• (GFD-2021-7935) [SALAH] Foto Pelaku Penculikan Anak di Pekanbaru

    Sumber: Facebook
    Tanggal publish: 01/12/2021

    Berita

    Sebuah foto yang diklaim pelaku penculikan anak di Pekanbaru, Riau beredar di media sosial. Foto tersebut salah satunya disebarkan salah satu akun Facebook pada 10 September 2021.

    Dalam foto tersebut, terdapat sembilan orang yang diklaim sebagai pelaku penculikan anak di Pekanbaru. Terdapat juga narasi dalam foto tersebut.

    "WASPADA PENCULIKAN ANAK

    share yaa khsus daerah pekanbaru"

    "Daerah pku," tulis salah satu akun Facebook.

    Konten yang disebarkan akun Facebook tersebut telah 8.200 kali dibagikan dan mendapat 721 respons dari warganet.

    Hasil Cek Fakta

    Cek Fakta Liputan6.com menelusuri foto yang diklaim pelaku penculikan anak di Pekanbaru, Riau. Penelusuran dilakukan dengan mengunggah foto tersebut ke situs Google Images.

    Hasilnya terdapat beberapa artikel yang membantah foto tersebut merupakan pelaku penculikan anak di Pekanbaru. Satu di antaranya artikel berjudul "Beredar Wajah Pelaku Penculikan Anak di Pekanbaru, Ini Kata Kapolresta" yang dimuat situs riau.suara.com pada 10 September 2021.

    SuaraRiau.id - Isu soal penculikan anak kembali merebak di Pekanbaru. Usai voice note WhatsApp yang berisi kabar seorang anak diculik, kini warga dihebohkan dengan wajah-wajah pelaku penculikan.

    Beredarnya foto wajah para penculik di WhatsApp membuat warga Kota Bertuah tersebut geger.

    Mendapati hal itu, Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Pria Budi menjelaskan bahwa informasi tersebut menyesatkan alias hoaks.

    "Itu hoaks, kita perlu waspada namun jangan termakan isu hoaks yang akan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat," kata Pria Budi saat dikonfirmasi SuaraRiau.id, Jumat (10/9/2021).

    Kapolresta Pria Budi mengungkapkan bahwa kasus penculikan sampai dengan hari ini di Pekanbaru tidak ada. Kabar-kabar mengenai isu tersebut dipastikan tidak benar.

    "Sampai saat ini belum ada kasus penculikan di wilayah hukum Polresta Pekanbaru," ungkapnya.

    Juga mengenai kabar viral penculikan yang terjadi di kawasan perumahan wilayah hukum Polsek Tampan beberapa waktu lalu, Pria menjelaskan bahwa hal itu belum terbukti keberaniannya.

    "Nyatanya tidak ada yg laporan anaknya diculik (sampai sekarang)," tuturnya.

    Kombes Pol Pria Budi pun menunjukan beberapa bukti bahwa informasi berisikan foto-foto pelaku penculikan di Pekanbaru itu hoaks. Ia mengirimkan link dari kominfo.go.id yang menjabarkan kebohongan berita itu.

    Dalam situs Kominfo itu, beredar postingan berupa tangkapan layar dari pesan berantai WhatsApp yang berisi foto-foto pelaku penculikan anak.

    Faktanya, selebaran foto pelaku penculikan anak itu sudah tersebar pada tahun 2018 lalu dan bukan terkait kasis penculikan anak.

    Liputan6.com juga menemukan artikel yang menjelaskan bahwa foto palsu tersebut pernah beredar pada 2018. Penyebar foto tersebut pun diamankan polisi.

    Adalah artikel berjudul "Sebar Hoax Wajah Penculik Anak di Medsos, Emak-emak Dijemput Polisi" yang dimuat situs detik.com pada 3 November 2018 lalu.

    Blitar - Polres Blitar menjemput seorang ibu yang menyebarkan hoax di akun facebooknya, bernama Zarika Oktavianti. Warga Desa Sawentar Kecamatan Kanigoro ini menggungah foto salah satu pria yang ditulis sebagai pelaku penculikan anak.

    Pihak kepolisian yang menyatakan informasi itu hoax, langsung menjemput wanita berusia 30 tahun itu di rumahnya semalam, Jumat (2/11).

