‼️‼️‼️‼️‼️‼️‼️‼️‼️‼️
TOLONG DIBACA SAMPAI SELESAI HAL DIBAWAH INI (PENTING..!!!).
Corona Virus adalah BOHONG...bukan dari Virus tapi dari Bakteri....semua ini diketahui oleh negara Itali..setelah mereka MENG-AUTOPSI JENAZAH KORBAN CORONA...
Ternyata CINA dan WHO menyuruh langsung dikubur dgn ditakut- takuti tertular Covid 19...padahal tujuan mereka supaya mayat tidak diautopsi.....yg berani melakukannya hanya ITALIA..dan ternyata diketahui oleh para ahli kedokteran, penyebabnya kematian adalah oleh bakteri (bukan Virus), dimana bakteri tersebut membuat pembuluh darah melebar dan membeku..maka langsung diketahui obatnya...setelah diminumkan obat tersebut kpd 1400 orang yg positif covid...langsung sembuh (baca dibawah ini akan diberitahu obatnya, ternyata diapotik kita banyak sekali)
Pantas Presiden Trump mengatakan : WHO menjadi boneka CINA
(mari kita baca dibawah ini) 👇🏽👇🏽
CINA dan WHO..BERBOHONGI TENTANG COVID -19
Cina dan WHO menipu dgn mengatakan bahwa covid 19 adalah Virus dan menganjurkan supaya semua org yg terjangkit utk memakai ventilator (spy semua negara membeli alat ini).
‼️WHO melarang semua negara utk melakukan autopsi terhadap mayat Covid dgn alasan akan tertular.
‼️‼️Tapi ITALIA tdk perduli, mereka tetap melakukan Autopsi dan mendapatkan kenyataan, ternyata BUKAN VIRUS YG MENYEBABKAN KEMATIAN, TETAPI BAKTERI YG MENYEBABKAN PEMBULUH DARAH MELEBAR DAN MEMBEKU.
🔥🔥DI ITALIA Obat untuk CORONA VIRUS AKHIRNYA DITEMUKAN
Dokter Italia, tidak mematuhi hukum kesehatan dunia WHO, untuk tidak melakukan otopsi pada kematian Coronavirus dan mereka menemukan bahwa BUKANLAH VIRUS, tetapi BAKTERI lah yang menyebabkan kematian. Ini menyebabkan gumpalan darah terbentuk dan menyebabkan kematian pasien.
‼️Italia mengalahkan apa yang disebut Covid-19, yang tidak lain adalah "Koagulasi intravaskular diseminata" (Trombosis)
🔻 Dan cara untuk memeranginya, yaitu, penyembuhannya, adalah dengan "antibiotik, anti-inflamasi, dan antikoagulan".
Berita sensasional ini untuk dunia telah diproduksi oleh dokter Italia dengan melakukan otopsi pada mayat yang meninggal karena Covid-19.
‼️Menurut ahli patologi Italia. "Ventilator dan unit perawatan intensif TIDAK PERNAH DI BUTUHKAN”
Oleh karena itu perubahan protokol pandemi global di Italia, ‼️‼️terungkap, penyembuhan ini, sudah diketahui oleh Negara Cina dan tidak melaporkan hanya UNTUK MELAKUKAN BISNIS.
(Sumber: Kementerian Kesehatan Italia.)
catatan :
Bagikan ini ke seluruh keluarga, lingkungan, kenalan, teman, kolega, rekan kerja ... dll. dll ... dan lingkungannya secara umum ...:
Jika mereka terkena Covid-19 ... yang bukan Virus seperti yang mereka yakini, tetapi bakteri ... diperkuat dengan radiasi elektromagnetik 5G yang juga menghasilkan peradangan dan hipoksia.
Mereka akan melakukan hal berikut:
Mereka akan minum *Aspirin 100mg dan Apronax atau Paracetamol...‼️‼️
Mengapa? ... karena telah ditunjukkan bahwa apa yang dilakukan Covid-19 adalah menggumpalkan darah, menyebabkan orang tersebut mengembangkan trombosis dan darah tidak mengalir dan tidak mengoksigenasi jantung dan paru-paru dan orang tersebut mati dengan cepat karena tidak bisa bernafas.
‼️‼️Di Italia mereka mengacaukan protokol WHO dan melakukan otopsi pada mayat yang meninggal karena Covid-19 ... mereka memotong tubuh, membuka lengan, kaki dan bagian tubuh lainnya dan menyadari bahwa pembuluh darahnya melebar dan membeku, semua pembuluh darah dan arteri dipenuhi dengan trombosis, mencegah darah mengalir secara normal dan membawa oksigen ke semua organ, terutama otak, jantung dan paru-paru, dan pasien akhirnya sekarat,
Setelah mengetahui diagnosis ini, Kementerian Kesehatan Italia segera mengubah protokol pengobatan Covid-19 ... dan mulai memberikan kepada pasien positif mereka *Aspirin 100mg dan Apronax atau Paracetamol...,
hasilnya : pasien mulai pulih dan hadir perbaikan dan Departemen Kesehatan merilis dan mengirim pulang lebih dari 14.000 pasien dalam satu hari.
