalan lancar. “
Hasil Cek Fakta
Beredar sebuah narasi bergambar di media sosial Facebook yang menginformasikan terkait tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan). Dalam narasi ini disampaikan bahwa tol Cisumdawu merupakan tol inovasi di Indonesia yang membelah gunung, sehingga memungkinkan waktu tempuh ke beberapa daerah jaub lebih cepat.
Namun setelah dilakukan penelusuran terkait kebenaran narasi ini, diketahui ternyata ini merupakan informasi hoaks. Diketahui bahwa, gambar jalan itu merupakan Jalan Raya D400 Mersin-Antalya di Turki. Ini merupakan jenis hoaks lama yang kembali beredar (HLBK) sejak tahun 2019.
Terkait dengan Tol Cisumdawu yang membelah bukit memang ada di Indonesia. Namun penampakannya tidak seperti yang ditunjukkan pada gambar.
Jadi dapat disimpulkan bahwa narasi bergambar dengan klaim bahwa gambar tersebut adalah Tol Cisumdawu merupakan informasi hoaks kategori konten yang salah.
Namun setelah dilakukan penelusuran terkait kebenaran narasi ini, diketahui ternyata ini merupakan informasi hoaks. Diketahui bahwa, gambar jalan itu merupakan Jalan Raya D400 Mersin-Antalya di Turki. Ini merupakan jenis hoaks lama yang kembali beredar (HLBK) sejak tahun 2019.
Terkait dengan Tol Cisumdawu yang membelah bukit memang ada di Indonesia. Namun penampakannya tidak seperti yang ditunjukkan pada gambar.
Jadi dapat disimpulkan bahwa narasi bergambar dengan klaim bahwa gambar tersebut adalah Tol Cisumdawu merupakan informasi hoaks kategori konten yang salah.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara)
Faktanya gambar yang digunakan di dalam unggahan tersebut bukan Tol Cisumdawu sebagaimana yang ada di Indonesia. Itu merupakan Jalan Raya D400 Mersin-Antalya di Turki.
Faktanya gambar yang digunakan di dalam unggahan tersebut bukan Tol Cisumdawu sebagaimana yang ada di Indonesia. Itu merupakan Jalan Raya D400 Mersin-Antalya di Turki.
Rujukan
- https://turnbackhoax.id/2020/05/10/salah-cisumdawu-jalan-tol-terkeren-di-indonesia/
- https://turnbackhoax.id/2019/03/25/salah-foto-penampakan-tol-cisumdawu-cileunyi-sumedang-dawuan-yang-memangkas-dan-menerobos-bukit/
- https://finance.detik.com/foto-bisnis/d-4457905/penampakan-terkini-tol-cisumdawu-yang-membelah-bukit
- https://www.altnews.in/highway-in-turkey-passed-off-as-mumbai-goa-national-highway-built-by-modi-government/
(GFD-2021-7700) [SALAH] IPB Mengumumkan Ranking Sayuran Anti Kanker
Sumber: Facebook.comTanggal publish: 18/10/2021
Berita
“*INSTITUT PERTANIAN BOGOR , PENCEGAHAN KANKER MENGUMUMKAN RANKING SAYURAN ANTI KANKER 😘
01: *JENGKOL* 99.8%
02: *UBI JALAR* DIMASAK 98.7%
03: *UBI JALAR* MENTAH. 94.4%
04: *ASPARAGUS.* 93.9 %
05: *BROCCOLI,* 92.8%
06: *KUBIS/CABBAGE.* 91.4%
07: *KEMBANG KOL*. 90.8%
08: *SELEDRI* 83.7%
09: *TERONG.* 74.0%
10: *PAPRICA*. 55.5%
11: *WORTEL.* 46.5%
12: *GOLDEN CAULIFLOWER/KMBG KOL* 37.6%
13: *CAPSELLA/SHEPHERD’S PURSE* 35,4%
14: *KOL/KOHLRABI.* 34.7%
15: *MUSTARD*. 32.9%
16: *BRASSICA JUNCEA.* 29.8%
17: *TOMAT.* 23.8%
*TIPS UTAMA 😘
* *SEMUA KENTANG* MENGANDUNG KOLAGEN, *_”TERUTAMA” UBI JALAR KUNING DAN JENGKOL PALING BANYAK._*
* SEDANGKAN *BAHAN ANTIKANKER PALING BANYAK* ADALAH :
* JENGKOL
* UBI JALAR UNGU DAN
* JUICE LEMON HANGAT *TANPA GULA.*
@ TEMUAN RESEP BARU : BAGI *YG BERPENYAKIT DIABETES* SEMOGA GAK USAH SUSAH2 BEROBAT LAGI. *CUKUP DG MEMBLENDER 😘
* 12 BATANG *KACANG PANJANG* DI CAMPUR
* *1 BUAH TOMAT MERAH.*
MINUM DIHABISKAN LANGSUNG.
