Berdasarkan pengamatan Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax), video tersebut menunjukkan sejumlah kejanggalan yang mengarah ke dugaan rekayasa AI, seperti pergerakan mulut anggota TNI yang tidak selaras dengan suara.
TurnBackHoax kemudian menganalisis konten menggunakan alat pendeteksi AI, Undetectable. Diketahui, video merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (artificial intelligelnce/AI), probabilitas atau kemungkinannya mencapai 97 persen.
Melansir dari kumparan.com “Sejarah KKB dan Dampak Konflik KKB dengan TNI di Papua”, Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) awalnya bernama Organisasi Papua Merdeka (OPM), berdiri sejak 1965 dengan tujuan memisahkan diri dari Indonesia. Dalam memperjuangkan tuntutan kemerdekaan dan referendum, kelompok ini kerap melakukan aksi kriminal bersenjata yang menimbulkan korban jiwa hingga kini.
Untuk diketahui, konflik antara KKB dan TNI di Papua dipicu oleh ketidakpuasan sebagian masyarakat terhadap pemerintah pusat akibat persoalan historis, isu otonomi, hak asasi manusia, ketimpangan ekonomi, serta keterbatasan akses pendidikan dan layanan kesehatan, yang diperparah oleh dukungan pihak luar terhadap gerakan separatis.
Sepanjang penelusuran, tidak ditemukan informasi dari sumber kredibel yang membenarkan klaim “TNI tangkap anggota KKB dan WNA saat operasi penyisir
an”.
Konten yang beredar adalah hasil rekayasa AI, probabilitas atau kemungkinannya mencapai 100 persen. Jadi, unggahan berisi klaim “TNI tangkap anggota KKB dan WNA saat operasi penyisiran” merupakan konten palsu (fabricated content).