• (GFD-2021-7809) [SALAH] Artikel Berita Berjudul “Barcelona Tunjuk Luhut Panjaitan Sebagai Pelatih Menggantikan Ronald Koeman”

    Sumber: Facebook.com
    Tanggal publish: 09/11/2021

    Berita

    Catalunya – Barcelona telah menunjuk Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan sebagai pelatih kepala setelah kepergian Ronald Koeman, kata klub Liga Spanyol itu dalam sebuah pernyataan, Kamis (28/10/2021).

    Koeman dipecat setelah Barca kalah 1-0 dari Rayo Vallecano pada Rabu, kekalahan keempat mereka dalam enam pertandingan di semua kompetisi.

    “(Luhut) akan mengambil posisi sebagai pelatih kepala tim utama penuh waktu untuk menggantikan Ronald Koeman yang dipecat,” kata klub Catalan dalam sebuah pernyataan.

    Manajemen Barcelona mengatakan, penunjukan Luhut Binsar Pandjaitan sebagai pelatih kepala Barcelona tak lepas dari kinerja apik yang ditunjukkan oleh Luhut di pemerintahan Jokowi – Ma’ruf. Menurut manajemen Barcelona, mereka terkesima melihat performa Luhut ketika ditunjuk menjadi Koordinator PPKM Jawa – Bali, juga ketua Dewan Pengarah Penyelamatan 15 Danau Prioritas Nasional, serta ketua Komite Kereta Cepat Jakarta – Bandung. Hal ini membuat manajemen Barcelona tak ragu untuk menunjuk Luhut sebagai pelatih kepala.

    *artikel berita berjudul “Barcelona Tunjuk Luhut Panjaitan Sebagai Pelatih Menggantikan Ronald Koeman” Kamis, 28 Oktober 2021 | 21:51 WIB
    Oleh: Surya Lesmana/LES

    Hasil Cek Fakta

    Beredar postingan di Facebook oleh akun bernama Rahmat Joan di grup “Dukung Jokowi 3 Periode”. Dalam postingannya disertakan sebuah screenshoot artikel berita berjudul “Barcelona Tunjuk Luhut Panjaitan Sebagai Pelatih Menggantikan Ronald Koeman”, terdapat juga foto Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan sedang berjalan di sebuah stadion.

    Rahmat juga menambahkan narasi dalam postingannya yang seolah narasi tersebut adalah isi dari berita. Dikatakan bahwa Luhut ditunjuk oleh Manajemen Barcelona untuk menjadi kepala pelatih menggantikan Ronald Koeman. Koeman sendiri telah dipecat setelah Barca menghadapi kekalahan keempat dari enam pertandingan. Manajemen mempercayai Luhut untuk menjadi pelatih karena performa kinerja Luhut yang bagus di pemerintahan Jokowi.

    Setelah dilakukan penelusuran fakta terkait, ditemukan ternyata judul berita tersebut sudah diedit. Judul aslinya yakni “Barcelona Tunjuk Sergi Barjuan Jadi Pelatih Sementara”. Penampakan kanal berita yang sama persis seperti screenshoot Rahmat adalah kanal berita Beritasatu.com, tanggal penayangan dan penulis berita juga persis sama. Judul yang asli sama sekali tidak berkaitan dengan Luhut Pendjaitan dan faktanya yang menggantikan pelatih Barcelona adalah bernama Sergi Barjuan.

    Ronald Koeman dipecat setelah Barca kalah 1-0 dari Rayo Vallecano, kekalahan keempat mereka dalam enam pertandingan di semua kompetisi. Barjuan sendiri akan mengambil alih sementara manajemen teknis tim senior.

    Adapun gambar pada headline berita tersebut juga diedit. Dalam artikel aslinya terpampang foto Sergi Bajuan. Sedangkan foto Luhut pada artikel berita palsu adalah saat Luhut menghadiri PON Papua XX.

    Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa klaim Rahmat Joan adalah HOAX dan termasuk kategori Konten yang Dimanipulasi.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Ani R

    Judul Hasil Editan. Judul aslinya yakni “Barcelona Tunjuk Sergi Barjuan Jadi Pelatih Sementara”, ditayangkan oleh kanal berita Beritasatu.com pada Kamis 28 Oktober 2021 pukul 21.51 WIB.

    Rujukan

  • (GFD-2021-7810) [SALAH] “Uang Pecahan Baru, Selembar 1 Juta”

    Sumber: Tiktok.com
    Tanggal publish: 09/11/2021

    Berita

    “Uang pecahan 1jeti
    Hayyo!! Udah ada yg punya blom??”

    @TuanYudi
    Uang pecahan baru, selembar 1 juta??😱😱😱 #fyp #trending

    Hasil Cek Fakta

    Beredar video viral di media sosial Tiktok oleh akun bernama @TuanYudi. Ia membagikan sebuah video mengenai selembar pecahan uang dengan nominal 1.0, yang diklaim memiliki nilai sebanyak 1 juta. Videonya di-likes sebanyak 200 lebih pengguna Tiktok.

    Setelah dilakukan penelusuran fakta terkait, klaim @TuanYudi adalah palsu.

    Bank Indonesia mengonfirmasi terkait beredarnya video selembar uang dengan nominal 1.0 bernilai 1 juta, bahwa uang tersebut tidak sah untuk digunakan sebagai transaksi jual beli. Lebih lanjut BI menegaskan uang tersebut bukan rupiah dan pihaknya tidak pernah mengeluarkan ataupun mengedarkan uang dengan nominal 1.0 tersebut.

    “Uang dalam video tersebut bukan merupakan uang rupiah dan bukan merupakan alat pembayaran yang sah,” ungkap Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono kepada CNBC Indonesia.

    Erwin menjelaskan, sesuai dengan UU No.7 tahun 2011 tentang Mata Uang, Rupiah memiliki ciri khusus yang tidak ada pada uang pecahan 1.0 tersebut. Menurutnya, uang tersebut adalah spesimen Perum Peruri atau contoh uang cetakan Peruri yang hanya untuk kepentingan internal.

    Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa klaim @TuanYudi adalah HOAX dan termasuk kategori Konteks yang Salah/FALSE CONTEXT.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Ani R

    Informasi Palsu. Bank Indonesia menegaskan bahwa uang pecahan 1.0 yang viral di Tiktok bukan Rupiah. Artinya uang tersebut bukan alat pembayaran sah di Indonesia. BI juga tidak pernah mengeluarkan uang dengan pecahan 1.0 tersebut.

    Rujukan

  • (GFD-2021-7811) [SALAH] 13 Anak Sekolah di Afrika Meninggal Karena Vaksin Covid-19

    Sumber: Facebook.com
    Tanggal publish: 09/11/2021

    Berita

    13 anak sekolah di Afrika Selatan meninggal setelah mendapatkan OBAT SURGA FUCKSHIT KOPET19!!!!!!!!!! Berita ini bbrpa X diunggah d iG namun dihapus pihak bi0 t3ch!!!!! Sadarlah skrg Smua ini adalah permainan #dajjallaknatullah dan anak buahnya!!!! Semua Owner #fuckhsit adalah Seorg Yahudi #Zionis laknatullah… Zionis adlh musuh yg nyata khususnya bagi #UmatMuslim, Ssuai ap yg #ALLAH firmankan dan #RASULULLAH sabdakan!!!

    Meninggal akibat di vaksin
    Meninggal paska vaksin
    Berita hoax tentang pasien yg meninggal setelah di suntik vaksin covid 19

    Hasil Cek Fakta

    Beredar postingan di Facebook yang menyebarkan sebuah video tewasnya anak-anak dari Afrika, dalam video tersebut para kerabat anak-anak tersebut menangis secara histeris. Akun bernama Haseki Hurrem Sul Tan mengklaim bahwa meninggalnya 13 anak sekolah di Afrika tersebut dikarenakan vaksin COVID-19.

    Setelah dilakukan penelusuran fakta terkait, meninggalnya 13 anak sekolah tersebut bukan karena vaksin COVID-19. Namun karena kecelakaan di sekolah mereka.