*BIKIN 2X SEHARI.*
SILAKAN CEK KADAR GULANYA ESOK HARI, DIJAMIN LANGSUNG TURUN KADAR GULANYA. SUDAH BANYAK YG MEMBUKTIKAN, MUJARAB TANPA PANTANGAN MAKAN LAGI. BANTU KIRIMKAN BERITA INI KE SEMUA KONTAK. *BANTU MEREKA YG SAKIT DIABETES AGAR SEMBUH*
Jangan disimpan ya, gak ada gunanya jg disimpan.
Siapa tau bisa menyelamatkan saudara & sahabat kita.
Jagalah Kesehatan“`
*Semoga Bermanfaat*🙂
kanker takut bawang
01: *JENGKOL* 99.8%
02: *UBI JALAR* DIMASAK 98.7%
03: *UBI JALAR* MENTAH. 94.4%
04: *ASPARAGUS.* 93.9 %
05: *BROCCOLI,* 92.8%
06: *KUBIS/CABBAGE.* 91.4%
07: *KEMBANG KOL*. 90.8%
08: *SELEDRI* 83.7%
09: *TERONG.* 74.0%
10: *PAPRICA*. 55.5%
11: *WORTEL.* 46.5%
12: *GOLDEN CAULIFLOWER/KMBG KOL* 37.6%
13: *CAPSELLA/SHEPHERD’S PURSE* 35,4%
14: *KOL/KOHLRABI.* 34.7%
15: *MUSTARD*. 32.9%
16: *BRASSICA JUNCEA.* 29.8%
17: *TOMAT.* 23.8%
*TIPS UTAMA 😘
* *SEMUA KENTANG* MENGANDUNG KOLAGEN, *_”TERUTAMA” UBI JALAR KUNING DAN JENGKOL PALING BANYAK._*
* SEDANGKAN *BAHAN ANTIKANKER PALING BANYAK* ADALAH :
* JENGKOL
* UBI JALAR UNGU DAN
* JUICE LEMON HANGAT *TANPA GULA.*
@ TEMUAN RESEP BARU : BAGI *YG BERPENYAKIT DIABETES* SEMOGA GAK USAH SUSAH2 BEROBAT LAGI. *CUKUP DG MEMBLENDER 😘
* 12 BATANG *KACANG PANJANG* DI CAMPUR
* *1 BUAH TOMAT MERAH.*
MINUM DIHABISKAN LANGSUNG.
*BIKIN 2X SEHARI.*
SILAKAN CEK KADAR GULANYA ESOK HARI, DIJAMIN LANGSUNG TURUN KADAR GULANYA. SUDAH BANYAK YG MEMBUKTIKAN, MUJARAB TANPA PANTANGAN MAKAN LAGI. BANTU KIRIMKAN BERITA INI KE SEMUA KONTAK. *BANTU MEREKA YG SAKIT DIABETES AGAR SEMBUH*
Jangan disimpan ya, gak ada gunanya jg disimpan.
Siapa tau bisa menyelamatkan saudara & sahabat kita.
Jagalah Kesehatan“`
*Semoga Bermanfaat*🙂
kanker takut bawang
Hasil Cek Fakta
Akun Facebook Mayang Sari mengunggah informasi yang berisikan ranking sayuran anti kanker. Dalam narasinya, disebutkan bahwa informasi tersebut berasal dari Institute Pertanian Bogor (IPB).
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim tersebut tidak berasal dari IPB, sebab tidak ditemukan pernyataan resmi dari IPB mengenai ranking sayuran anti kanker. Adapun, dilansir dari kompas.com, Ketua Cancer Information and Support Center (CISC) Semarang Cahyaning Puji Astuti mengatakan, setidaknya ada sekitar 11 jenis sayuran yang terbukti ampuh untuk mencegah munculnya penyakit kanker.
“Buah-buahan dan sayuran sebenarnya jauh lebih hebat dibandingkan vitamin, namun tidak semua sayur dan buah merupakan antikanker,” katanya seusai seminar “Menyiapkan Makanan Sehat Pencegah Kanker” di RS Telogorejo, Semarang, Kamis (10/12/2009).
Naning menyebutkan, 11 sayuran pencegah kanker tersebut, di antaranya kubis, bawang putih, bawang bombai, kedelai, kunyit, teh hijau, tomat, jeruk, cokelat, dan buah-buahan beri, seperti bluberi dan stroberi.
Dari 17 daftar yang ada postingan Facebook Mayang Sari tersebut, hanya ada beberapa yang dikatakan ampuh mencegah kanker menurut CISC Semarang.
Selain itu, bagian resep baru 12 kacang panjang diblender dengan sebuah tomat sebagai obat diabetes juga keliru. Dilansir dari viva.co.id, Ahli Gizi, Dr. Marudut MPS menyatakan bahwa klaim jus kacang panjang dan tomat tersebut belum terbukti kebenarannya.
