Sebuah postingan beredar dengan klaim bahwa Bendungan Gili-Gili sudah melewati batas normal. Postingan itu beredar pada tanggal 12 Januari 2020. Berikut kutipan narasinya:
Hujan yang terjadi dini hari hingga siang ini, mengakibatkan elevasi PMA di bendungan Bili-Bili mengalami kenaikan.
Kenaikannya cukup signifikan jika di bandingkan tadi pagi, elevasi air menyentuh di angka 86.20 mdpl, siang ini volume air naik menjadi 99.927 mdpl.
Angka ini melewati angka normal yakni 99.50 mdpl, kondisi bendungan saat ini 99.927 ucap kepala bbws Jeneberang Suparji saat di konfirmasi.
Sementara volume air untuk waspada yakni 103, tahun lalu pada musim bencana banjir bandang bendungan Bili-Bili di buka angka 103 dan menyebabkan banjir bandang di beberapa kabupaten.
Curah hujan tinggi di Sulawesi Selatan khususnya wilayah kota Makassar dan Kabupaten Gowa, yang terjadi dini hari kemungkinan membuat elevasi bendungan Bili-Bili terus mengalami kenaikan.... (-)
(GFD-2020-3544) [SALAH] Bendungan Bili-Bili Melewati Batas Angka Normal
Sumber: facebook.comTanggal publish: 16/01/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Melalui hasil penelusuran, diketahui bahwa informasi tersebut tidak benar. Sebab, pada tanggal 12 Januari 2020, pihak Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWJPS) sudah membantahnya.
Kepala BBWJPS Suparji pada pemberitaan tanggal 12 Januari 2020 membantah mengenai informasi yang tersebar. Suparji mengaku dirinya tidak pernah mengeluarkan pernyataan, update soal elevasi air yang melewati batas normal.
“Yang jelas itu tidak betul,” ujar Suparji.
Ia mengklarifikasi, elevasi pada tanggal 12 Januari 2020 hanya 86,73 mdpl, dari elevasi normal +99,50 mdpl. Dan elevasi waspada +100,00 mdpl. Artinya, elevasi di bendungan Bili-bili saat ini masih dibawah normal.
Diketahui pula dari hasil pencarian bahwa kondisi Bendungan Bili-Bili dalam kondisi waspada terjadi pada 22 Januari 2019. Hal tersebut diketahui dari pemberitaan iNewsSulsel.id dengan judul “Bili-Bili Berstatus Waspada, Bupati Gowa Ingatkan Potensi Banjir.” Berikut kutipan pemberitaannya:
[…] Bili-Bili Berstatus Waspada, Bupati Gowa Ingatkan Potensi Banjir
SUNGGUMINASA, iNews.id –Bendungan Bili-Bili di Gowa, Sulawesi Selatan, saat ini ditetapkan berstatus waspada. Ketinggian air di bendungan terbesar di Sulawesi Selatan itu kini bahkan mencapai 101,36 meter. Warga di sekitar bendungan dan Kota Makassar diminta mewaspadai banjir kiriman dari bendungan Bili-Bili.
Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan menginformasikan kondisi tersebut, melalui akun instagramnya, Selasa (22/1/2019). Menurutnya, saat ini pintu air di Bendungan Bili-Bili akan dibuka untuk mengurangi debit air yang terlalu tinggi. "Dengan pembukaan pintu air ini, tentu akan berdampak banjir yang cukup tinggi," tulisnya, Selasa (22/1/2019).
Adnan pun mengimbau agar masyarakat yang tinggal di aliran hilir bendungan Bili-bili mengungsi untuk sementara waktu, untuk menghindari hal yang tak diinginkan.
"Saya juga mengajak masyarakat untuk sama-sama berdoa kepada Allah SWT agar curah hujan normal kembali dan kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT," ucapnya.
Hingga berita ini dirutunkan, belum ada imbauan resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengenai potensi bencana tersebut.
Sebelumnya, cuaca buruk melanda Kota Makassar dan sekitarnya sejak dua hari belakangan. Bahkan, sejumlah titik langganan banjir sudah mulai tergenang. Ketinggian air bervariasi hingga mencapai satu meter lebih. […]
Lalu, diketahui pula bahwa isu serupa sempat tersebar di tanggal 5 Januari 2020 melalui Whatsapp dan Facebook. Hanya saja, pada narasi yang sempat beredar itu mencatut nama Bupati Gowa.
Kepala BBWJPS Suparji pada pemberitaan tanggal 12 Januari 2020 membantah mengenai informasi yang tersebar. Suparji mengaku dirinya tidak pernah mengeluarkan pernyataan, update soal elevasi air yang melewati batas normal.
“Yang jelas itu tidak betul,” ujar Suparji.