    Hoax dengan video yang sama telah beredar sejak awal tahun 2020, namun klaim yang dibuat di antaranya seperti kematian yang disebabkan keracunan biskuit, keracunan permen, dan diserang oleh “makhluk asing”. Kesemua klaim tersebut adalah HOAX.

    Melansir dari media Afrika Piga Firimbi, diketahui bahwa 13 anak yang meninggal tersebut dikarenakan kecelakaan setelah pulang dari sekolah.

    Lebih lanjut, dalam kanal YouTube media berita NTV Kenya, dengan judul berita “13 pupils killed, 40 injured in stampede at Kakamega Primary School”, diberitakan bahwa anak-anak umur 10-12 dari Sekolah Dasar Kakamega meninggal setelah mereka pulang dari sekolah.

    Puluhan anak dari sekolah tersebut pulang pada pukul 17.00 secara berdesak-desakan dan kemudian mereka terjatuh, 13 anak tewas dalam insiden itu dan 40 lainnya terluka.

    Diketahui, kejadian meninggalnya 13 anak sekolah dari Afrika terjadi pada awal tahun 2020, sedangkan vaksin COVID-19 baru disahkan untuk beredar pada bulan Desember 2020, sehingga kematian mereka tidak ada hubungannya dengan vaksin COVID-19.

    Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa klaim Haseki adalah HOAX dan termasuk kategori Konten yang Menyesatkan.

    Kesimpulan

    Hasil Periksa Fakta Ani R

    Bukan karena vaksin COVID-19. Hoax serupa beredar sejak awal tahun 2020 yang mengklaim bahwa tewasnya anak-anak dikarenakan keracunan makanan. Faktanya, mereka meninggal karena kecelakaan dan terjatuh di sekolah karena pulang secara berdesak-desakan. Insiden ini terjadi pada awal tahun 2020 sebelum vaksin COVID-19 sah untuk beredar.

    Rujukan

  • (GFD-2021-8805) Keliru, Jong China Tidak Bergabung dalam Kongres Pemuda yang Melahirkan Sumpah Pemuda

    Sumber: cekfakta.tempo.co
    Tanggal publish: 08/11/2021

    Berita


    Narasi yang mengklaim bahwa Jong Cina tidak mau bergabung sejak Kongres Pemuda 1926, 1927 dan 1928, beredar di media sosial saat peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2021. 
    Klaim itu diunggah dalam sebuah flyer digital berjudul “Fakta Sejarah yang Coba untuk Dikaburkan”, bersama tiga flyer lain yang membandingkan peran etnis Tionghoa dan etnis Arab dalam sejarah lahirnya Sumpah Pemuda 28 Oktober. 
    Dalam flyer itu disebut bahwa Cina tidak akan mengakui bangsa Indonesia sebagai bangsa atau negaranya, karena Jong China tidak mau bergabung dalam Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda 1928. “Mereka menyatakan dirinya bukan bagian bangsa ini, malah bergabung dengan kompeni.”
    Tempo mendapatkan unggahan itu disebarkan di Twitter dan Pinterest
    Tangkapan layar unggahan klaim Jong Cina tidak bergabung dalam Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda

    Hasil Cek Fakta


    Tim Cek Fakta Tempo mewawancarai sejarawan Ravando Lie dan menggunakan referensi terbuka lainnya untuk memverifikasi klaim tersebut. Hasilnya, etnis Tionghoa memiliki peranan dan berkontribusi di masa pergerakan Indonesia, terutama dalam Kongres Pemuda yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober. 
    Klaim 1 tentang organisasi Jong China 
    Menurut Ravando, etnis Tionghoa tidak pernah mendirikan organisasi pemuda bernama Jong China dalam masa pergerakan Indonesia kala itu. Dalam sejumlah arsip, kata dia, memang ada istilah Jong Chinese Bewerking. Namun istilah itu bukan sebuah organisasi seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond atau organisasi pemuda berlatar etnis lainnya yang berdiri tahun 1920an. Istilah tersebut, kata Ravando, lebih merujuk pada spirit gerakan kaum muda Tionghoa pasca Revolusi Tiongkok 1911. Spirit itu seiring pula dengan munculnya sekolah-sekolah Tionghoa yang tersebar di banyak daerah, yang kemudian memunculkan semangat nasionalisme di kalangan muda Tionghoa. 
    Klaim 2 tentang peranan etnis Tionghoa dalam Sumpah Pemuda
    Sejarawan Ravando Lie menjelaskan, bahwa komunitas Tionghoa di Indonesia tidak bisa dilihat secara homogen. Sebab mereka terbagi dalam beberapa golongan dengan ideologi masing-masing dan arah politik yang berbeda. Akan tetapi hal ini tidak hanya terjadi di komunitas Tionghoa saja, tapi juga terjadi di banyak kelompok lainnya, termasuk di kalangan bumiputera. 
    “Tapi kalau dilihat lebih detail lagi pada sejarah Tionghoa di Indonesia, ada banyak sekali mereka yang bersimpati pada perjuangan Indonesia merdeka,” kata dia. 
    Ravando menyebutkan sedikitnya ada 4 hal bagaimana etnis Tionghoa punya peran dalam Sumpah Pemuda 1928:
    a. Rumah tempat lahirnya Sumpah Pemuda
    Menurut Ravando, rumah yang digunakan sebagai tempat Sumpah Pemuda 1928 adalah milik Sie Kong Liang, seorang pria berlatar Tionghoa. Rumah tersebut memang sering digunakan oleh sejumlah pemuda progresif kala itu untuk berdiskusi dan berkumpul sebagai bagian mewujudkan Indonesia merdeka. Kelak rumah tersebut ditetapkan menjadi Museum Sumpah Pemuda. 
    “Kong Liang sendiri senang rumahnya dipakai berkumpul para pemuda yang juga aktivis,” kata Ravando, kandidat Doktor Sejarah dari Universitas Melbourne, Australia. 
    Sebelum menjadi tempat lahirnya Sumpah Pemuda, rumah Kong Liang menjadi rumah indekos sejumlah tokoh pergerakan nasional seperti Muhammad Yamin, Abu Hanifah dan Amir Syarifudin. 
    Dalam situs Museum Sumpah Pemuda di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI juga dijelaskan, museum tersebut adalah rumah tinggal milik Sie Kong Liang yang didirikan pada permulaan abad ke-20. Sejak 1908, rumah itu disewa pelajar Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) dan RS (Rechtsschool) sebagai tempat tinggal dan belajar. Saat itu dikenal dengan nama Commensalen Huis. Mahasiswa yang pernah tinggal adalah Muhammad Yamin, Amir Sjarifoedin, Soerjadi (Surabaya), Soerjadi (Jakarta), Assaat, Abu Hanifah, Abas, Hidajat, Ferdinand Lumban Tobing, Soenarko, Koentjoro Poerbopranoto, Mohammad Amir, Roesmali, Mohammad Tamzil, Soemanang, Samboedjo Arif, Mokoginta, Hassan, dan Katjasungkana.
    Sejak tahun 1927, rumah tersebut digunakan oleh berbagai organisasi pergerakan pemuda untuk melakukan kegiatan pergerakan. Bung Karno dan tokoh-tokoh Algemeene Studie Club Bandung sering hadir untuk membicarakan format perjuangan dengan para penghuni rumah tersebut. Di gedung ini pernah diselenggarakan kongres Sekar Roekoen, Pemuda Indonesia, PPPI. Gedung ini juga menjadi sekretariat PPPI dan sekretariat majalah Indonesia Raja yang dikeluarkan PPPI. Mengingat digunakan berbagai organisasi, maka sejak tahun 1927 rumah yang juga disebut Gedung Kramat 106 diberi nama Indonesische Clubhuis atau Clubgebouw (gedung pertemuan).