“Risetnya di mana? Sepanjang belum ada jurnal internasionalnya, ya enggak usah dipercaya,” ujarnya.
Menurut Marudut, masyarakat harus lebih jeli dalam memilah informasi. Sebab, penelitian terkait informasi tersebut, belum jelas adanya.
Di samping itu, Marudut menyarankan agar masyarakat menggunakan bahan alami yang memang mampu menurunkan kadar gula darah dan terbukti secara ilmiah.
“Kalau mau turunkan gula darah, pakai saja bahan alami yang memang terbukti di jurnal,” tuturnya.
Adapun, isu mengenai ranking sayuran anti kanker dan resep baru obat diabetes itu sudah pernah diperiksa faktanya pada tahun 2018 dalam artikel berjudul [HOAX] “INSTITUT PENCEGAHAN KANKER MENGUMUMKAN RANKING SAYURAN ANTI KANKER: …” di turnbackhoax.id yang tayang pada 9 Oktober 2018.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka konten dari akun Mayang Sari masuk ke dalam kategori Konten yang Menyesatkan.
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim tersebut tidak berasal dari IPB, sebab tidak ditemukan pernyataan resmi dari IPB mengenai ranking sayuran anti kanker. Adapun, dilansir dari kompas.com, Ketua Cancer Information and Support Center (CISC) Semarang Cahyaning Puji Astuti mengatakan, setidaknya ada sekitar 11 jenis sayuran yang terbukti ampuh untuk mencegah munculnya penyakit kanker.
“Buah-buahan dan sayuran sebenarnya jauh lebih hebat dibandingkan vitamin, namun tidak semua sayur dan buah merupakan antikanker,” katanya seusai seminar “Menyiapkan Makanan Sehat Pencegah Kanker” di RS Telogorejo, Semarang, Kamis (10/12/2009).
Naning menyebutkan, 11 sayuran pencegah kanker tersebut, di antaranya kubis, bawang putih, bawang bombai, kedelai, kunyit, teh hijau, tomat, jeruk, cokelat, dan buah-buahan beri, seperti bluberi dan stroberi.
Dari 17 daftar yang ada postingan Facebook Mayang Sari tersebut, hanya ada beberapa yang dikatakan ampuh mencegah kanker menurut CISC Semarang.
Selain itu, bagian resep baru 12 kacang panjang diblender dengan sebuah tomat sebagai obat diabetes juga keliru. Dilansir dari viva.co.id, Ahli Gizi, Dr. Marudut MPS menyatakan bahwa klaim jus kacang panjang dan tomat tersebut belum terbukti kebenarannya.
“Risetnya di mana? Sepanjang belum ada jurnal internasionalnya, ya enggak usah dipercaya,” ujarnya.
Menurut Marudut, masyarakat harus lebih jeli dalam memilah informasi. Sebab, penelitian terkait informasi tersebut, belum jelas adanya.
Di samping itu, Marudut menyarankan agar masyarakat menggunakan bahan alami yang memang mampu menurunkan kadar gula darah dan terbukti secara ilmiah.
“Kalau mau turunkan gula darah, pakai saja bahan alami yang memang terbukti di jurnal,” tuturnya.
Adapun, isu mengenai ranking sayuran anti kanker dan resep baru obat diabetes itu sudah pernah diperiksa faktanya pada tahun 2018 dalam artikel berjudul [HOAX] “INSTITUT PENCEGAHAN KANKER MENGUMUMKAN RANKING SAYURAN ANTI KANKER: …” di turnbackhoax.id yang tayang pada 9 Oktober 2018.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka konten dari akun Mayang Sari masuk ke dalam kategori Konten yang Menyesatkan.
Kesimpulan
Tidak ditemukan pernyataan resmi dari IPB terkait pengumuman tersebut. Adapun, dilansir dari kompas.com, Ketua Cancer Information and Support Center (CISC) Semarang Cahyaning Puji Astuti mengatakan, setidaknya ada sekitar 11 jenis sayuran yang terbukti ampuh untuk mencegah munculnya penyakit kanker. Naning menyebutkan, 11 sayuran pencegah kanker tersebut, di antaranya kubis, bawang putih, bawang bombai, kedelai, kunyit, teh hijau, tomat, jeruk, cokelat, dan buah-buahan beri, seperti bluberi dan stroberi.
Rujukan
- https://turnbackhoax.id/2018/10/09/hoax-institut-pencegahan-kanker-mengumumkan-ranking-sayuran-anti-kanker/
- https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/ObzVyLeb-cek-fakta-ipb-rilis-ranking-sayuran-antikanker-ini-faktanya
- https://edukasi.kompas.com/read/2009/12/10/20484971/~Kesehatan~Healthy%20Food
- https://www.viva.co.id/gaya-hidup/kesehatan-intim/878933-jus-kacang-panjang-mampu-sembuhkan-diabetes-benarkah
Halaman: 6418/7977