URGENT: mereka telah berbohong kepada kami, dengan pandemi ini, satu-satunya hal yang dikatakan oleh presiden kami setiap hari adalah data dan statistik tetapi tidak memberikan informasi ini untuk menyelamatkan warga negara, adalah bahwa Ini juga akan terancam oleh para elit? ...
kita tidak tahu, tiba-tiba semua pemerintah dunia, tetapi Italia melanggar norma ... karena mereka sudah kewalahan dan dalam kekacauan serius karena kematian sehari-hari ..., sekarang WHO. ..akan digugat di seluruh dunia, karena menutupi begitu banyak kematian dan jatuhnya ekonomi banyak negara di dunia ... sekarang dipahami mengapa perintah untuk MEMBEBASKAN atau segera mengubur mayat-mayat tanpa otopsi ... dan menamakannya sebagai sangat berpolusi.
Di tangan kita untuk membawa kebenaran dan harapan menyelamatkan banyak nyawa ....
Itulah sebabnya gel anti bakteri bekerja dan klorindioksida ... Seluruh PANDEMI adalah karena mereka ingin vaksinasi dan chip untuk membunuh massa untuk mengendalikan mereka dan mengurangi Populasi Dunia.
SEMOGA TUHAN MENYELAMATKAN KAMI ujar negara Itali
💉💉💉💉💉
DI ITALIA OBAT CORONA VIRUS AKHIRNYA DITEMUKAN
Corona bukan virus melainkan bakteri apakah benar
menurut para ahli italia, corona bukan virus..??
(GFD-2020-4062) [SALAH] “Corona Virus adalah BOHONG. bukan dari Virus tapi dari Bakteri. semua ini diketahui oleh negara Itali”
Sumber: whatsapp.comTanggal publish: 06/06/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Beredasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa Italia mengetahui Corona Virus adalah bohong bukan dari virus tapi dari bakteri adalah klaim yang salah.
Menurut situs resmi Kementerian Kesehatan Italia , dijelaskan bahwa virus korona baru (covid-19) adalah keluarga besar virus yang diketahui menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).
Covid-19 adalah virus RNA untai positif dengan penampilan seperti mahkota di bawah mikroskop elektron. Orthocoronavirinae subfamili dari keluarga Coronaviridae selanjutnya diklasifikasikan ke dalam empat genera coronavirus (CoV): Alpha-, Beta-, Delta-, dan Gammacoronavirus. Genus Betacoronavirus selanjutnya dibagi menjadi lima subgenera (termasuk Sarbecovirus)
Virus korona diidentifikasi pada pertengahan 1960-an dan diketahui menginfeksi manusia dan berbagai hewan (termasuk burung dan mamalia). Sel epitel di saluran pernapasan dan saluran pencernaan adalah sel target utama. Sampai saat ini, ada tujuh jenis virus korona yang telah terbukti menginfeksi manusia.
Merujuk USA Today, setelah virus Korona baru diidentifikasi oleh otoritas Tiongkok pada 7 Januari 2020, sejak itu Kementerian Kesehatan Italia belum mengumumkan penemuan obat atau mengubah pendiriannya tentang apa yang menyebabkan covid-19. Covid-19 dianggap sebagai penyakit yang disebabkan virus dan menjelaskan bahwa antibiotik adalah pengobatan yang tidak efektif karena covid-19 disebabkan oleh virus bukan bakteri.
Masih dari sumber yang sama, WHO juga tidak melarang otopsi pasien covid-19. WHO dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) merilis pedoman bagi petugas kesehatan untuk melakukan otopsi secara aman terhadap pasien COVID-19 yang terkonfirmasi.
Untuk klaim bahwa “DI ITALIA Obat untuk CORONA VIRUS AKHIRNYA DITEMUKAN dan seterusnya, pada tanggal 26 Mei 2020, sudah pernah dibuatkan artikel periksa fakta di turnbackhoax.id di artikel berjudul “[SALAH] “Italia mengalahkan COVID-19 “Koagulasi intravaskular diseminata” (Trombosis)”.
Antibiotik, di sisi lain, tidak direkomendasikan pada pasien dengan Covid-19 karena penyakit ini disebabkan oleh virus dan antibiotik digunakan untuk mencegah atau mengobati infeksi bakteri.
Namun, akan salah untuk menyarankan bahwa perawatan untuk trombosis saja dapat membantu menyembuhkan Covid-19 . Banyak yang masih belum diketahui tentang virus dan sejauh ini tidak ada pengobatan atau antivirus yang telah dikenal luas sebagai efektif terhadap Covid-19.
Beberapa penelitian memang menemukan pasien Covid-19 yang mengalami trombosis. Namun, menyimpulkan bahwa pasien Covid-19 meninggal hanya karena trombosis keliru. Selain trombosis, pasien Covid-19 kebanyakan meninggal karena pneumonia dan gagal napas.
