• (GFD-2022-9082) Keliru, Taliban Melarang dan Menginjak-injak Ponsel Warga Afghanistan dengan Kaki

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 27/01/2022

    Berita


    Salah satu akun Twitter mengunggah video yang diklaim Taliban melarang dan merusak ponsel beredar di media sosial pada 24 Januari 2022. 
    Video berdurasi 22 detik itu menampakkan sejumlah aparat berseragam abu-abu gelap dan bersenjata, menginjak gunungan ponsel. 
    Foto itu disertai narasi: “Di Afghanistan dilarang keras pakek HP sama Taliban. Noh, HP diinjek-injek pakek kaki.”
    tangkapan cuitan dan video dengan klaim Taliban Melarang dan Menginjak-injak Ponsel Warga Afghanistan dengan Kaki

    Hasil Cek Fakta


    Untuk memeriksa fakta atas video itu, Tempo memfragmentasi video menjadi sejumlah gambar dengan InVID. Dari penelusuran gambar, Tempo mendapatkan video berdurasi lebih panjang, berisi bagian video yang sama.
    Video itu pernah dipublikasikan di kanal Youtube Muhammad Fayyaz vlogs pada 1 Januari 2022, berjudul Custom Walo Ki Karwai in Hyderabad , Custom in Action Hyderabad Sindh Karachi Samaglaar Shudaa chize.
    Dalam video berdurasi 1 menit 17 detik itu, terlihat tidak hanya tumpukan ponsel yang berserak di tanah. Melainkan juga banyak botol yang mirip minuman keras. 
    Tempo menelusuri nama tempat Hyderabad Sindh dan Karachi dalam judul video itu. Menurut kamus Britannica, Hyderabad Sindh adalah salah satu kota di Provinsi Sindh, Pakistan. Sedangkan Karachi adalah ibu kota Provinsi Sindh, Pakistan selatan.
    Dengan petunjuk itu, Tempo membandingkan dengan pemberitaan media di Pakistan. Video yang identik pernah dipublikasikan Daily City News Karachi pada 30 Desember 2021. Media tersebut menyebut bahwa peristiwa dalam video itu adalah saat petugas Bea Cukai Pakistan menghancurkan sejumlah besar barang selundupan di Karachi.
    Petugas Bea Cukai Pakistan menghancurkan sejumlah besar barang selundupan di Karachi. Sumber: Youtube Daily City News Karachi
    Dalam video yang dimuat Daily City News Karachi terlihat, warna dan corak seragam dan topi yang digunakan beberapa petugas, sama dengan video yang tersebar di Twitter. Jejeran botol dan crane atau alat berat di belakang para petugas, juga sama dengan video dari Twitter.
    Situs Tribune Pakistan juga menulis, Bea Cukai Pakistan menghancurkan barang-barang selundupan senilai Rs 2,5 miliar di akhir Desember 2021. Barang-barang itu diselundupkan dari Iran dan Afghanistan melalui Balochistan dan melalui Sabuk Selatan dari Uni Emirat Arab melalui laut, Barang-barang itu lalu dimasukkan dari pelabuhan Karachi. 
    Tempo juga mendapatkan keterangan dari situs media The International News Pakistan. Barang-barang yang dimusnahkan, menurut situs tersebut adalah berbagai jenis minuman keras (16.732 botol dan 38.000 kaleng), rokok palsu, 39.470 handphone, obat-obatan dan makanan kadaluarsa lainnya.  

    Kesimpulan


    Dari pemeriksaan fakta di atas, video yang diklaim Taliban melarang dan menginjak-injak ponsel warga Afghanistan dengan kaki adalah keliru. Video tersebut tidak terjadi di Afghanistan maupun oleh Taliban. Video tersebut adalah proses pemusnahan barang selundupan oleh petugas bea cukai Pakistan di Karachi pada 29 Desember 2021. 
    Tim Cek Fakta Tempo

    Rujukan

  • (GFD-2022-9083) [SALAH]: Mengonsumsi Kopi Pahit Dapat Mengatasi Varian Omicron

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 27/01/2022

    Berita

    Akun Facebook bernama Fani Ira mengunggah postingan berupa narasi informasi yang menyebutkan bahwa meminum 2-3 gelas air putih hangat dan setelah 5 menit kemudian minum 1 cangkir kopi panas tanpa gula dapat menyembuhkan varian Covid-19 Omicron. Karena kopi diklaim mampu meningatkan dorongan untuk buang air kecil, sehingga virus corona akan terbuang bersama air seni yang dikeluarkan
    2. Air gula dan omicron
    Kopi tanpa gula
    Kopi pahit obat omicron

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan penelusuran, Ahli patologi klinis Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Tonang Dwi Ardyanto mengatakan, klaim minum kopi pahit dapat mengatasi varian Omicron adalah tidak benar.

    “Berita tersebut adalah tidak benar. Justru berisiko tinggi. Terutama bila orangnya memang berespons kuat terhadap kopi,” kata Tonang saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (27/1/2022).