    "Kami langsung jemput yang bersangkutan di rumahnya semalam untuk meminta keterangan terkait postingannya di facebook itu," kata Kapolres Blitar AKBP Anissullah M Ridha di depan wartawan di mapolres, Sabtu (3/11/2018).

    "Waspada penculikan anak wes sampe Blitar lur Wong sing tak lingkari kui wes nglabeng nang daerah Sabong Kanigoro (orang yang wajahnya saya lingkari itu sudah berkeliaran di Sambong, Kanigoro) Ciri2 ne pke jaket n topi bwa ransel (Ciri-cirinya pakai jaket dan topi membawa ransel) Moduse anak ditawari minus n dikasih uang Ttp waspada n hati2".

    Pihak kepolisian, lanjut kapolres, langsung menangani postingan yang sudah disebar ulang sebanyak 527 kali di medsos itu. Polisi memastikan jika yang bersangkutan adalah pemilik akun yang menyebarkan kabar hoax itu.

    "Hasil pemeriksaan, saudara Okvianti ini mengupload informasi tanpa pengetahuan yang cukup. Jarang mengetahui pemberitaan, hanya mengikuti media sosial saja. Sehingga ketika ada informasi yang belum tentu kebenarannya langsung responsif," ungkap kapolres.

    Polres Blitar secara persuasif menangani kasus yang juga marak terjadi di kota lain ini. Polisi menilai tindakan Okvianti ini adalah respon spontan seorang ibu yang mempunyai anak kecil. Okvianti yang masih mempunyai balita, diketahui juga sering tinggal sendirian di rumah. Suaminya yang bekerja, pulang ke rumah pada malam hari.

    Kepada detikcom, Okvianti mengaku jarang sekali nonton televisi atau membaca berita. Di sela kesibukannya merawat bayi, Okvianti lebih banyak mendapatkan informasi dari media sosial.

    "Saya dapat gambar-gambar yang dibilang penculik itu juga dari facebook. Salah satunya mirip orang yang pernah saya lihat. Jadi saya tidak tahu, kalau ternyata semua itu tidak bener," katanya dengan wajah sayu.

    Kesimpulan

    Foto yang diklaim pelaku penculikan anak di Pekanbaru, Riau ternyata tidak benar. Faktanya, foto tersebut pernah viral pada 2018 lalu dan bukan pelaku penculikan. Narasi yang disebarkan salah satu akun Facebook tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.

    Rujukan

  • (GFD-2021-7915) [SALAH] Telegram Membagikan Voucher Pulsa Gratis Bagi Pengguna Senilai Rp500 Ribu

    Sumber: Whatsapp.com
    Tanggal publish: 30/11/2021

    Berita

    “Assalamualaikum kk🙏🏻Kami dari layanan ID. Telegram Indonesia.
    Selamat, nomor ponsel kakak yang terdaftar di TELEGRAM nya mendapatkan apresiasi dari kantor TELEGRAM
    Berhak terima Bonus voucher pulsa gratis dari TELEGRAM senilai Rp.500.000.-
    Dalam rangka meningkatkan pengguna aplikasi TELEGRAM
    Yang sudah mencapai 500 jt+ pengguna.
    Balas OK untuk SETUJU.
    (No SN 02327400000593253875)”
    Pulsa 500.000 dari telegram

    Hasil Cek Fakta

    Beberapa waktu lalu sempat beredar informasi melalui pesan WhatsApp terkait dengan pemberian voucher pulsa gratis bagi para pengguna aplikasi Telegram. Pesan tersebut dikirimkan secara personal oleh sebuah nomor WhatsApp dengan mengatasnamakan bahwa nomor tersebut ialah nomor resmi dari pihak Telegram. Selain itu, nomor tersebut pula menggunakan foto profil berupa lambang aplikasi Telegram, sehingga hal tersebut membuat pihak yang dihubunginya lebih yakin atas kebenaran informasi yang disampaikan oleh pihak yang mengatasnamakan Telegram tersebut.

    Lalu pada isi pesan yang dibagikan, nomor WhatsApp yang mengatasnamakan Telegram itupun memberitahukan bahwa pihak yang dihubunginya telah berhasil mendapatkan hadiah berupa voucher pulsa gratis senilai Rp500 ribu, dan voucher tersebut dapat diterima apabila pihak yang dihubungi membalas “OK”. Setelah pihak yang dihubungi sebelumnya telah membalas “OK”, maka pihak yang mengatasnamakan Telegram itupun akan membagikan sebuah link agar pihak yang dihubungi dapat melakukan konfirmasi dengan cara memasukkan kode verifikasi Telegram yang telah dikirimkan melalui SMS.