Menurut WHO, sekitar 80 persen penderita Covid-19 akan sembuh tanpa memerlukan perawatan rumah sakit. Tapi satu dari enam penderita bakal mengalami sakit yang parah. Dikutip dari BBC, dalam kasus yang parah ini, virus akan menyebabkan kerusakan pada paru-paru sehingga kadar oksigen dalam tubuh menurun dan membuat penderita sulit bernapas. Untuk meringankan kasus ini, ventilator digunakan untuk mendorong udara, dengan meningkatkan kadar oksigen, ke paru-paru.
Selain itu, ventilator memiliki pelembab udara, yang menambah panas dan kelembaban pada pasokan udara sehingga sesuai dengan suhu tubuh pasien. Pasien pun diberi obat untuk mengendurkan otot-otot pernapasan sehingga napas mereka dapat sepenuhnya diatur oleh mesin. Pasien dengan gejala lebih ringan dapat diberi corong yang dikenal sebagai ventilasi non-invasif, karena tidak memerlukan pipa internal. Bentuk ventilasi lainnya adalah tekanan saluran napas positif kontinyu (CPAP).
Dilansir dari India Today, berdasarkan penjelasan para praktisi kesehatan senior, tidak semua pasien Covid-19 membutuhkan ventilator dan ICU. Mereka yang membutuhkan ventilator dan ICU adalah pasien Covid-19 dengan kondisi kritis atau mengalami kegagalan multi-organ. Sergio Harasi, Direktur Unit Operasi Pneumologi Rumah Sakit San Giuseppe Italia, mengatakan, “Sebagian besar kematian Covid-19 disebabkan oleh pneumonia interstisial dan gagal napas. Klaim bahwa pasien tidak seharusnya diintubasi patut dipertanyakan.”
Menurut situs resmi Kementerian Kesehatan Italia , dijelaskan bahwa virus korona baru (covid-19) adalah keluarga besar virus yang diketahui menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).
Covid-19 adalah virus RNA untai positif dengan penampilan seperti mahkota di bawah mikroskop elektron. Orthocoronavirinae subfamili dari keluarga Coronaviridae selanjutnya diklasifikasikan ke dalam empat genera coronavirus (CoV): Alpha-, Beta-, Delta-, dan Gammacoronavirus. Genus Betacoronavirus selanjutnya dibagi menjadi lima subgenera (termasuk Sarbecovirus)
Virus korona diidentifikasi pada pertengahan 1960-an dan diketahui menginfeksi manusia dan berbagai hewan (termasuk burung dan mamalia). Sel epitel di saluran pernapasan dan saluran pencernaan adalah sel target utama. Sampai saat ini, ada tujuh jenis virus korona yang telah terbukti menginfeksi manusia.
Merujuk USA Today, setelah virus Korona baru diidentifikasi oleh otoritas Tiongkok pada 7 Januari 2020, sejak itu Kementerian Kesehatan Italia belum mengumumkan penemuan obat atau mengubah pendiriannya tentang apa yang menyebabkan covid-19. Covid-19 dianggap sebagai penyakit yang disebabkan virus dan menjelaskan bahwa antibiotik adalah pengobatan yang tidak efektif karena covid-19 disebabkan oleh virus bukan bakteri.
Masih dari sumber yang sama, WHO juga tidak melarang otopsi pasien covid-19. WHO dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) merilis pedoman bagi petugas kesehatan untuk melakukan otopsi secara aman terhadap pasien COVID-19 yang terkonfirmasi.
Untuk klaim bahwa “DI ITALIA Obat untuk CORONA VIRUS AKHIRNYA DITEMUKAN dan seterusnya, pada tanggal 26 Mei 2020, sudah pernah dibuatkan artikel periksa fakta di turnbackhoax.id di artikel berjudul “[SALAH] “Italia mengalahkan COVID-19 “Koagulasi intravaskular diseminata” (Trombosis)”.
Antibiotik, di sisi lain, tidak direkomendasikan pada pasien dengan Covid-19 karena penyakit ini disebabkan oleh virus dan antibiotik digunakan untuk mencegah atau mengobati infeksi bakteri.
Namun, akan salah untuk menyarankan bahwa perawatan untuk trombosis saja dapat membantu menyembuhkan Covid-19 . Banyak yang masih belum diketahui tentang virus dan sejauh ini tidak ada pengobatan atau antivirus yang telah dikenal luas sebagai efektif terhadap Covid-19.
Beberapa penelitian memang menemukan pasien Covid-19 yang mengalami trombosis. Namun, menyimpulkan bahwa pasien Covid-19 meninggal hanya karena trombosis keliru. Selain trombosis, pasien Covid-19 kebanyakan meninggal karena pneumonia dan gagal napas.
Menurut WHO, sekitar 80 persen penderita Covid-19 akan sembuh tanpa memerlukan perawatan rumah sakit. Tapi satu dari enam penderita bakal mengalami sakit yang parah. Dikutip dari BBC, dalam kasus yang parah ini, virus akan menyebabkan kerusakan pada paru-paru sehingga kadar oksigen dalam tubuh menurun dan membuat penderita sulit bernapas. Untuk meringankan kasus ini, ventilator digunakan untuk mendorong udara, dengan meningkatkan kadar oksigen, ke paru-paru.
