Akun Zabdan Ramadhan (fb.com/ari.septina) mengunggah status berisi klaim sebagai berikut:
“Semua tempat wisata dan jalan protokol perbatasan Medan , ditutup selama pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). PSBB di Kota Medan dilaksanakan selama 14 hari, mulai 3 hingga 17 Oktober 2020.Semua tempat wisata di Kota Medan termasuk jalan protokol Medan dan perbatasan , ditutup selama pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Stay safe guys”
(GFD-2020-5172) [SALAH] “PSBB di Kota Medan dilaksanakan selama 14 hari, mulai 3 hingga 17 Oktober 2020”
Sumber: facebook.comTanggal publish: 03/10/2020
Berita
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa PSBB di Kota Medan dilaksanakan selama 14 hari, mulai 3 hingga 17 Oktober 2020 adalah klaim yang salah.
Faktanya, Pemerintah Kota Medan menyatakan bahwa informasi yang beredar mengenai PSBB di Kota Medan mulai tanggal 3 hingga 17 Oktober 2020 itu tidak benar (hoax).
Pjs Wali Kota Medan, Arief Sudarto Trinugroho, mengatakan informasi itu tidak benar. Arief berpesan masyarakat berhati-hati terhadap berita bohong alias hoax.
“Pemerintah Kota Medan menyatakan bahwa informasi yang beredar mengenai PSBB di Kota Medan mulai tanggal 3 hingga 17 Oktober 2020 itu tidak benar (hoax). Hati-hati dalam mengonsumsi berita apalagi berita tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” jelas Arief saat dimintai konfirmasi.
Bantahan ini juga disampaikan melalui akun Instagram Humas Pemko Medan pada 2 Oktober 2020.
“Pemerintah Kota Medan menyatakan bahwa Informasi yang beredar mengenai PSBB di Kota Medan mulai tanggal 3 hingga 17 Oktober 2020 itu TIDAK BENAR (HOAX). Hati-hati dalam mengkonsumsi berita apalagi berita tersebut TIDAK DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN KEBENARANNYA. Sekali lagi, kami tekankan, berita tersebut adalah HOAX. Ayo jangan mudah percaya terhadap berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan tersebut. Saring sebelum sharing. Hati-hati berita HOAX” tulis akun Humas Pemko Medan.
Faktanya, Pemerintah Kota Medan menyatakan bahwa informasi yang beredar mengenai PSBB di Kota Medan mulai tanggal 3 hingga 17 Oktober 2020 itu tidak benar (hoax).
Pjs Wali Kota Medan, Arief Sudarto Trinugroho, mengatakan informasi itu tidak benar. Arief berpesan masyarakat berhati-hati terhadap berita bohong alias hoax.
“Pemerintah Kota Medan menyatakan bahwa informasi yang beredar mengenai PSBB di Kota Medan mulai tanggal 3 hingga 17 Oktober 2020 itu tidak benar (hoax). Hati-hati dalam mengonsumsi berita apalagi berita tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” jelas Arief saat dimintai konfirmasi.
Bantahan ini juga disampaikan melalui akun Instagram Humas Pemko Medan pada 2 Oktober 2020.
“Pemerintah Kota Medan menyatakan bahwa Informasi yang beredar mengenai PSBB di Kota Medan mulai tanggal 3 hingga 17 Oktober 2020 itu TIDAK BENAR (HOAX). Hati-hati dalam mengkonsumsi berita apalagi berita tersebut TIDAK DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN KEBENARANNYA. Sekali lagi, kami tekankan, berita tersebut adalah HOAX. Ayo jangan mudah percaya terhadap berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan tersebut. Saring sebelum sharing. Hati-hati berita HOAX” tulis akun Humas Pemko Medan.
Kesimpulan
Pemerintah Kota Medan menyatakan bahwa informasi yang beredar mengenai PSBB di Kota Medan mulai tanggal 3 hingga 17 Oktober 2020 itu tidak benar (hoax).
Rujukan
(GFD-2020-5205) [SALAH] Penjelajah Kulit Putih Menghancurkan Bagian Hidung Patung Peninggalan Mesir Kuno
Sumber: facebook.comTanggal publish: 03/10/2020
Berita
(diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia)
“Orang-orang kulit putih melakukan serangkaian aksi merusak wajah patung. Mereka tidak dapat menerima kenyataan bahwa masyarakat peradaban yang sangat maju adalah orang-orang kulit hitam Afrika. Ini adalah para leluhur kami!