Ia mengklarifikasi, elevasi pada tanggal 12 Januari 2020 hanya 86,73 mdpl, dari elevasi normal +99,50 mdpl. Dan elevasi waspada +100,00 mdpl. Artinya, elevasi di bendungan Bili-bili saat ini masih dibawah normal.
Diketahui pula dari hasil pencarian bahwa kondisi Bendungan Bili-Bili dalam kondisi waspada terjadi pada 22 Januari 2019. Hal tersebut diketahui dari pemberitaan iNewsSulsel.id dengan judul “Bili-Bili Berstatus Waspada, Bupati Gowa Ingatkan Potensi Banjir.” Berikut kutipan pemberitaannya:
[…] Bili-Bili Berstatus Waspada, Bupati Gowa Ingatkan Potensi Banjir
SUNGGUMINASA, iNews.id –Bendungan Bili-Bili di Gowa, Sulawesi Selatan, saat ini ditetapkan berstatus waspada. Ketinggian air di bendungan terbesar di Sulawesi Selatan itu kini bahkan mencapai 101,36 meter. Warga di sekitar bendungan dan Kota Makassar diminta mewaspadai banjir kiriman dari bendungan Bili-Bili.
Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan menginformasikan kondisi tersebut, melalui akun instagramnya, Selasa (22/1/2019). Menurutnya, saat ini pintu air di Bendungan Bili-Bili akan dibuka untuk mengurangi debit air yang terlalu tinggi. "Dengan pembukaan pintu air ini, tentu akan berdampak banjir yang cukup tinggi," tulisnya, Selasa (22/1/2019).
Adnan pun mengimbau agar masyarakat yang tinggal di aliran hilir bendungan Bili-bili mengungsi untuk sementara waktu, untuk menghindari hal yang tak diinginkan.
"Saya juga mengajak masyarakat untuk sama-sama berdoa kepada Allah SWT agar curah hujan normal kembali dan kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT," ucapnya.
Hingga berita ini dirutunkan, belum ada imbauan resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengenai potensi bencana tersebut.
Sebelumnya, cuaca buruk melanda Kota Makassar dan sekitarnya sejak dua hari belakangan. Bahkan, sejumlah titik langganan banjir sudah mulai tergenang. Ketinggian air bervariasi hingga mencapai satu meter lebih. […]
Lalu, diketahui pula bahwa isu serupa sempat tersebar di tanggal 5 Januari 2020 melalui Whatsapp dan Facebook. Hanya saja, pada narasi yang sempat beredar itu mencatut nama Bupati Gowa.
Kesimpulan
Berdasarkan hal tersebut, kondisi Bendungan Bili-Bili pada tanggal 12 Januari 2020, yakni saat postingan sumber beredar tidak dalam keadaan waspada. Adapun, Bendungan Bili-Bili dalam kondisi waspada terjadi pada tanggal 22 Januari 2019, bukan tahun ini. Berdasarkan hal tersebut, maka konten yang tersebar itu masuk ke dalam kategori Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan.
Rujukan
- https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1089912308007970/
- https://turnbackhoax.id/2020/01/16/salah-bendungan-bili-bili-melewati-batas-angka-normal/
- https://turnbackhoax.id/2020/01/05/klarifikasi-namanya-dicatut-terkait-kondisi-bendungan-bili-bili-bupati-gowa-angkat-bicara/
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4156493/cek-fakta-hoaks-ketinggian-air-di-bendungan-bili-bili-melewati-angka-normal
- http://news.rakyatku.com/read/176215/2020/01/12/update-terkini-bendungan-bili-bili-tangkis-hoaks-bbwjps-umumkan-elevasi-air-normal
- https://sulsel.inews.id/berita/bili-bili-berstatus-waspada-bupati-gowa-ingatkan-potensi-banjir
(GFD-2020-9035) [SALAH] “Air pare yang panas dapat Membunuh Sel Kangker”
Sumber: Whatsapp.comTanggal publish: 15/01/2020
Berita
Air pare yang panas dapat membunuh sel kanker
Pare dapat membunuh kanker
Air pare membunuh sel kanker
Pare dapat membunuh kanker
Air pare membunuh sel kanker
Hasil Cek Fakta
SUMBER membagikan pelintiran yang sebelumnya pada tahun 2018 sudah diklarifikasi. “Ini Hoax ya. Coba hentikan penyebaran pesan berantai ini mulai dari anda sekarang.” http://bit.ly/2FRwsQt / http://archive.md/JxSxg
“Hati hati dalam membaca dan menyimpulkan suatu studi. Hoax yang beredar tentang pare bisa membelokan arah orang yg sedang menjalani pengobatan kanker dari obat2an medis ke minum air pare panas, padahal khasiat pengobatannya belum terbukti.” http://bit.ly/389k0aZ / http://archive.md/fra0M
DokterSehat: “Untuk mengobati kanker, dokter lebih menyarankan penderitanya untuk menjalani kemoterapi, radioterapi, operasi, dan terapi-terapi lainnya sesuai dengan jenis atau tingkat keparahan kanker yang diderita. Mengonsumsi air rebusan pare tentu tidak akan cukup untuk menyembuhkan kanker.”
