• (GFD-2021-8479) Keliru, Kasus Covid-19 Terus Naik Karena Urutan Genetik Virusnya Sama dengan Manusia

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 02/02/2021

    Berita


    Sebuah video yang berisi klaim bahwa urutan genetik virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, sama dengan manusia beredar di Facebook. Akun yang mengunggah video itu adalah akun Collection of videos of Moslem Da'wah, tepatnya pada 23 Januari 2021. Akun ini pun menulis narasi bahwa video itu adalah jawaban mengapa kasus Covid-19 terus meningkat setiap harinya.
    "Kebohongan coped19 terungkap. Kenapa kasus vonis coped19 meningkat terus setiap hari, Jika pakai masker, cuci tangan, jaga jarak, menghindari kerumunan bisa mengurangi penyebaran virus coped19 ? Saya sarankan tonton video sampai selesai! PSBB/PPKM dan fucksin bukan solusi konkret untuk menghentikan plandemi," demikian narasi yang ditulis oleh akun tersebut.
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Collection of videos of Moslem Da'wah yang memuat klaim keliru terkait urutan genetik virus Corona penyebab Covid-19.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan penelusuran Tempo, video yang menunjukkan kesamaan antara urutan genetik SARS-CoV-2 dengan manusia tersebut telah beredar setidaknya sejak September 2020. Namun, ketika itu, ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Utomo telah memberikan penjelasan mengenai klaim tersebut melalui videonya di YouTube yang diunggah pada 24 September 2020.
    Menurut lulusan Harvard Medical School dan University of Texas Health Science Center ini, urutan genetik SARS-CoV-2 tidak identik dengan manusia. Ahmad menemukan fakta ini setelah menelusuri kecocokan antara sekuens SARS-CoV-2 dan gen manusia dengan BLAST, platform milik National Library of Medicine Amerika Serikat.
    Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa kesamaan urutan genetik SARS-CoV-2 dan manusia hanya 15. Padahal, nukleotida pada urutan genetik SARS-CoV-2 berjumlah 18. “Artinya apa? Artinya ini kurang spesifik, walaupun memang ada kesamaan,” kata Ahmad dalam video tersebut yang dikonfirmasi ulang oleh Tempo pada 1 Februari 2021.
    Dilansir dari The Conversation, menurut riset terbaru Kementerian Kesehatan mengenai perilaku masyarakat Indonesia selama pandemi Covid-19, baru sekitar 42 persen masyarakat yang mencuci tangan dengan baik dan benar dan hanya 54 persen responden yang selalu menjaga jarak fisik di tempat-tempat umum.
    Padahal, perilaku memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M), menurut studi di 190 negara pada 23 Januari-13 April 2020, dapat menekan angka penularan di masyarakat dan efektivitasnya meningkat jika dilakukan seluruhnya bersamaan. Panjangnya durasi pandemi Covid-19 ini juga telah membuat sebagian masyarakat mulai lelah dan kendor dalam menerapkan protokol kesehatan.
    Riset menunjukkan kelelahan akan kepatuhan itu telah meningkatkan kasus sebesar 61 persen hingga Oktober 2020. Penelitian tersebut memproyeksikan, dengan intervensi sederhana seperti memakai masker dan menjaga jarak, kasus bisa ditekan sekitar 18 persen hingga Maret 2021.
    Rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat juga meningkatkan risiko kematian. Jumlah angka perokok aktif di Indonesia masih sangat besar, yakni 33,8 persen pada 2018. Cukup banyak bukti yang menunjukkan bahwa merokok dapat menyebabkan penyakit tidak menular yang bisa menjadi faktor pemberat orang yang terinfeksi Covid-19. Sebuah penelitian menemukan bahwa risiko kematian Covid-19 tinggi pada populasi yang merokok.
    Efektivitas 4M dalam mencegah Covid-19
    Intervensi nonmedis, berupa kewajiban menggunakan masker di tempat umum, isolasi atau karantina, menjaga jarak sosial, dan membatasi mobilitas, secara signifikan dapat menahan pandemi Covid-19. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan pada 23 Januari-13 April 2020 di 190 negara terkait efektivitas intervensi nonmedis pada penularan Covid-19 yang diterbitkan di Science Direct.
    Studi itu membandingkan negara-negara yang tidak mewajibkan intervensi nonmedis dengan negara-negara yang mengatur sebagian dan negara-negara yang mewajibkan secara ketat penggunaan masker, isolasi, penerapan jarak sosial, dan pembatasan mobilitas.
    Menurut hasil studi tersebut, implementasi intervensi nonmedis yang melibatkan jaga jarak dikaitkan dengan penurunan angka infeksi Covid-19 yang lebih besar daripada yang tidak mewajibkan jaga jarak. Karena itu, kombinasi lebih banyak jenis intervensi terkait dengan penurunan angka produksi Covid-19 yang lebih besar.

