(Narasi diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia)
“RUMAH SAKIT DI SELURUH AUSTRALIA KEWALAHAN OLEH PASIEN YANG ALAMI EFEK VAKSIN”
(GFD-2021-7877) [SALAH] Rumah Sakit Australia Penuh Karena Pasien Mengalami Efek Samping Vaksin
Sumber: Twitter.comTanggal publish: 21/11/2021
Berita
Hasil Cek Fakta
Beredar sebuah narasi melalui akun Twitter @RWMaloneMD yang mengatakan bahwa seluruh rumah sakit di Australia penuh. Narasi tersebut mengatakan bahwa penuhnya rumah sakit di Australia dikarenakan pasien mengalami efek samping vaksin. Dalam unggahan tersebut juga menyertakan tangkapan layar video yang diklaim merupakan McGowan, Perdana Menteri Australia Barat.
Setelah melakukan penelusuran, hal tersebut tidak benar. Melansir dari Reuters, juru bicara Pemerintah Australia Barat menjelaskan bahwa McGowan tidak mengatakan bahwa rumah sakit di Australia penuh karena pasien mengalami efek samping vaksin, melainkan karena sistem kesehatan selama pandemi secara umum.
Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh akun Twitter @RWMaloneMD tidak sesuai fakta dan masuk ke dalam kategori misleading content atau konten yang menyesatkan.
Setelah melakukan penelusuran, hal tersebut tidak benar. Melansir dari Reuters, juru bicara Pemerintah Australia Barat menjelaskan bahwa McGowan tidak mengatakan bahwa rumah sakit di Australia penuh karena pasien mengalami efek samping vaksin, melainkan karena sistem kesehatan selama pandemi secara umum.
Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh akun Twitter @RWMaloneMD tidak sesuai fakta dan masuk ke dalam kategori misleading content atau konten yang menyesatkan.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Nadine Salsabila (Universitas Diponegoro)
Hal tersebut tidak benar. Melansir dari Reuters, juru bicara Pemerintah Australia Barat menegaskan bahwa penuhnya rumah sakit adalah karena sistem kesehatan selama pandemi secara umum, bukan persoalan vaksin.
Hal tersebut tidak benar. Melansir dari Reuters, juru bicara Pemerintah Australia Barat menegaskan bahwa penuhnya rumah sakit adalah karena sistem kesehatan selama pandemi secara umum, bukan persoalan vaksin.
Rujukan
(GFD-2021-7871) [SALAH] Gambar Anak Diculik dan Dijadikan Pengemis
Sumber: facebook.comTanggal publish: 20/11/2021
Berita
Akun Facebook Slamet Mayongs memposting sebuah gambar seorang anak kecil dan seorang perempuan yang berlokasi di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT). Postingan yang diunggah pada 15 November 2021 pukul 14.11 mengklaim anak diculik dan dijadikan seorang pengemis.
Hasil Cek Fakta
Setelah ditelusuri menggunkan Yandex ditemukan gambar serupa pada salah satu artikel Merdeka.com berjudul “CEK FAKTA: Hoaks, Kabar Anak Diculik dan Dijadikan Pengemis di Sidoarjo”. Pada artikel tersebut Kapolsek Buduran Sidoarjo Kompol Samirin menjelaskan bahwa anak yang ada di foto merupakan anak tersesat dan sempat diselamatkan oleh polisi.
Anak yang bernama Hasbi Noval Ramadan tersebut ditemukan warga di jalan Raya Buduran kemudian warga mengantarkan anak tersebut ke Polsek Buduran. Setelah mendapatkan informasi alamat rumahnya di Desa Banjarkemantren Kecamatan Buduran Sidoarjo polisi lalu mengantarkanya pulang. Lebih lanjut Nyoman Dani, neneknya juga menjelaskan bahwa cucunya bukan korban penculikan.
Dengan demikian, narasi pada postingan tersebut tidak benar. Anak pada foto tersebut bukan diculik dan dijadikan pengemis tapi tersesat, sehingga hal tersebut masuk dalam kategori konteks yang salah.
