(GFD-2026-35194) [SALAH] Penderita Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2 Bisa Sembuh Tanpa Obat

Sumber: Instagram.com
Tanggal publish: 12/06/2026

Berita

Beredar unggahan video [arsip] dari akun Instagram “suhu.sanjaya” pada Rabu (3/6/2026) menampilkan seorang laki-laki yang sedang menjalani semacam terapi penyembuhan. Unggahan beserta narasi :

“Apakah diabetes tipe 1 dan 2 bisa Sembuh tanpa obat ?

Yess, Bisaaa#Dianetes”

Hingga Jumat (12/6/2026) unggahan telah mendapatkan 70-an tanda suka dan 20-an komentar.

Hasil Cek Fakta

Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) menelusuri klaim tersebut dengan menggunakan kata kunci “diabetes tipe 1 dan tipe 2 bisa sembuh tanpa obat” ke mesin pencari Google. Hasil penelusuran mengarah ke laman Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI berjudul “Apa itu Diet Diabetes Melitus”.

Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa diabetes melitus merupakan penyakit menahun yang diderita seumur hidup. Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa diabetes melitus tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan melalui pengelolaan yang tepat, seperti edukasi, pola makan sehat, olahraga dan pengobatan untuk mencegah komplikasi. 

Dilansir dari Kemenkes RI, diabetes tipe 1 terjadi akibat kerusakan sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan pankreas tidak dapat memproduksi insulin. Karena itu, penderita diabetes tipe 1 memerlukan terapi insulin sepanjang hidupnya untuk mengendalikan kadar gula darah dan mencegah komplikasi.

Kemenkes RI juga menjelaskan bahwa diabetes tipe 2 merupakan penyakit kronis yang terjadi akibat resistensi insulin atau produksi insulin yang tidak memadai. Kondisi ini memerlukan pengelolaan jangka panjang melalui perubahan gaya hidup dan pengobatan sesuai anjuran dokter.

Kesimpulan

Faktanya, diabetes tipe 1 terapi insulin diperlukan seumur hidup, sedangkan diabetes tipe 2 dapat dikendalikan melalui perubahan gaya hidup dan pengobatan. Jadi, unggahan berisi klaim “penderita diabetes tipe 1 dan tipe 2 bisa sembuh tanpa obat” adalah konten yang menyesatkan (misleading content).

Rujukan