    Tonang menjelaskan, kopi memang mengandung kafein dan bersifat diuretik sehingga mendorong lebih banyak produksi urin. Seberapa derajatnya, tergantung respons masing-masing orang terhadap kopi.

    Namun, bagi mereka yang memiliki respons kuat bahkan cenderung berlebih terhadap kopi, maka respons diuretiknya juga bisa berat. “Dapat terjadi dehidrasi bahkan bila makin berat, dapat memicu kerusakan ke ginjal dan saluran kemih,” kata Tonang.

    Selain itu, Tonang juga menyebutkan bahwa cara membersihkan virus corona melalui saluran kemih juga bukan cara yang tepat. Ia mengatakan, virus penyebab Covid-19 itu berada di saluran napas, dan menyebar ke paru-paru. Tidak lewat saluran darah atau saluran kemih.

    Menurutnya, sebagian kecil virus corona memang bisa sampai ke pembuluh darah atau saluran cerna, tetapi itu adalah proses lanjut dan cenderung sedikit sekali.

    Kesimpulan

    Informasi menyesatkan. kopi memang mengandung kadar kafein tinggi dan bersifat diuretik yang mendorong lebih banyak produksi urin. Namun klaim minum kopi pahit dapat mengatasi varian Omicron adalah tidak benar.

    Rujukan

  • (GFD-2022-9072) [SALAH] Omicron Tidak Mematikan

    Sumber: Youtube.com
    Tanggal publish: 26/01/2022

    Berita

    Beredar sebuah video yang dibagikan pada akun Youtube Siti Fadillah Supari Channel pada 18 Januari 2022. Dalam video tersebut pada menit ke 12:03 mantan menteri kesehatan Siti Fadillah menyebutkan bahwa virus covid-19 varian omicron tidak mematikan.

    Narasi:
    Om!cr*n Akan TIngkatkan Kekebalan, Akhiri P417d3m*

    pernyataan ekstrim menkes
    Siti fadilah omicron
    Pernyataan siti fadilah sufari tentang omicron
    Video omicron

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, virus covid19 varian omicron tetap berbahaya walaupun dengan gejala lebih ringan dibandingkan dengan varian pendahulunya.

    Dilansir dari REPUBLIKA.co.id varian ini memiliki mekanisme memasuki sel dengan berbeda. Omicron menginfeksi lebih banyak sel pernapasan bagian atas dan lebih sedikit paru-paru. Semua perbedaan ini pada tingkat sel mungkin membantu menjelaskan mengapa gejalanya tidak separah Delta.

    Kepala WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan rekor jumlah orang yang tertular omicron telah membuat sistem kesehatan di bawah tekanan berat. “Meskipun omicron tampaknya tidak terlalu parah dibandingkan dengan Delta, terutama pada mereka yang divaksinasi, itu tidak berarti harus dikategorikan sebagai ringan,” kata Dr Tedros.

    “Omicron tetap akan membuat banyak orang meninggal karena sangat menular,” kata Jason Salemi selaku ahli epidemiologi dari University of South Florida.

    Dengan demikian, klaim bahwa varian omicron tidak mematikan merupakan pernyataan yang kurang tepat. Varian omicron tetap berbahaya dan jauh lebih mudah penularannya serta memiliki potensi kematian bagi penderitanya, sehingga klaim tersebut masuk ke dalam kategori konteks yang salah.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Arief Putra Ramadhan

    Bukan tidak mematikan, virus omicron tetap berbahaya dan mudah penularannya seperti varian sebelumnya serta memiliki potensi kematian bagi penderitanya.

    Rujukan

  • (GFD-2022-9073) [SALAH] “#StopVaccineForTheKids Apa urgensinya?”

    Sumber: Twitter.com
    Tanggal publish: 26/01/2022

    Berita

    “#StopVaccineForTheKids
    Apa urgensinya?

    Melihat adik ini sangat ketakutan menghindari utk di vaksin, ada rasa geram pada kebijakan pemerintah.

    Mereka generasi penerus langgengnya Republik ini yg harus dilindungi. Bukan manusia impor dari China yang tidak punya jiwa negeri ini”.

    Hasil Cek Fakta

    SUMBER membagikan video rekaman peristiwa yang terjadi pada tahun 2017 berkaitan dengan Imunisasi Rubella memanfaatkan momen vaksinasi COVID-19 untuk anak-anak, sehingga membangun kesimpulan KELIRU. Salah satu foto dengan frame video yang identik, detikHealth pada 16 Agustus 2017: “Sebuah video viral di media sosial menunjukkan apa yang terjadi ketika seorang guru pria berusaha membujuk murid perempuan yang tidak mau diimunisasi.”

    Kesimpulan

    Memanfaatkan momen vaksinasi COVID-19 untuk anak-anak. Faktanya, video yang dibagikan TIDAK berkaitan dengan vaksinasi COVID-19. Peristiwa tahun 2017, berkaitan dengan Imunisasi Rubella.

    Rujukan