Anak yang bernama Hasbi Noval Ramadan tersebut ditemukan warga di jalan Raya Buduran kemudian warga mengantarkan anak tersebut ke Polsek Buduran. Setelah mendapatkan informasi alamat rumahnya di Desa Banjarkemantren Kecamatan Buduran Sidoarjo polisi lalu mengantarkanya pulang. Lebih lanjut Nyoman Dani, neneknya juga menjelaskan bahwa cucunya bukan korban penculikan.
Dengan demikian, narasi pada postingan tersebut tidak benar. Anak pada foto tersebut bukan diculik dan dijadikan pengemis tapi tersesat, sehingga hal tersebut masuk dalam kategori konteks yang salah.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Luthfiyah Oktari Jasmien (UIN Raden Mas Said Surakarta).
Klaim pada gambar tidak benar. Faktanya, anak pada gambar tersebut bukan diculik dan dijadikan pengemis tapi anak yang tersesat.
Klaim pada gambar tidak benar. Faktanya, anak pada gambar tersebut bukan diculik dan dijadikan pengemis tapi anak yang tersesat.
Rujukan
(GFD-2021-7872) [SALAH] Penyanyi Billie Eilish Lahir di Nganjuk, Jawa Timur
Sumber: facebook.comTanggal publish: 20/11/2021
Berita
Akun Facebook dengan nama pengguna “Miftah Aziz” (https://www.facebook.com/mechanic.motordrag) dalam forum “Komunitas CS” (https://www.facebook.com/groups/1506348169741809) mengunggah sebuah narasi yang menyatakan bahwa penyanyi Billie Eilish lahir di Nganjuk, Jawa Timur. Narasi tersebut juga disertai dengan dua buah foto hasil tangkapan layer laman Wikipedia yang menyatakan bahwa Eilish berasa dari daerah Sugih Waras, Kecamatan Ngluyu, Nganjuk.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, Billie Eilish lahir di Los Angeles, Kalifornia, Amerika Serikat. Melansir dari NME, Eilish menjelaskan bahwa ia menghabiskan masa kecil di daerah Highland Park yang terletak di bagian utara Los Angeles. Hingga tahun 2020, Eilish masih tinggal di rumah masa kecilnya di Highland Park.
Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh akun Facebook dengan nama pengguna “Miftah Aziz” dalam forum “Komunitas CS” tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Dimanipulasi/Manipulated Content.
Dengan demikian, narasi yang diunggah oleh akun Facebook dengan nama pengguna “Miftah Aziz” dalam forum “Komunitas CS” tersebut dapat dikategorikan sebagai Konten yang Dimanipulasi/Manipulated Content.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini.
Faktanya, Billie Eilish lahir di Los Angeles, Kalifornia, Amerika Serikat, dan menghabiskan masa kecilnya di daerah Highland Park, Los Angeles.
Faktanya, Billie Eilish lahir di Los Angeles, Kalifornia, Amerika Serikat, dan menghabiskan masa kecilnya di daerah Highland Park, Los Angeles.
Rujukan
(GFD-2021-7873) [SALAH] Foto Batu Nisan dengan Kode QR di Jepang
Sumber: Instagram.comTanggal publish: 20/11/2021
Berita
Beredar postingan dari akun Instagram mifase.jrw berupa foto dengan beberapa batu nisan yang tertera kode QR dengan keterangan bahwa adanya kuburan yang dilengkapi dengan kode QR di Jepang sejak tahun 2008 yang jika dipindai akan menunjukan gambar identitas, informasi, dan biografi singkat dari orang tersebut. Postingan tersebut disukai 1586 kali.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan penelurusan dan melakukan pemindaian terhadap ketiga kode QR pada foto-foto batu nisan tersebut, foto pertama mengarah ke sebuah artikel dari znet.com yang berjudul “A QR code on your gravestone? It’s dead serious” sedangkan kode QR lainnya mengarah ke sebuah website dari qr-memories.com yang berisikan biografi singkat tentang Timory Howard Tuttiett. QR Memories adalah layanan yang berpusat di Dorset, Inggris untuk menyediakan kode QR pada batu nisan yang menyediakan informasi pada websitenya.
