(GFD-2026-31537) Keliru: Virus Superflu Lebih Parah daripada Covid-19

Sumber:
Tanggal publish: 09/01/2026

Berita

UNGGAHAN dengan klaim virus Superflu atau virus influenza A9H2subclade K lebih parah daripada virus Covid-19 beredar di Tiktok [arsip] dan Facebook pada 2 Januari 2025.

Konten tersebut memperlihatkan gambar dua orang mengenakan baju hazmat berwarna putih. Pengunggah menempelkan tulisan berisi, “Baru sehari 2026, virus Super Flu sudah masuk Indonesia, lebih parah daripada Covid-19”.



Hingga artikel ini ditulis, konten itu sudah ditonton 590.000 kali, disukai 2.509, dan dikomentari 1.422 pengguna. Namun benarkah virus Superflu lebih parah dan berbahaya daripada virus Covid-19?

Hasil Cek Fakta

Tempo memverifikasi konten tersebut dengan mengonfirmasi dokter spesialis dan menelusuri sumber pemberitaan kredibel. Hasilnya, gejala yang dialami penderita kasus positif di Indonesia tergolong ringan. Berbeda dengan gejala saat pandemi Covid-19.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Kementerian Kesehatan Surabaya, dr. Arif Luqman Hakim, Sp.PD, menjelaskan bahwa Superflu merujuk pada virus influenza musiman tipe A dengan subtipe H3N2 atau juga dikenal dengan virus influenza musiman.

“Superflu bukan ancaman baru yang bisa disetarakan dengan virus Covid-19,” ujarnya kepada Tempo, Kamis, 8 Januari 2026.

Nama superflu tidak terkait dengan tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkan pada tubuh pasien. Penyematan label "super" pada virus ini merujuk pada laju penularan yang dianggap lebih agresif dari biasanya. Penyebaran yang cepat ini, kata dia, akibat faktor perubahan cuaca yang ekstrem.

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak termakan isu yang menyebutkan bahwa virus ini lebih parah daripada saat pandemi Covid.

Di Indonesia, keberadaan virus ini mulai terdeteksi sejak pertengahan Agustus 2025. Berdasarkan analisis urutan genom (Whole Genome Sequencing/WGS) terhadap ratusan sampel hingga Desember 2025, ditemukan 62 kasus positif yang mayoritas menyerang kelompok rentan seperti wanita dan anak-anak. Seluruh penderita Superflu dalam kondisi klinis yang stabil dengan gejala ringan.

Berbeda dengan Superflu, mereka yang terinfeksi virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 dapat memiliki tingkat keparahan tertentu hingga kematian. Merujuk Our World In Data per 21 Desember 2025 menunjukkan sebanyak 7 juta lebih orang yang meninggal karena Covid-19.

Tempo melaporkan penjelasan World Health Organization (WHO) bahwa varian ini merupakan hasil perubahan bertahap atau genetic drift yang lazim terjadi pada virus influenza musiman. Virus ini terus bereplikasi dan beradaptasi di tengah populasi manusia melalui mutasi pada gen hemaglutinin (HA), bagian yang menjadi target utama sistem kekebalan tubuh. 

Sebelum terdeteksi di Indonesia, varian ini telah menyebar di sejumlah negara Asia sejak Juli 2025, termasuk Cina, Singapura, Thailand, Jepang, dan Korea Selatan. Posisi Indonesia sebagai salah satu pusat transit di Asia Tenggara mempercepat paparan subclade K yang masuk melalui arus perjalanan internasional.

Data WHO Global Influenza Update per 28 Desember 2025 mencatat lonjakan kasus influenza di belahan bumi utara jauh lebih besar daripada wilayah selatan. Di kawasan utara, peningkatan kasus melampaui 30 persen di Amerika Tengah, Karibia, Afrika Utara, Eropa, serta sebagian besar wilayah Asia. 

Sementara itu, Asia Tenggara dan Afrika melaporkan kenaikan kasus di atas 10 persen. Influenza A(H3N2) menjadi varian paling dominan di hampir seluruh zona, kecuali di wilayah Amerika Selatan Tropis yang lebih banyak melaporkan kasus influenza tipe A(H1N1)pdm09.

Guna menekan risiko paparan superflu, dokter Arif Luqman Hakim mengimbau masyarakat mencermati proses penularannya yang menyebar melalui droplet saat penderita batuk atau bersin. Selain itu, superflu menular melalui kontak langsung dengan benda yang terkontaminasi cairan tubuh penderita. 

Arif menegaskan bahwa masyarakat perlu menerapkan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) untuk memutus rantai penularan, terutama dengan rutin mencuci tangan setelah beraktivitas di ruang publik. Penggunaan masker juga tetap krusial, baik bagi warga yang sehat maupun yang sedang sakit, untuk saling melindungi. Sebagai perlindungan tambahan, Arif menyarankan vaksinasi influenza tahunan agar sistem imun mengenali subtipe virus yang sedang beredar.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelusuran Tempo, klaim bahwa virus Superflu lebih parah dan berbahaya daripada virus Covid-19 adalah keliru.

Rujukan