Selain itu, ventilator memiliki pelembab udara, yang menambah panas dan kelembaban pada pasokan udara sehingga sesuai dengan suhu tubuh pasien. Pasien pun diberi obat untuk mengendurkan otot-otot pernapasan sehingga napas mereka dapat sepenuhnya diatur oleh mesin. Pasien dengan gejala lebih ringan dapat diberi corong yang dikenal sebagai ventilasi non-invasif, karena tidak memerlukan pipa internal. Bentuk ventilasi lainnya adalah tekanan saluran napas positif kontinyu (CPAP).
Dilansir dari India Today, berdasarkan penjelasan para praktisi kesehatan senior, tidak semua pasien Covid-19 membutuhkan ventilator dan ICU. Mereka yang membutuhkan ventilator dan ICU adalah pasien Covid-19 dengan kondisi kritis atau mengalami kegagalan multi-organ. Sergio Harasi, Direktur Unit Operasi Pneumologi Rumah Sakit San Giuseppe Italia, mengatakan, “Sebagian besar kematian Covid-19 disebabkan oleh pneumonia interstisial dan gagal napas. Klaim bahwa pasien tidak seharusnya diintubasi patut dipertanyakan.”
Kesimpulan
Menurut situs resmi Kementerian Kesehatan Italia , dijelaskan bahwa virus korona baru (covid-19) adalah keluarga besar virus yang diketahui menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih serius seperti MERS dan SARS.
Rujukan
- https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/zNAYn8eN-cek-fakta-italia-buktikan-covid-19-bukan-virus-melainkan-bakteri
- http://www.salute.gov.it/portale/nuovocoronavirus/dettaglioFaqNuovoCoronavirus.jsp?lingua=english&id=230#1
- https://www.usatoday.com/story/news/factcheck/2020/05/29/fact-check-covid-19-caused-virus-not-bacteria/5277398002/
- https://turnbackhoax.id/2020/05/26/salah-italia-mengalahkan-covid-19-koagulasi-intravaskular-diseminata-trombosis/
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/798/fakta-atau-hoaks-benarkah-dokter-italia-temukan-sebab-kematian-covid-19-adalah-bakteri-bukan-virus
(GFD-2020-5092) [SALAH] Kapan FPI Memenuhi Janji Bunuh Diri Massal
Sumber: facebook.comTanggal publish: 06/06/2020
Berita
Akun Facebook Andrian Rian atau @rian.a.bar mengunggah screenshot atau tangkapan layar yang berisi foto sekelompok orang mengenakan pakaian dominan berwarna putih yang nampak tengah melakukan aksi dengan berjalan jauh. Dalam tangkapan layar tersebut terdapat tulisan yang inti pesannya FPI siap melakukan bunuh diri massal bila MPR melantik Joko Widodo (Jokowi) dan Ma’ruf Amin.
Akun Facebook Andrian Rian pun menambahkan narasi yang bunyinya sebagai berikut, “Haii drun jokowi udah lama nih di lantik, kapan kalian mau nepatin janji nya bunuh diri masal ko sampe skarang gak ada tuh kabar nya,” tulisnya, Sabtu (6/6).
Akun Facebook Andrian Rian pun menambahkan narasi yang bunyinya sebagai berikut, “Haii drun jokowi udah lama nih di lantik, kapan kalian mau nepatin janji nya bunuh diri masal ko sampe skarang gak ada tuh kabar nya,” tulisnya, Sabtu (6/6).
Hasil Cek Fakta
Setelah menelusuri melalui mesin pencari, unggahan tangkapan layar dan narasi yang dibuat oleh akun Facebook Andrian Rian adalah salah atau keliru.
Foto yang diambil oleh akun Facebook Andrian Rian adalah hasil karya Fotografer Suara.com, Kurniawan Mas’ud. Foto yang dipakai sebagai sampul dalam artikel berjudul “FPI Minta Polisi Lindungi Laskar yang Kunjungan ke Daerah” yang ditayangkan pada Senin 16 Januari 2017.
Pada foto karya Kurniawan Mas’ud itu terdapat keterangan berikut, “Front Pembela Islam menyambangi gedung Mabes Polri, Jakarta, Senin (16/1).”
Selain itu, terkait tulisan dan narasi FPI yang disebut akan bunuh diri massal bila Jokowi – Amin dilantik MPR, ketika diketikan pada mesin pencari, tidak ditemukan artikel berita dari media daring.
Dengan begitu, unggahan dan narasi akun Facebook Andrian Rian dalam kategori Misinformasi dan Disinformasi dari First Draft dapat disebut sebagai Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.