Proses ‘whitewashing’ sejarah.”
NARASI DALAM GAMBAR:
(diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia)
“Mengapa banyak patung Mesir Kuno dengan bagian hidung yang hilang?”
“Orang-orang kulit putih melakukan serangkaian aksi merusak wajah patung. Mereka tidak dapat menerima kenyataan bahwa masyarakat peradaban yang sangat maju adalah orang-orang kulit hitam Afrika. Ini adalah para leluhur kami!
Proses ‘whitewashing’ sejarah.”
NARASI DALAM GAMBAR:
(diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia)
“Mengapa banyak patung Mesir Kuno dengan bagian hidung yang hilang?”
Hasil Cek Fakta
Akun Facebook Mwalimu Mutemi Wa Kiama mengunggah sebuah foto (2/9) yang menunjukkan beberapa foto patung-patung peninggalan Mesir Kuno dengan kondisi bagian hidung yang hilang. Foto tersebut disertai dengan keterangan yang menyatakan bahwa perusakan bagian hidung patung-patung tersebut dilakukan oleh para penjelajah kulit putih yang menemukan peninggalan-peninggalan tersebut.
Berdasarkan hasil penelusuran, aksi merusak bagian hidung patung-patung peninggalan Mesir Kuno tersebut merupakan bagian dari ritual yang dipercayai dapat melumpuhkan kekuatan supranatural yang dimiliki oleh patung-patung tersebut dan berpotensi untuk membawa pengaruh buruk bagi masyarakat Mesir Kuno.
Informasi dengan topik yang sama sebelumnya juga pernah dimuat dalam situs USA Today dengan judul “Fact check: Egyptian Statues’ Noses Not Broken Off Because They Resembled ‘Black Faces’” dan mengkategorikannya sebagai false.
Dengan demikian, informasi yang disebarluaskan oleh akun Facebook Mwalimu Mutemi Wa Kiama dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyimpang/Misleading Content, sebab aksi penghancuran bagian hidung patung peninggalan Mesir Kuno dilakukan oleh masyarakat Mesir Kuno sebagai bagian dari ritual, bukan dilakukan oleh para penjelajah kulit putih.
= = = = =
Berdasarkan hasil penelusuran, aksi merusak bagian hidung patung-patung peninggalan Mesir Kuno tersebut merupakan bagian dari ritual yang dipercayai dapat melumpuhkan kekuatan supranatural yang dimiliki oleh patung-patung tersebut dan berpotensi untuk membawa pengaruh buruk bagi masyarakat Mesir Kuno.
Informasi dengan topik yang sama sebelumnya juga pernah dimuat dalam situs USA Today dengan judul “Fact check: Egyptian Statues’ Noses Not Broken Off Because They Resembled ‘Black Faces’” dan mengkategorikannya sebagai false.
Dengan demikian, informasi yang disebarluaskan oleh akun Facebook Mwalimu Mutemi Wa Kiama dapat dikategorikan sebagai Konten yang Menyimpang/Misleading Content, sebab aksi penghancuran bagian hidung patung peninggalan Mesir Kuno dilakukan oleh masyarakat Mesir Kuno sebagai bagian dari ritual, bukan dilakukan oleh para penjelajah kulit putih.
= = = = =
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Khairunnisa Andini (Universitas Diponegoro).
Informasi yang salah. Faktanya, aksi menghancurkan bagian hidung patung merupakan bagian dari ritual Mesir Kuno yang dipercayai dapat melumpuhkan kekuatan supranatural yang dimiliki oleh patung-patung tersebut.
Informasi yang salah. Faktanya, aksi menghancurkan bagian hidung patung merupakan bagian dari ritual Mesir Kuno yang dipercayai dapat melumpuhkan kekuatan supranatural yang dimiliki oleh patung-patung tersebut.
Rujukan
(GFD-2020-5206) [SALAH] Uang Koin Perak 75 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia
Sumber: facebook.comTanggal publish: 03/10/2020
Berita
“Stok trbatas
Minat PM koin perak kemerdekaan 75 thn Indonesia merdeka”
Minat PM koin perak kemerdekaan 75 thn Indonesia merdeka”
Hasil Cek Fakta
Beredar postingan dari akun Facebook Winter memposting beberapa foto UPK 75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia berupa uang perak. Postingan ini diposting disukai sebanyak 9 kali dan dikomentari sebanyak 2 kali.