“Hati hati dalam membaca dan menyimpulkan suatu studi. Hoax yang beredar tentang pare bisa membelokan arah orang yg sedang menjalani pengobatan kanker dari obat2an medis ke minum air pare panas, padahal khasiat pengobatannya belum terbukti.” http://bit.ly/389k0aZ / http://archive.md/fra0M
DokterSehat: “Untuk mengobati kanker, dokter lebih menyarankan penderitanya untuk menjalani kemoterapi, radioterapi, operasi, dan terapi-terapi lainnya sesuai dengan jenis atau tingkat keparahan kanker yang diderita. Mengonsumsi air rebusan pare tentu tidak akan cukup untuk menyembuhkan kanker.”
Kesimpulan
Pelintiran daur ulang. Tidak cukup untuk menyembuhkan kanker, dokter lebih menyarankan kemoterapi, radioterapi, operasi, dan terapi-terapi lainnya sesuai dengan jenis atau tingkat keparahan kanker yang diderita.
Rujukan
(GFD-2020-9588) [SALAH] “proses beras plastik”
Sumber: twitter.comTanggal publish: 15/01/2020
Berita
Beredar sebuah video pada akun twitter susie wong, pada video tersebut memperlihatkan proses pembuatan beras dari plastik, dengan narasi sebagai berikut:
NARASI
“proses beras plastik
hati hati dlm membeli beras..!!”.
Beras palsu
Beras pastik
beras pelastik
Beras Plastii
Berita beras plastik
Beras lastik
Bwrita beras plastik
Beras platik
1. Beras plastik
NARASI
“proses beras plastik
hati hati dlm membeli beras..!!”.
Beras palsu
Beras pastik
beras pelastik
Beras Plastii
Berita beras plastik
Beras lastik
Bwrita beras plastik
Beras platik
1. Beras plastik
Hasil Cek Fakta
* SUMBER membagikan video proses pengolahan limbah plastik menjadi biji plastik.
* Video yang dibagikan oleh SUMBER ditambahkan narasi pelintiran sehingga menimbulkan kesimpulan yang salah.
* YouTube: “Membuat butiran plastik
253 kali dilihat • 7 Jun 2017
sai roopa”.
Google Translate Chrome extension, video di http://bit.ly/2RfGTmf / http://archive.md/ojAfQ (arsip cadangan).
Salah satu artikel mengenai beras plastik pada tahun 2015, Indonesia Expat: “Nasi Palsu Yang Tidak Pernah Ada
oleh Kenneth Yeung 29 Mei 2015
(foto)
Wartawan yang malas, netizen rasis dan politisi oportunistik hampir meyakinkan dunia bahwa Indonesia sedang menghadapi ketakutan beras plastik.
Pada tanggal 5 Mei, akun YouTube bernama LiveLeak Channel mengunggah video berdurasi 2,29 menit berjudul “Beras palsu dari plastik di Cina” ( www.youtube.com/watch?v=haSsXxxQBSo ). Video berisik tersebut menunjukkan pabrik nilon poliamida yang membuat butiran plastik, mungkin dari bahan daur ulang. Tidak ada apa pun – selain dari judul dan deskripsi yang menyesatkan – untuk menunjukkan bahwa itu membuat beras palsu.
Omong kosong lain yang diunggah oleh LiveLeak Channel termasuk sebuah video berjudul “NFL Draft Saraf Karena Baby Squirrel to Stress Eat” – menunjukkan sereal sarapan menggigit tupai dan diberi makan susu saat pilihan pemain untuk Liga Sepakbola Nasional Amerika diumumkan. Klip lain di saluran itu menunjukkan kecelakaan dan penyerangan yang kejam. LiveLeak bukanlah sumber berita atau informasi yang memiliki reputasi baik.
Tetapi beberapa orang bodoh. Dan sayangnya, banyak orang menyukai alasan untuk mengkritik Cina. Pada 13 Mei, saluran YouTube bernama Destry Z mengunggah ulang video “pabrik beras palsu”, memberinya judul: ” AWAS !!!! Beras Palsu buatan Negara China !!! (HATI-HATI !!!! Beras Palsu buatan China !!!). ”Video itu segera memperoleh lebih dari 392.000 penayangan dan diunggah kembali oleh lusinan YouTuber Indonesia. Klip tersebut mengundang banyak komentar menghina tentang Cina, meskipun beberapa netizen menunjukkan bahwa itu hanya pabrik plastik biasa.
Pada 15 Mei, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan belum menerima keluhan dari masyarakat tentang beras palsu. Namun demikian, petugas urusan hukum dan pengaduan YLKI Sularsi meminta Kementerian Perdagangan, lembaga pemerintah dan masyarakat untuk mewaspadai impor makanan palsu.