    b. Empat pemuda Tionghoa terlibat Sumpah Pemuda
    Selain Sie Kong Liang, ada empat pemuda keturunan Tionghoa lain yang menghadiri Sumpah Pemuda. Mengutip Sejarawan Didi Kwartanada di situs historia.id, empat Tionghoa yang hadir di Kongres Pemuda II yakni Kwee Thiam Hong anggota Jong Sumatranen Bond yang mengajak tiga sahabatnya anggota kepanduan: Oey Kay Siang, Liauw Tjoan Hok, Tjio Djien Kwie. 
    Sebagai anggota kepanduan, kata Didi, selain mengajarkan keterampilan di luar ruangan, mereka biasanya mengajarkan semangat nasionalisme dan patriotisme. 
    Sejarawan Ravando Lie membenarkan adanya empat pemuda etnis Tionghoa yang hadir saat Kongres Pemuda 2 tersebut. “Keempat sosok ini tidak banyak tercatat dalam sejarah, tapi mereka punya peranan besar sebagai anggota kepanduan.”
    c. Lagu Indonesia Raya terbit pertama kali di koran Sin Po
    Koran Sin Po pertama kali diterbitkan sebagai surat kabar mingguan berbahasa Tionghoa-Melayu oleh pemuda Tionghoa Peranakan di Jakarta pada tanggal 1 Oktober 1910 dan menjadi surat kabar harian pada tahun 1912. Koran Sin Po merupakan bagian penting dari sejarah Indonesia karena sebelumnya sudah banyak diberitakan sebagai koran pertama yang menggunakan kata Indonesia untuk menggantikan "Hindia Olanda" kawasan yang dulunya dijajah Belanda, dan kemudian merdeka di tahun 1945.
    Koran Sin Po juga merupakan surat kabar pertama yang, pada 10 November 1928, menyiarkan lagu Indonesia gubahan Wage Rudolf Supratman, ketika media lain tidak berani memuat lagu yang kemudian menjadi lagu kebangsaan Indonesia tersebut. 
    Tampilan Koran Sin Po saat menerbitkan lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya. Sumber: Arsip digital Universitas Monash Australia
    Sejarawan Ravando Lie, menjelaskan, setelah ditolak oleh beberapa media, WR. Supratman memutuskan menemui pemilik Koran Sin Po. Lagu Indonesia akhirnya berhasil diterbitkan setelah pemilik Sin Po saat itu tergugah dengan lirik dan musik yang dimainkan WR Supratman di hadapannya. 
    “Koran Sin Po menganggap perjuangan kaum Tionghoa dan bumiputera itu beriringan, karena sama-sama sebagai bangsa yang terjajah dan tertindas,” kata dia. Selain itu, Sin Po juga kerap membantu Soekarno untuk menerbitkan selebaran propaganda melawan pemerintah Kolonial. 
    d. Sosok Yo Kim Tjan
    Yo Kim Tjan osok etnis Tionghoa berikutnya yang berperan mendistribusikan lagu Indonesia raya dalam piringan hitam ke berbagai pihak. Menurut Sejarawan Ravando, Kim Tjan adalah pemilik orkestra Populair di mana WR Supratman bekerja sebagai biola paruh waktu di sana. Yo Kim Tjan menyarankan Supratman merekam lagu Indonesia Raya dalam dua versi. Versi pertama aslinya dibawakan oleh supratman, sedangkan versi kedua dalam format keroncong. Lagu tersebut kemudian direkam dalam piringan hitam.
    Namun rencana tersebut terendus intelijen pemerintah Kolonial dan menyita sejumlah piringan hitam yang belum sempat didistribusikan. Anak Yo Kim Tjan kemudian berupaya menyelamatkan piringan hitam yang tersisa dan dibawa mengelilingi berbagai tempat hingga Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaan pada 1945.   

    Kesimpulan


    Dari pemeriksaan fakta di atas, narasi yang mengklaim bahwa Jong Cina tidak mau bergabung dalam Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda adalah keliru. Sejumlah fakta sejarah justru menunjukkan sebaliknya, sejumlah orang keturunan Tionghoa, justru memiliki peran penting di masa pergerakan Indonesia dan Sumpah Pemuda.
    Tim Cek Fakta Tempo

    Rujukan