Berdasarkan dari akun Facebook Bank Indonesia, Bank Indonesia menegaskan bahwa pihaknya tidak menerbitkan dan mengedarkan UPK (Uang Peringatan Kemerdekaan) 75 tahun RI berupa koin perak. Bank Indonesia juga menghimbau agar mengkonfirmasi informasi yang belum terkonfirmasi dengan contact center resmi Bank Indonesia. Diketahui bahwa koin perak bernilai 75 ribu sebanyak 4 keping yang dikemas dengan rapi, dilengkapi dengan barcode pada bagian bawah kemasan koin ini beredar luas di media sosial.
Melihat dari penjelasan tersebut, UPK 75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia berupa uang perak adalah tidak benar dan termasuk dalam Fabricated Content/Konten yang Palsu.
Berdasarkan dari akun Facebook Bank Indonesia, Bank Indonesia menegaskan bahwa pihaknya tidak menerbitkan dan mengedarkan UPK (Uang Peringatan Kemerdekaan) 75 tahun RI berupa koin perak. Bank Indonesia juga menghimbau agar mengkonfirmasi informasi yang belum terkonfirmasi dengan contact center resmi Bank Indonesia. Diketahui bahwa koin perak bernilai 75 ribu sebanyak 4 keping yang dikemas dengan rapi, dilengkapi dengan barcode pada bagian bawah kemasan koin ini beredar luas di media sosial.
Melihat dari penjelasan tersebut, UPK 75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia berupa uang perak adalah tidak benar dan termasuk dalam Fabricated Content/Konten yang Palsu.
Kesimpulan
Hasil Periksa Fakta Natalia Kristian (Anggota Komisariat MAFINDO Universitas Indonesia).
Uang perak tersebut tidak benar, Bank Indonesia telah mengklarifikasikan bahwa UPK 75 tahun RI berupa koin perak tidak diterbitkan oleh Bank Indonesia.
Uang perak tersebut tidak benar, Bank Indonesia telah mengklarifikasikan bahwa UPK 75 tahun RI berupa koin perak tidak diterbitkan oleh Bank Indonesia.
Rujukan
(GFD-2020-5280) [SALAH] Hydroxychloroquine Sebagai Obat Malaria di Uganda
Sumber: twitter.comTanggal publish: 03/10/2020
Berita
Akun Twitter @sallyKP (sally), menulis cuitan yang diunggah pada 23 Agustus 2020. Cuitan tersebut menyebarluaskan informasi bahwa Uganda menggunakan hydroxychloroquine sebagai obat malaria yang berhasil menekan angka kematian menjadi hanya 20 orang. Cuitan tersebut telah dibagikan ulang sebanyak 752 kali. Selain itu, terdapat 1.137 orang yang telah menyukai cuitan tersebut, diikuti dengan 55 orang memberikan komentar.
Hasil Cek Fakta
Berdasarkan hasil penelurusan lebih lanjut, dilansir dari jurnal African Health Sciences yang berjudul “Prescribing pratices for malaria in a rural Ugandan hospital: evaluation of a new malaria treatment policy” yang diterbitkan pada 11 Agustus 2011, Uganda, negara yang masyarakatnya banyak terjangkit Malaria, menggunakan kebijakan pengobatan terapi berbasis artemisin (obat yang mengandung kina). Fakta ini juga dimuat dalam portal berita Unica News, yang menjelaskan bahwa kina merupakan obat yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit malaria dan babesiosis.
Lebih lanjut, kandungan obat kina sendiri berbeda dengan hydroxychloroquine. Menurut portal berita Reuters, Hydroxychloroquine adalah obat sintetis, sementara kina merupakan senyawa yang terbentuk secara alami.
Dengan demikian, pernyataan yang ditulis oleh @sallyKP tersebut dapat dikategorikan sebagai konten yang menyesatkan, sebab akun tersebut telah memberikan kesimpulan yang salah mengenai obat malaria yang digunakan di Uganda.
Lebih lanjut, kandungan obat kina sendiri berbeda dengan hydroxychloroquine. Menurut portal berita Reuters, Hydroxychloroquine adalah obat sintetis, sementara kina merupakan senyawa yang terbentuk secara alami.
Dengan demikian, pernyataan yang ditulis oleh @sallyKP tersebut dapat dikategorikan sebagai konten yang menyesatkan, sebab akun tersebut telah memberikan kesimpulan yang salah mengenai obat malaria yang digunakan di Uganda.
Rujukan
Halaman: 7092/7919