    Melansir dari liputan6.com, Deputy Client Manager Edelman Indonesia (Perusahaan biro konsultansi pemasaran dan hubungan masyarakat) mewakili Telegram, Ricky Alexander mengatakan bahwa informasi terkait dengan pembagian voucher pulsa senilai Rp500 ribu dari pihak Telegram kepada pegguna ialah informasi yang tidak benar. Ia juga menegaskan bahwa pihak Telegram tidak akan approach kepada pengguna memalui WhatsApp seperti itu kalaupun pihak Telegram secara resmi membagikan voucher pulsa gratis bagi pengguna.

    Selain itu, melansir dari turnbackhoax.id, informasi salah terkait Telegram membagikan voucher pulsa kepada penggunanya juga telah ada sebelumnya, baik itu dengan nominal yang sama, yaitu sebesar Rp500 ribu ataupun dengan nominal yang berbeda, misalnya seperti Rp300 ribu.

    Lalu terkait dengan kode verifikasi yang dimiliki oleh pengguna Telegram juga sifatnya sangat rahasia, sehingga ketika pihak Telegram membagikan kode verifikasi tersebut kepada masing-masing akun, maka pengguna diimbau untuk tidak membagikan kode tersebut kepada siapapun. Melansir dari kompas.com, kode verifikasi yang terdiri dari lima angka tersebut adalah kode login ketika seseorang berusaha membuka akun Telegram orang lain dari perangkat lain, misalnya seperti dari komputer atau ponsel. Fungsi kode tersebut pun ialah untuk melakukan verifikasi keaslian dan keamanan pemilik akun saat membuka Telegram dari perangkat lain.

    Biasanya para pelaku penipuan akan meminta kode tersebut untuk meretas akun Telegram orang lain agar dapat meretas nomor-nomor kontak kerabat yang tersimpan di dalam ponsel seseorang. Lalu pelaku penipuan akan memanfaatkan nomor kontak tersebut untuk melakukan aksi kejahatan, misalnya seperti meminjam uang kepada orang-orang yang ada pada kontak pemilik akun dengan mengatasnamakan pemilik akun yang sebelumnya telah diretas.

    Berdasarkan pada seluruh referensi, informasi terkait Telegram Membagikan Voucher Pulsa Gratis Bagi Pengguna Senilai Rp 500 Ribu ialah informasi salah dan masuk ke dalam kategori konten palsu.

    Kesimpulan

    Berdasarkan Hasil Periksa Fakta Novita Kusuma Wardhani (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta). Informasi tersebut salah. Deputy Client Manager Edelman Indonesia mewakili Telegram, Ricky Alexander mengatakan bahwa informasi pembagian voucher pulsa oleh Telegram senilai Rp500 ribu itu tidak benar.

    Rujukan

  • (GFD-2021-7916) [SALAH] Jepang Menggunakan Ivermectin dan Menghentikan Vaksin untuk Memberantas Virus Covid-19

    Sumber: Media Online
    Tanggal publish: 30/11/2021

    Berita

    “ Japan drops vax rollout, goes to Ivermectin, ENDS COVID almost overnight

    The ongoing COVID-19 nonsense here in the United States exists solely and exclusively because our governments have failed to use the correct treatment. They used so-called “vaccines” when Japan has just proven, in less than ONE MONTH, that Ivermectin can wipe out the disease.”

    Hasil Cek Fakta

    Beberapa waktu lalu sempat beredar informasi yang dimuat dalam salah satu media online bernama Hal Turner Radio show yang menjelaskan tentang keberhasilan Jepang untuk menangani Covid-19 selama satu bulan dengan menggunakan Ivermectin sebagai obat yang diklaim mampu melenyapkan Covid-19 di Jepang. Dikatakan pula bahwa Pemerintah Jepang juga telah memberhentikan distribusi dan penggunaan vaksin di Jepang karena telah beralih untuk menggunakan Ivermectin sebagai obat yang digunakan untuk mengobati Covid-19.