    Kesimpulan


    Berdasarkan hasil pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa kasus Covid-19 terus meningkat karena urutan genetik virus Corona penyebabnya, SARS-CoV-2, sama dengan manusia, keliru. Klaim bahwa memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan tidak efektif dalam menekan angka penularan Covid-19 juga keliru.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-8480) Keliru, Virus Corona Covid-19 Muncul Karena Adanya Tes Rapid dan PCR

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 02/02/2021

    Berita


    Klaim bahwa virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2, muncul karena adanya tes cepat (rapid test) dan tes PCR (polymerase chain reaction) beredar di Facebook. Klaim ini dibagikan oleh akun Lois Lois pada 28 Januari 2021. “Gara2 ada alat setan Rapid dan PCR yg di sumbang Bill gate..Dunia kacau balau meyakini ada virus hanya karena adanya alat setan ini!!!!!”
    Akun tersebut juga mengklaim bahwa pasien Covid-19 yang menderita gejala berat diakibatkan oleh obat antivirus. “Masih Main2 alat setan Maka harus siap di racuni obat yg di beri label 'Antivirus'!! Agar bergejala berat sesak nafas,mual,nyeri dada,jantung berdebar pakai Ventilator!!”
    Dalam unggahannya, akun itu juga membagikan gambar tangkapan layar Instagram story dari akun @rachay.mds yang menyebut bahwa Tanzania adalah satu-satunya negara yang tidak terjangkit Covid-19 karena tidak menggunakan tes rapid maupun tes PCR. "Itu sebabnya tahun lalu kopit udah 3 bulan, tapi di indonesia masih normal-normal aja, sebelum ada alat tes."
    Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Lois Lois yang memuat klaim keliru soal tes rapid dan tes PCR Covid-19.

    Hasil Cek Fakta


    Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, klaim-klaim dalam unggahan tersebut tidak berdasarkan fakta. Rapid test maupun tes PCR telah banyak digunakan untuk melakukan deteksi dalam berbagai penyakit lain sebelumnya, tidak hanya Covid-19. Berikut fakta-fakta atas klaim tersebut:
    Klaim 1: Virus Corona Covid-19 bisa muncul karena adanya tes rapid dan tes PCR
    Fakta:
    Tes PCR danrapid testadalah dua jenis tes yang bisa digunakan untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi Covid-19. Berdasarkan arsip berita Tempo, pakar kesehatan Akmal Taher mengatakan testingbersamatracing dantreatment(3T) merupakan strategi yang perlu diambil untuk menghentikan laju kasus Covid-19. Dengan tes, mereka yang positif Covid-19 bisa segera ditemukan lalu diisolasi agar tidak menularkannya pada orang lain.
    Sebelum terjadinya pandemi Covid-19, tes PCR telah digunakan. Dikutip dari Science Mag, metode tes PCR ditemukan oleh Kary Mullis, ilmuwan Cetus Corporation di Emeryville, California, Amerika Serikat, pada Mei 1983. Sejak pertama kali ditemukan, tes PCR terus dikembangkan dan diperkuat serta telah menjadi salah satu alat laboratorium yang digunakan di berbagai penjuru dunia.
    Dilansit dari Medicinenet, tes PCR punya banyak kegunaan, mulai dari mendiagnosis penyakit genetik, melakukan sidik jari DNA, menemukan bakteri dan virus, mempelajari evolusi manusia, mengkloning DNA mumi Mesir, dan sebagainya. Dengan demikian, tes PCR telah menjadi alat penting bagi ahli biologi, laboratorium forensik DNA, dan banyak laboratorium lain yang mempelajari materi genetik.
    Dalam perjalanannya, metode ini berkembang menjadi RT-PCR (reverse transcriptasePCR), yakni teknik yang sangat sensitif untuk mendeteksi dan menghitung mRNA (messengerRNA). Tekniknya terdiri dari dua bagian, yakni sintesis cDNA dari RNA dengan RT dan amplifikasi cDNA tertentu oleh PCR. RT-PCR telah digunakan untuk mengukurviral loadHIV dan juga dapat digunakan dengan virus RNA lain seperti campak dan gondongan.
    Klaim 2: Tanzania satu-satunya negara yang tidak memiliki kasus Covid-19
    Fakta:
    Menurut data WorldOMeter, hingga 2 Februari 2021, terdapat 509 kasus Covid-19 di Tanzania, di mana 21 orang di antaranya meninggal. Tanzania telah mencatatkan kasus Covid-19 sejak 16 Maret 2020.
    Tanzania pun mewajibkan orang yang keluar-masuk negaranya untuk memiliki hasil tes PCR negatif. Dikutip dari berita di All Africa pada 12 Januari 2021, individu yang masuk dan keluar dari Tanzania untuk berbagai alasan, baik itu urusan pribadi, bisnis, atau wisata, harus memiliki surat tes PCR Covid-19 dengan hasil negatif.
    Langkah-langkah itu diambil oleh Tanzania untuk menjunjung tinggi komitmen dan memastikan negaranya tetap aman bagi rakyatnya, wisatawan, dan investor yang ingin mengunjungi Tanzania selama masa-masa sulit ini.
    Klaim 3: Pasien Covid-19 yang bergejala berat karena diracun dengan obat antivirus
    Fakta:
    Seseorang yang terinfeksi Covid-19 bisa saja tidak menunjukkan gejala ataupun mengalami gejala ringan, gejala sedang, dan gejala berat. Dikutip dari Detik.com, para ahli menyebut memiliki komorbid atau penyakit penyerta menjadi faktor penentu kondisi pasien Covid-19 bisa menjadi berat atau tidak. Hal ini dikarenakan individu dengan penyakit penyerta memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah sehingga tidak mampu melawan Covid-19.
    Faktor kedua adalah jika virus berhasil melewati tenggorokan dan masuk ke dalam jaringan paru. Hal ini membuat penyakit tersebut masuk ke fase yang lebih memprihatinkan. Gejala yang dialami meliputi sakit dada, batuk keras, dan sesak napas. Virus ini juga dapat menyerang alveoli atau kantong udara dan memenuhinya dengan cairan sehingga menimbulkan pneumonia.
    Sementara faktor ketiga adalah respons sistem kekebalan tubuh. Dalam kebanyakan kasus, kekebalan tubuh bisa langsung melawan dan mematikan virus Corona dengan sukses. Saat kemunculan virus, tubuh berusaha segera memperbaiki kerusakan di paru-paru. Apabila berjalan dengan baik, infeksinya dapat diberantas dalam beberapa hari.
    Sayangnya, ada beberapa kondisi di mana kekebalan tubuh dapat lebih berbahaya dan menyebabkan hilangnya folikel yang membantu mengusir kontaminasi. Selain itu, ada juga sindrom badai sitokin yang terjadi saat tubuh overdrive dalam upaya melawan virus. Saat badai sitokin terjadi, imun yang harusnya menyerang virus malah balik menyerang tubuh.