Foto yang diambil oleh akun Facebook Andrian Rian adalah hasil karya Fotografer Suara.com, Kurniawan Mas’ud. Foto yang dipakai sebagai sampul dalam artikel berjudul “FPI Minta Polisi Lindungi Laskar yang Kunjungan ke Daerah” yang ditayangkan pada Senin 16 Januari 2017.
Pada foto karya Kurniawan Mas’ud itu terdapat keterangan berikut, “Front Pembela Islam menyambangi gedung Mabes Polri, Jakarta, Senin (16/1).”
Selain itu, terkait tulisan dan narasi FPI yang disebut akan bunuh diri massal bila Jokowi – Amin dilantik MPR, ketika diketikan pada mesin pencari, tidak ditemukan artikel berita dari media daring.
Dengan begitu, unggahan dan narasi akun Facebook Andrian Rian dalam kategori Misinformasi dan Disinformasi dari First Draft dapat disebut sebagai Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.
Kesimpulan
Unggahan tangkapan layar dengan foto sekelompok orang dari FPI dan ditambahkan narasi mereka siap melakukan bunuh diri massal bila MPR melantik Jokowi – Amin seperti yang diklaim akun Facebook Andrian Rian adalah salah. Foto aslinya adalah karya Fotografer Suara.com, Kurniawan Mas’ud dengan keterangan “FPI Minta Polisi Lindungi Laskar yang Kunjungan ke Daerah” dan tidak ditemukan juga artikel berita terkait yang diklaim akun Facebook Andrian Rian.
Rujukan
(GFD-2020-8117) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Demo Mahasiswa yang Tuntut Jokowi Mundur Saat Pandemi Covid-19?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 05/06/2020
Berita
Video yang memperlihatkan demo mahasiswa yang menuntut agar Presiden Joko Widodo atau Jokowi turun dari jabatannya viral di media sosial. Unjuk rasa dalam video yang berdurasi 1 menit 52 detik tersebut diklaim terjadi pada 2 Juni 2020 lalu.
Dalam video itu, terlihat long march mahasiswa dengan jas almamater dari berbagai perguruan tinggi. Mereka meneriakkan kata-kata "Jokowi turun" secara berulang-ulang. Terlihat pula sebuah mobil komando serta spanduk bertuliskan "Kita tidak sedang bercanda".
Di YouTube, video itu dibagikan salah satunya oleh kanal Suara Mambruk, yakni pada 2 Juni 2020. Video ini diberi judul "selasa 2 Juni 2020 Aksi mahasiswa tuntut Jokowi turun dari presiden". Hingga artikel ini dimuat, video tersebut telah ditonton lebih dari 29 ribu kali.
Gambar tangkapan layar unggahan kanal YouTube Suara Mambruk.
Sementara di Facebook, di tanggal yang sama, video itu diunggah oleh akun Kustini Sastromihardjo. Video tersebut diberi narasi, "JAKARTA-INDONESIA, terkini yel-yel Mahasiswa #JkwiTurun". Hingga artikel ini dimuat, unggahan ini telah dibagikan lebih dari 3.200 kali.
Apa benar video tersebut adalah video demo mahasiswa yang tuntut Presiden Jokowi mundur dari jabatannya saat pandemi Covid-19?
Hasil Cek Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo mula-mula mengambil gambar tangkapan layar video itu dan menelusurinya dengan reverse image tool Yandex. Hasilnya, ditemukan bahwa video tersebut pernah diunggah oleh akun Twitter @Semut_Ibrahim_ pada 25 September 2019, sebelum terjadinya pandemi Covid-19.
Akun ini memberikan narasi, "25/9/19 Update siang ini #AksiMahasiswa gabungan di #Jakarta mereka meneriakkan yel..yel.. #jokowiturun." Namun, akun itu kemudian meralat lokasi digelarnya aksi mahasiswa tersebut, "Ralat ini di #Palembang..."
Berdasarkan petunjuk ini, Tempo melakukan pencarian di Google dengan kata kunci "video aksi mahasiswa Palembang 25 September 2019". Hasilnya, ditemukan penjelasan dari akun Twitter Polda DIY, @PoldaJogja, pada 4 Juni 2020 bahwa narasi yang menyertai video tersebut hoaks.
Gambar tangkapan layar unggahan akun Twitter Polda DIY.
"Faktanya video tersebut merupakan aksi mahasiswa di Palembang, Sumatera Selatan yang diposting dalam platform media sosial Facebook dengan nama Singa Marota Ibra pada 25 September 2019. Be Smart Netizen Yaa Sobat Polri. Saring Sebelum Sharing," demikian keterangan Polda DIY.
Di Facebook, Divisi Humas Polri juga mengunggah penjelasan yang sama. Menurut Divisi Humas Polri, judul video di kanal YouTube Suara Mambruk tidak benar. Divisi Humas Polri pun membagikan kembali video demo mahasiswa di Palembang itu dengan dibubuhi stempel "hoax".
