(GFD-2026-35137) Hoaks! Zulhas mengatakan rakyat merupakan aib pemerintah

Sumber:
Tanggal publish: 09/06/2026

Berita

Jakarta (ANTARA/JACX) – Sebuah unggahan di media sosial Facebook mengeklaim bahwa Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan rakyat terlalu banyak mengkritik pemerintah, tidak mandiri, dan hanya bergantung pada bantuan negara.

Unggahan tersebut menampilkan foto Zulkifli Hasan yang seolah-olah sedang menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah konferensi pers atau forum resmi.

Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

“Zulhaf berkata: RAKYAT ITU TERLALU BANYAK MENGKRITIK PEMERINTAH TAPI ISINYA KOSONG, HIDUPNYA TERLALU BERHARAP BANTUAN DARI NEGARA TIDAK BISA MANDIRI”

Namun, benarkah Zulkifli Hasan menyatakan bahwa rakyat merupakan beban atau aib bagi pemerintah?



(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Hasil Cek Fakta

Berdasarkan penelusuran, tidak ditemukan informasi maupun pernyataan resmi dari pemerintah dan media kredibel yang menyatakan bahwa Zulkifli Hasan pernah menyebut rakyat terlalu banyak mengkritik pemerintah, tidak mandiri, atau menjadi aib bagi negara.

Hasil penelusuran menggunakan Google Lens menunjukkan bahwa foto Zulkifli Hasan dalam unggahan tersebut identik dengan pemberitaan ini mengenai kehadirannya sebagai pembicara kunci dalam peringatan HUT ke-55 PWI Lampung.

Dalam kegiatan tersebut, Zulkifli Hasan memberikan pidato utama pada diskusi publik yang menjadi bagian dari rangkaian HUT PWI Lampung dan Hari Pers Nasional tingkat daerah.

Tidak ada pernyataan yang menyebut rakyat sebagai beban, aib pemerintah, atau pihak yang hanya bergantung pada bantuan negara.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Dengan demikian, klaim yang menyebut Zulkifli Hasan menyatakan rakyat adalah aib bagi pemerintah merupakan informasi tidak benar atau hoaks.

Rating: Hoaks

Klaim: Zulhas mengatakan rakyat merupakan aib pemerintah

Pewarta: Tim JACX

Editor: M Arief Iskandar

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Rujukan