Foto pertama pada postingan setelah ditelusuri selain kode QR yang hanya mengarah ke sebuah artikel berita tetapi juga foto yang disunting. Foto batu nisan yang serupa ditemukan pada website shutterstock dengan judul “Blank gravestone with other graves and trees in background. Old stone.” oleh vyasphoto, terlihat foto tersebut tidak terdapat kode QR. Kedua foto lainnya juga ditemukan pada website yang sama dengan keterangan bahwa batu nisan tersebut berada di Dorset, Inggris milik Timoty Tuttiett.
Penggunaan kode QR pada batu nisan di Jepang memang sudah dikenal sejak tahun 2008 yang dilakukan oleh sebuah perusahaan yang bernama Ishi no Koe (Voice of the Stone) yang memberikan layanan untuk memasangkan kode QR pada batu nisan yang jika dipindai akan menampilkan foto, video, dan informasi lainnya tentang orang yang sudah meninggal tersebut.
Melihat dari penjelasan tersebut, foto batu nisan dengan kode QR di Jepang adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konteks yang Salah/False Context.
Foto pertama pada postingan setelah ditelusuri selain kode QR yang hanya mengarah ke sebuah artikel berita tetapi juga foto yang disunting. Foto batu nisan yang serupa ditemukan pada website shutterstock dengan judul “Blank gravestone with other graves and trees in background. Old stone.” oleh vyasphoto, terlihat foto tersebut tidak terdapat kode QR. Kedua foto lainnya juga ditemukan pada website yang sama dengan keterangan bahwa batu nisan tersebut berada di Dorset, Inggris milik Timoty Tuttiett.
Penggunaan kode QR pada batu nisan di Jepang memang sudah dikenal sejak tahun 2008 yang dilakukan oleh sebuah perusahaan yang bernama Ishi no Koe (Voice of the Stone) yang memberikan layanan untuk memasangkan kode QR pada batu nisan yang jika dipindai akan menampilkan foto, video, dan informasi lainnya tentang orang yang sudah meninggal tersebut.
Melihat dari penjelasan tersebut, foto batu nisan dengan kode QR di Jepang adalah tidak benar sehingga termasuk dalam kategori Konteks yang Salah/False Context.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Natalia Kristian (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Indonesia).
Konteks yang salah. Faktanya salah satu foto batu nisan tersebut adalah foto image stock dan batu nisan dengan kode QR di Dorset, Inggris.
Konteks yang salah. Faktanya salah satu foto batu nisan tersebut adalah foto image stock dan batu nisan dengan kode QR di Dorset, Inggris.
Rujukan
- https://turnbackhoax.id/2021/09/28/salah-kuburan-dengan-kode-qr-di-jepang/
- https://www.zdnet.com/article/a-qr-code-on-your-gravestone-its-dead-serious/
- https://www.qr-memories.com/timothytuttiett
- https://www.qr-memories.com/contact-us-0
- https://www.shutterstock.com/image-photo/blank-gravestone-other-graves-trees-background-1117496669
- https://www.shutterstock.com/editorial/image-editorial/company-offers-service-where-qr-code-barcodes-linking-to-tribute-website-are-placed-on-gravestones-dorset-britain-05-sep-2012-1866013b
- https://www.indiatimes.com/wild-and-wacky/connect-with-the-dead-via-grave-barcode-39106.html
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/1565/keliru-foto-foto-makam-di-jepang-telah-diberi-penanda-kode-batang
- https://www.theatlantic.com/technology/archive/2014/05/qr-codes-for-the-dead/370901/
- https://www.wired.com/2008/03/japanese-graves/
Halaman: 6374/7981