    Melansir dari japan.kantei.go.jp, yaitu situs web Kantor Perdana Menteri Jepang, Pemerintah Jepang hingga tanggal 21 November 2021 masih memberikan dosis vaksin kepada seluruh masyarakat Jepang, baik itu dosis vaksin pertama maupun dosis vaksin kedua. Selain itu, melansir dari ourworldindata.org, yaitu situs publikasi online ilmiah yang berfokus pada masalah global besar seperti kemiskinan, penyakit, kelaparan, perubahan iklim, perang, risiko eksistensial, dan ketidaksetaraan. Penerima vaksin di Jepang terus mengalami peningkatan, bahkan apabila dibandingkan dengan persentse pada satu minggu sebelumnya, yaitu pada tanggal 14 November 2021, penerima dosis vaksin di Jepang berada pada angka 78.7%, tetapi pada tanggal 21 November 2021 persentasenya meningkat mejadi 79.0%. Hal tersebut menandakan bahwa Pemerintah Jepang masih memberikan dosis vaksin bagi masyarakatnya.

    Melansir dari factcheck.afp.com, juru bicara PMDA mengatakan bahwa uji coba klinis Ivermectin masih dilakukan. Tetapi Ivermectin tidak terdaftar sebagai obat yang digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh infeksi SARS-CoV-2 (COVID-19). Lalu, Menteri Kesehatan Jepang, Norihisa Tamura juga mengatakan bahwa perlu lebih banyak bukti untuk menunjukkan bahwa Ivermectin efektif untuk dapat diresepkan sebagai obat untuk mengobati Covid-19.

    Berdasarkan pada seluruh referensi, informasi terkait jepang menggunakan Ivermectin dan menghentikan vaksin untuk memberantas virus covid-19 ialah informasi salah dan masuk ke dalam kategori konten yang menyesatkan.

    Kesimpulan

    Berdasarkan Hasil Periksa Fakta Novita Kusuma Wardhani (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta). Informasi tersebut salah. Faktanya, dalam Japanese Pharmaceutical and Medical Devices Agency (PMDA), yaitu sebuah badan yang bertugas untuk mengawasi regulasi obat-obatan di Jepang. Ivermectin tidak terdaftar sebagai obat yang digunakan untuk menyembuhkan Covid-19.

    Rujukan

  • (GFD-2021-7917) [SALAH] Link Hadiah Pospay (Pos Indonesia)

    Sumber: Tangkapan Layar Tautan Link
    Tanggal publish: 30/11/2021

    Berita

    link mengatasnamakan Pospay yang merupakan layanan pembayaran milik Pos Indonesia

    Hasil Cek Fakta

    Beredar sebuah link mengatasnamakan Pospay yang merupakan layanan pembayaran milik Pos Indonesia. Link tersebut membagikan hadiah dengan cara mengisi data pada sebuah form yang terdapat pada link tersebut.

    Setelah ditelusuri pada Instagram resmi Pos Indonesia ditemukan klarifikasi langsung bahwa link yang mengatasnamakan Pospay dengan modus membagikan hadiah adalah link palsu. Masyarakat diminta waspada terhadap link palsu yang mengatasnamakan Pos Indonesia dengan dan selalu cek kebenaran melalui akun resmi Pos Indonesia terverifikasi, website resmi www.posindonesia.co.id atau telepon Halopos 1500 161.

    “? WASPADA PENIPUAN!

    Sahabat, kamu harus selalu waspada ya~ terhadap link palsu, mengatasnamakan Pos Indonesia dengan modus hadiah, contohnya ini!

    Kamu harus selalu cek kebenarannya~ bisa via DM akun official Pos Indonesia, cek website resmi di www.posindonesia.co.id atau telepon Halopos 1500 161

    Di ingat selalu ya Sahabat, Waspadalah … waspadalah ?
    .
    . #PosIndonesia #BeritaHoax #Hoax #Penipuan #InfoPos Deliveryourlove.”, bunyi pernyataan Pos Indonesia dalam akun Instagram resmi @posindonesia.ig.

    Dengan demikian link hadiah dari Pospay merupakan hoaks, sehingga masuk dalam konten palsu.

    Kesimpulan

    hasil periksa fakta Rahmah A N (UIN Sunan Ampel Surabaya)

    Link tersebut palsu, Pos Indonesia melalui akun Instagram resminya mengunggah pernyataan bahwa Informasi yang beredar merupakan penipuan atau hoaks. informasi resmi hanya melalui ke akun-akun resmi Pos Indonesia, website resmi di www.posindonesia.co.id atau telepon Halopos 1500 161.

    Rujukan