    Kesimpulan


    Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa virus Corona Covid-19 muncul karena adanya tes rapid dan tes PCR, keliru.Testing, terutama dengan tes PCR, justru menjadi salah satu strategi yang penting dalam menghentikan pandemi Covid-19. Teknologi tes PCR pun sudah ditemukan sejak 1983, jauh sebelum munculnya Covid-19.
    IKA NINGTYAS
    Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id

    Rujukan

  • (GFD-2021-6240) SALAH] Anies Raih Piala Lomba Mewarnai

    Sumber: twitter.com
    Tanggal publish: 02/02/2021

    Berita

    Juara lomba mewarnai anak anak Tingkat Kecamatan seluruh DKI Tahun 2021. – Selalu saja Anies yg juara nya, kasihan anak-anak jatah nya diserobot..

    Hasil Cek Fakta

    Beredar di media sosial Twitter @Thalomoan1 pada (24/01/21) , mengunggah sebuah foto Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memegang piala juara mewarnai disamping dua anak kecil yang masing-masing memegang lukisannya, dengan narasi “Juara lomba mewarnai anak anak Tingkat Kecamatan seluruh DKI Tahun 2021. – Selalu saja Anies yg juara nya, kasihan anak-anak jatah nya diserobot.”. Unggahan tersebut mendapat 26 retweets, 173 likes, dan 26 komentar.

    Dari penelusuran diketahui foto tersebut merupakan hasil suntingan dari dua sumber foto yang berbeda. Cuplikan foto Anies terdapat pada unggahan akun Instagram resminya “@aniesbaswedan”, yang memposting foto sedang menerima penghargaan atas terpilihnya kembali DKI Jakarta meraih penghargaan Top Digital Award 2020 Selasa(22/12/20). Sedangkan cuplikan foto dua anak kecil memegang lukisannya merupakan potongan dari sebuah foto yang berasal dari www.lenterapendidikan.com, dengan judul artikel “TKIT Dan SDIT Rabbani Juara Lomba Mewarnai” terbit pada Kamis(22/08/19).

    Pada foto aslinya, Anies Baswedan memegang piala “Top Digital Award” di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang penghargaan “Top Leader On Digital Implementation 2020”.