Berdasarkan penelusuran lokasi di Google Maps, Tempo menemukan bahwa video tersebut diambil dari depan Gedung Perjuangan Wanita Sumatera Selatan. Gedung ini berada di Jalan Kapten A. Rivai, Palembang. Hal tersebut terlihat dari tiang besi stasiun LRT Palembang yang bercat biru serta pagar Gedung Perjuangan Wanita yang bercat merah-putih. Tiang dan pagar ini sempat terlihat dalam video unggahan kanal Suara Mambruk maupun akun Kustini Sastromihardjo.
Gambar tangkapan layar lokasi Gedung Perjuangan Wanita Sumatera Selatan di Google Maps.
Demo mahasiswa di Palembang
Pada 24 September 2019, mahasiswa di berbagai daerah memang serentak menggelar demonstrasi yang menuntut pembatalan sejumlah Rancangan Undang-Undang (RUU) bermasalah. Menurut arsip berita Tempo pada 25 September 2019, selain di Jakarta, unjuk rasa juga digelar di Makassar, Jambi, Palembang, Medan, Bandung, dan sebagainya.
Dilansir dari Tirto.id, para mahasiswa tersebut menolak revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), RUU Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), RUU Agraria, dan RUU Ketenagarkejaan. Mereka juga menyuarakan tentang kriminalisasi terhadap para aktivis.
Dikutip dari CNN Indonesia, ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Palembang yang turun ke jalan ini mengatasnamakan dirinya "Sumsel Melawan". Mereka melakukan long march sejauh 3 kilometer, yakni dari Kambang Iwak Jalan Tasik menuju Gedung DPRD Sumatera Selatan di Jalan Pom IX. Aksi ini bertepatan dengan pelantikan Anggota DPRD Sumsel 2019-2024.
Namun, dilansir dari Kompas.com, demo mahasiswa di Palembang ini diwarnai kericuhan. Bentrokan antara polisi dan mahasiswa terjadi saat unjuk rasa berlangsung. Kericuhan ini mengakibatkan 28 mahasiswa terluka. Para mahasiswa tersebut berasal dari Universitas Sriwijaya, Universitas PGRI, Universitas Muhammadiyah, Universitas Islam Negeri Raden Fatah, dan sebagainya.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas adalah video demo mahasiswa yang tuntut Presiden Jokowi mundur dari jabatannya saat pandemi Covid-19 menyesatkan. Video itu merupakan video demo mahasiswa di Palembang pada September 2019, sebelum adanya pandemi Covid-19. Pada 24 September 2019, mahasiswa di berbagai daerah memang serentak menggelar unjuk rasa yang menuntut pembatalan sejumlah RUU bermasalah.
IBRAHIM ARSYAD
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- http://archive.ph/7sSua
- http://archive.ph/aU9cX
- https://twitter.com/Semut_Ibrahim_/status/1176752116846624773
- https://twitter.com/PoldaJogja/status/1268490656575483904
- https://web.facebook.com/watch/?v=1436982159835204
- https://www.google.com/maps/@-2.9786303,104.7488596,3a,75y,20.39h,90t/data=!3m6!1e1!3m4!1sFrzbyxf61CLt39a8op-kxw!2e0!7i16384!8i8192
- https://www.tempo.co/abc/4761/aksi-demo-mahasisws-di-sejumlah-kota-di-indonesia-berakhir-ricuh
- https://tirto.id/demo-mahasiswa-palembang-jakarta-hari-ini-apa-ruu-yang-ditolak-eiCW
- https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190924102832-20-433285/ribuan-mahasiswa-dan-aktivis-sumsel-melawan-turun-ke-jalan
- https://palembang.kompas.com/read/2019/09/25/10555771/demo-mahasiswa-di-palembang-korban-luka-bertambah-jadi-28-orang
(GFD-2020-8118) [Fakta atau Hoaks] Benarkah Ramuan Herbal Bernama Mio Kopi Bisa Obati Covid-19?
Sumber: cekfakta.tempo.coTanggal publish: 05/06/2020
Berita
Sebuah video yang berisi narasi bahwa seorang warga Lampung Selatan, Nyoman Subamio, menemukan obat Covid-19 yang bernama Mio Kopi beredar di WhatsApp. Menurut narasi dalam video yang berasal dari Radar TV Lampung ini, resep herbal itu bisa 100 persen mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus Corona baru, SARS-CoV-2, tersebut.
Berikut ini narasi dalam video tersebut:
“Nyoman Subamio, seorang warga Lampung Selatan, mengaku menemukan obat Covid-19. Namanya adalah Mio Kopi. Sebuah resep herbal dengan komposisi manjur mampu menyembuhkan virus Corona, dan herbalis ini memastikan garansi kesembuhan 100 persen. Usaha Nyoman Subamio begitu keras untuk memastikan dan meyakinkan bahwa dirinya memiliki obat penyembuh Covid-19. Kepada sejumlah awak media, herbalis memiliki obat manjur untuk mengobati penderita Corona. Obatnya adalah Mio Kopi, sebuah racikan herbal rahasia dengan komposisi mengusir dan mencegah virus mematikan tersebut. Ia sudah berupaya menembus birokrasi, baik pemerintah pusat dan Provinsi Lampung, namun hanya dianggap sebagai angin lalu. Hebatnya, ia sudah menyurati Istana Presiden untuk membuktikan kehebatan obatnya ini. Ia berjanji, jika tidak sembuh, maka dirinya siap dijebloskan ke penjara.”