Pada 16 Mei, surat kabar Harian Terbit menerbitkan sebuah artikel yang memperingatkan bahwa China memproduksi beras palsu. Laporan itu mendesak orang Indonesia untuk waspada, meskipun mengakui tidak ada kepastian bahwa beras plastik sedang beredar di Indonesia.
(foto)
Cuplikan layar Video YouTube di saluran LiveLeak tentang dugaan pabrik beras plastik di Cina
Pada hari yang sama, Global TV MNC Media menyiarkan video YouTube dan mengklaim pabrik itu membuat beras palsu – meskipun tidak memiliki sedikit pun bukti untuk membuktikan dugaannya. Kemudian, Metro TV menayangkan video yang sama, mengklaim itu menunjukkan pabrik beras palsu.
Semua ini ‘berita’ beras palsu disaring ke masyarakat. Pada 18 Mei, seorang penjual bubur beras dari kota Bekasi, Jawa Barat, Dewi Septiani (29), menyatakan bahwa dia tanpa sadar telah membeli dan mengonsumsi sejumlah beras plastik.
Dia telah membeli enam liter beras pada 13 Mei dari penjual di pasar tradisional Tanah Merah dengan harga Rp8.000 per liter. Dia mengklaim nasi tidak berubah menjadi bubur yang tepat tetapi malah menjadi beku, membuatnya, adik perempuan dan keponakannya sakit setelah mereka memakannya. Setelah melihat klip-klip YouTube dan laporan berita, dia berasumsi mereka pasti telah mengonsumsi beras sintetis.
Polisi menanyai penjual dan salah satu pemasoknya, dan menutup tokonya. Toko bubur Dewi juga ditutup sambil menunggu investigasi. Pada tanggal 20 Mei, sampel beras – termasuk beberapa yang dimasak oleh Dewi – diambil oleh polisi untuk diuji, dilakukan secara terpisah oleh perusahaan sertifikasi milik negara Sucofindo, Kepolisian Nasional, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Perdagangan Kementerian dan Kementerian Pertanian.
Sucofindo dengan cepat mengumumkan hasil pengujiannya, pada 21 Mei mengklaim beras mengandung jejak polivinilklorida (PVC), senyawa sintetis yang biasanya digunakan untuk membuat pipa. Secara khusus, telah ditemukan jejak tiga jenis plasticizer yang digunakan dalam pembuatan PVC: benzylbutylphthalate (BBP), 2-ethylhexyl phthalate (DEHP) dan diisononyl phthalate (DINP). Itu tidak menyatakan persentase bahan sintetis yang ditemukannya.
Sementara itu, reporter yang malas menemukan artikel berita online lama dari Korea Selatan dari tahun 2011, mengklaim bahwa beras yang terbuat dari plastik “dijual secara massal” di Tiongkok. Laporan itu, mengutip sumber media yang tidak disebutkan namanya dari Singapura, mengatakan “beras plastik dibuat dengan membentuk kentang dan ubi menjadi bentuk seperti beras, kemudian menambahkan resin sintetis industri.” Ia memperingatkan bahwa “makan tiga mangkuk nasi plastik sama dengan makan satu tas vinil. “
‘Fakta-fakta’ ini dengan cepat masuk ke dalam laporan media Indonesia dan Malaysia. Bahkan sebelum Sucofindo merilis hasilnya, divisi Jakarta dari jaringan berita kota regional Coconuts.co pada tanggal 20 Mei menyatakan: “Beras plastik adalah nyata, seperti yang ditunjukkan dalam video produksi di sebuah pabrik Cina.” Oh sayang. Sebuah artikel yang menyertai di http://jakarta.coconuts.co mengklaim “video ini setidaknya mengkonfirmasi bahwa nasi plastik adalah hal yang nyata”. Sampah.
PADA 24 MEI, MENTERI DALAM NEGERI TJAHJO KUMOLO, SEORANG LOYALIS LAMA DARI MANTAN PRESIDEN MEGAWATI SUKARNOPUTRI, MENGKLAIM BAHWA ‘DISTRIBUTOR’ BERAS PALSU MUNGKIN SEDANG MELAKUKAN PENGKHIANATAN ATAU SABOTASE UNTUK MENJATUHKAN PEMERINTAH.
Dia menuntut Badan Intelijen Negara untuk menyelidiki kasus ini.
Ada klaim yang tidak berdasar bahwa seorang gadis yang jatuh sakit di ibukota Sumatera Utara, Medan, makan nasi plastik. “Seorang gadis 10 tahun dilarikan ke rumah sakit … setelah menderita perut bengkak akibat makan nasi yang terkontaminasi dengan bahan sintetis,” seru The Jakarta Post . Surat kabar yang sama melaporkan bahwa beberapa ton beras sintetis telah disita di provinsi Papua.