    Berdasarkan penjelasan tersebut, maka konten tersebut masuk ke dalam kategori Manipulated Content atau Konten yang Dimanipulasi.

    Kesimpulan

    Hasil periksa fakta Rahmah An Nisaa (Uin Sunan Ampel Surabaya).

    Foto Anies raih piala mewarnai merupakan hasil suntingan dari dua foto dari akun Instagram “@aniesbaswedan”, yakni foto Anies memegang dua penghargaan dari Top Digital Award 2020 pada Selasa(22/12/20) dan foto dua anak kecil dalam lenterapendidikan.com, dengan judul “TKIT Dan SDIT Rabbani Juara Lomba Mewarnai”, terbit pada Kamis(22/0819).

    Rujukan

  • (GFD-2021-6241) [SALAH] “test Ge Nose C19, Mudah n murah. Rp 15 rb, 10 detik, akurasi 99,9%. Gak hrs swab, gak hrs diambil darah”

    Sumber: facebook.com
    Tanggal publish: 02/02/2021

    Berita

    Akun Budi R (fb.com/budi.r.357622) pada 30 Januari 2021 membagikan informasi sebagai berikut:

    “Mulai tgl 5 Feb’21 di station dan bandara dan tempat2 umum dikenakan biaya Rp 5 rb sd 10 rb per org per 1x test..Ge Nose C19
    Ternyata Indonesia ngga kalah… Merdeka!!!! Luar biasaa!!!!
    Tes covid jadi simpel. Mudah n murah. Rp 15 rb, 10 detik, akurasi 99,9%. Gak hrs swab, gak hrs diambil darah. Terimakasih UGM, nuwun sanget dosen UGM, Dr Kuwat Triyana (lahir 1977) penemu GeNos pengendus Covid-19. Indonesia Bisa”

    Hasil Cek Fakta

    Berdasarkan hasil penelusuran, klaim bahwa alat pendeteksi Covid-19 buatan UGM, GeNose dapat mendeteksi Covid-19 dalam 10 detik adalah klaim yang menyesatkan.

    Faktanya, bukan 10 detik. Ketua Tim Pengembang GeNose dari UGM Kuwat Triyana, mengatakan setiap tes membutuhkan waktu tiga menit, termasuk pengambilan napas. Kuwat juga menyatakan, apabila dari GeNose hasilnya positif tetap harus melakukan PCR.

    Pemakaian alat pendeteksi COVID-19 GeNose di stasiun-stasiun kereta api memang akan diterapkan pada 5 Februari 2021. Hanya saja, alat penapisan dan diagnostik itu, seperti terdapat dalam halaman infografik, dapat mendeteksi Covid-19 dalam waktu 80 detik.

    Dilansir dari Kompas, Kuwat menjabarkan setiap prosesnya sebagai berikut:

    “Kalau sampel napas sudah dicolokkan ke mesin GeNose, kita butuh 2 detik untuk proses baseline, lanjut 40 detik proses sensing dan 3 detik decision, sehingga totalnya 45 detik. Kalau ditambah dengan ambil napas ya kira-kira butuh 3 menit termasuk flushing untuk membersihkan ruang sensor,” ujarnya.

    Durasi tiga menit termasuk pengambilan napas itu disampaikan Kuwat setelah GeNose mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan RI.

    Kuwat menambahkan, biaya tes Covid-19 dengan GeNose tersebut antara Rp 15.000 hingga Rp 25.000. Namun demikian, lanjut Kuwat, apabila ada yang mematok lebih dari Rp 25.000, hal itu mungkin karena ada layanan ekstra yang diberikan.

    “Kalau ada yang lebih dari Rp 25.000, mungkin ada tambahan layanan,” terang Kuwat.

    Sementara itu, disebutkan dalam narasi bahwa akurasi GeNose mencapai 99,9 persen. Kuwat menyebutnya itu bagian dari cita-cita yang diharapkan. Akan tetapi, saat ini akurasi GeNose tak setinggi seperti yang dinarasikan.

    “Akurasi 99,9 itu cita-citanya, tapi saat ini sekitar 95 persen,” kata Kuwat.

    Dia menambahkan, saat ini GeNose telah mulai digunakan di delapan rumah sakit, klinik kesehatan, beberapa perusahaan, dan banyak perkantoran milik pemerintah.

    Kesimpulan

    BUKAN 10 detik. Ketua Tim Pengembang GeNose dari UGM Kuwat Triyana, mengatakan setiap tes membutuhkan waktu TIGA MENIT, termasuk pengambilan napas. Kuwat juga menyatakan, apabila dari GeNose hasilnya positif tetap harus melakukan PCR.

    Rujukan