Narasi itu disambung dengan penjelasan dari Subamio, yakni sebagai berikut:
"Pak Presiden yang sangat saya hormati, saya yakin Pak Presiden mukjizat Mio Kopi bisa mengatasi Corona. Pak Presiden yang sangat saya hormati, nama saya Nyoman Subamio, viral di Lampung TV, 220 ribu lebih yang sudah menonton. Cuma, tidak ada respon sama sekali dari pejabat-pejabat yang ada di Lampung. Pak Presiden, mungkin saya orang pertama di dunia yang siap dan berani makan ludah orang yang kena infeksi Corona hanya untuk membuktikan kedahsyatan mukjizat Mio Kopi. Jika Bapak Presiden bersedia memberikan saya fasilitasi untuk dapat mengobati orang yang kena infeksi Corona, saya hanya butuh waktu tujuh hari saja Pak Presiden untuk membuktikan kedahsyatan mukjizat Mio Kopi ini. Dan Pak Presiden, saya jamin mukjizat Mio Kopi tanpa efek samping, 100 persen tanpa efek samping. Dan saya siap dipenjara jika ini tidak terbukti Pak Presiden."
Gambar tangkapan layar video soal Mio Kopi yang beredar di WhatsApp.
Apa benar ramuan herbal bernama Mio Kopi tersebut bisa mengobati Covid-19?
Hasil Cek Fakta
Dilansir dari video di kanal YouTube Lampung TV yang dipublikasikan pada 25 April 2020, ramuan herbal Mio Kopi yang dibuat oleh Nyoman Subamio tersebut terdiri dari daun kelor, bawang merah, dan Tolak Angin Sido Muncul. Untuk memverifikasi klaim itu, Tim CekFakta Tempo menelusuri berbagai penelitian tentang pengaruh daun kelor, bawang merah, dan Tolak Angin terhadap virus Corona Covid-19.
Daun kelor
Dilansir dari Kompas.com, peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Indonesia (UI) belum lama ini melakukan penelitian gabungan untuk mengetahui komponen dari bahan herbal yang bisa melawan infeksi virus Corona. Salah satu bahan alami yang diteliti adalah daun kelor.
Menurut penelitian itu, senyawa-senyawa yang dianggap bermanfaat untuk menangkal virus Corona memang terkandung dalam daun yang memang sudah sering dijadikan obat herbal ini. Namun, penelitian ini masih dalam tahap awal sehingga diperlukan lebih banyak lagi riset untuk memastikan khasiat daun kelor terhadap penderita Covid-19.
Menurut dokter sekaligus editor medis SehatQ, Karlina Lestari, masyarakat harus berhati-hati terhadap sejumlah klaim terkait tanaman herbal yang dianggap mampu mencegah Covid-19. Pasalnya, hingga saat ini, belum ada penelitian yang dengan jelas memaparkan bahwa obat herbal tertentu bisa menyembuhkan Covid-19.
Lagipula, sejauh ini, obat-obat herbal yang diteliti terkait Covid-19 lebih bertujuan untuk melihat kemampuannya dalam meningkatkan sistem imun, bukan untuk benar-benar menyembuhkan. “Jangan percaya 100 persen dengan klaim tersebut karena penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan,” katanya. Ia menambahkan, cara mencegah Covid-19 yang paling benar saat ini adalah rajin mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir.
Bawang merah
Berdasarkan arsip berita Tempo pada 2 April 2020, bawang merah memang mengandung senyawa yang bisa meningkatkan kekebalan tubuh. Dilansir dari kantor berita Antara, peneliti dari Padang, Sumatera Barat, Rasmi R, juga menyatakan bahwa bawang merah memiliki kandungan antioksidan sehingga dapat melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas. Meskipun begitu, belum ada penelitian bahwa bawang merah bisa mengobati Covid-19.
Pada Maret 2020 lalu, beredar narasi bahwa bawang merah yang telah dikupas bisa menyedot bakteri dan virus, termasuk virus Corona Covid-19. Menurut ahli biologi yang dikutip organisasi cek fakta Snopes, sangat tidak masuk akal bawang dapat menyedot virus flu. Sebab, virus membutuhkan inang yang hidup untuk bertahan hidup. Virus pun tidak dapat mendorong dirinya keluar dari tubuh inangnya dan melintasi sebuah ruangan.
Office for Science and Society Universitas McGill di Quebec, Kanada, menyatakan hal serupa. Justru, menurut mereka, bawang merah tidak mudah terkontaminasi bakteri karena mengandung senyawa sulfur yang bersifat anti-bakteri. Meskipun begitu, tidak berarti bahwa bawang dapat melindungi seseorang dari flu yang disebabkan oleh virus.