Dua politisi yang menyerukan ketenangan dan akal sehat atas ketakutan itu adalah Presiden Joko Widodo dan Gubernur Jakarta Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama.
Pada 26 Mei, Kepala Polisi Nasional Jenderal Badrodin Haiti, setelah pertemuan dengan presiden dan pejabat tinggi lainnya, mengumumkan bahwa semua tes lainnya negatif, sehingga tidak pernah ada beras plastik. Dia menyarankan masyarakat untuk berhenti panik karena masalah ini.
Jadi mengapa Sucofindo menghasilkan hasil yang berbeda? Badrodin mengatakan Sucofindo mungkin telah menggunakan metode analisis yang berbeda atau peralatan yang terkontaminasi.
Kepala BPOM Roy Sparingga membenarkan bahwa pihaknya tidak menemukan polimer sintetik atau logam berat di dalam beras. Dia mengatakan Jaringan Internasional Otoritas Keamanan Pangan Organisasi Kesehatan Dunia telah memberi tahu BPOM bahwa tidak ada kasus baru-baru ini tentang beras sintetis di negara lain.
Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengatakan rekan-rekannya di Cina dan Malaysia telah meyakinkannya bahwa tidak ada beras palsu yang didistribusikan di negara mereka.
Legislator Firman Subagyo, anggota Partai Golkar, mengatakan ia menduga tipuan beras palsu itu didalangi oleh “mafia makanan” yang berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari keprihatinan publik menjelang bulan puasa Ramadhan, yang dimulai sekitar 18 Juni tahun ini. Dia mengatakan polisi harus menyelidiki apakah Dewi, penjual bubur, memiliki agenda tersembunyi dalam membuat klaimnya tentang beras plastik.
Dewi mengatakan bahwa dia hanyalah seorang ibu yang peduli yang tidak memiliki niat menakut-nakuti orang, tetapi hanya ingin mereka berhati-hati ketika membeli beras.
Dapat dimengerti bahwa orang-orang cepat mencurigai Cina mungkin membuat beras palsu. Cina tidak memiliki rekor sterling dalam hal produksi pangan. Pada 2008, setidaknya enam bayi Cina terbunuh setelah minum susu bubuk yang dicampu
* Video yang dibagikan oleh SUMBER ditambahkan narasi pelintiran sehingga menimbulkan kesimpulan yang salah.
* YouTube: “Membuat butiran plastik
253 kali dilihat • 7 Jun 2017
sai roopa”.
Google Translate Chrome extension, video di http://bit.ly/2RfGTmf / http://archive.md/ojAfQ (arsip cadangan).
Salah satu artikel mengenai beras plastik pada tahun 2015, Indonesia Expat: “Nasi Palsu Yang Tidak Pernah Ada
oleh Kenneth Yeung 29 Mei 2015
(foto)
Wartawan yang malas, netizen rasis dan politisi oportunistik hampir meyakinkan dunia bahwa Indonesia sedang menghadapi ketakutan beras plastik.
Pada tanggal 5 Mei, akun YouTube bernama LiveLeak Channel mengunggah video berdurasi 2,29 menit berjudul “Beras palsu dari plastik di Cina” ( www.youtube.com/watch?v=haSsXxxQBSo ). Video berisik tersebut menunjukkan pabrik nilon poliamida yang membuat butiran plastik, mungkin dari bahan daur ulang. Tidak ada apa pun – selain dari judul dan deskripsi yang menyesatkan – untuk menunjukkan bahwa itu membuat beras palsu.
Omong kosong lain yang diunggah oleh LiveLeak Channel termasuk sebuah video berjudul “NFL Draft Saraf Karena Baby Squirrel to Stress Eat” – menunjukkan sereal sarapan menggigit tupai dan diberi makan susu saat pilihan pemain untuk Liga Sepakbola Nasional Amerika diumumkan. Klip lain di saluran itu menunjukkan kecelakaan dan penyerangan yang kejam. LiveLeak bukanlah sumber berita atau informasi yang memiliki reputasi baik.
Tetapi beberapa orang bodoh. Dan sayangnya, banyak orang menyukai alasan untuk mengkritik Cina. Pada 13 Mei, saluran YouTube bernama Destry Z mengunggah ulang video “pabrik beras palsu”, memberinya judul: ” AWAS !!!! Beras Palsu buatan Negara China !!! (HATI-HATI !!!! Beras Palsu buatan China !!!). ”Video itu segera memperoleh lebih dari 392.000 penayangan dan diunggah kembali oleh lusinan YouTuber Indonesia. Klip tersebut mengundang banyak komentar menghina tentang Cina, meskipun beberapa netizen menunjukkan bahwa itu hanya pabrik plastik biasa.
Pada 15 Mei, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan belum menerima keluhan dari masyarakat tentang beras palsu. Namun demikian, petugas urusan hukum dan pengaduan YLKI Sularsi meminta Kementerian Perdagangan, lembaga pemerintah dan masyarakat untuk mewaspadai impor makanan palsu.
Pada 16 Mei, surat kabar Harian Terbit menerbitkan sebuah artikel yang memperingatkan bahwa China memproduksi beras palsu. Laporan itu mendesak orang Indonesia untuk waspada, meskipun mengakui tidak ada kepastian bahwa beras plastik sedang beredar di Indonesia.
(foto)
Cuplikan layar Video YouTube di saluran LiveLeak tentang dugaan pabrik beras plastik di Cina
Pada hari yang sama, Global TV MNC Media menyiarkan video YouTube dan mengklaim pabrik itu membuat beras palsu – meskipun tidak memiliki sedikit pun bukti untuk membuktikan dugaannya. Kemudian, Metro TV menayangkan video yang sama, mengklaim itu menunjukkan pabrik beras palsu.
Semua ini ‘berita’ beras palsu disaring ke masyarakat. Pada 18 Mei, seorang penjual bubur beras dari kota Bekasi, Jawa Barat, Dewi Septiani (29), menyatakan bahwa dia tanpa sadar telah membeli dan mengonsumsi sejumlah beras plastik.
Dia telah membeli enam liter beras pada 13 Mei dari penjual di pasar tradisional Tanah Merah dengan harga Rp8.000 per liter. Dia mengklaim nasi tidak berubah menjadi bubur yang tepat tetapi malah menjadi beku, membuatnya, adik perempuan dan keponakannya sakit setelah mereka memakannya. Setelah melihat klip-klip YouTube dan laporan berita, dia berasumsi mereka pasti telah mengonsumsi beras sintetis.
Polisi menanyai penjual dan salah satu pemasoknya, dan menutup tokonya. Toko bubur Dewi juga ditutup sambil menunggu investigasi. Pada tanggal 20 Mei, sampel beras – termasuk beberapa yang dimasak oleh Dewi – diambil oleh polisi untuk diuji, dilakukan secara terpisah oleh perusahaan sertifikasi milik negara Sucofindo, Kepolisian Nasional, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Perdagangan Kementerian dan Kementerian Pertanian.
Sucofindo dengan cepat mengumumkan hasil pengujiannya, pada 21 Mei mengklaim beras mengandung jejak polivinilklorida (PVC), senyawa sintetis yang biasanya digunakan untuk membuat pipa. Secara khusus, telah ditemukan jejak tiga jenis plasticizer yang digunakan dalam pembuatan PVC: benzylbutylphthalate (BBP), 2-ethylhexyl phthalate (DEHP) dan diisononyl phthalate (DINP). Itu tidak menyatakan persentase bahan sintetis yang ditemukannya.
Sementara itu, reporter yang malas menemukan artikel berita online lama dari Korea Selatan dari tahun 2011, mengklaim bahwa beras yang terbuat dari plastik “dijual secara massal” di Tiongkok. Laporan itu, mengutip sumber media yang tidak disebutkan namanya dari Singapura, mengatakan “beras plastik dibuat dengan membentuk kentang dan ubi menjadi bentuk seperti beras, kemudian menambahkan resin sintetis industri.” Ia memperingatkan bahwa “makan tiga mangkuk nasi plastik sama dengan makan satu tas vinil. “
‘Fakta-fakta’ ini dengan cepat masuk ke dalam laporan media Indonesia dan Malaysia. Bahkan sebelum Sucofindo merilis hasilnya, divisi Jakarta dari jaringan berita kota regional Coconuts.co pada tanggal 20 Mei menyatakan: “Beras plastik adalah nyata, seperti yang ditunjukkan dalam video produksi di sebuah pabrik Cina.” Oh sayang. Sebuah artikel yang menyertai di http://jakarta.coconuts.co mengklaim “video ini setidaknya mengkonfirmasi bahwa nasi plastik adalah hal yang nyata”. Sampah.
PADA 24 MEI, MENTERI DALAM NEGERI TJAHJO KUMOLO, SEORANG LOYALIS LAMA DARI MANTAN PRESIDEN MEGAWATI SUKARNOPUTRI, MENGKLAIM BAHWA ‘DISTRIBUTOR’ BERAS PALSU MUNGKIN SEDANG MELAKUKAN PENGKHIANATAN ATAU SABOTASE UNTUK MENJATUHKAN PEMERINTAH.
Dia menuntut Badan Intelijen Negara untuk menyelidiki kasus ini.
Ada klaim yang tidak berdasar bahwa seorang gadis yang jatuh sakit di ibukota Sumatera Utara, Medan, makan nasi plastik. “Seorang gadis 10 tahun dilarikan ke rumah sakit … setelah menderita perut bengkak akibat makan nasi yang terkontaminasi dengan bahan sintetis,” seru The Jakarta Post . Surat kabar yang sama melaporkan bahwa beberapa ton beras sintetis telah disita di provinsi Papua.