Mereka menuturkan mengupas bawang dapat memicu pelepasan enzim yang memulai reaksi kimia yang menghasilkan asam propenesulfenat, dan pada gilirannya menghasilkan asam sulfat. Asam sulfat inilah yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Selain itu, permukaan bawang yang dikupas relatif cepat mengering, sehingga mengurangi kelembaban yang dibutuhkan bakteri untuk berkembang biak.
Sejauh ini, penggunaan bawang merah yang telah dikupas pun tidak tercantum dalam rekomendasi pencegahan untuk virus Corona Covid-19. Pencegahan terbaik menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah sering mencuci tangan, menutup mulut saat batuk dengan siku yang terlipat atau tisu, dan menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang yang batuk atau bersin.
Tolak Angin
Dilansir dari Detik.com, Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat, mengatakan bahwa khasiat Tolak Angin lebih pada meningkatkan daya tahan tubuh. Menurut dia, Tolak Angin telah lolos uji klinis fase pertama serta menjadi obat herbal terstandar.
"Karena tolak angin ini sebenarnya secara resmi telah lolos uji klinis fase pertama dan terbukti dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau Covid-19 ini kan obatnya belum ada. Jadi, masalahnya, kalau daya tahannya membaik, dia bisa memperbaiki dirinya sendiri," ujar Irwan.
Berdasarkan arsip berita Tempo pada 30 April 2020, Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Zullies Ikawati meminta masyarakat lebih cermat dan bijaksana dalam memilih obat alternatif atau herbal untuk mencegah Covid-19. "Selama pandemi Covid-19, banyak bermunculan obat-obat alternatif yang diklaim bisa mengatasi virus ini," kata Zullies.
Menurut dia, kemunculan sejumlah produk alternatif itu berawal dari keprihatinan atas belum adanya obat untuk Covid-19 yang benar-benar direkomendasikan. Kendati demikian, Zullies menyebut sebagian besar produk alternatif yang ada belum memiliki bukti ilmiah mampu mengatasi Covid-19.
Meski ada bukti kesembuhan, dia menyebut hal tersebut berasal dari testimoni segelintir orang. Dengan demikian, masih sangat kurang untuk mendukung kemanjuran obat-obat tersebut. Apalagi, Covid-19 pada sebagian orang dengan kekebalan tubuh kuat tidak memberikan gejala dan bisa sembuh sendiri.
Zullies mengapresiasi inovasi-inovasi obat baru untuk Covid-19 tersebut. Namun, inovasi itu harus tetap berada pada koridor ilmiah yang dapat ditelusuri dan dibuktikan. Kendati Indonesia kaya akan tanaman obat yang berpotensi mengatasi Covid-19, menurut dia, pengembangan obat baru dari herbal tetap harus mengikuti kaidah ilmiah yang berlaku.
Menurut Zullies, ketika memilih obat-obat untuk mencegah atau mengatasi Covid-19, masyarakat bisa menggunakan obat-obat herbal yang telah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Untuk memastikan produk-produk yang telah terdaftar di BPOM dan mendapat izin edar, masyarakat bisa mengaksesnya melalui situs resmi BPOM.
"Kalau produk yang didaftar sebagai pangan, maka produk tersebut tidak bisa memiliki izin edar sebagai suplemen kesehatan atau bahkan obat pada saat yang sama. Jadi, jika ada produk pangan yang diklaim memiliki efek pengobatan, itu perlu dipertanyakan," katanya.
Kesimpulan
Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa ramuan herbal Mio Kopi bisa mengobati Covid-19 belum bisa dibuktikan. Ramuan ini terdiri dari daun kelor, bawang merah, dan Tolak Angin. Hingga kini, penelitian tentang khasiat daun kelor terhadap penderita Covid-19 masih berlangsung. Selain itu, belum ada penelitian bahwa bawang merah bisa mengobati Covid-19. Adapun khasiat Tolak Angin lebih pada meningkatkan daya tahan tubuh.
ZAINAL ISHAQ
Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id
Rujukan
- https://www.youtube.com/watch?v=Ft-rlvWgwbI
- https://www.youtube.com/watch?v=QaK6ERxnn-M
- https://lifestyle.kompas.com/read/2020/04/03/165841920/apa-saja-tanaman-herbal-yang-disebut-dapat-mencegah-covid-19?page=all#page2.
- https://gaya.tempo.co/read/1327013/wabah-covid-19-tingkatkan-daya-tahan-dengan-7-bahan-di-dapur-ini/full&view=ok
- https://www.antaranews.com/berita/1385202/parfum-bawang-merah-diyakini-mampu-tangkal-pandemi-covid-19
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/697/fakta-atau-hoaks-benarkah-bawang-merah-yang-telah-dikupas-bisa-menyedot-virus-corona
- https://news.detik.com/berita/d-5021205/75000-sachet-tolak-angin-diserahkan-ke-bnpb
- https://tekno.tempo.co/read/1337395/tips-pilih-obat-herbal-covid-19-guru-besar-ugm/full&view=ok
Halaman: 7432/8000