Dua politisi yang menyerukan ketenangan dan akal sehat atas ketakutan itu adalah Presiden Joko Widodo dan Gubernur Jakarta Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama.
Pada 26 Mei, Kepala Polisi Nasional Jenderal Badrodin Haiti, setelah pertemuan dengan presiden dan pejabat tinggi lainnya, mengumumkan bahwa semua tes lainnya negatif, sehingga tidak pernah ada beras plastik. Dia menyarankan masyarakat untuk berhenti panik karena masalah ini.
Jadi mengapa Sucofindo menghasilkan hasil yang berbeda? Badrodin mengatakan Sucofindo mungkin telah menggunakan metode analisis yang berbeda atau peralatan yang terkontaminasi.
Kepala BPOM Roy Sparingga membenarkan bahwa pihaknya tidak menemukan polimer sintetik atau logam berat di dalam beras. Dia mengatakan Jaringan Internasional Otoritas Keamanan Pangan Organisasi Kesehatan Dunia telah memberi tahu BPOM bahwa tidak ada kasus baru-baru ini tentang beras sintetis di negara lain.
Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengatakan rekan-rekannya di Cina dan Malaysia telah meyakinkannya bahwa tidak ada beras palsu yang didistribusikan di negara mereka.
Legislator Firman Subagyo, anggota Partai Golkar, mengatakan ia menduga tipuan beras palsu itu didalangi oleh “mafia makanan” yang berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari keprihatinan publik menjelang bulan puasa Ramadhan, yang dimulai sekitar 18 Juni tahun ini. Dia mengatakan polisi harus menyelidiki apakah Dewi, penjual bubur, memiliki agenda tersembunyi dalam membuat klaimnya tentang beras plastik.
Dewi mengatakan bahwa dia hanyalah seorang ibu yang peduli yang tidak memiliki niat menakut-nakuti orang, tetapi hanya ingin mereka berhati-hati ketika membeli beras.
Dapat dimengerti bahwa orang-orang cepat mencurigai Cina mungkin membuat beras palsu. Cina tidak memiliki rekor sterling dalam hal produksi pangan. Pada 2008, setidaknya enam bayi Cina terbunuh setelah minum susu bubuk yang dicampu
Kesimpulan
Pelintiran daur ulang. Proses pengolahan limbah plastik menjadi biji plastik, BUKAN membuat beras plastik. Biji plastik adalah bahan untuk diproses menjadi produk akhir dari barang-barang yang terbuat dari plastik.
Rujukan
(GFD-2020-3543) [SALAH] Wapres Kaget Aliran Uang Jiwasraya Masuk ke Dana Kampanye Jokowi-Maruf
Sumber: facebook.comTanggal publish: 15/01/2020
Berita
Beredar postingan yang membagikan artikel berjudul “Wapres Kaget Aliran Uang Jiwasraya Masuk ke Dana Kampanye Jokowi-Maruf” dari operainff[dot]blogspot[dot]com. Postingan itu memberikan narasi bahwa artikel tersebut merupakan pengakuan Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin atas kebenaran judul artikelnya. Berikut kutipan narasi postingannya:
"Kekagetan" Tuan Ma'rup adalah bentuk "pengakuan" atas aliran dana Jiwasraya untuk pemenangan JokKw.
#RevolusiTurunkanJokKw
#BekukanAsetRRC
"Kekagetan" Tuan Ma'rup adalah bentuk "pengakuan" atas aliran dana Jiwasraya untuk pemenangan JokKw.
#RevolusiTurunkanJokKw
#BekukanAsetRRC
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa artikel dari operainff[dot]blogspot[dot]com merupakan artikel yang melansir dari dua laman, yakni dari CNBC Indonesia dan Teropong Senayan (teropongsenayan.com). artikel dari CNBC Indonesia yang dilansir dalam artikel itu ialah “Demokrat: Kok Masalah Jiwasraya Meledak Jelang Pemilu 2019?” yang tayang pada tanggal 29 Desember 2019. Adapun, bagian yang diambil ialah pada paragraf ke delapan artikel tersebut yang diletakan di paragraf pertama artikel operainff[dot]blogspot[dot]com. Berikut perbandingannya:
Cuplikan paragraf pertama operainff[dot]blogspot[dot]com:
[…] Permasalahan yang menimpa PT Asuransi Jiwasraya (Persero) semakin melebar. Baru-baru ini, berembus kabar dana milik perusahaan pelat merah itu digunakan untuk kampanye Presiden Joko Widodo dalam Pemilihan Presiden 2019 lalu. […]
Cuplikan paragraf ke delapan CNBC Indonesia:
[…] Sekadar gambaran, permasalahan yang menimpa Jiwasraya belakangan semakin melebar ke mana-mana. Baru-baru ini, berembus kabar dana milik perusahaan pelat merah itu digunakan untuk kampanye Presiden Joko Widodo dalam Pemilihan Presiden 2019 lalu. […]
Dari perbandingan tersebut terlihat ada bagian yang diubah dari sumber aslinya. Perubahan tersebut juga terjadi pada bagian yang diambil dari laman artikel Teropong Senayan dengan judul “Aliran Uang Jiwasraya Masuk ke Dana Kampanye Jokowi-Maruf, Wapres: Kita Tunggu Saja” yang tayang pada tanggal 8 Januari 2020. Seluruh bagian artikel dari Teropong Senayan diambil oleh operainff[dot]blogspot[dot]com.
Hanya saja, ada perubahan di operainff[dot]blogspot[dot]com. Berikut perbandingannya:
Cuplikan paragraf dua artikel di operainff[dot]blogspot[dot]com:
[…] Menanggapi hal ini, Wakil Presiden Ma"ruf Amin kaget dan mengelak aliran uang dari Jiwasraya masuk ke dana kampanye bersama Presiden Joko Widodo pada Pilpres 2019. […]
Cuplikan paragraf pertama artikel di Teropong Senayan:
[…] Wakil Presiden Ma"ruf Amin mengelak aliran uang dari Jiwasraya masuk ke dana kampanye bersama Presiden Joko Widodo pada Pilpres 2019. […]
Dari perbandingan tersebut terlihat adanya perubahan dari kalimat aslinya.
Cuplikan paragraf pertama operainff[dot]blogspot[dot]com:
[…] Permasalahan yang menimpa PT Asuransi Jiwasraya (Persero) semakin melebar. Baru-baru ini, berembus kabar dana milik perusahaan pelat merah itu digunakan untuk kampanye Presiden Joko Widodo dalam Pemilihan Presiden 2019 lalu. […]
Cuplikan paragraf ke delapan CNBC Indonesia:
[…] Sekadar gambaran, permasalahan yang menimpa Jiwasraya belakangan semakin melebar ke mana-mana. Baru-baru ini, berembus kabar dana milik perusahaan pelat merah itu digunakan untuk kampanye Presiden Joko Widodo dalam Pemilihan Presiden 2019 lalu. […]
Dari perbandingan tersebut terlihat ada bagian yang diubah dari sumber aslinya. Perubahan tersebut juga terjadi pada bagian yang diambil dari laman artikel Teropong Senayan dengan judul “Aliran Uang Jiwasraya Masuk ke Dana Kampanye Jokowi-Maruf, Wapres: Kita Tunggu Saja” yang tayang pada tanggal 8 Januari 2020. Seluruh bagian artikel dari Teropong Senayan diambil oleh operainff[dot]blogspot[dot]com.
Hanya saja, ada perubahan di operainff[dot]blogspot[dot]com. Berikut perbandingannya:
Cuplikan paragraf dua artikel di operainff[dot]blogspot[dot]com:
[…] Menanggapi hal ini, Wakil Presiden Ma"ruf Amin kaget dan mengelak aliran uang dari Jiwasraya masuk ke dana kampanye bersama Presiden Joko Widodo pada Pilpres 2019. […]
Cuplikan paragraf pertama artikel di Teropong Senayan:
[…] Wakil Presiden Ma"ruf Amin mengelak aliran uang dari Jiwasraya masuk ke dana kampanye bersama Presiden Joko Widodo pada Pilpres 2019. […]
Dari perbandingan tersebut terlihat adanya perubahan dari kalimat aslinya.
Kesimpulan
Berdasarkan hal tersebut, maka pada artikel operainff[dot]blogspot[dot]com terjadi pelintiran atas informasi yang dikutip dari CNBC Indonesia dan Teropong Senayan. Dengan demikian, konten dari laman blog tersebut masuk ke dalam kategori Misleading Content atau Konten yang Menyesatkan. Hal itu disebabkan terjadi pelintiran yang mengubah konteks informasi dari dua sumber aslinya.
Rujukan
- https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1088959254769942/
- https://turnbackhoax.id/2020/01/15/salah-wapres-kaget-aliran-uang-jiwasraya-masuk-ke-dana-kampanye-jokowi-maruf/
- https://cekfakta.tempo.co/fakta/557/fakta-atau-hoaks-benarkah-maruf-amin-kaget-duit-jiwasraya-masuk-ke-dana-kampanyenya-dengan-jokowi
- https://www.cnbcindonesia.com/market/20191229203203-17-126357/demokrat-kok-masalah-jiwasraya-meledak-jelang-pemilu-2019
- https://www.teropongsenayan.com/108586-aliran-uang-jiwasraya-masuk-ke-dana-kampanye-jokowi-maruf-wapres-kita-tunggu-saja
Halaman: 7422/7813



